
πΉπΉπΉπΉ HAPPY READING πΉπΉπΉπΉ
.
.
.
ππππππ
Seminggu berlalu, asti kini sudah menempati salah satu rumah sakit jiwa yang ada di kota. Amar belum tahu jika mantan istri nya itu masuk rumah sakit jiwa, diki sengaja tidak memberitahu amar bertujuan agar amar tidak merasa bersalah sudah menceraikan asti. Salah satu penyebab asti gila juga karena dia tidak terima dengan perceraian nya, aneh kan ? minta cerai tapi giliran di ceraikan dia tidak terima.
Keadaan ibu siti pun semakin memburuk, bahkan kini ibu siti hanya mengandalkan alat - alat medis yang di pasang di tubuh nya. Amar dan dua saudara nya sudah ikhlas jika memang sang pencipta mengambil ibu nya. Dalam seminggu ini, mama asti sudah dua kali datang menjenguk siti. Dia terlihat sedih melihat keadaan ibu siti yang sama sekali tidak menunjukan perubahan.
" Mar, kita ikhlaskan saja ibu mar " Seru tini yang berdiri di samping amar.
" Amar sudah ikhlas mbak. Kapan pun ibu meninggalkan kita, amar sudah ikhlas. " Jawab amar dengan tatapan kosong.
" Bukan mau mendahuli Allah.. Amar tidak yakin jika ibu akan sembuh. Setiap hari keadaan ibu semakin memburuk, bahkan ibu bertahan karena bantuan alat - alat medis saja. " Ucap amar dengan raut wajah sedih.
Sedangkan harun terdiam di kursi sudut kamar sambil memandangi tubuh ibu nya yang semakin melemah. Harun , anak yang paling di manja dan di sayang bahkan apa yang harun minta ibu nya akan selalu memberikan nya. Anak manja itu sekarang terlihat sedih dan rapuh melihat kondisi ibu nya yang semakin memburuk, kenangan - kenangan bersama ibu nya menari - nari di fikiran nya.
" Aku dulu sangat di manja, di sayang bahkan apa yang aku minta selalu di turuti ibu. Tapi... aku sebagai anak belum pernah memberikan sesuatu untuk ibu, belum pernah membuat ibu bahagia. Bu.. maafkan harun bu, karena selama ini harun jadi anak durhaka sama ibu, ibu seperti ini pasti karena harun. " Seru harun sambil meneteskan air mata nya.
Tini menghampiri harun dan membawa harun dalam pelukan nya, dia mencoba menenangkan harun agar tidak menyesali dan menyalahkan diri nya terus menerus.
" Jangan menyalahkan diri kamu run " Seru tini.
Namun tiba - tiba terdengar suara memanggil nama delia dan rani. Suara itu terdengar sangat pelan.
" Delia... rani "
Ternyata suara itu dari arah ranjang ibu siti, amar dan ke dua saudara nya langsung mendekati ranjang.
" Ibu.. ibu sudah siuman " Seru amar dengan senang.
Ibu siti membuka mata nya dengan pelan - pelan, wajah sangat pucat dan terlihat semakin kurus. Tini dan harun pun terlihat senang karena ibu nya sudah siuman, hampir dua minggu sang ibu tidak sadarkan diri.
" Delia.. rani " Seru ibu siti terbata - bata.
" Ibu mau bertemu delia dan rani ?" Tanya amar ragu.
Ibu siti hanya mengedipkan mata nya , tini dan amar saling beradu pandang.
" Baik bu nanti amar hubungi mereka " Ucap amar mengiyakan keinginan ibu nya.
Amar keluar ruang rawat ibu siti dan duduk di kursi tunggu yang ada di depan kamar. Amar mengambil ponsel dalam kantong celana nya dan langsung menghubungi delia, delia orang pertama yang amar hubungi.
Alhamdulillah delia bersedia datang ke rumah sakit, pada dasar nya delia memang sudah pernah menjenguk ibu siti bersama mertua nya. Kini amar beralih menghubungi rendi suami rani, karena amar tidak mempunyai nomor ponsel rani.
__ADS_1
[ Hallo... siapa ini ?] Tanya rendi dari seberang sana.
[ Maaf mengganggu Ren... ini aku amar . Apa kamu dan istri kamu ada waktu?]
[ Oh... amar. Iya ada apa mar ? memang nya mau ada acara apa ? ]
[ Emm... bisa kah saya minta tolong rani datang ke rumah sakit, karena ibu ingin bertemu rani. ]
[ Oh.. saya nanti coba tanya istri saya dulu ya Mar. Soalnya beberapa hari ini rani mabuk parah, maklum lagi hamil muda ]
[ Iya Ren.. Kalau begitu sudah dulu ya. Saya tutup telepon nya. ]
[ Iya mar, nanti kami usahakan datang ke rumah sakit ]
[ Terimakasih ]
Amar pun menutup sambungan telepon nya, dia duduk sejenak memikirkan apa yang diinginkan ibu nya tadi. Kenapa ibu nya ingin bertemu dua mantan menantu nya yang sudah bahagia dengan kehidupan baru nya.
