
🌹🌹🌹🌹 HAPPY READING 🌹🌹🌹🌹
.
.
.
💞💞💞💞💞💞💞
Amar memenuhi janji untuk bertemu dengan kakak ipar diki di salah satu cafe, amar datang dengan mengendarai motor nya. Saat di perjalanan menuju cafe amar bertemu dengan asti. Amar langsung menghentikan motor nya dan menghampiri asti yang sedang berdiri di pinggir jalan.
" Mbak asti masih ingat dengan saya ?" Tanya amar saat berhenti dan membuka helm yang dia pakai.
" Eehh... ini kan mas amar yang pernah nolongin saya waktu motor saya mogok itu. " Ucap asti yang ternyata masih mengingat amar.
" Benar saya amar. Mbak ngapain disini dan mau kemana ini ? " Tanya amar ingin tahu.
" Oh ini mas saya sedang menunggu ojek online dari tadi order belum dapat juga. Tadi sih sudah bawa motor tapi mogok lagi, itu motor nya saya tarok bengkel " Ucap asti sambil menunjuk ke arah bengkel yang tidak jauh dari tempat nya berdiri.
" Terus ini mau kemana ? Boleh saya antar ?" Tanya amar dengan semangat sampai dia nelupakan janji nya dengan ipar diki.
Asti terlihat bingung dan malu - malu karena dia selama ini tidak pernah mau dekat dengan laki - laki. Dia trauma dengan mantan pacar nya dan takut kejadian yang dulu terulang lagi.
" Emhh saya mau ke cafe XX mas ada janji ketemu sama temen saya " Jawab asti ragu - ragu.
* Cafe XX .. aku kan juga ada janji dengan kakak ipar nya diki di cafe itu juga * Gumam amar dalam hati nya.
" Kok kebetulan ya mbak , saya juga mau ke cafe itu ada janji sama seseorang. Kalau begitu kita bareng saja " Ucap amar menawarkan jasa.
" Tapi apa tidak merepotkan mas amar ?" Tanya asti.
" Tidak mbak, kita kan ke tempat yang sama. Ya sudah yuk kita berangkat. " Ucap amar.
Asti akhirnya ikut dengan amar, sepanjang perjalanan mereka hanya saling diam, sibuk dengan fikiran nya masing - masing. Setelah tiga puluh lima menit motor amar sudah sampai di depan cafe.
" Terimakasih ya mas, kalau begitu saya duluan masuk " Ucap asti berterimakasih.
" Sama - sama mbak " Jawab amar.
Sebelum masuk ke dalam cafe amar terlebih dahulu menghubungi diki untuk memberitahu jika diri nya sudah ada di cafe.
[ Dik aku sudah ada di cafe XX nih. Itu kakak ipar kamu bagaimana ciri - ciri nya dan duduk di meja nomor berapa?] Tanya amar.
__ADS_1
[ Maaf aku lupa mengasih nomor ponsel nya ke kamu. Ya sudah nanti aku kirim nomor ponsel nya, kamu bisa hubungi dia langsung ] Ucap diki dari seberang sana.
[ Ok. Aku tunggu ]
[ Siap..semoga cocok ya. Kalau sudah saling cocok langsung lamar saja biar tidak kedahuluan orang lain ]
[ Apaan sih ]
Amar langsung mematikan sambungan telepon nya. Dan tidak lama menunggu diki mengirimkan nomor ponsel kakak ipar nya. Amar langsung menghubungi nomor yang tadi sudah di kirim diki.
[ Hallo... ] Suara dari seberang sana terdengar sangat merdu di telinga amar.
[ Emmhh... hallo maaf apa ini kakak ipar nya diki ?] Tanya amar.
[ Iya, maaf ini dengan siapa ya ?]
[ Saya teman diki mbak. Mbak dimana ya ? saya sudah ada di cafe XX ]
[ Oh.. mas sudah di sini, saya juga sudah ada di cafe XX. Mas di sebelah mana ? Saya ada di meja nomo 15 mas ]
[ Oh baik saya ke situ sekarang mbak ]
Setelah sambungan telepon terputus amar langsung masuk ke cafe dan langsung mencari meja nomor 15. Mata amar melihat memang ada seorang perempuan yang duduk di meja nomor 15 , namun amar tidak bisa melihat wajah nya. Perempuan itu duduk dengan membelakangi pintu masuk.
" Iya mas.... Loh mas amar " Seru asti kaget.
Perempuan yang duduk di meja nomor 15 itu adalah asti, baik asti maupun amar belum saling tahu jika sebenarnya mereka sudah janjian melalui jalur makcomblang diki.
" Kok mbak asti duduk di meja nomor 15 ? Mana teman mbak asti ?" Tanya amar heran.
