Bukan Istri Parasit

Bukan Istri Parasit
Saran cuti


__ADS_3

🌹🌹🌹🌹 HAPPY READING 🌹🌹🌹🌹


.


.


.


💞💞💞💞💞💞


" Mas mau berapa hari di kota ?" Tanya delia sambil membantu juna menyiapkan pakaian untuk kerja.


Siang nanti juna harus ke kota ada masalah di showroom pusat yang harus juna selesaikan. Ada laporan penjualan yang tidak sesuai dengan pembukuan.


" Sekitar dua hari sayang. Kenapa? Apa kamu mau ikut? Kalau mau ikut tidak apa - apa kok, mas malah senang. Walaupun perjalanan ke kota tidak memakan waktu yang lama, mas harus menginap agar semua nya cepat selesai biar mas tidak bolak - balik lagi. " Ucap juna sambil mengusap perut delia.


" Tidak mas, aku di rumah saja sama mama. Lagi pula perut ku sudah besar mau pergi jauh - jauh malas. " Ucap delia dengan senyum manis.


" Anak - anak papa jangan nakal ya. Papa pergi cuma sebentar kok , nanti pulang nya papa belikan oleh - oleh yang banyak. Mama mau oleh - oleh apa ?" Tanya juna.


" Mama nya mau papa cepat pulang saja biar mama tidur nya ada teman " Seru delia sambil menirukan suara anak kecil.


Juna gemas dengan sikap delia, juna pun memeluk dan mencium delia dengan hangat. Sampai akhir nya terjadilah kegiatan yang sudah sewajar nya di lakukan oleh sepasang suami istri. Setelah selesai juna dan delia pun membersihkan tubuh nya dengan mandi bersama.


" Delia kamu habis mandi lagi nak ? Juna, ingat loh jangan bikin delia capek dia sedang mengandung anak kembar." Seru mama juna saat melihat ke dua rambut anak dan menantu nya basah seperti habis keramas.


Juna hanya tersenyum menanggapi ucapan dari sang mama sedangkan delia menunduk karena malu.


" Emhh.. iya ma delia habis mandi lagi " Jawab delia malu - malu.


" Del kalau hari ini mama ikut ke toko boleh kan ? Mama suntuk di rumah sendirian, ada bibik sih tapi kan bibik sibuk sama pekerjaan nya " Ucap mama juna.


" Boleh dong ma. " Jawab delia singkat.


" Juna kamu berangkat jam berapa ?" Tanya mama juna beralih menatap sang anak.


" Juna berangkat sekitar jam sebelas ma, ini nanti ke showroom dulu setelah itu langsung berangkat ke kota. " Ucap juna.

__ADS_1


Setelah sarapan yang kesiangan nya selesai juna pun berangkat ke tempat kerja nya sekaligus berpamitan untuk ke kota sekalian. Juna benar - benar di sibuk kan dengan pekerjaan nya, tapi itu semua tidak membuat nya melupakan sang istri yang selalu setia menunggu kepulangsn nya.


Delia dan mama mertua nya juga pergi ke toko dengan di antar oleh sopir. Di toko mama juna tidak bisa diam, dia juga ikut melayani pelanggan yang datang dengan hitung - hitung sebagai olah raga badan, banyak gerak biar tetap sehat.


******


Amar di panggil oleh atasan nya untuk menghadap ke ruangan nya, jantung amar dag dig dug karena selama ini dia jarang sekali di panggil oleh atasan. Memang akhir - akhir ini kinerja amar menurun, dia sering salah dalam mengerjakan pekerjaan nya.


" Maaf pak, ada apa ya bapak memanggil saya ?" Tanya amar ingin segera tahu alasan atasan nya memanggil nya ke ruangan.


" Amar , apa kamu sedang ada masalah ?" Tanya atasan amar yang di ketahui bernama Rudi.


" Tidak pak " Jawab amar singkat.


Pak rudi membenarkan posisi duduk nya dan kembali berbincang dengan amar.


" Kalau kamu tidak ada masalah kenapa proposal yang kamu buat bisa kacau begini. Bahkan anggaran yang kamu tulis bisa melebihi dana yang ada. Selama bekerja baru kali ini kamu mengerjakan pekerjaan kacau begini. Kalau kamu memang ada masalah jujur saja, kamu bisa ajukan cuti beberapa hari untuk menyelesaikan masalah mu,Jangan di paksakan untuk bekerja. " Ucap pak rudi dengan bijaksana.


Masalah amar hanya keluarganya, ibu dan adik nya terus meneror nya dengan meminta uang dan uang. Amar semakin bingung karena uang yang di minta dengan dalih untuk membayar kontrakan. Jika amar tidak memberi nya sang ibu pasti tidak ada tempat tinggal,sedangkan tinggal dengan amar tidak mau karena tidak bisa jauh dari harun.


" Iya pak. Terimakasih atas saran nya " Jawab amar.


" Ya sudah untuk kali ini kamu aku maafkan, dan kamu aku berikan cuti selama seminggu untuk menyelesaikan masalah mu. " Ucap pak rudi.


" Baik pak terimakasih banyak, kalau begitu saya permisi pak " Seru amar.


" Silahkan" Ucap pak rudi.


Amar pun keluar dari ruangan pak rudi dan langsung kembali kemeja kerja nya lagi.


" Ada apa mar ? apa pak rudi memarahi mu?" Tanya diki.


