Bukan Istri Parasit

Bukan Istri Parasit
Amar bersedia


__ADS_3

🌹🌹🌹🌹 HAPPY READING 🌹🌹🌹🌹


.


.


.


💞💞💞💞💞💞


" Ajeng dan mas diki tidak mau bertanggung jawab jika terjadi sesuatu dengan mbak asti dan ibu selagi ibu masih mempertahankan mbak asti dirumah. Ajeng bukan mau jahat atau tega dengan mbak asti bu. Ajeng seperti ini karena ajeng perduli dan ingin mbak asti sembuh dan normal kembali. Ibu tidak dengar teriakan - teriakan mbak asti !" Seru ajeng meninggikan suaranya.


Ibu jujuk masih terisak dalam tangisan nya. Sejujurnya dia juga menyadari jika asti memang berbeda, asti tidak sehat fikiran nya. Tetapi seoal dia menolaknya karena dia kasihan dengan asti karena dia selalu mengalami kesedihan.


" Ibu kasihan dengan kakak mu Jeng " Ucap ibu jujuk dalam tangisnya.


" Justru dengan mengurung mbak asti seperti ini semakin kasihan bu. Ayolah bu kita bawa mbak asti ke rumah sakit dan biar dokter atau psikiater atau apalah yang menanganinya " Seru Ajeng terus merayu ibunya.


" Mbak mu hanya mau amar Jeng " Ucap ibu jujuk membuat ajeng semakin geram.


Ajeng mengepalkan tangannya, mungkin saat ini jika yang berbicara seperti tadi bukan ibunya, ajeng akan menampar mulut nya langsung.


" Baiklah jeng ibu setuju asti dibawa kerumah sakit tapi tolong sekali ini saja bicaralah sama amar untuk menemui Asti. Hanya menemui Jeng, tidak ada hal yang lebih. Mungkin saja dengan bertemu amar kakakmu akan sedikit tenang dan kita bisa membawa dia kerumah sakit tanpa ada penolakan dari asti. " Ucap ibu jujuk.


Ajeng terdiam, dia memikirkan apa yang barusan di katakan ibunya. Mungkin jika hanya untuk bertemu dan berbicara untuk memberi pengertian asti tidak masalah. Lagi pula hanya untuk menenangkan asti, dan setelah itu asti akan dirawat di rumah sakit sampai sembuh.


" Baiklah bu, ajeng akan bicara dengan mas amar dan istrinya terlebih dahulu. Tapi ajeng tidak bisa janji mas amar mau atau tidaknya. Tapi ajeng mohon mau atau tidaknya mas amar menemui mbak asti, mbak asti akan tetap kita bawa kerumah sakit " Ucap ajeng serius.


" Iya jeng. Ibu hanya ingin asti sedikit tenang " Jawab ibu jujuk.


" Kalau begitu ajeng pulang dulu ya bu, ajeng tidak bisa berlama - lama karena tadi anak ajeng titipkan ke tetangga. Soalnya dia ajeng ajak tidak mau, cucu ibu takut ketemu ibu dan mbak asti . Maaf ajeng tadi sudah bicara keras sama ibu. " Seru ajeng lalu mencium tangan ibunya.


" Ibu yang seharusnya minta maaf sama kamu dan suami kamu. Ibu juga ingin minta maaf sama amar dan istrinya, ibu sudah salah memaksakan kehendak ibu. Tolong sampaikan maaf ibu jeng. " Ucap ibu jujuk berbicara dengan sangat serius.


Ajeng tersenyum lalu menganggukkan kepalanya tanda dia mengiyakan ucapan ibunya. Setelah berpamitan ajeng langsung pulang dengan menaiki ojek online yang sudah dia pesan beberapa menit yang lalu.


*******


Tok Tok Tok

__ADS_1


Pintu rumah amar di ketuk, amar dan kartika baru saja selesai makan malam. Bahkan kartika masih mencuci piring bekas makan mereka. Mendengar pintu di ketuk Amar pun langsung bergegas membukakan pintu untuk tamunya.


" Diki, Ajeng. Ayo masuk. " Seru amar dengan ramah menyuruh tamunya masuk.


" Terimakasih mar " Jawab diki.


Mereka sudah duduk di sofa ruang tamu dan kartika pun sudah menghidangkan teh dan cemilan nya, serta dia juga sudah ikut bergabung duduk tepat di samping amar. Ajeng menyuruh anaknya menonton Tv, dia tidak mau anak nya mendengar pembicaraan orang dewasa.


" Apa yang ingin kalian bicarakan ?" Tanya amar.


Ajeng dan diki saling pandang, diki pun menganggukkan kepalanya. Akhirnya ajeng memulai berbicara dan menyampaikan maksud kedatangan mereka kerumah amar. Amar dan kartika diam menyimak semua yang dikatakan ajeng.


" Jadi begitu mas, kar. " Seru Ajeng mengakhiri ceritanya.


" Jika cuma untuk bicara aku sih tidak masalah , tapi tetap aku harus meminta persetujuan istriku. Aku tidak mau melukai hati istriku, bila perlu istriku juga ikut kerumah ibu jujuk biar tidak ada salah paham. " Ucap amar tegas.


