
🌹🌹🌹🌹 HAPPY READING 🌹🌹🌹🌹
.
.
.
💞💞💞💞💞💞💞
" Kenapa kamu datang kesini lagi ? Bukan nya kamu sudah bukan istri harun lagi ? " Seru tini yang marah saat mendapati rosa datang kembali ke kontrakan .
Rosa datang dengan membawa koper pakaian nya, wajah rosa terlihat kusut dan rambut acak - acakan. Seperti seorang gelandangan yang baru saja terusir.
" Maaf mbak, aku mau ketemu harun " Ucap rosa penuh harap.
" Tidak bisa !! Kamu bukan lagi istri harun. Sekarang pergi dari sini sebelum aku seret kamu " Seru tini marah.
Ibu siti keluar dari kamar dengan menggunakan kursi roda nya. Dia yang mendengar suara ribut - ribut langsung menghampiri tini yang berdiri di depan pintu.
" Mau apa wanita murahan ini datang kesini lagi tin ?" Tanya ibu siti.
" Dia mau tinggal disini lagi bu. Padahal dia sudah bukan istri nya harun. Aku tidak akan pernah setuju jika wanita ini tinggal disini. " Seru tini menatap sinis ke arah rosa.
" Cepat pergi dari sini ! Aku tidak mau melihat mu lagi , pergi !" Usir ibu siti lantang.
Rosa langsung bersimpuh di kaki ibu siti, dia menangis dan meminta maaf. Tapi ibu siti justru mendorong rosa sampai rosa tersungkur.
" Bu izinkan aku tinggal disini. Aku sudah tidak punya tempat tinggal lagi, aku di usir sama pacar ku bu. Kasihanilah aku bu, saat ini aku sedang hamil. Tolong lah bu, sekali ini saja " Ucap rosa memohon.
" Tidak !! Lagi pula kamu sudah bukan menantu ku ." Seru ibu siti lagi.
Ibu siti meminta tini untuk segera mengusir rosa, dengam sigap tini langsung menarik tangan rosa dan koper rosa sampai ke pinggir jalan. Sedikitpun tini tidak mengizinkan rosa masuk ke dalam rumah. Rosa memohon pun percuma, tidak ada lagi yang mau menampung nya.
__ADS_1
Akhirnya rosa terpaksa meninggalkan rumah itu dengan menyeret koper nya. Langkah rosa terlihat gontai, tidak ada tempat yang harus rosa tuju, pulang ke rumah orang tua nya sudah tidak di terima lagi. Karena orang tua rosa sudah tahu semua prilaku rosa, mereka merasa malu memiliki anak seperti rosa.
Tok Tok Tok
Pintu kontrakan ibu siti ada yang mengetuk, ibu siti dan tini saling pandang. Mereka menyangka jika itu masih rosa, namun setelah tini mengintip nya ternyata amar lah yang datang mengunjungi ibu nya.
" Amar" Seru tini saat membuka kan pintu.
" Mbak tini apa kabar ?" Sapa amar lembut.
" Baik mar.. Masuk mar, ibu ada di dalam kok. Kenapa kamu baru berkunjung kesini. Padahal ibu juga sedang sakit, apa kamu sudah lupa dengan ibu ?" Seru tini tanpa henti.
Amar duduk di karpet yang ada di ruang depan, sampai sekarang mereka belum ada kursi untuk duduk. Ibu siti mengetahui amar datang pura - pura memasang wajah cemberut agar amar mau merayu nya seperti yang sudah - sudah.
" Ibu apa kabar ?" Tanya amar hendak mencium tangan ibu nya namun di tepis oleh ibu siti.
" Bu.. amar datang mau menjenguk ibu. Maaf amar baru bisa datang karena pekerjaan amar yang membuat amar harus sering lembur " Ucap amar beralasan.
" Kenapa ibu bicara seperti itu ? kalau amar tidak ingat keluarga untuk apa amar datang kesini. Sudahlah bu , amar datang karena amar merindukan ibu dan yang lain nya. Jangan marah - marah begini, ingat tensi darah ibu sering naik. " Ucap amar masih mencoba bicara dengan lembut.
Bukan nya luluh , ibu siti justru semakin meluapkan emosi nya dan bicara kasar kepada amar.
" Seminggu lebih kamu tidak melihat kondisi ibu. Untuk makan minum pun kamu tidak memberi bantuan, apa seperti itu yang dinamakan anak ? Apa kamu tidak kasihan dengan harun, dia harus banting tulang untuk nenghidupi ibu. Kamu enak kerja kantoran gaji besar tapi sedikitpun kamu tidak mau berbagi, aku tidak mau punya anak seperti mu !!" Bentak ibu siti yang benar - benar marah.
Amar pun tersulut emosi dan amarah mendengar penuturan sang ibu. Jadi selama ini ibu nya tidak pernah menghargai nafkah yang dia berikan. Selalu harun - harun yang di banggakan, bisa apa anak itu tanpa bantuan amar.
