
πΉπΉπΉπΉ HAPPY READING πΉπΉπΉπΉ
.
.
.
πππππππ
Tiga hari setelah pemecatan asti, asti kembali menyibuk kan diri seperti biasa datang ke rumah ibu mertua nya. Seakan tidak pernah terjadi apa - apa, dia terlihat biasa saja seolah melupakan semua yang sudah terjadi. Tapi dalam hati asti siapa yang tahu, dia membenci delia pun orang terdekat nya tidak akan yang tahu.
" Asti, mbak berangkat kerja dulu ya. Tolong kamu jagain ibu, nanti siang kamu bisa bergantian sama harun kok. Dia kalau siang pasti pulang, jadi kamu bisa pulang " Seru tini sebelum berangkat kerja.
" Iya mbak " Jawab asti singkat.
Tini belum tahu jika asti pernah depresi, amar memang tidak menceritakan nya kepada keluarga nya. Seburuk - buruk nya sifat istri nya amar tidak mau mengumbar nya di luar, meskipun itu dengan keluarga nya sendiri. Amar belajar dari sebuah kesalahan di masalalu nya saat berumah tangga dengan delia.
Hari ini sebenar nya baru hari pertama asti kembali beraktifitas ke rumah ibu mertua nya. Kemarin - kemarin amar tidak memperbolehkan asti kemana - mana.
" Bu, kapan ibu itu sembuh. Biar tidak bikin anak - anak repot bu. Aku itu malas bu harus kesana - kemari bergantian ngurus ibu. Betah amat sih tidak sembuh - sembuh " Ucap asti mengoceh tidak jelas.
* Kenapa asti jadi seperti ini, bukan seperti asti yang pertama kali amar bawa ke rumah ini.* Gumam ibu siti dalam hati nya.
" Ka.. kalau.. kaa kamu tidak mau menemani ku tidak apa - apa. Kamu pulang saja, biar nanti harun yang mengurus ku. " Ucap ibu siti terbata - bata.
" Nah gitu dong bu. Ya sudah asti tinggal ya, kalau mau apa - apa tunggu harun pulang saja " Ucap asti lalu bangkit dari duduk nya dan keluar dari kamar ibu siti.
Asti benar-benar meninggalkan rumah kontrakan ibu mertua nya. Dia membawa motor nya pergi ke suatu tempat yang sudah lama tidak dia datangi, kemana lagi kalau bukan ke rumah orang tua nya.
Sementara itu di kantor nya amar menghubungi kakak nya untuk memberitahu jika untuk beberapa hari dirinya tidak bisa menjenguk ibu nya karena sepulang dari kerja harus menemani asti.
[ Mbak , maaf untuk beberapa hari ini amar tidak bisa menjenguk ibu ya mbak. Maaf juga dua hari ini amar tidak ke kontrakan. Oh iya mbak, kabar ibu bagaimana ? Harun yang jaga ibu kan ?] Tanya amar saat melakukan sambungan telepon.
[ Ibu ya begitu mar, tidak ada perubahan. Iya tidak apa - apa, memang nya kamu sibuk banget ya sampai tidak bisa jenguk ibu? Hari ini istri mu yang jaga ibu mar, tapi siang nanti harun juga pulang. ] Ucap tini .
[ Hahh... asti yang jagain ibu ? Mbak serius ? Asti itu lagi sakit mbak, makanya amar belum bisa jenguk ibu. ]
__ADS_1
Amar langsung kaget saat tini mengatakan jika asti yang menjaga ibu nya. Kini amar justru menghawatirkan kedua nya.
[ Tapi tadi sebelum mbak berangkat asti terlihat baik - baik saja mar ? Memang nya sakit apa si asti ?]
[ Kenapa asti bisa sampai kontrakan ibu, padahal aku sudah bilang untuk diam dan istirahat. Ya sudah mbak, aku telepon harun saja biar dia segera pulang nemenin ibu. Takut kenapa - kenapa amar mbak. ]
[ Oh ya sudah kamu hubungi harun ya, mbak lagi kerja ini Mar ]
[ Iya mbak ]
Selesai menghubungi tini, amar langsung melakukan panggilan telepon kepada harun. Beruntung harun mengangkat sambungan telepon nya dan mau mengikuti perintah amar untuk pulang melihat kondisi sang ibu dan asti.
*******
Harap - harap cemas amar menunggu kabar dari harun , sudah setengah jam harun belum juga memberi kabar amar. Amar menghawatirkan ibu nya dan asti, takut asti membuat ibu nya semakin drop apalagi saat ini asti memang belum stabil emosi nya.
[ Mas, mbak asti tidak ada di kontrakan. Di kontrakan hanya ada ibu saja, kata ibu mbak asti pergi dari tadi karena dia tidak mau menemani ibu. ] Tulis harun .
[ Oh ya sudah , kalau begitu kamu jaga ibu ya run ] Balas amar.
[ Iya mas ]
" Dik, kenapa asti bisa sampai rumah ibu ?" Tanya diki datang sambil menepuk punggung amar.
