Bukan Istri Parasit

Bukan Istri Parasit
Telepon dari tini


__ADS_3

🌹🌹🌹🌹 HAPPY READING 🌹🌹🌹🌹


.


.


.


💞💞💞💞💞💞💞


Sepulang dari kantor amar tidak ke rumah sakit, dia sudah menghubungi harun untuk menjaga ibu nya. Amar tidak perduli harun bisa atau tidak, yang penting amar sudah memberitahu harun. Badan amar cukup lelah , bukan hanya badan nya saja yang lelah. Fikiran amar pun ikut lelah memikirkan semua kenyataan hidup yang dia jalani.


Untuk sementara waktu amar akan membiarkan ibu nya dan mencoba tidak perduli dengan ibu nya. Sore ini amar dan diki sedang ada di cafe untuk sekedar menghilangkan kepenatan selama seharian bekerja.


" Jangan mikirin masalah terus mar. Sesekali happy dan hibur diri sendiri. " Ucap diki sambil menepuk pundak amar.


" Pusing aku Dik. " Seru amar tak bersemangat.


" Kalau kamu begini terus kapan kamu dapat jodoh nya. Kamu harus memikirkan masa depan mu, kamu butuh seseorang untuk menemani hidup mu. Jangan lama - lama menikmati kesendiran mu " Seru diki lagi.


Hah..


Jodoh ? Istri ?


Amar sepertinya belum bisa menemukan seorang wanita yang cocok dengan nya. Wanita yang bisa menggetarkan hati nya kembali. Bukan nya tidak bisa move on dari delia, amar akui delia masih ada di hati amar. Tapi amar sadar tidak mungkin lagi bisa hidup bersama delia.


" Aku menunggu jodoh datang saja Dik , Allah pasti sudah menyiapkan jodoh untuk ku " Jawab amar dengan suara amar terdengar pasrah.


* Aku tidak mau wanita yang akan aku nikahi bernasib seperti delia * Gumam amar.


" Kenapa malah melamun ? " Tanya diki lagi.


" Hahh... Aku tidak melamun dik. Oh iya bagaimana kabar anak mu ? Pasti sekarang dia sudah besar " Seru amar mengalihkan pembicaraan.


" Alhamdulillah kabar nya baik. Sekarang sudah semakin pintar, dia sudah belajar jalan. " Ucap diki menceritakan tentang anak nya.


Amar tersenyum mendengar cerita diki, diki begitu antusius menceritakan tentang anak nya. Tak jarang sesekali amar ikut tertawa saat diki menceritakan kejadian - kejadian lucu tentang anak nya.


" Mar, itu bukan nya rosa ?" Ucap diki sambil menunjuk ke arah pintu masuk cafe.

__ADS_1


Amar langasung mengikuti arah tangan diki, benar saja rosa sedang berjalan masuk ke kafe dengan seorang pria paruh baya yang tidak amar kenal.


" Siapa laki - laki itu mar ? Apa ayah nya ?" Tanya diki ingin tahu.


" Bukan. Aku mengenal ayah rosa, mungkin saja itu gebetan rosa " Ucap amar terlihat acuh.


" Gila ini benar - benar gila. Padahal dia sedang hamil tapi kenapa dia mau jalan dengan pria yang bukan suami nya. Atau jangan - jangan rosa hamil dengan pria ...." Diki menghentikan ucapan nya lalu melirik ke arah amar yang setia mendengarkan nya.


" Maksud kamu rosa hamil bukan dengan harun ?" Tanya amar tahu maksud pembicaraan diki.


Diki hanya mengangguk. Amar cukup menghela nafas dengan berat. Dia tidak mau ikut campur lagi masalah rumah tangga harun, amar akan mencoba masa bodoh dengan hal apa pun yang terjadi dengan keluarga ny.


" Sudah biarkan saja dik . Aku tidak mau lagi ikut campur dengan masalah mereka. Masalah ku sudah cukup banyak " Seru amar serius.


" OK..!! Oh iya yuk kita pulang, sudah mau magrib. Tapi kalau kamu masih mau disini ya tidak masalah aku duluan yang pulang. " Ucap diki sambil membrreskan ponsel dan rokok nya yang ada di atas meja.


" Aku juga mau pulang saja " Ucap amar.


Setelah membayar minuman dan makanan ringan amar dan diki keluar dari cafe dengan melewati meja Rosa. Amar sama sekali tidak melihat ke arah rosa, begitupun dengan rosa dia juga ber pura - pura tidak melihat amar.


******


Delia dan juna dan mama silvi saat ini sedang menginap di rumah delia. Rumah yang sudah seminggu ini tidak delia kunjungi,akibat kehamilan nya yang semakin membesar membuat delia malas untuk keluar rumah.