" Tidak apa - apa dik. Hanya ada kesalahan dalam pembuatan proposal. Pak Rudi meminta ku untuk mengambil cuti agar aku bisa menyelesaikan masalah yang ada. Tapi kamu tahu sendiri kan dik, masalah ku ya tetap itu - itu saja aku ambil cuti atau tidak sama saja " Seru amar sambil menelungkupkan kepala nya di atas meja kerja nya.


" Aku turut prihatin dengan masalah mu mar, tapi yang di katakan pak rudi ada benar nya juga. Kamu ambil cuti saja dulu, setidak nya biar pikiran mu tidak terganggu dengan pekerjaan dulu. Kalau kamu mau hidup tenang dan tanpa gangguan, kamu harus lebih tegas lagi dengan keluarga mu. Jangan biarkan mereka terus - terusan mengganggu kehidupan mu. " Ucap diki terus menasehati amar.


" Iya dik. Terimakasih , kamu memang teman ku yang baik. Coba dulu aku mengikuti nasehat mu. Semua ini tidak akan serunyam ini, karena aku bermain dengan rosa masalah demi masalah terus bermunculan. " Seru amar penuh sesal.

__ADS_1


Diki mengangguk dengan mengulas senyum yang hangat, dia pun kembali lagi ke meja kerja nya dan menyelesaikan pekerjaan nya. Diki sangat kasihan dengan amar, keluarga nya yang selalu mengandalkan amar dan selalu menuntut lebih dari amar. Sampai diri amar pun tidak teturus, jangan kan untuk mencari jodoh bahkan untuk memikirkan soal jodoh pun seakan amar enggan.


Sementara itu keluarga benalu sudah menjual barang - barang elektronik yang ada di kontrakan lama amar. Tv, kulkas, kipas angin bahkan sofa dan meja makan set pun mereka jual, dan masih banyak barang yang lain nya. Mereka hanya menyisakan beberapa perabot dapur saja yang masih akan mereka pakai.


" Duh bu kenapa barang - barang nya pada di jual begini kan sayang bu. " Ucap bu ambar pimilik warung makan langganan bu siti.


" Iya bu kenapa di jualin begini ?" Tanya bu eka.


" Kami semua mau pindah jadi tidak mungkin kami membawa barang - barang ini. Mahal di ongkos mobil nya, lebih baik kami beli baru saja. " Ucap ibu siti berbohong.


" Oh.... eh bu ngomong - ngomong kenapa rumah bu siti tidak di tempati? di sita bank ya ?" Seru bu ambar lagi.


" Duhhh bu ambar ini tidak tahu atau pura - pura tidak tahu sih. Rumah nya bu siti kan sudah di sita sama rentenir, rumah beserta isi nya karena hutang bu siti banyak dan tidak bisa bayar bunga nya nya, dan untuk tanah yang di sebelah rumah itu juga kan sudah di jual bu. " Ucap bu eka dengan jelas. Bu eka memang sudah seperti wartawan kampung.


Ibu siti mentaap sinis ke arah kumpulan ibu - ibu yang sedang membicarakan nya. Dia tidak bisa mengelak lagi, mau melawan omongan juga percuma karena kartu AS nya sudah di buka oleh ibu eka. Ibu siti langsung masuk ke dalam rumah dan meninggalkan ibu - ibu yang masih bergosip di pinggir jalan.


" Bu, ini hasil penjualan barang - barang sudah terkumpul 17 juta bu. Lumayan juga ya kalau begini, tapi saat kita pindah kontrakan lagi kita harus membeli kasur bu karena dua kasur besar juga harun jual. Hanya menyisakan sediki perabot dapur dan 2 lemari saja.


" Iya tidak apa - apa, lumayan juga dapat uang segitu run. Sini ibu minta uang nya 5 juta saja run, ibu perlu banget nih " Ucap ibu siti.


" Tidak bisa. Uang ini biar harun saja yang pegang, nanti mau harun pakai untuk bayar sewa kontrakan selama 1 tahun biar kita tidak bingung lagi soal bayar kontrakan. Sisa nya buat beli 2 kasur sama untuk biaya hidup kita bertiga." Ucap harun memberitahu.


Rosa hanya tersenyum kecut menatap ibu mertua nya yang memang mata duitan. Dalam kondisi susah pun sang mertua masih saja bermain judi, rosa bukan tidak tahu tapi dia pura - pura tidak tahu. Uang bulanan dari amar hanya habis untuk judi online.


" Nanti sore kita pindah, harun sudah mendapatkan kontrakan baru. Tempat nya lumayan jauh dari sini ad sekitar 7 Kilo meter dari sini. Oh iya bu, apa nomor ponsel mbak tini sudah bisa di hubungi ? Kalau sudah bisa ibu beritahu saja kalau kita sudah pindah" Ucap harun menanyakan kakak perempuannya.


" Ibu tidak tahu, kamu saja coba yang menghubunginya " Ucap ibu siti ketus karena harun tidak mau memberinya uang.


Sebenar nya ibu siti sudah tahu tini ada dimana, beberapa minggu yang lalu tini sudah menghubungi nya dan memberitahu keberadaan nya. Bahkan seminggu sekali tini mengirimkan uang untuk ibu nya, memang tidak banyak tapi itu cukup jika di pergunakan dengan baik, tetapi jika uang di tangan ibu siti berapa pun jumlah nya tetap saja kurang.


******


Rasakan ibu siti, kamu bakal tambah susah.


LIKE, KOMEN, VOTE, FAVORITE, DAN BERIKAN HADIAH NYA SERTA RATE BINTANG 5 NYA KAK 🙏❤❤❤


TERIMAKASIH 🙏❤❤❤

__ADS_1


__ADS_2