Bukan Istri Parasit

Bukan Istri Parasit
Cari kontrakan baru


__ADS_3

🌹🌹🌹🌹 HAPPY READING 🌹🌹🌹🌹


.


.


.


💞💞💞💞💞💞💞💞


Waktu yang di berikan ibu meri sudah habis, rumah ibu siti benar - benar sudah menjadi hak milik ibu meri. Ibu siti awal nya tidak terima rumah nya di sita, tapi mau bagaimana lagi dia maupun amar tidak ada uang untuk.membayar hutang - hutang nya.


Amar benar - benar tidak betah dengan keluarga nya, apalagi adik nya, Harun. Selama tiga hari dia tinggal di rumah kontrakan nya harun bersikap seenak nya. Kerja tidak mau dan makan mau nya enak, tiga hari ini amar menanggung mereka bertiga.


" Kapan kalian berdua mau pindah dari kontrkan ini ? Aku tidak mau terlalu lama menanggung biaya hidup kalian berdua. Kalau ibu aku tidak masalah, bagaimana pun beliau orang yang sudah melahirkan ku. " Seru amar saat sedang sarapan.


" Kenapa sih mas perkara tempat tinggal saja di permasalahkan. ? Terserah aku dong mau tinggal dimana saja, yang penting tidak mengganggu mas amar " Ucap harun kesal karena amar selalu menanyakan perkara kepindahan nya.


" Iya mar, kasihan harun sama rosa. Mereka tidak ada tempat tinggal, mereka juga tidak ada uang. Apalagi harun cuma tukang ojek, justru kalau kamu ada uang kasihlah dia modal untuk buka usaha. " Ucap ibu siti tetap harun yang dia prioritaskan. Padahal selama ini harun juga yang sudah menghabiskan uang nya.


Amar sudah tidak nafsu lagi untuk sarapan, dia langsung pergi meninggalkan sarapan nya yang masih setengah. Dia tidak betah lagi tinggal dengan para benalu itu.


Dia langsung berangkat ke kantor tanpa berpamitan dengan ibu nya.


" Kusut amat wajah mu mar ?" Tanya diki yang ketemu amar di parkiran motor.


" Sekitar tempat tinggal mu ada kontrakan kosong tidak ?" Tanya amar langsung tanpa menjawab pertanyaan diki terlebih dahulu.


Diki memucingkan mata nya, dia heran kenapa amar menanyakan rumah kontrakan pagi - pagi begin.


" Kamu mau pindah kontrakan ?" Tanya diki.


Berhubung jam kerja masih tiga puluh menit lagi, amar pun memilih menceritakan permasalahan nya. Sebenarnya amar juga ingin meminta solusi dari sahabat nyq itu.


" Itu sih keenakan si harun dan rosa, benar - benar tidak tahu malu. Bisa - bisa nya dia menumpang hidup dengan bu, rosa juga kenapa mau samq adik mu yang kere itu " Seru diki ikut kesal.

__ADS_1


" Kamu lebih baik memang pindah kontrakan mar, biarkan mereka berdua hidup mandiri. Untuk ibu kamu kalau dia mau ikut kamu ya tidak masalah, kalaupun dia tidak mau ikut ya tidak apa - apa yang penting kamu masih bertanggung jawab dengan uang bulanan nya. Aku sarankan lebih baik cari kontrakan yang tidak jauh dari kantor dan yang ukuran nya kecil agar suatu saat dua benalu itu tidak bisa ikut pindah ke kontrakan mu " Ucap diki memberikan ide yang cukup bagus.


" Benar juga kamu. Aku harus secepat nya mendapatkan kontrakan. Ya sudah yuk kita masuk, 10 menit lagi jam kerja di mulai, kita belum absen juga " Ucap amar merangkul diki lalu masuk ke dalam gedung perusahaan.


*******


Jam makan siang amar pergunakan untuk melihat rumah kontrakan yang tadi sempat di tawarkan oleh salah satu teman kantor nya. Rumah kontrakan yang tidak begitu besar, hanya memiliki 2 kamar, 1 dapur, 1 ruang tamu dan 1 kamar mandi ada di dekat dapur. Sewa nya juga cukup murah, hanya 1 juta per bulan.


" Begini kondisi kontrakan nya mar, tapi cukup nyaman dan yang pasti dekat dengan kantor. Sepuluh menit sampai , jadi bisa ngirit tenaga dan bensin ".Ucap teman amar.


" Ok deh aku ambil yang ini saja. Deal ya" Ucap amar pasti.


" Ok.. nanti sepulang dari kantor kita ambil kunci nya sama bapak yang punya kontrakan. Kalau kontrakan ku ada di ujung itu " Ucap teman amar sambil menunjuk rumah kontrakan yang ada palung ujunng.


