
🌹🌹🌹🌹 HAPPY READING 🌹🌹🌹🌹
.
.
.
💞💞💞💞💞💞
" Ajeng !! Diki !! Keluar kamu !!" Teriak Asti saat sudah sampai rumahnya.
Asti tahu pasti ajeng dan diki sengaja menyembunyikan pernikahan amar darinya. Amarah asti tidak bisa ditahan lagi, dia benar - benar murka dengan adik dan iparnya itu.
" Ada apa mbak ?" Tanya ajeng yang keluar sambil membawa centong nasi.
Karena ajeng memang sedang memasak untuk makan malam mereka.
" Dasar adik tidak tahu diri. Sudah menumpang dirumah ku tapi tidak tahu terimakasih. " Seru Asti marah.
" Asti jangan marah - marah begini nak. Kita dengarkan penjelasan adik mu dulu, jangan begini ya nak. " Ucap ibu jujuk mencoba meredam emosi Asti.
Ajeng sendiri hanya bisa bengong karena dia memang belum tahu permasalahan nya apa sampai kakak nya marah - marah seperti itu. Diki yang baru pulang dari kantor pun heran saat melihat asti marah - marah tidak jelas.
" Ada apa ini ? " Tanya diki dengan heran.
" Nah ini biang kerok nya sudah datang, pasti semua ini karena ulah mu sampai adik ku juga membohongi ku!" Teriak asti membuat diki semakin tidak tahu.
" Sebenarnya ada apa sih mbak. Mbak datang marah - marah tidak jelas dan menuduh kami berbohong, memangnya kami bohong soal apa mbak ?" Tanya ajeng.
Begitupun dengan diki, dia benar - benar tidak tahu ada masalah apa sampai kakak ipar nya sudah menuduhnya yang tidak - tidak.
" Kalian berdua sudah bersekongkol membohongi ku ! Kalian tahukan kalau mas amar sudah menikah ? Tapi kalian hanya diam saja. Dasar saudara tidak tahu terimakasih, menyesal aku punya saudara seperti kalian. Ohhh..atau jangan - jangan minggu kemarin saat kamu bilang ada acara kantor itu kalian datang kepernikahannya mas amar ? Iya kan ?" Seru kartika penuh selidik.
Deg.
Ajeng dan diki langsung saling pandang, mereka terkejut dengan yang sudah dikatakan asti. Hal yang di takutkan mereka akhirnya terjadi juga, asti tahu tentang pernikahan amar.
" Iya minggu kemarin kami memang keacara pernikahan nya mas Amar. Tapi bukan nya mbak juga cerita jika minggu kemarin datang kerumah kontrakan mas amar ? Bahkan tetangga nya juga sudah bilang jika mas amar pergi ke acara pesta. Nah pesta yang dimaksud itu pesta pernikahan mas Amar sendiri . Masak iya hal seperti itu tidak peka " Jawab ajeng yang sudah malas dengan keegoisan Asti. Ajeng tidak perduli lagi dengan kewarasan sang kakak.
__ADS_1
" Dasar licik, tidak tahu diri !! Sekarang lebih baik kalian keluar dari rumah ku !!" Teriak asti lantang.
" Asti, kendalikan emosi mu nak. Jangan seperti ini, ajeng dan diki itu adikmu. Mereka juga anak ibu , jangan usir mereka ya nak. Ini sudah mau malam, kalau mereka pergi mereka mau tidur dimana ?" Seru ibu jujuk memohon agar ajeng dan diki tidak di usir.
Hhheeeehh
Asti hanya melirik ibu nya dengan bengis, dia kesal karena ibunya lebih membela adik nya yang pembohong ketimbang dirinya yang sudah jelas - jelas dibohongi.
" Kami bohong juga demi kebaikan amar Mbak, amar tidak mau mbak mengacaukan pesta pernikahannya. Amar sendiri yang meminta kami untuk merahasiakan semua ini dari mbak. Maafkan kami , jika memang mbak mengusir kami. Kami akan keluar dari rumah ini , karena kami tahu ini memang rumah mbak asti dan kami tidak berhak tinggal disini. " Ucap diki menjelaskan alasan dia dan ajeng berbohong.
" Kalian jangan pergi dari sini. Jujur ibu juga kecewa dengan sikap kalian yang sudah berbohong, tapi sekarang semuanya sudah terlanjur dan tidak perlu di ributkan lagi. Ibu hanya minta kalian tetap tinggal disini, jangan perdulikan Asti. Ibu masih butuh bantuan kalian. " Ucap ibu jujuk.
" Bantuan apa lagi bu, biarkan mereka pergi dari rumah ini. Aku tidak mau tinggal serumah dengan pembohong , pengkhianat !!" Seru Asti lantang.
Hhhaaaahhh
Ibu jujuk menghela nafas dengan panjang, tentu dia punya alasan kenapa menahan ajeng dan diki untuk tetap tinggal dirumah ini.
" Ibu hanya ingin kalian membantu merayu amar agar dia mau menikahi asti. Jadi istri kedua pun tidak apa - apa. Ibu hanya ingin melihat kakak mu sembuh " Ucap ibu jujuk dengan mata yang berkaca - kaca.
