
🌹🌹🌹🌹 HAPPY READING 🌹🌹🌹🌹
.
.
.
💞💞💞💞💞💞
Amar dan Asti menepati janjinya untuk datang kerumah ibu jujuk, mereka datang bersama diki , ajeng dan anak nya. Kedatangan amar di sambut baik oleh ibu jujuk,kali ini ibu jujuk menunjukan wajah ramahnya seperti dulu . Tidak ada ibu jujuk yang pemarah atau yang sinis.
" Terimakasih nak amar sudah mau datang kerumah ibu. Sebelumnya ibu meminta maaf karena ibu sudah pernah memaksa mu untuk menikah dengan Asti. Sama kartika juga ibu minta maaf, ibu benar - benar menyesal. " Seru ibu jujuk meminta maaf dengan tulus.
" Bu, aku dan istriku sudah memaafkan ibu. "Seru amar dan diangguki oleh kartika.
" Alhamdulillah terimakasih amar , kartika. Kalau begitu kamu panggil mbak mu jeng. Tadi ibu sudah bilang jika kalian akan datang, kamar nya juga tidak ibu kunci." Seru ibu jujuk menyuruh ajeng.
" Baik bu, ajeng panggil mbak asti dulu." Seru Ajeng.
Ajeng meninggalkan ruang tamu dan menuju kamar asti . Dengan perasaan tidak menentu dia membuka pintu kamar asti, ajeng masih sangat takut jika asti akan mengamuk dengan tiba - tiba.
" Mbak asti ". Seru Ajeng memanggil asti.
Terlihat asti yang sedang menyisir rambutnya di depan meja riasnya. Ajeng mendekati kakaknya dan menyapanya dengan lembut.
" Mbak asti sudah seledai mek up nya ?" Tanya ajeng dengan lembut.
" Ajeng ? Apa mas Amar sudah datang ?" Tanya balik asti dengan senang.
" Sudah ayok kita kekuar, mas amar dan yang lainnya sudah menunggu mbak asti. " Ucap ajeng merayu sang kakak agar mau keluar.
" Jeng, apa aku sudah cantik ? . Kata ibu mas amar datang karena dia mau pamit ke luar kota. Mas amar takut sama aku,kata ibu aku suka marah - marah. Aku mau berobat agar bisa sembuh dan mas amar tidak marah lagi. " Seru Asti dengan wajah yang terlihat sedih.
Deg
Ajeng pun terdiam, dia baru tahu jika ibunya memberi alasan seperti itu. Dia justru takut jika asti akan semakin bergantung dengan amar.
__ADS_1
" Emm... Kita keluar saja ya kak. Kasihan yang lainnya sudah menunggu " Ucap ajeng sambil memegang bahu asti.
Asti mengangguk lalu bangkit dan berjalan beriringan dengan ajeng. Dia tersenyum melihat amar yang duduk di sofa ruang tamu, namun senyumnya hilang saat melihat kartika juga ada disana.
" Mas amar akhirnya kamu datang juga" Ucap asti dengan binar bahagia.
Asti duduk tepat di samping kiri amar dan kartika ada di samping kanannya. Amar melirik kearah kartika dan kartika mengangguk dengan senyumannya. Itu menandakan jika dia tidak apa - apa.
" Asti kamu apa kabar ? Sudah tidak marah - marah lagi kan ? Jangan marah - marah ya, kalau kamu marah aku takut. Sudah tidak marah kan ?" Tanya amar berbasa - basi.
" Aku baik mas. Apalagi melihat mu ada disini aku menjadi lebih baik. Ternyata ibu tidak bohong , tadi dia bilang jika kamu akan datang dan ternyata kanu datang beneran tapi kenapa kamu mengajak istrimu ini ? Nanti dia marah - marah lagi . Aku sudah tidak marah - marah kok mas. " Ucap asti menatap tidak suka kearah kartika.
Amar tidak menjawab , dia masih diam. Akhirnya Ajeng dan yang lainnya masuk dan duduk di ruang keluarga menyusul anak ajeng yang sedari tadi duduk dengan anteng menonton siaran televisi kesukaannya. Kini diruang tamu hanya ada amar dan asti.
" Jadi kamu ingat kan jika aku sudah menikah ? " Tanya amar mulai buka suara.
" Ingat mas, kamu menikah dengan kartika kan ? Kenapa kamu lebih memilih kartika bukannya aku ?" Tanya asti.
" Asti mungkin Allah memang sudah menggariskan kartika menjadi istriku, jadi sebagai manusia aku tidak bisa menolaknya. Kamu pasti tahu kan rasa sakitnya wanita jika dikhianati, apalagi sampai suaminya menikah lagi. Apa kamu mau jika punya suami terus suami kamu menikah lagi dan mempunyai istri dua.?" Tanya amar dengan serius.
