
🌹🌹🌹🌹 HAPPY READING 🌹🌹🌹🌹
.
.
.
💞💞💞💞💞💞
Asti begitu semangat menuju pintu kontrakan yang tinggal beberapa meter lagi. Begitupun ibu jujuk setelah tahu ada motor amar juga ikut bersemangat, dia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan untuk bisa merayu amar agar bisa bersatu lagi dengan asti. Dua wanita itu mengulum senyum lebar dibibir nya.
" Bu aku deg degan mau ketemu mas amar. " Seru Asti.
" Sudah ayo masuk " Seru ibu jujuk mengajak asti masuk.
Pintu kontrakan diki memang tidak di kunci, pintu terbuka lebar karena tadi anaknya bermain diluar dan lari masuk begitu melihat nenek dan tantenya datang.
" Assalamualaikum " Seru ibu jujuk dan asti bersamaan.
Mata Asti berbinar saat melihat amar ada di kursi tamu sedang berbincang dengan diki. Kartika memang lebih memilih kedapur untuk membuatkan minum dua tamu nya yang baru saja datang. Sedangkan ajeng ada dikamar menenangkan anaknya yang ketakutan karena kedatangan asti dan ibu jujuk, anak asti sering melihat dan mendengar asti marah jadi dia pun ketakutan.
" Waalaikumsalam " Seru amar dan diki bersamaan.
Begiu melihat amar , asti langsung duduk tepat di sebelah amar. Padahal kursi kosong pun masih ada tetapi asti lebih memilih duduk di samping amar. Ibu jujuk duduk di kursi yang masih kosong. Amar dan diki secara bersamaan menyalami ibu jujuk, mereka mengabaikan asti yang sudah sepertu ulat kepanasan.
" Mana ajeng ?" Tanya ibu jujuk.
" Ada dikamar bu sedang menemani sikecil, tadi merengek minta tidur. " Seru diki.
" Amar kamu apa kabar ? Mana istrimu?" Tanya ibu jujuk dengan senyum dibuat seramah mungkin.
" Kabar saya dan istri saya alhamdulillah baik bu. Istri saya ada kok bu. Oh iya ibu sendiri bagaimana kabarnya? " Tanya amar dengan sopan.
Sementara waktu selagi tidak membahas soal asti, amar masih bersikap baik dan ramah. Tapi jika sudah membahas soal rujuk jangan salahkan amar jika amar akan bersikap tegas dan bisa saja amar bertindak tidak sopan.
" Mas amar, aku kangen " Seru asti sambil memeluk lengan amar dengan manja.
__ADS_1
" Apa kamu tidak kangen dengan ku mas ? Sudah lama kan kita tidak bertemu ? Aku mencari mu kemana - mana loh mas, sebenarnya kamu tinggal dimana sih ? Sengaja ya biar aku cariin ?" Ucap asti sudah seperti ulat kepanasan.
" Jangan begini asti, ini tidak sopan. Tolong hargai aku dan istriku, kamu tidak lupa kan jika aku ini sekarang sudah menikah dan mempunyai istri. " Seru amar membuat senyum asti tiba - tiba pudar dan bergantu wajah masam dan cemberut.
Asti pun langsung melepaskan pelukan di lengan amar, tapi bukannya menjauh dari amar tapi semakin merapatkan duduknya ketubuh amar. Semua itu membuat amar tidak nyaman, dan amar pun pindah ke kursi yang hanya bis di duduki satu orang saja.
" Tolong jaga sikap kamu Asti !" Amar berbicara dengan cukup tegas.
" Mar, tolong jangan bicara seperti itu sama asti. Asti sekarang itu perasaannya sensitif sekali. Hemm... begini mar , ibu akan memberimu uang 100 juta jika kamu mau menikah dengan Asti. Asti menjadi istri keduapun tidak apa - apa yang penting kalian rujuk. Bagaimana apa kamu mau ?" Tanya ibu jujuk dengan tidak tahu malunya.
" Aku tidak akan pernah mengizinkan suami ku untuk menikah dengan wanita manapun !!!" Ucap lantang kartika yang baru saja keluar dari dapur dan membawa nampan serta dua cangkir teh.
Kartika meletakkan dua cangkir teh di hadapan ibu jujuk dan kartika, setelah itu dia duduk di pinggir kursi tempat amar duduk sambil memeluk bahu amar dari samping.
" Kartika ! Kamu kartika kan ?" Tanya Asti yang baru menyadari wanita itu adalah kartika.
" Apa maksud ucapan mu tadi ?" Tanya ibu jujuk dengan mata melotot.
Sedangkan tatapan mata asti bagaikan tatapan membunuh ke arah kartika, dia sangar cemburu saat melihat kartika memluk bahu amar.
" Iya mbak asti benar aku adalah kartika. Dan maksud ucapan ku tadi sudah jelas kan ? Jika aku tidak akan mengizinkan suamiku menikahi wanita manapun termasuk mbak asti. " Seru kartika dengan senyum mengejek asti.
Asti pun langsung memukul meja cukup keras sehingga teh yang ada di atas meja tumpah begitu saja. Mendengar keributan semakin jelas, ajengpun keluar kamar dan beruntung anaknya sudah tidur.