Ajeng dan diki tidak menyangka jika ibunya mempunyai pemikiran seperti itu. Amar itu baru menikah dua hari yang lalu, jelas dia tidak akan mau untuk menjadikan asti istri kedua nya. Jika amar mau rujuk sudah dari dulu dia rujuk dengan Asti.
" Ibu, apa ibu sadar dengan ucapan ibu tadi ? Ibu kira setelah kami bicara dengan mas amar apa dia mau menikahi mbak asti. Kalau mas amar mau bu, sudah dari dulu dia rujuk dengan mbak asti. Mbak asti juga jangan memaksakan kehendak, dulu mbak yang meminta cerai tapi sekarang justru mbak yang minta rujuk. Kami lebih memilih keluar dari rumah ini daripada harus membuat hubungan persahabatan mas diki dan mas amar hancur hanya gara - gara mbak asti. Dasar tidak waras !!" Seru Ajeng dengan kesal.
PLaaakkkkk
Tamparan mendarat di pipi Ajeng dengan sangat cepat sehingga ajeng tidak bisa menghindarinya. Tamparan itu sudah pasti sangat sakit, tapi lebih sakit lagi saat tahu siapa yang menamparnya.
" Jaga mulut mu Ajeng !! Kalau kamu tidak mau membantu kakak mu lebih baik kamu keluar dari rumah ini..!!" Seru ibu jujuk dengan tatapan tajam.
Tamparan tadi berasal dari tangan ibu jujuk, dia tidak terima saat ajeng menolak berbicara dengan amar bahkan mengatakan asti tidak waras.
" Baik buk kita akan keluar dari rumah ini. " Seru ajeng sambil membuang sembarang centong nasi yang sedari tadi dia pegang.
" Sudah sana cepat kemasi barang - barang kalian " Seru asti sambil mengibaskan tangan nya ke udara.
Ajeng mengajak diki masuk kamar untuk mengemas barang - barang nya. Sementara ajeng hanya akan mengemas sebagian barang nya, besok dia akan datang lagi untuk mengambil lagi barang - barang yang belum mereka bawa.
" Sayang kita pergi yuk " Seru ajeng mengajak anaknya yang sedari tadi mainan dikamar.
__ADS_1
" Iya bunda " Jawab anak ajeng dengan patuh lalu mengemasi mainannya.
" Kita mau kemana mas ?" Tanya ajeng bingung karena sudah mau malam .
" Mas sudah menyewa kontrakan untuk kita tempati. Mas sudah menyewanya dari seminggu yang lalu, mas memang berniat mengajak kalian pindah karena mas tidak nyaman tinggal di rumah ini semenjak mbak asti pulang kerumah. " Ucap diki berterusterang.
" Terimakasih mas.. Maaf kita harus pindah - pindah terus." Seru ajeng memeluk suaminya.
" Tidak apa - apa dek. Sekarang lebih baik kita segera bereskan barang yang akan kita bawa. Selepas magrib kita keluar dari rumah ini. " Ucap diki.
Ajeng mengangguk dan melanjutkan membereskan pakaian anaknya dan memasukkan nya kedalam koper.
" Tapi kontrakan nya dekat sama kantor tidak mas ?" Tanya ajeng, jika kontrakan jauh dari kantor kasihan suaminya.
" Kontrakan nya dekat kok dek. Kontrakan nya amar dulu, kebetulan bulan depan kan habis dan mas sudah memperpanjang nya selama 6 bulan. Amar juga sudah menyetujuinya, sayang juga sebulan lagi habis dan amar kan sudah mau menempati rumah baru nya jadi kita gratis sebulan " Ucap diki tersenyum senang.
" Iya mas tidak apa - apa. Mas bagaimana kalau tanah warisan ku itu di jual saja terus uang nya untuk kita beli rumah. Sepertinya kalau ditambah hasil jual tanah tabungan kita cukup untuk beli rumah." Seru ajeng.
" Iya dek mas setuju." Ucap diki menyetujui saran dari istrinya.
Diki memang berniat untuk membeli rumah saja daripada harus membangun rumah. Tanpa tanah warisan ajeng di jual pun diki akan membeli rumah, makanya dia hanya menyambung kontrakan amar selama 6 bulan karena dia juga sedang mencari rumah yang cocok untuk keluarga kecilnya.
Brakkk
Brakkk
Pintu kamar ajeng digedor - gedor oleh Asti. Asti meminta mereka segera pergi.
" Kalian cepat keluar dari rumah ku, aku sudah bosan melihat penghianat ada di rumah ku. Cepat pergi sebelum aku menyeret kalian keluar, apa kalian mau aku seret agar tetangga tahu jika kalian itu penghianat !!!" Teriak asti dari depan pintu kamar ajeng.
" Iya mbak kami akan keluar, setelah selesai adzan magrib " Ucap ajeng sambil membuka pintu.
Asti langsung melengos meninggalkan kamar ajeng tanpa mengucapkan sepatah katapun.
*******
RATE BINTANG 5 NYA DULU YA KAK 🙏❤️❤️
LIKE, KOMENTAR, VOTE, FAVORITE, SERTA BERIKAN HADIAH NYA 🙏❤️❤️
__ADS_1
TERIMAKASIH 🙏❤️❤️❤️