" Hahh... kok kamu tahu ?" Tanya amar yang mengira ibu yang dimaksud diki adalah ibu siti.
" Ini ajeng barusan kirim pesan, kasih tahu kalau asti ada di rumah. Dan saat ini sedang menangis ,kata nya kamu selingkuh dari nya. Huuhhh... aku kasihan sama kamu dik, menikah ke tiga kali nya tapi kenapa harus seperti ini juga. " Seru diki sambil menunjukan pesan yang dikirim kan ajeng kepada amar.
Hah.. ?.
Selingkuh ?
Amar di buat bingung dengan asti, kenapa dia bisa bilang kepada ibu jujuk jika diri nya selingkuh ? Dan kenapa asti ada di rumah ibu nya. Amar benar - benar stress di buat nya, niat menikahi asti ingin memulai kebahagiaan tapi ini justru di buat pusing dengan kelakuan asti.
" Entahlah dik, aku pusing dengan asti. Semenjak dia di pecat delia, ada - ada saja kelakuan nya. Tiga hari ini dia terus menuduh ku selingkuh dan ingin rujuk dengan delia. Aku sudah jelaskan tapi dia tidak mau tahu juga, aku capek aku lelah dik, ibu ku sakit-sakitan dan istri ku seperti orang tidak waras. " Ucap amar sambil menyugar rambut nya.
" Ok..nanti saja cerita nya. Sekarang kita masih jam kerja. Jangan lupa nanti jemput mbak asti dan kamu jelaskan semua nya kepada ibu " Seru diki memberi tahu.
__ADS_1
Amar hanya mengangguk dengan pelan. Akhir - akhir ini amar memang banyak sekali masalah. Sakit ibu nya yang tidak ada kemajuan, istri yang bersikap aneh, pekerjaan yang menumpuk. Seandainya saja tubuh amar itu buatan manusia mungkin sudah hancur dari dulu.
* Ya Allah... cobaan apalagi ini. Sebenarnya wanita seperti apa yang aku nikahi, kenapa dia bisa beranggapan jika aku ini berselingkuh. Apa pernikahan seperti ini bisa aku pertahan kan ? Beri aku kekuatan dan kelapangan sabar yang penuh , ya Allah. * Gumam amar dalam hati nya.
" Kenapa mar ?" Tanya teman kerja amar.
" Tidak apa - apa bro " Jawab amar mencoba tersenyum.
" Kalau memang ada masalah langsung di selesaikan, jangan di biarkan berlarut - larut. Nanti bisa memlengaruhi konsentrasi pekerjaan kamu. " Saran teman amar.
" Iya bro, terimakasih saran nya " Jawab amar.
Amar kembali fokus di depan layar komputer nya, banyak pekerjaan yang harus segera dia selesaikan jadi tidak mungkin dia mengambil cuti.
* Apa pernikahan ke tiga ini harus berakhir juga ? Tidak, tidak aku tidak mau bercerai ke tiga kali nya. Asti pasti bisa sembuh, aku akan berusaha untuk membuat asti sembuh dan melupakan semua masalalu nya. Tapi setidak nya sifat iri dengki asti harus di sembuhkan juga . Tapi bagaimana ? Sedangkan asti tidak ada keinginan untuk berubah, aku berusaha sekuat apa pun kalau asti tidak ada keinginan juga percuma* Seru amar dalam hati nya.
Jam kantor pun selesai kini tiba waktu nya untuk pulang. Amar dan diki mengendarai motor beriringan menuju rumah ibu mertua nya. Tidak butuh waktu lama mereka berdua pun sampai di rumah ibu mertua nya.
" Dik , apa ibu percaya dengan tuduhan asti yang bilang aku selingkuh ?" Tanya amar sambil memarkirkan motor nya.
" Ibu itu sudah tahu jika mbak asti hanya berhalusinasi saja, mar bagaimana kalau kita bawa mbak asti berobat? " Tanya diki ragu.
" Aku setuju saja dik. Nanti kita bicarakan juga sama ibu bagaimana pun kita juga harus meminta persetujuan ibu selaku ibu dari Asti. Aku ingin asti sembuh dik, aku ingin hidup bahagia dengan nya. " Seru amar pelan sambil menunduk.
" Sabar ya mar, kalau dari awal aku tahu mbak asti seperti ini aku tidak akan mendukung pernikahan mu. Maaf, aku benar - benar tidak tahu" Seru diki sambil menepuk pundak amar.
" Ini bukan salah mu, sudah berapa kali saja kamu minta maaf. Ya sudah ayok masuk ini sudah mau magrib juga. " Ajak amar.
Amar dan diki pun berjalan menuju pintu dan masuk ke dalam rumah bersama - sama.
" Hahh......!!!"
********
Kira - kira apa yang terjadi ya ?
LIKE, KOMEN, VOTE , FAVORΓTE, SERTA BERIKAN HADIAH NYA DAN RATE BINTANG 5 NYA πβ€
__ADS_1
YANG TIDAK SUKA DENGAN KARYA AUTHOR SKIP SAJA YA ππ
TERIMAKASIH πβ€β€