" Mas amar itu milikku dan tidak akan pernah bisa dimiliki wanita lain !!" Seru asti dengan lantang.
" Woe... Sadar dong mbak. Mas amar itu sekarang sudah menjadi suami ku. " Ucap kartika tidak mau kalah.
" Tidak mungkin ! Kamu bukan istrinya mas amar. Mas apa wanita ini istrimu?" Tanya asti menatap amar tajam.
" Iya, kartika memang istriku. Dan aku sangat mencintainya dan sampai kapan pu aku tidak akan bisa meninggalkannya. Maaf Asti, aku sangat mencintai kartika dan aku tidak mungkin rujuk dengan mu. Kamu carilah pria lain yang mau menikah dengan mu. " Ucapan amar semakin membuat asti marah.
Asti memandang tajam kearah kartika dan mengepalkan kedua tangannya.
" Dasar pelakor !! Wanita pelakor !! Mas amar itu suamiku tapi kenapa kamu merebutnya !" Seru asti lalu mendekati kartika dan hendak memukul kartika.
Dengan sigap amar melindungi istrinya, kini kartika berlindung dibalik tubuh amar. Amar sudah bangkit dari duduknya melindungi sang istri.
__ADS_1
" Ini semua gara-gara kamu wanita sialan !" Seru ibu jujuk ikut menyalahkan kartika.
" Bu, jangan menyalahkan kartika. Bagaimanapun ibu dan mbak asti yang salah. " Ucap ajeng ikut berkomentar.
" Dasar anak kurangajar, kamu malah membela wanita pelakor ini daripada kakak mu sendiri?" Tanya ibu jujuk geram.
Amar dan asti merasa tidak enak karena diki dan ajeng harus ikut terbawa dalam masalahnya. Apalagi ajeng sampai dimarah oleh ibu jujuk. Ibu jujuk mengangkat tangannya dan hampir saja menampar ajeng, dengan cepat diki menangkap tangan sang ibu mertua.
" Ajeng memang anak ibu. Tapi aku adalah suami ajeng dan aku lebih berhak daripada ibu. Jika ibu menyakiti ajeng, aku tidak segan - segan melaporkan ibu ke polisi . Bila perlu anak kesayangan ibu itu aku masukan lagi ke rumah sakit jiwa. " Seru diki dengan wajah serius.
Ibu jujuk menatap begis ke arah menantunya itu, begitu beraninya sang menantu akan memasukan asti ke rumah sakit jiwa.
" Dasar wanita pelakor. Pelakor tidak tahu diri. !! Bu , wanita itu merebut mas amar bu. Ibu harus menolongku, tolong bilang wanita itu untuk menjauhi mas amar. Hiksss... Hiksss.... " Ucap asti sambil menangis bahkan kini asti sudah acak - acakan dan dia duduk di lantai.
" Haiii... wanita pelakor ! Apa kamu tidak kasihan melihat anak ku yang seperti ini. Jika kamu mau meninggalkan amar aku akan memberimu uang 100 juta, sama seperti amar juga akan aku beri uang 100 juta. " Seru ibu jujuk dengan percaya diri.
" Jangan percaya diri kamu bu. Jika kartika meninggalkan ku, akupun tidak sudi menikahi anak mu yang tidak waras itu. Sekarang lebih baik ibu bawa asti pulang dan segera ibu beri dia obat penenang agar tidak mengamuk. " Ucap amar.
Ibu jujuk pun langsung menghampiri Asti dan menenangkannya. Asti sudah kacau, rambutnya sudah berantakan bahkan mekup nya pun sudah tidak berbentuk.
" Asti, berdiri nak. Jangan begini, jangan merendahkan dirimu dihadapan laki - laki tidak tahu diri ini. Sekarang lebih baik kita pulang dan kamu lupakan saja amar. Masih banyak laki - laki yang mau bersama mu" Ucap ibu jujuk mencoba menenangkan asti.
" Aku tidak mau yang lain bu. Aku mau mas amar !!" Sentak asti.
Asti berlari kearah amar lalu memeluk amar dengan etat. Amar mencoba melepas pelukan asti namun sangat susah , pelukan asti sangat erat. Kartika yang melihat suaminya kesusahan pun langsung menarik asti dan mendorongnya sampai asti tersungkur dilantai.
" Sudahkan memeluk suami orang ? Sekarang kamu pergi dari sini, jika kamu tidak mau pergi. Aku dan suamiku yang akan pergi darisini." Seru kartika.
" Ayok mas kita pergi darisini. Diki, ajeng maaf ya sudah membuat keributan dirumah mu. Kami pamit dulu ya, lain kali nanti kami akan main lagi. " Seru kartika berpamitan.
Setelah berpamitan kartika dan amar langsung keluar dari kontrakan dan segera pergi mengendarai motor nya . Asti terus berlari dan berteriak memanggil amar namun amar sama sekali tidak perduli.
" Mas amar.... Mas...tunggu aku !! Aku ikut !" Teriak Asti.
*********
LIKE, KOMENTAR, VOTE, FAVORITE, SERTA BERIKAN HADIAHNYA DAN RATE BINTANG 5 NYA KAK 🙏🙏❤️❤️
__ADS_1
TERIMAKASIH 🙏🙏❤️❤️