Amar mengangguk, setidak nya disini dia ada teman yang sudah dia kenal. Jadi tidak akan merasa kesepian di kontrakan yang baru ini.


Setelah selesai melihat rumah kontrakan amar dan teman nya langsung kembali ke kantor.


*******


Juna semakin tidak sabar untuk menantikan kelahiran anak pertama nya dengan delia, apalagi saat mengetahui delia mengandung anak kembar.


" Mas, aku kok tiba - tiba aku pengen makan rujak mangga yang pedas tapi buatan mas juna sendiri" Ucap delia sambil mengusap perut nya.


" Hah.. rujak mangga ? Mas tidak bisa bikin rujak sayang. Bagaimana kalau kita beli atau mintak buatkan bibik saja sayang " Ucap juna membuat tawaran untuk delia.


" Tidak mau. Anak kita minta papa nya langsung yang buatin. Awas loh kalau tidak mau nanti anak kita ileran, ingat pesan mama apa pun yang di minta si calon bayi mas harus menuruti nya. Kalau tidak mau ya itu tadi anak nya ileran " Ucap delia dengan wajah cemberut.


" Ya sudah mas buatin ya. Tapi kalau tidak enak jangan salahkan mas ya " Seru juna sambil mencubit hidung delia.


Delia mengangguk dengan mengacungkan du jempol tangan nya. Saat ini di rumah cuma ada delia, juna dan bibik saja. Sedangkan mama juna sedang berkunjung ke rumah saudara nya di luar kota.


Untuk mengantisipasi kecurangan sang suami, delia mengajak sang bibik untuk duduk di teras belakang sambil menemani nya mengobrol. Bibik hanya memberitahu apa - apa saja bahan yang di perlukan untuk bikin rujak.


" Mbak delia ini ngerjain mas juna ya. ?" Tanya bibik sambil tersenyum.

__ADS_1


" Sedikit sih bik, tapi memang aku ingin makan rujak mangga buatan mas juna. Seperti nya ngidam ini bik. Makanya bibik aku ajak kesini biar tidak dimintain bantuan mas juna. " Seru delia sambil terkekeh.


" Bisa aja mbak delia ini " Ucap bibik.


Sementara itu di dapur juna sedang kebingungan, dia bingung seberapa takaran bumbu yang harus di pakai untuk membuat rujak.


" Kalau aku banyakin cabai nya nanti anak ku kepedasan, kalau sedikit cabai nya delia pasti marah. Dia kan suka pedas dan memang minta yang pedas" Seru juna sambil menghitung jumlah cabai yang akan dia pakai.


" Yang sedang - sedang saja lah, mau enak tidak enak tidak masalah yang penting anak ku tidak ileran dan istri ku ngidam nya terlaksana " Seru juna sambil membuat bumbu rujak.


Setelah menunggu tiga puluh menit akhirnya rujak mangga buatan juna sudah selesai. Dari penampilan nya sih tidak menyakinkan, tapi tidak tahu kalau rasa nya. Juna membawa sepiring rujak ke teras belakang dan memberikan nya kepada delia.


" Wahh rujak nya sudah jadi " Ucap delia dengan mata yang berbinar bahagia.


" Silahkan dimakan sayang, bibik juga ikut cobain ya" Ucap juna menawarkan.


" Bibik tidak suka mangga asam mas, kalau begitu bibik ke dapur saja ya. Mau membereskan dapur, pasti sudah berantakan karena mas juna " Ucap bibik sambil terkekeh.


" Hehee... bener kata bibik. " Jawab juna sambil garuk - garuk kepala yang tidak gatal.


Delia pun mencoba rujak buatan sang suami , suaan pertama nampak biasa saja, suapan ke dua ada yang mulai aneh dan suapan ke tiga raut wajah delia sedikit berubah.


" Kenapa sayang ? tidak enak ya ?" Tanya juna.


" Enak sih mas tapi kok asin nya tidak rata begini ya ?" Seru delia sambil terus memakan rujak nya.


Juna mencoba nya dan benar saja bumbu rujak nya rasa nya sih lumayan. Tapi ada yang asin ada yang manis.


" Tapi enak kok mas, tidak apa - apa baru pertama kan. Besok - besok kalau buat rujak ngulek bumbu nya yang rata. " Ucap delia.


Rujak buatan juna akhirnya habis juga, juna senang melihat sang istri yang makan dengan lahab rujak buatan nya.


********


LIKE, KOMENTAR, VOTE, FAVORITE, BERIKAN HADIAH NYA DAN RATE BINTANG 5 NYA KAK 🙏❤❤❤

__ADS_1


TERIMAKASIH 🙏❤❤


__ADS_2