" Terserah ibu silvi saja. Cuma tadi Non delia susah request minta di buatin tumis kangkung sama ayam bakar. Apa ibu mau di masakin menu yang lain nya juga ?" Tanya bik asih.


" Emmm.. Sepertinya tambahin yang berkuah saja bik. Bikin sayur asam sama sambal terasi mantap itu bik " Seru mama silvi.


" Baik buk,bahan - bahan nya ada kok di kulkas." Ucap bik siti.


" Ya sudah sekarang kita masak yuk bik. " Ucap mama silvi.


" Baik bu " Ucap bik asih singkat.


Bik asih dan mama silvi langsung mengeksekusi ayam dan sayuran yang akan mereka olah. Delia yang sedari tadi ada di kamar saat ini sudah berada di dapur dan hendak membantu memasak makan malam.


" Ada yang bisa delia bantu ?" Tanya nya kepada dua wanita yang sedang asik dengan pekerjaan nya.


" Eh Sayang.. kenapa kamu ke dapur ? kamu istirahat saja, biarkan ini menjadi tugas mama dan bik asih saja. Kamu kalau mau melihat kami memasak boleh, tapi tidak boleh membantu. Cukup duduk sambil melihat saja " Ucap mama silvi sambil memainkan alisnya.

__ADS_1


" Iya Non delia duduk saja. Kalau butuh sesuatu ngomong saja sama bibik " Seru bik asih.


" Delia itu mau membantu memasak, bukan untuk menjadi mandor. Mama sama bibik tidak asik " Seru delia sambil cemberut.


Mama silvi dan bik asih tertawa melihat wajah cemberut delia, menurut mereka delia seperti anak kecil yang merajuk yang wajah nya sangat lucu. Tanpa penolakan lagi akhirnya delia pun ikut membantu memasak, mama silvi tidak mau membuat mood delia jelek.


Setelah berkutat kurang lebih satu jam semua hidangan sudah siap di atas meja. Delia ke kamar nya untuk mandi begitupun dengan mama silvi. Mereka akan makan malam setelah sholat maghrib.


Drett.. Drett.. Drett.


Ponsel delia bergetar, delia langsung melihat siapa yang menghubungi nya.


[ Hallo ini siapa ya ?] Tanya delia kepada si penelpon.


[ Hallo delia, maaf aku mengganggu mu. Ini aku tini mantan kakak ipar mu ] Seru si penelpon yang ternyata tini mantan kakak ipar nya.


Mbak Tini ?


Delia kaget saat mengetahui jika ternyata tini yang menghubungi nya. Sudah berbulan - bulan tini tidak ada kabar dan sekarang tiba - tiba menghubungi nya.


[ Oh mbak tini ada apa mbak?]


[ Aku hanya ingin membicarakan soal ibu ku, apa benar mertua mu yang menyebabkan ibu ku mengalami tabrak lari sehingga ibu ku lumpuh ?


[ Maksud mbak tini apa ? Jangan sembarangan menuduh mbak, lagi pula itu salah ibu sendiri lari ke tengah - tengah jalan. Mungkin dia ketakutan dan mencoba menghindari mertua ku, sekarang gini untuk apa dia lari - lari seperti itu. Pasti dia merasa bersalah kan ? Takut dengan mertua ku ?]


Delia tidak mau kalah dari tini , dia tidak akan mwmbiarkan keluarga mantan suami nya menyalahkan mertua nya dengan insiden kecelakaan yang menimpa ibu siti.


[ Jangan banyang omong kamu delia !! Jangan mentang - mentang sekarang kamu sudah kaya, kamu bisa seenak nya begini. Lihat saja kami akan melaporkan masalah ini ke polisi ]


[ Oh silahkan. Kami tidak takut, kita lihat saja siapa yang bakalan mendekam di penjara. Kamu tahu kan kesalahan ibu mu terhadap mertua ku ] Ucap delia penuh keseriusan.


Delia yang sekarang bukanlah delia yang dulu , dia sudah tahan dengan gertakan dan hinaan. Sekarang dia akan membela diri nya dan orang - orang yang dia sayangi.


[ Kurangajar ] Seru tini.


Tini langsung mematikan sambungan telepon nya secara sepihak. Setelah sambungan telepon terputus delia langsung memblokir nomor telepon tini. Bahkan nomor harun , rosa dan ibu siti pun sudah dia blokir dari dulu. Hanya nomor amar yang memang tidak dia blokir.


*******

__ADS_1


JANGAN LUPA LIKE, KOMEN, VOTE , FAVORITE SERTA BERIKAN HADIAH DAN RATE BINTANG 5 NYA KAK 🙏🙏❤❤❤


TERIMAKASIH 🙏❤❤


__ADS_2