
🌹🌹🌹🌹 HAPPY READING 🌹🌹🌹🌹
.
.
.
💞💞💞💞💞💞
Amar dan Kartika sudah sampai rumah, setelah sampai rumah mereka langsung makan siang. Sebelumnya mereka sudah membeli makanan di rumah makan. Padahal tadi rencananya ingin makan siang bersama dengan ajeng dan diki tapi gagal total karena asti dan ibu jujuk yang tiba - tiba datang dan mengacaukan rencana mereka.
Setelah makan baik kartika maupun amar tidak ada yang membahas soal kejadian yang tadi terjadi mereka lebih memilih bersantai sambil membicarakan hal - hal yang bermanfaat.
" Mas, kalau aku masih membantu biaya sekolahnya dion tidak apa - apa kan mas ?" Tanya kartika serius.
" Tidak apa - apa dong dek, dion itu kan adik kamu. Kalau tidak biar mas saja yang membantu biaya sekolahnya dion. Dan uang kamu lebih baik kamu tabungkan saja. Mas juga akan memberi uang bulanan untuk bapak dan ibu. " Ucap amar .
" Mereka itukan keluarga ku mas ?" Seru kartika dengan wajah penuh keheranan.
Hhuuffff..
Amar terdengar menghembuskan nafas dengan panjang. Dia kurang suka saat kartika berkata jika itu hanya keluarganya, seolah kartika tidak menganggap Amar sebagai suaminya. Tetapi amar tidak mau langsung marah, dia berusaha memahami asti. Karena mereka berumah tangga juga belum lama.
" Dek, dengerkan mas ya. Kamu itu sekarang istriku dan aku suami mu. Jadi keluargamu adalah keluarga ku dan orang tuamu juga orang tua ku. Begitupun sebaliknya, tapi aku sudah tidak mempunyai orang tua. Hanya dua saudara ku, harun dan mbak tini. Jadi jangan pernah kamu beranggapan jika orang tuamu adalah orang lain bagi mas. " Ucap amar menasehati istrinya.
" Iya mas, terimakasih " Ucap kartika lalu memeluk amar.
Amar pun membalas pelukan istrinya sambil mengusap pucuk kepala kartika.
" Emmm... Dek jangan begini terus dong. Kamu sudah membangunkan sesuatu yang sedang tidur. " Seru amar dengan suara yang sudah mulai serak.
Kartika sudah paham apa yang dikatakan suaminya. Kartika justru semakin mempererat pelukannya sambil tertawa. Sepertinya memang sengaja membuat sang adik suaminya terbangun.
__ADS_1
" Aku sudah tidak tahan lagi dek, dia semakin berontak. " Ucap amar lalu bangkit dan langsung menggendong kartika masuk kekamar.
" Mas.... Jangan seperti ini. Aku takut jatuh !" Seru kartika menjerit.
" Sudah kamu tenang saja. Cepat buka pintu kamarnya,mas tidak bisa membukanya " Ucap amar yang sudah terdengar serak karena menahan sesuatu yang sudah semakin berontak.
Pintu terbuka dan amar langsung masuk dan merebahkan kartika di atas ranjang besarnya. Dan terjadilah sesuatu yang sudah sewajarnya terjadi antara suami dan istri.
*********
Tiga hari berlalu, semenjak kejadian keributan di rumah kontrakan ajeng beberapa hari yang lalu. Hari ini ajeng berniat kerumah ibunya untuk melihat keadaan sang kakak. Bagaimanapun juga asti masih saudara kandung ajeng, ajeng juga tidak jauh beda seperti ibunya yang menginginkan kakak nya sembuh dan hidup bahagia.
Tapi ajeng masih berfikir secara normal kebahagiaan dan kesembuhan sang kakak bukan dengan menikahkan asti dengan amar. Tetapi dengan cara pengobatan yang benar dan mendekatkan diri keapada sang pencipta.
" Mau apa kamu datang kesini jeng ?" Tanya ibu jujuk dengan wajah lelahya.
Kantung mata ibu jujukpun terlihat menghitam , sepertinya ibu jujuk kurang tidur dan kurang beristirahat. Ajeng menjadi kasihan melihat kondisi ibunya,dia takut justru ibunya yang akan sakit.
" Bu, aku datang kesini untuk menemui ibu dan memastikan keadaan ibu dan mbak asti. Kalian berdua baik - baik saja kan ? " Tanya ajeng dengan wajah cemas.
