
🌹🌹🌹🌹 HAPPY READING 🌹🌹🌹🌹
.
.
.
💞💞💞💞💞💞
Asti sudah pulang dari mini market dan dia memarkirkan motor suami nya. Dia melirik mobil yang ada di depan rumah kontrakan ibu mertua nya dan merasa tidak asing dengan mobil yang ada di hadapan nya. Dan dia pun ingat jika mobil yang ada di hadapan nya itu adalah mobil delia, mobil yang pernah dia naiki saat delia mengantarkan dia pulang.
" Ada delia dan keluarga nya " Seru asti pelan.
Langkah asti semakin cepat agar bisa segera sampai ke dalam rumah. Benar saja di dalam sudah ada delia dan keluarga nya, terlihat delia sedang mengobrol dengan ajeng. Mereka terlihat sangat akrab.
" Mbak asti darimana saja ? Pergi tidak bilang - bilang " Seru ajeng menyapa asti yang memang pergi tidak bilang.
" Mbak dari mini market depan jeng . Delia sudah lama ?" Ucap asti sambil menyapa delia ramah.
" Belum lama kok mbak, baru saja. Ini juga baru duduk, mbak asti apa kabar?" Tanya delia juga dengan ramah.
" Baik del. Oh iya jeng mas amar kemana ? Kok dia tidak kelihatan?" Tanya asti sambil mata nya memutari sekeliling ruangan kontrakan yang memang tidak luas.
" Ada di belakang tadi mbak, sama mas diki dan suami nya mbak delia. Mbak ke mini market beli apaan sih?" Seru ajeng lagi.
Asti pun menyerahkan kantong belanjaan yang sedari tadi dia tenteng kepada ajeng. Ajeng langsung menerima nya dan melihat isi nya, ternyata hanya ada beberapa minuman kaleng dan cemilan.
" Makan saja kalau kamu mau " Seru asti lalu duduk di samping ajeng.
Tini, ibu jujuk dan tante silvi ada di dalam kamar sedang menemui ibu siti. Semenjak habis pingsan kemarin Ibu siti tidak kuat lagi duduk di kursi roda, dia hanya berbaring di kasur.
" Kok si kembar tidak di ajak del ?" Tanya asti mulai membuka pembicaraan.
" Mereka tadi pada tidur mbak, jadi aku tinggal saja. Kasihan kalau harus di bawa mbak, bisa jadi malah rewel karena tidur nya terganggu " Jawab delia menjelaskan.
" Terus di rumah cuma sama bibik saja ?" Tanya asti lagi.
" Tidak juga mbak, ada bibik dan pengasuh nya juga kok mbak" Delia menjawab sesuai dengan kenyataan nya.
* Jadi delia sudah menyewa pengasuh untuk mengurus anak nya ? Hemmm.... boleh juga. * Gumam asti dalam hati nya.
Asti memperhatikan ajeng dan delia yang kembali terlibat obrolan. Asti baru tahu ternyata ajeng dan delia sangat akrab, dia mengira jika mereka hanya sebatas kenal saja. Ajeng sesekali melirik ke arah kakak nya yang terus saja memperhatikan delia, sebenar nya delia juga tahu tapi dia pura - pura tidak tahu.
" Asti mbak boleh minta tolong ?" Tanya tini yang baru saja keluar dari kamar.
" Minta tolong apa mbak ?" Tanya asti.
__ADS_1
" Tolong siapkan makanan ibu ya, karena sebentar lagi ibu harus minum obat. Tinggal kamu hangatkan saja kok , tadi pagi mbak sudah buatkan lumayan banyak. " Seru tini.
" Oh .. iya biar asti siapkan mbak. Apa mbak tini tidak bekerja ?" Tanya asti.
" Hari ini mbak izin " Jawab tini singkat.
Asti mengangguk lalu berjalan ke dapur untuk menyiapkan makanan untuk ibu mertua nya. Dengan cekatan asti menyiapkan semua nya, dalam waktu sepuluh menit makanan sudah asti bawa ke dalam kamar ibu mertua nya. Asti langsung menyerahkan makananan itu kepada tini lalu asti keluar dari kamar.
