Bukan Istri Parasit

Bukan Istri Parasit
Tidak berubah


__ADS_3

🌹🌹🌹🌹 HAPPY READING 🌹🌹🌹🌹


.


.


.


💞💞💞💞💞💞


Amar dan Tini terkejut saat ibu siti mendorong asti sampai tersungkur. Dan justru ibu siti ikut terjengkang ke belakang, kursi roda nya sampai terbalik dan menimpah tubuh ibu siti. Tini langsung menolong ibu nya dan amar menolong asti.


" Aku tidak apa - apa mas, mas tolong ibu saja " Ucap asti setelah berdiri dan memang di tubuh nya tidak ada yang luka hanya nyeri di bagian siku nya saja.


" Kamu beneran tidak apa - apa kan dek?" Tanya amaelr khawatir.


" Iya tidak apa - apa. " Jawab asti dengan senyum mengembang.


Amar dan langsung ikut menghampiri ibu siti, amar mengangkat ibu nya dan di baringkan di atas karpet. Wajah ibu siti meringis kesakitan karena kening nya tergores sehingga sedikit mengeluarkan darah.


" Mbak ambil kotak obat dan kapas" Ucap asti yang tetap mencoba baik kepada calon ibu mertua nya.


" Tidak perlu sok baik. Ini semua gara - gara kamu, gara - gara kamu juga anak ku jadi pembangkang. " Ucap ibu siti sambil terus meringis dan memegangi kening nya.


" Bu, kenapa asti yang di salahkan ? Tadi kalau ibu tidak mendorong asti, ini semua tidak akan terjadi dan ibu tidak akan terluka. " Ucap amar tetap membela calon istri nya.


Tini keluar dari kamar dengan membawa kotak obat, tini langsung membersihkan luka di kening ibu nya. Mata ibu siti tetap melirik sinis ke arah asti. Seolah - olah menganggap asti sebagai musuh bebuyutan.


" Mar, bukan nya mbak mau mengusir kalian. Lebih baik kamu ajak asti pulang, mbak tahu bagaimana watak ibu. Kalau dia sudah marah tidak bisa di ajak bicara baik - baik. Asti maafin ibu ya, jangan di ambil hati ucapan ibu. " Seru tini merasa tidak enak dengan asti.


Bagaimana pun tini dia sudah berjanji akan mendukung dan menerima wanita pilihan adik nya itu. Dia sudah sedikit berubah, namun hanya kebiasaan bermain dengan para hidung belang yang memang belum bisa dia tinggalkan. Bagaimana pun hal itu sudah menjadi rutinitas nya, seperti orang yang ketagihan akan *3**.


" Untuk apa kamu meminta maaf sama perempuan itu. Kalau aku tidak sudi, belum juga jadi menantu tapi sudah mempengaruhi amar untuk membangkang kepada ibu nya. " Ucap ibu siti ketus dengan tatapan sinis


Amar tidak enak dengan asti atas perlakuan ibu nya. Akhirnya amar pun memilih mengikuti ucapan kakak nya, dia pun mengajak asti pulang. Lama - lama di rumah ibu nya akan semakin melukai hati asti. Perkataan ibu nya sangat pedas dan tajam.


" Kalau begitu kami permisi buk , mbak. Maaf sudah membuat kacau semua nya. Oh iya ini tadi oleh - oleh dari asti untuk kalian. " Seru amar sambil meletakkan plastik yang sedari tadi dia letakkan di belakang nya.

__ADS_1


" Pulang sana " Usir ibu siti.


" Mbak jangan lupa sepuluh hari lagi aku akan menikah amar harap mbak bisa datang. Ajak harun dan ibu sekalian jika mereka mau , nanti alamat nya amar kirim lewat chatt saja . Maaf kalau begitu kami permisi. " Ucap amar lalu menggandeng tangan asti dan mengajak nya keluar dari kontrakan.


" Iya mar " Jawab tini singkat.


Tanpa bersalaman amar dan asti pun akhir nya keluar dari rumah kontrakan ibu siti. Saat hendak menghidupkan motor nya tiba - tiba harun datang dengan wajah kusut nya.


" Eh ada mas amar, ini pasti calon istri mas amar " Seru harun yang baru saja turun dari motor nya.


" Kamu darimana ? " Bukan nya menjawab amar justru balik bertanya.


" Yeee...di tanya malah balik tanya. Aku dari pangkalan ojek. Disana sepi, jadi aku pulang saja " Ucap harun jujur.


" Ngojek jam segini pulang ? memang nya kamu sudah dapat uang ?" Tanya amar.


" Sudah ini dapat 20 ribu saja. " Jawab harun sambil memperlihatkan uang 20 ribu yang dia keluarkan dari kantong jaket nya.


Amar menggelengkan kepala nya dan langsung menghidupkan motor nya. Dan benar - benar pergi meninggalkan rumah kontrakan ibu nya.


Akhirnya Amar membawa Asti jalan - jalan, mumpung dia libur dan punya waktu senggang untuk mengajak asti jalan.