*********
" Memang nya ada apa kok mas amar meminta aku datang ke rumah sakit mas ?" Tanya rani.
Sepulang dari bekerja rendi memberitahu istri nya jika amar tadi menghubungi nya. Amar meminta rani untuk datang ke rumah sakit.
" Tidak tahu sayang. Amar hanya bilang jika ibu nya ingin bertemu dengan mu" Seru rendi lagi.
" Datanglah ran, siapa tahu ini permintaan terakhir mantan mertua mu " Ucap ibu rani ikut berbicara.
" Ibu... Kenapa ibu bisa berfikir begitu? Tidak bagus loh bu mendoakan orang yang jelek - jelek " Seru rani tidak suka dengan perkataan ibu nya.
" Ibu tidak bermaksud mendoakan yang jelek ran. Sudah sekarang kamu siap - siap untuk ke rumah sakit " Ucap ibu rani lagi.
" Iya sayang, ibu benar sekarang kita siap - siap ya. Tapi kamu masih mual atau tidak ?" Tanya rendi ingin tahu.
" Tidak mas " Jawab rani yakin.
Rani masuk ke kamar nya untuk bersiap - siap. Setelah sepuluh menit mereka pun sudah siap dan langsung berangkat ke rumah sakit. Saat dalam perjalanan rani menyempatkan untuk mengirim pesan kepada delia.
[ Mbak.. ada apa ya, kok mas amar meminta ku ke rumah sakit?] Tulis rani.
Rani dan delia sekarang memang sering berkomunikasi bahkan kadang rani juga datang ke toko delia sekedar untuk mengobrol ringan dengan delia.
[ Loh... aku juga diminta ke rumah sakit Ran. Ini aku lagi di jalan bareng sama mama ] Balas delia.
[ Kira - kira ada apa ya mbak ? ]
[ Aku tidak tahu Ran.. Nanti kita ketemu di rumah sakit saja ya. Kebetulan ini juga mama pas menginap di rumah jadi dia juga ikut ]
[ Iya mbak ]
__ADS_1
" Chatt sama siapa sih sayang kok kelihatan nya fokus banget ?" Tanya rendi sambil melirik ke arah rani.
Rani memasuk kan ponsel nya ke dalam tas dan memperbaiki posisi duduk nya.
" Mbak delia mas. Mbak delia juga diminta ke rumah sakit, sekarang juga lagi ada di jalan " Jawab rani.
" Oh...mas kira chatt sama siapa " Seru rendi terkekeh.
" Hiisss. . mas ini. Curigaan terus deh...aku ini lagi hamil mas. Mana ada yang mau sama wanita hamil seperti ku " Ucap rani.
" Jadi kalau kamu tidak hamil ....?" Rendi menjeda ucapan nya karena rani mencubit pinggang nya.
Auuwww...
Rendu menjerit karena cubitan rani kecil tapi terasa menyakitkan. Sakit yang tak terlihat, seperti istilah di tinggal mantan pas lagi sayang - sayange sakit tapi tak berdarah .
" Awas kamu mas " Seru rani yang sudah mulai cemberut.
" Maaf sayang... mas kan cuma bercanda , begitu saja ngambek loh " Goda rendi sambil memainkan alis nya.
Tanpa terasa mobil sudah memasuki pekarangan rumah sakit, rendi langsung mencari parkiran dan memarkirkan mobil nya. Saat di parkiran mereka juga bertemu dengan delia, ternyata delia sudah sampai lebih dulu.
" Mbak kita masuk sama - sama ya " Seru rani .
" Iya ran. Bagaimana ? masih mabul berat gak ?" Tanya delia yang memang tahu jika rani sedang mabuk akibat hamil muda.
" Hari ini sudah tidak seberapa mbak. " Jawab rani.
Delia , mama silvi, rani dan rendi berjalan beriringan masuk ke rumah sakut dan langsung menuju kamar rawat inap tempat ibu siti di rawat.
" Siti.. kamu sudah sadar. Aku mencemaskan keadaan mu. Setiap aku datang menjenguk mu, kamu belum sadar juga. " Seru mama silvi.
" Silvi " Lirih ibu siti.
Mama silvi meneteskan air mata melihat kondisi sahabat nya yang semakin memburuk. Namun dia cepat - cepat menghapus air mata nya, dia tidak mau terlihat sedih di hadapan sahabat nya yang tengah berjuang melawan penyakit nya.
Ibu siti meminta delia dan rani mendekat, dengan langkah pelan kedua nya pun mendekati ibu siti. Satu kata terucap dari mulut ibu siti.
" Maaf... " Lirih ibu siti pelan dengan air mata yang membasahi pipi nya.
Ttiiiiiittttt........
*********
Ada yang bilang karya Author mirip sinetron di ikan terbang π€ Wes gak apa-apa nama nya juga cuma sebuah karyaβ€β€
LIKE, KOMENTAR, VOTE, FAVORITE DAN BERIKAN HADIAH NYA SERTA BERIKAN RATE BINTANG 5 NYA YA KAK πβ€
TERIMAKASIH πβ€β€
__ADS_1