" Siti sekarang kamu makan dulu ya, terus minum obat. Maaf aku tidak bisa berlama - lama karena dua cucu ku ada di rumah, delia tidak membawa nya kesini. Jadi aku dan anak ku pulang dulu ya, nanti kapan - kapan aku datang lagi. " Ucap mama silvi berpamitan dengan lembut.
" Iiyya silvi, tee,,terimakasih " Jawab ibu siti terbata - bata.
" Sama - sama. Tini, tante pulang dulu ya . Kalau butuh bantuan apa - apa tolong hubungi tante. Ibu jujuk saya dulua ya. " Ucap mama silvi.
Ibu jujuk terseyum sambil mengangguk kan kepala nya.
" Iya tante terimakasih sudah menjenguk ibu , sepertinya ibu senang dengan kedatangan tante. Kalau ada waktu lagi tolong jenguk ibu lagi ya tante. " Seru tini.
" Iya tini " Jawab singkat mama silvi.
Mama silvi keluar dari kamar dan langsung mengajak delia pulang. Sebelum nya delia memanggil juna yang sedang mengobrol di halaman belakang. Mobil yang di kendarai juna perlahan meninggalkan rumah kontrakan ibu siti.
********
Rencana nya amar ingin menginap di rumah ibu nya , namun asti tidak mau dengan beralasan tidak ada kamar lagi. Karena kamar hanya ada dua satu di tempati ibu siti bersama tini dan satu di tempati harun. Sebenarnya bisa saja dia dan suami nya tidur di kamar harun, tapi asti nya tidak mau.
" Dek, tolong buatkan mas kopi hitam " Seru amar saat baru masuk rumah kontrakan.
" Tumben minum kopi mas, biasa nya teh " Seru asti.
" Iya dek lagi ingin minum kopi saja. " Jawab amar lagi.
Asti berjalan ke dapur untuk membuatkan kopi yang di minta suami nya.
" Ini mas kopi nya , kalau begitu aku mau mandi dulu ya mas. Untuk makan malam pesan saja ya mas, tadi lupa juga beli saat di jalan. Mau masak juga aku sudah lelah banget, mana sudah magrib juga. " Seru asti.
" Iya dek, kamu mandi sana biar mas yang pesan makanan nya " Ucap amar.
Malam ini amar ingin bicara dari hati ke hati dengan istri nya. Benar kata diki, amar harus lebih mengenal karakter istri nya begitupun istrinya harus mengenal karakter amar lebih dekat. Amar merasa jika asti yang sekarang bukanlah asti yang pertama kali dia kenal. Awal perkenalan nya dulu, asti lembut , sopan bahkan pemalu tapi asti yang sekarang dia suka tersinggung , boros, dan suka berkeinginan yang tidak masuk akal.
Selesai makan malam amar mengajak asti duduk lesehan di depan Tv sembari menonton Tv.
" Dek, apa mas boleh bertanya ?" Tanya amar memulai percakapan nya.
" Mas mau bertanya apa ?" Jawab asti penasaran.
" Dek, mas perhatiin akhir - akhir ini kamu suka tiba - tiba marah dan ngambek, tapi beberapa menit kemudian sudah tidak marah lagi. Apa ada perbuatan dan sikap mas yang tidak kamu sukai? Kalau memang ada coba kasih tahu mas sifat dan sikap mana yang tidak kamu sukai dari mas. Agar mas bisa merubah nya ?" Seru amar berbicara dengan serius sambil menggenggam tangan asti.
__ADS_1
Asti terdiam, dia sendiri juga bingung harus bagaimana menjelaskan nya kepada amar. Apa mungkin dia harus jujur kalau dia tidak suka jika mantan istri amar dekat dengan keluarga amar. Dia seakan cemburu kepada delia yang mempunyai segalanya dan masih saja baik dan dekat dengan keluarga amar. Asti juga merasa tidak cocok dengan keluarga amar, asti menganggap keluarga amar itu benalu yang kapan saja bisa menghabiskan uang amar dan waktu amar. Tapi sepertinya asti tidak mau berkata jujur, karena dia tidak mau amar memarahi nya.
" Tidak ada mas " Jawab asti singkat.
" Jawab jujur dek " Seru amar lagi.
Hhuufttt...
Amar menghela nafas dengan berat. Dia merasa asti tidak jujur kepada nya.