Tini tidak tahu lagi harus berbuat apa, dia hanya bisa duduk, diam dan menyimak perdebatan yang terjadi. Dia tahu betul watak ibu nya bagaimana jika sedang marah, sebenar nya tini kasihan dengan amar tapi tini bisa apa ? jika dia membela amar sang ibu pasti akan semakin meledak ledak amarah nya.
" Kamu itu terlu pelit dan perhitungan " Ucap ibu siti ketus.
" Cukup bu !!" Bentak amar.
Amar sudah tidak bisa lagi menahan amarah nya, cukup sudah ibu nya merendahkan dan memaki nya. Selama ini amar sudah mengalah dan selalu mengikuti kemauan ibu nya, tapi sama sekali tidak di anggap.
__ADS_1
" Kamu membentak ibu mar ? Durhaka kamu mar !!" Seru ibu siti sambil menunjuk ke arah amar.
" Aku tidak bermaksud untuk membentak ibu. Semua ini ibu yang memulai. Tapi jika ibu menilai aku durhaka, biarlah aku tak masalah. Bu, selama ini amar sudah berusaha mengikuti kemauan ibu. Sampai amar rela melepaskan delia karena mengikuti kemauan ibu, bahkan setiap bulan uang bulanan yang amar berikan untuk ibu itu 2x lebih banyak. Apa ibu ingat siapa selama ini yang menafkahi ibu , harun, dan mbak tini ? Dari harun di bangku SMA sampai dia selesai kuliah semua amar bu, bahkan dia bekerja pun amar masih membantu nya. Berapa ratus juta saja uang amar habis untuk harun bu. Apa pernah harun memberikan uang gaji nya untuk ibu? tidak kan ? " Amar bicara dengan mata yang berkaca - kaca.
" Dia menikah pun rela membohongi amar, uang amar lenyap begitu saja. Motor yang di pakai harun itu di beli dengan uang amar, bahkan motor yang di pakai mbak tini itu pun sebagian uang amar dan cincin delia. Biaya makan kalian juga amar,biaya rumah sakit juga amar. Terus apa lagi yang kurang bu ? Apa ?" Teriak amar dengan terisak.
" Jadi kamu perhitungan ? Anak macam apa kamu mar ! Sekarang pergi kamu dari sini ?" Teriak ibu siti.
Tini langsung bangkit dari duduk nya dan langsung menghampiri ibu siti. Tini mengusap punggung ibu nya agar bisa menahan emosi nya.
" Bu jangan seperti ini. Amar itu benar, selama ini memang dia sudah banyak berkorban untuk kita. Tini juga menyadari itu semua bu, kasihan amar bu " Ucap tini.
" Kamu membela anak durhaka itu ?" Tanya ibu siti sambil melotot.
" Tidak seperti itu bu. Apa yang di katakab amar memang benar, selama ini amar yang telah menopang keuangan kita. Dan selama tini disini belum pernah tini melihat harun membeli makanan untuk ibu, tini lah yang membelikan serta obat ibu pun tini. Harun hanya bisa nya makan dan minta uang. Jadi mana yang ibu bilang harun banting tulang untuk ibu ? " Seru tini menegaskan apa yang sebenarnya.
Ibu siti menatap tini, tatapan yang sulit di artikan. Mungkin ibu siti tidak percaya tini bisa bicara seperti itu karena selama ini tini juga sama dengan nya, yang hanya mengandalkan uang amar.
" Diam kamu tini !! Kamu tidak usah ikut campur " Seru ibu siti membentak tini.
" Dan kamu amar ! Pergi kamu, jangan temui aku lagi. " Ucap ibu siti mengusir amar.
" Baik.. amar akan pergi dari sini dan mulai detik ini amar tidak akan lagi perduli dengan kalian. Ibu sudah menganggap amar bukan keluarga lagi dan ibu menganggap amar anak durhaka. Baiklah bu, amar lakukan benar apa yang ibu ucapkan biarlah amar durhaka sekalian. Mbak mulai sekarang jika butuh bantuan jangan hubungi amar, tapi hubungi harun anak kesayangan dan anak emas ibu. Karena selama ini bagi ibu harun lah yang sudah menafkahi keluarga. " Ucap amar dengan menatap sinis ibu nya.
Setelah bicara seperti itu amar langsung keluar dari kontrakan dan mengendarai motor nya pergi menjauh dari kontrakan. Niat datang untuk melepas kan rasa rindu kepada ibu nya malah berujung perdebatan dengan sang ibu.
*******
Bagus amar, ibu mu memang harus di lawan.
TERUS DUKUNG KARYA AUTHOR YUK. KLIK LIKE, VOTE, KOMEN, FAVORITE DAN BERIKAN HADIAH NYA SERTA RATE BINTANG 5 NYA KAK 🙏❤❤
TERIMAKASIH 🙏🙏❤❤
__ADS_1