" Aneh mas amar ini. Ya bisa lah saya duduk di sini, saya kan memang sudah janjian dengan teman saya disini dan di nomor meja 15 ini. " Ucap asti sambil terkekeh.
" Tunggu dulu... saya kok bingung. Tadi saya telepon teman saya kata nya dia sudah menunggu di meja nomor 15. Atau jangan - jangan...." Amar menjeda ucapan nya.
" Diki !!" Seru amar dan asti bersamaan.
Mereka pun sama - sama tertawa dengan kekonyolan yang mereka ciptakan. Teenyata orang yang ingin mereka temui dari tadi sudah di hadapan mereka dan bahkan mereka datang dengan berbarengan.
" Ternyata mbak asti ini kakak ipar nya diki ? Diki juga tidak pernah bilang kalau nama kakak nya itu asti, tahu gitu kan aku tidak perlu repot - repot mencari mbak tadi " Seru amar.
" Iya mas. Diki juga tidak bilang kalau teman nya itu bernama amar. Ternyata kita sudah pernah bertemu dan saling kenal " Ucap asti yang mulai merasanyaman dengan amar.
" Jodoh memang tidak kemana ya " Seru amar sambil terkekeh.
__ADS_1
Akhirnya mereka pun saling bercerita tentang perjalanan hidup masing - masing. Tentu nya bukan cerita yang sedih - sedih.
Dari sini baik amar maupun asti merasa ada kecocokan, asti ternyata orang yang humbel dan mudah bergaul, tetapi terlihat jutek jika kita belum mengenal nya secara langsung.
*******
" Bu, aku minta uang dong. Bensin motor ku habis tuh. Aku juga mau beli pulsa internet. " Ucap harun yang baru saja pulang dan tiba - tiba datang minta uang.
Tini yang melihat harun pulang sama sekali tidak menegur nya, bahkan dia pura - pura tidak mendengar saat harun meminta uang kepada ibu nya. Dia sibuk dengan ponsel di tangan nya,berselancar di dunia maya.
" Ibu tidak ada uang run, minta saja sama tini. Dia yang pegang uang " Ucap ibu siti seenak nya.
" Mbak bagi uang dong. Tidak banyak kok seratus ribu saja " Seru harun beralih meminta kepada tini.
Tini tetap fokus sama ponselnya dan pura - pura tidak mendengar ucapan harun.
" Mbak.. Mbak tini !" Panggil harun sedikit keras.
" Apaan sih run " Seru tini tidak ketus.
" Harun dari tadi memanggil mu tapi kamu tidak mendengar. Sebenar nya kamu itu mendengar nya tapi pura - pura tidak mendengar. Dia mau minta uang tin, kasih dulu adik kamu itu uang " Ibu siti ikut bicara .
Tini mendengus kesal, karena harun dan ibu nya selalu uang terus yang di ributkan. Kapan bisa diam dan tidak membahas soal uang.
" Aku tidak ada uang " Ucap tini singkat.
" Jangan pelit dong mbak " Ucap harun dengan wajah memelas nya.
" Sama adik sendiri saja pelit kamu tin. " Ucap ibu siti mencibir tini.
Tini kesal , benar - benar kesal. Semenjak amar tidak mau tahu lagi dengan keluarga nya, kini semua beban di pindahkan kepada tini. Harun dan ibu siti seenak nya meminta duit dan makan, makanan yang enak.
" Ibu bilang harun itu banting tulang menafkahi ibu. Sekarang mana bukti nya , mau makan saja harus nunggu tini beli atau masak. Mau beli pulsa , beli rokok dan bensin motor nya saja mintak tini. Mana bukti nya kalau dia kerja banting tulang bu, jangan cuma omongan saja yang di besarin bu. Ibu terlalu membela harun dan memanjakan harun, sekarang dia justru menjadi pemalas " Seru tini dengan emosi.
" Tini !! Sekarang kamu sudah berani membantah ibu mu. " Ucap ibu siti lantang.
" Sudahlah bu. Tini tidak mau ribut lagi, malu di dengar tetangga. Pokok nya sekarang tini tidak akan memberikan harun uang lagi. Kalau mau uang kerja sendiri. " Seru tini.
Tini langsung masuk ke dalam kamar dan mengunci nya dari dalam, dia membiarkan ibu nya juga tidur di kamar harun saja. Malam ini tini memilih untuk tidur sendirian untuk menenangkan diri nya.
*******
LIKE, KOMEN, VOTE, FAVORITE, SERTA BERIKAN HADIAH DAN RATE BINTANG 5 NYA 🙏❤❤
__ADS_1
TERIMAKASIH 🙏❤❤