" Jangan seperti ini bu. Maafkan ajeng bu, ajeng bukan tidak mau menolong mbak asti. Tapi ibu tahu sendirikan jika mas amar dari awal tidak mau rujuk dengan mbak asti. Bu, mas amar itu butuh bahagia bu. Jadi jangan menyalahkan mas amar dalam hal ini. Jujur ajeng juga sedih melihat mbak asti seperti ini bu, tapi mau bagaimana lagi bu. Mbak asti butuh pengobatan yang benar dan teratur bu " Ucap ajeng mencoba bicara dengan lembut kepada ibu nya.
" Apa kamu menganggap kakak mu gila Jeng ?" Tanya ibu jujuk dengan wajah sedihnya.
Huufff...
Ajeng terdengar menghembuskan nafas dengan panjang. Tidak di bilang gila kakaknya memang tidak waras dan di bilang gila juga terkadang bersikap seperti orang normal pada umumnya, jadi ajeng menjadi serba salah.
" Aku tidak bicara seperti itu bu. Tapi bukannya dari dulu ibu tahu bagaimana mbak asti. Bahkan dulu setahun mbak asti juga ada di rumah sakit itu bu, dia keluar juga ibu yang mengeluarkan karena ibu bilang mbak asti sudah sembuh. Setelah itu baru mbak asti keluar negeri menjadi TKW. Dan sekarang ibu juga yang mengeluarkan mbak asti. Bu,mbak asti itu perlu pengobatan langsung dari ahlinya bu. Jadi sekali ini saja bu dengarkan ajeng, biarlah mbak asti di rawat di rumah sakit itu lagi sampai mbak asti benar - benar sembuh. Untuk biaya nya insya allah Ajeng akan bantu, bila perlu jual saja tanah bagian ajeng untuk biaya pengobatan mbak asti. " Ucap ajeng dengan serius.
Hikss... Hiksss... Hiksss
Tiba - tiba ibu jujuk menangis dalam pelukan ajeng. Sebenarnya ibu jujuk sudah tidak sanggup menghadapi dan memenuhi kemauan asti. Tapi ibu jujuk tidak mau jika asti harus kembali dirawat di rumah sakit , dia ingin merawat asti dirumah saja .
__ADS_1
" Tanah itu milikmu dan sudah menjadi hak mu Jeng. Sedikitpun ibu tidak akan meminta apa -apa dari mu Jeng. Ibu juga tidak setuju jika asti harus di rawat di rumah sakit itu lagi, ibu bisa merawat kakak mu di rumah bila perlu ibu akan memasungnya.
" Astaghfirullahaladzim ! Ibu jangan lakukan hal itu bu. Justru akan semakin menyakiti mbak asti , kasihan mbak asti bu. " Seru ajeng tidak setuju dengan rencana ibunya.
" Justru ibu lebih kasihan melihat kakakmu berteman dengan orang - orang gila disana Jeng. Terus ibu harus bagaimana jeng " Ucap ibu siti semakin terisak.
Ajeng tidak tahu lagi harua bicara apalagi agar ibunya bisa setuju untuk asti dirawat di rumah sakit lagi.
Brakk Brakk
Brakk Brakk
Pintu kamar asti di pukul dari dalam, sepertinya asti sudah mulai mengamuk lagi. Ibu jujuk maupun ajeng hanya membiarkan saja. Namu lama - lama ibu jujuk juga tidak tahan mendengar teriakan asti.
" Ibu..!! Keluarkan aku darisini ! Aku mau keluar, mas amar baru saja menelpon ku. Dia bilang ingin bertemu dengan ku,cepat buka pintunya bu . Nanti aku terlambat bu " Ucap asti sambil berteriak dan memukul daun pintu.
Brakk
Brakk
Gembrakan pintu asti semakin nyaring di dengar. Akhirnya ajeng pun mendekati kamar asti dan mengajak asti berbicara.
" Mbak asti jangan memukul pintu seperti itu,nanti pintu nya rusak mbak." Seru ajeng.
" Ajeng ... Ajeng. Kamu ajengkan ? Pasti mas amar menyuruhmu untuk menjemputku. Cepat bilang sama ibu agar segera membuka pintu. " Ucap asti terdengar sangat senang.
" Ibu tidak ada mbak dan aku tidak tahu dimana kuncinya " Ucap ajeng berbohong.
Brrakk... Brakkk...
Brakk..Braaakkkk
*******
__ADS_1
LIKE, KOMENTAR, VOTE, FAVORITE, SERTA BERIKAN HADIAH NYA 🙏🙏🙏❤️
TERIMAKASIH 🙏❤️❤️