*********


" Dek, maafin ibu ya. Ibu memang watak nya seperti itu , aku saja tidak tahu kenapa dia memandang seseorang hanya dengan pendidikan dan harta yang dimiliki saja. Padahal aku sendiri bukan orang kaya, aku kerja juga sama orang lain. Aku bukan boss nya. Aku sempat berfikir apa aku ini bukan anak kandung nya, karena dia selalu memperlakukan ku berbeda. Hanya uang - uang saja yang dia minta saat menemui ku. " Ucap amar dengan wajah kecewa karena perlakuan ibu nya tadi.


" Sudah mas tidak apa - apa. Mungkin saat ini ibu memang belum bisa menerima ku sebagai menantu nya. Tapi suatu saat ibu pasti mau menerima ku. Mas tidak salah kok, tadi kan memang aku yang memaksa mas untuk mengenalkan aku kepada ibu. Jangan punya fikiran negatif seperti itu. " Ucap asti dengan lembut.


Perkataan asti bagaikan angin sejuk bagi amar, pikiran nya yang memanas karena ulah ibu nya tadi bisa sejuk kembali saat mendengar penuturan asti.


" Iya dek, terimakasih. Terimakasih kamu sudah mau menerima semua perlakuan ibu tadi. Dengan atau tanpa restu ibu aku akan tetap menikahi mu. Dan aku sangat berharap ini pernikahan jadi yang terakhir dalam hidup ku. " Seru amar sambil menggenggam jemari asti dengan erat.


Ehhemm... Ehhhemmm


Tiba - tiba ada suara mendekati mereka berdua dan berdehem cukup kuat sehingga membuat amar langsung melepaskan tangan asti begitu saja. Saat mengetahui siapa yang datang amar san asti nampak malu - malu kucing.


" Ingst woii belum halal " Ucap diki yang kini sudah ikut duduk.

__ADS_1


Ajeng dan anak nya pun ikut duduk di meja yang sama, kini 4 kursi sudah terisi penuh.


" Kalian ngagetin saja. " Seru amar gugup.


" Kalau tidak kami kagetin pasti tadi sudah ada adegan saling sosor. Kan malu di lihat para pengunjung yang lain nya. Jadi cari aman aku kaget kan saja " Seru diki sambil memainkan alis nya.


Amar langsung memukul kepala diki dengan menggunakan buku menu yang ada di atas meja. Dia kesal, karena mulut diki tidak bisa di rem.


" Mulut kamu itu bisa tidak sih kalau bicara pelan, kalau di dengar orang kan tidak enak. Dikira nya aku sama asti pasangan mesum, lagi pula siapa juga yang mesra - mesraan di sini. Aku cuma menggenggam tangan asti saja kamu sudah heboh. Untuk teman kalau bukan sudah aku getok kepala kamu pakai vas bunga ini " Ucap amar kesal sambil menganggkat vas bunga .


" Eitt tunggu aku bukan hanya teman kamu saja, tapi kita juga akan sama - sama menjadi ipar. Tapi sayang nya aku adik ipar dan kamu kakal ipar, kan curang padahal usia nya lebih tua aku 1 tahun kan. Tapi tidak masalah kamu kan bisa memanggil ku mas " Ucap diki tetap bercanda.


" Mana bisa seperti itu. Adik tetap adik, kakak ya kakak." Ucap amar tidak setuju dengan perkataan diki.


" Bisa dong, umur kamu kan lebih muda dari aku" Jawab diki tidak mau kalah.


" Sudah - sudah !! Malu di lihatin orang, kalian kalau mau berdebat sana di luar. Kami disini mau makan " Ucap asti menengahi perdebatan antara diki dan calon suami nya, Amar.


Amar dan diki pun akhir nya diam, mereka juga sibuk memilih menu makanan yang akan mereka pesan. Setelah selesai memesan , diki menanyakan soal pertemuan dengan ibu siti tadi sambil menunggu pesanan datang.


" Bagaimana pertemuan dengan ibu mu mar ?" Tanya diki ingin tahu.


Hhaahhh....


Helaan nafas panjang keluar dari mulut amar. Melihat ekspresi wajah amar, tanpa amar jawab pun diki sudah tahu jawaban nya. Pasti terjadi hal yang tidak mengenakan.


" Kamu pasti sudah tahu jawaban nya, sudah jangan tanya soal itu lagi. Jangan merusak suasana dengan pertanyaan mu itu" Ucap amar serius.


" Ok. " Jawab diki singkat.


Setelah menunggu cukup lama akhirnya menu yang mereka pesan sudah terhidang di atas meja. Mereka memakan makanan nya dalam diam, hanya suara dentingan sendok dan piring saja yang terdengar dan celotehan anak diki yang memang sudah bisa bicara walaupun tidak jelas apa yang dia bicarakan.


**********


Nahh... siti untung cuma terjengkang 🤭🤭


LIKE, KOMEN, VOTE, FAVORITE DAN JANGAN LUPA BERIKAN HADIAH NYA DAN RATE BINTANG 5 NYA KAK ❤❤ AGAR AUTHOR SEMAKIN SEMANGAT UP NYA. ❤❤

__ADS_1


TERIMAKASIH 🙏🙏❤❤


__ADS_2