" Mas, aku tidak apa - apa. Aku tidak melarang mu dan aku percaya denganmu. Besok kan weekend kita kerumah ibu jujuk dan kamu bicaralah dengan mbak asti baik - baik. Setidaknya biar dia sedikit tenang, dan setelah itu mbak asti bisa langsung kita bawa kerumah sakit. " Ucap kartika terdengar sangat bijak.


Amar mengangguk setuju dengan saran kartika. Jika hanya berbicara dengan asti amar pun tidak keberatan.


" Setidaknya sebelum mbak asti menjalani perawatan di rumah sakit dia bisa bertemu dengan mu Mar. Karena kemungkinan dia akan lama disana, sampai mbak asti benar - benar sembuh dan normal kembali. " Ucap diki menambahi.


" Tidak apa - apa mbak Ajeng, kita sebagai manusia harus tolong menolong. " Ucap kartika dengan senyum hangatnya.


Obrolan merekapun berpindah topik, bukan masalah asti lagi tapi membahas liburan akhir tahun. Mereka berencana liburan bersama - sama dengan keluarga dan saudara.


" Nanti kita ajak mbk delia, mbak tini dan novi untuk membahas masalah ini. Pasti seru ya bisa liburan bareng - bareng " Ucap kartika sudah membayangkan liburan yang sangat mengasikkan.


" Iya jangan lupa para suaminya juga diajak berunding " Seru Amar menambahi.


" Kalau para suami sudah pasti ngikut saja, sesekali dong ngikut apa kemauan istri. " Ucap kartika melirik suaminya.


" Baiklah " Ucap amar dan diki bersamaan.


Malam semakin larut ajeng dan dikipun berpamitan pulang, dan mereka sudah membuat janji besok akan kerumah ibu jujuk sekitar jam 10 pagi.


" Dek, kamu yakin mengizinkan mas menemui asti dan berbicara dengan asti ? Kamu ingat kan kejadian di rumah diki beberapa hari yang lalu, asti nempel - nempel terus sama mas. " Tanya amar untuk memastikan.


" Apa ada niatan untuk kembali lagi dengan asti ?" Tanya kartika serius.

__ADS_1


" Ehh... Tidak begitu dek. Mas tidak mungkin dong kembali dengan asti, sedangkan sekarang mas sudah mempunyai bidadari yang sangat cantik" Ucap amar sambil merangkul kartika dan mengusap perut kartika.


" Mas sudah tidak sabar ada malaikat kecil didalam sini." Seru amar sambil tetap mengusap perut kartika.


Kartika tersenyum senang saat perutnya diusap amar dengan lembut. Dia juga sudah menginginkan seorang bayi ada didalam perutnya. Kartika tidak menunda - nunda kehamilan.


" Semoga saja segera ada ya mas. Makanya kita jangan lelah untuk membuatnya. " Ucap kartika.


" Berarti harus rajin ya dek ? Tidak boleh absen ?" Tanya amar.


" Iya mas, seperti orang minum obat mas " Jawab kartika lagi.


" Minum obat itu sehari tiga kali loh dek. Apa kamu sanggup kalau sehari tiga kali. ?" Tanya amar sambil tersenyum penuh arti.


Tanpa kartika sadari sebenarnya pertanyaan amar itu sebuah jebakan untuk dirinya. Kartika yang salah mengartikan pun terjebak dengan pertanyaan Amar.


" Minum obat tiga kali sehari jelas sanggup dong mas. Kan kita mau sehat mas.." Ucap kartika.


Tanpa menunggu lama amar langsung menyergap kartika.


" Mas... mau ngapain ?" Tanya kartika kaget karena pergerakan amar secara tiba - tiba.


" Mau minum obat . Katanya sehari harus tiga kali, dan hari ini baru dua kali loh tadi pagi saja. Bagaimana kita minum obatnya dari sekarang ?" Tanya amar dengan senyum liciknya.


" Issahhh.... Kamu menjebakku mas. Mas Amar memang pintar kalau suruh mencari kesempatan." Ucap kartika sambil tertawa.


" Kamu kan yang mulai " Seru amar tangannya sudah mulai nakal.


Akhirnya terjadi juga apa yang diinginkan amar, mereka bermain cukup lama sampai kartika kelelahan dan tertidur. Amar mencium kening kartika lalu mencium perut kartika dan mengusapnya.


* Terimakasih istriku, semoga diperut mu ini segera hadir seorang bayi yang Allah titipkan kepada kita. Aamiin * Gumam amar dalam batinnya.


Seperti biasa , setelah selesau bergulat dengan sang istri amar masuk kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Setelah dia selesai dia pun ikut berbaring di sanping istrinya, tidak perlu waktu lama amar sudah terlelap dan meraih alam mimpinya.


********


LIKE, KOMENTAR, VOTE, FAVORITE, SERTA BERIKAN HADIAHNYA DAN RATE BINTANG 5 NYA 🙏❤️❤️


TERIMAKASIH 🙏❤️❤️

__ADS_1


__ADS_2