" Mas, kapan kita punya rumah sendiri mas ? terus kita beli mobil juga jadi kalau kemana - mana kita tidak kepanasan. Kalau aku punya rumah dan mobil aku mau pamerkan kepada teman - teman ku,memang nya dia saja yang bisa punya rumah dan mobil aku juga bisa dong. " Seru asti bicara tanpa rasa bersalah.
" Sabar dek, mas sekarang fokus sama pengobatan ibu. Insya allah kalau ada uang nya nanti kita beli rumah dan mobil. Tapi mas tidak mau kamu pamer begitu, itu riya dek penyakit hati juga. Kalau sekarang mas memang tidak ada uang dek" Seru amar berbicara dengan lembut agar mudah di pahami oleh asti.
Asti langsung bangkit dan meninggalkan amar sendirian di depan Tv, asti langsung masuk kamar dan menutup pintu dengan kasar.
Brraaakkk..
Amar langsung mengusap dadanya, dia tidak tahu kenapa lagi dengan istri nya. Semakin hari - semakin aneh dan semakin boros.
Amar pun menyusul istri nya ke kamar.
" Dek , kenapa kamu jadi marah begini ? Kok kamu jadi begini sih dek ?" Tanya amar.
" Apa mas ? apa ? Mas tidak suka dengan aku yang seperti ini ? Mas, aku itu cuma ingin rumah dan mobil apa salah aku minta itu sama kamu ? kamu itu suami ku loh mas, sudah sepantas nya kamu menafkahi ku dan memberikan aku kehidupan yang layak !" Ucap asti bicara cukup keras.
Deg..
Amar semakin tidak percaya jika asti menjadi wanita matrealistis begini. Padahal dulu dia sendiri yang mau tinggal di kontrakan dan tidak mau tinggal di rumah milik ibu nya, padahal rumah itu sudah di wariskan kepada asti.
" Apa selama 2 bulan pernikahan kita ini aku kurang menafkahi mu dek ? Bahkan sebulan mas memberi mu uang 4 juta dek. Uang itu 2 juta untuk keperluan makan kita dan 2 juta untuk mu pribadi dek. Maaf mas tidak bisa memberi lebih karena memang gaji ku tidak besar, Mas juga masih harus membantu pengobatan ibu." Seru amar menenangkan asti.
" Jelas kurang dong mas, mas tahu aku itu seorang wanita yang ingin beli ini itu. Mas lihat tas ini, ini tu aku beli 3 hari yang lalu dengan harga 1,5 juta. Jadi uang segitu mana cukup mas, aku tidak mau di ejek teman - teman ku karena memakai barang yang itu - itu saja. Aku malu mas, aku juga mau mempunyai apa yang mereka punya. " Seru asti mulai tidak bisa mengendalikan emosi nya.
" Kenapa mesti malu, lagi pula kamu tidak meminta sama mereka. Jangan iri sama apa yang dimiliki orang lain dek, ukur lah kemampuan diri kita sebatas mana" Seru amar tapi sama sekali tidak di hiraukan oleh asti.
* Ya Allah begini sifat asli istri ku. Yang aku tahu dia dulu bekerja di luar negeri selama bertahun - tahun, dan gaji pun lumayan. Tapi setelah pulang tidak ada usaha atau apa pun yang terlihat dari hasil dia bekerja. Ya Allah bukan aku mau mengungkit milik istri ku, tapi aku hanya heran kemana uang istri ku. Apa dia memang suma berfoya - foya begini. Kenapa malam ini aku melihat sisi lain dari istri ku, dia seperti bukan istri ku * Gumam amar dalam hati nya sambil melihat asti yang marah dan mengacak - acak kamar.
Kamar sudah seperti kapal pecah, bantal guling asti buang - buang bahkan isi lemari pun asti keluarin semua dan dia tabur di lantai.
********
AUTHOR MINTA LIKE DAN KOMEN NYA DONG KAK. MAAF TIDAK BISA BALAS KOMEN SATU PERSATU, TAPI KOMEN DARI PARA PEMBACA AUTHOR BACA SEMUA KOK.😘😘
LIKE, KOMEN, VOTE, FAVORITE SERTA BERIKAN HADIAH NYA DAN RATE BINTANG 5 NYA KAK 🙏❤❤
TERIMAKASIH 🙏❤❤
__ADS_1