Asti menggeleng dengan cepat. Sekarang asti masih nampak terlihat normal dan akal kewarasannya berjalan dengan baik. Walaupun terkadang tiba saat tidak waras nya juga bisa datang kapan saja,hal itu yang sangat dikhawatirkan amar. Apalagi amar belum selesai berbicara.
" Nah rasa itu juga yang di rasakan kartika jika aku punya istri lagi. Makanya aku menolak untuk menjadikan kamu atau siapapun istri kedua. " Ucap amar dengan tegas.
" Tapi kamu dulu suamiku mas ! " Jawab asti cepat.
" Itu dulu, dulu asti. Dan kamulah yang meminta cerai, sekarang kita hanya berteman." Seru Amar lagi.
" Teman ?" Tanya asti dengan airmata yang sudah mulai bercucuran.
Haaahaaa.. Haaaahaaa.
Tiba - Tiba asti tertawa dengan keras sehingga diki dan yang lainnya langsung berlari keruang tamu takut jika asti akan mengamuk.
" Aku tidak mau menjadi teman mu mas, tapi aku mau menjadi istrimu. Tapi kalau aku menjadi istrimu kartika bagaimana ? " Seru Asti yang begitu cepat merubah mimik wajahnya.
Tadi menangis dan tiba - tiba juga tertawa, dan sekarang memasang wajah sedih lagi. Ibu jujuk mendekati asti dan mencoba menghibur Asti. Sedikipun ibu jujuk tidak mau mengualkan airmata dihadapan asti.
__ADS_1
" Asti yang dikatakan amar benar, kalian hanya bisa berteman saja. " Seru ibu jujuk lembut.
" Bu, aku ingin mas amar menjadi suamiku. Tapi kartika bagaimana ? Nanti dia menangis, sedih. " Seru asti dengan suara manja seperti anak kecil.
* Kenapa mbak asti cepat sekali perubahannya.Ini sudah benar - benar tidak waras * Gumam kartika dalam batinnya.
" Sekarang kita pergi yuk, kita naik mobil. Itu diki sudah membawa mobil untuk membawa kita jalan - jalan. Nanti disana banyak teman mu ,mereka semua baik - baik. " Ucap ibu jujuk dengan sangat lembut.
Asti langsung melongok keluar melihat mobil yang terparkir di halaman rumah. Begitu mihat mobil ada didepan rumah dia pun berteriak riang.
" Horre..Horre aku punya mobil. Aku mau jalan - jalan horeee..." Seru asti berteriak senang sambil bertepuk tangan.
" Mas amar ikut jalan - jalan ya, kartika juga boleh ikut. Aku tidak akan marah. " Seru asti sambil melirik kartika dengan tatapan yang tetlihat masih penuh kebencian.
Amar dan kartika saling pandang,sebenarnya mereka tidak akan ikut. Tadi berangkat memang mengendarai mobil dengan diki dan pulang akan memesan taksi online. Namun mereka tidak tega dengan asti, dan kartika pun akhirnya mengiyakan.
" Baiklah kami akan ikut " Jawab kartika tanpa berdiskusi dengan amar.
Amar terkejut dengan keputusan kartika.
" Dek " Seru amar.
" Tidak apa - apa mas. Anggap saja kita ikut jalan - jalan. " Seru kartika dengan senyum manisnya.
Akhirnya amar pun menyetujui keputusan istrinya. Ibu jujuk sudah menyiapkan perlengkapan untuk asti dari kemarin. Semua kebutuhan asti sudah simasukkan kedalam koper. Beruntung sekali asti tidak marah dan mengamuk ,sehingga proses mengajak dia pergi pun mudah.
" Hore... Hore kita jalan - jalan " Ucap asti sambil bertepuk tangan.
Ada hati yang saat ini sangat sedih dan seperti teriris dengan pisau yang tajam. Siapa lagi kalau bukan ibu jujuk, ibu yang sangat menyayangi asti. Seorang ibu yang rela melakukan apapun untuk kebahagiaan anaknya.
* Bismillah... Semoga Allah memberi kesembuhan untuk anak ku. Jika asti sembuh aku akan membawa asti kepesantren. Biar dia lebih mendekatkan diri kepada sang pencipta. Iri hati dan obsesinyalah yang sudah membuat Asti seperti ini. * Gumam ibu jujuk dalam hatinya.
Mobilpun berjalan meninggalkan pekarangan rumah ibu jujuk dan menuju kesalah satu rumah sakit yang menangani pasien seperti asti.
*******
LIKE, KOMENTAR, VOTE, FAVORITE SERTA BERIKAN RATE BINTANG 5 NYA DAN HADIAHNYA 🙏❤️❤️
__ADS_1
TERIMAKASIH 🙏❤️