
🌹🌹🌹🌹 HAPPY READING 🌹🌹🌹🌹
.
.
.
💞💞💞💞💞💞
" Apa ? Jadi ibu saya lumpuh ?" Tanya amar seakan tak percaya dengan kabar yang di sampaikan oleh dokter.
Amar terduduk lemas di ruangan dokter , dia masih tidak percaya dengan apa yang barusan dokter sampaikan. Baru minggu lalu ibu nya mengalami cidera pada kaki nya, dan hari ini mengalami nya lagi bahkan sekarang lumpuh.
" Iya pak, maaf terpaksa kami harus menyampaikan kabar ini. Tulang ekor ibu siti patah sehingga otot atau saraf - saraf yang ada di sekitar nya ikut rusak " Ucap dokter ikut iba.
" Apa ibu saya masih bisa di sembuhkan dok ?" Tanya amar ingin yang terbaik untuk ibu nya.
" Maaf, saya tidak bisa menjanjikan. " Jawab dokter seperti tidak ada harapan untuk ibu siti sembuh.
" Terimakasih dok, kalau begitu saya permisi dulu. " Ucap amar.
Dokter pun mengangguk dan mempersilahkan amar keluar ruangan nya. Amar kembali menuju UGD untuk menemui ibu nya, namun saat menuju UGD amar berpapasan dengan mama silvi. Mama silvi memberitahu jika ibu siti sudah di pindahkan ke ruang perawatan.
" Terimakasih banyak ya tante " Ucap amar berterimakasih.
" Sama - sama mar, kalau butuh bantuan jangan sungkan hubungi tante nya. Ini nomor telepon tante, oh iya kalau begitu tante pulang dulu ya mar. Kamu yang sabar " Ucap mama silvi sambil memberikan secarik kertas bertulis nomor ponsel nya.
" Iya tante. Maaf sudah merepotkan " Seru amar sambil menerima kertas kecil yang di berikan mama silvi.
Setelah berpamitan mama silvi meninggalkan amar , keluar dari rumah sakit dan menuju parkiran dimana sang sopir sudah menunggu nya.
" Hemmm... aku harus menghubungi harun. Dia harus tahu kondisi ibu " Gumam amar lalu menguarkan ponsel dalam saku celana nya.
Sambungan telepon sudah terhubung, dan deringan ke tiga harun langsung kengangkat telepon dari amar.
[ Hallo mas ada apa ? Tumben telepon ?].
[ Kamu cepat ke rumah sakit mitra sehat sekarang !]
[ Memang nya ada apa ? Dan siapa yang sakit sampai aku harus ke rumah sakit segala ? Aku capek mas mau istirahat ]
[ Ibu kecelakaan dan sekarang di rumah sakit ]
__ADS_1
Tut.. tut... tut...
Amar langsung mematikan sambungan telepon nya, malas berlama - lama bicara dengan harun. Hanya menambah beban pikiran nya saja. Amar masuk ke ruangan ibu nya dan duduk di kursi samping ranjang sambil menatap lurus ke wajah sang ibu. Wajah yang semakin hari semakin menua, membuat amar iba melihat kondisi ibu nya yang terbaring lemah di atas kasur. Namun jika mengingat kelakuan ibu nya, ingin sekali amar meninggalkan ibu nya dan membiarkan nya sendiri di rumah sakit. Tapi seburuk apa pun sang ibu , dia tetap ibu yang sudah melahirkan nya.
" Sebenar nya ada rahasia apalagi yang ibu tutupi, kenapa ibu ketakutan dan menghindar dari tante silvi " Seru amar menatap kosong ke arah ibu nya.
" Tante silvi itu orang yang baik bu " Seru amar lagi.
Pintu tiba - tiba di buka dan masuklah harun seorang diri tanpa rosa ikut menjenguk ibu nya.
" Kenapa ibu bisa seperti ini mas ?" Tanya harun.
" Mas tidak tahu run, oh iya mana istri mu ? Kenapa dia tidak mau ikut menjenguk ibu?" Tanya amar.
" Rosa mana mau di ajak mas, dia akhir - akhir ini banyal diam kalau di tanya malah marah " Ucap harun terlihat frustasi.
Amar tidak mau ikut campur dengan rumah tangga harun. Biar kan harus menyelesaikan masalah nya sendiri, harun sudah dewasa bukan anak kecil lagi. Saat ini amar fokus kepada ibu nya saja.
" Kamu temani ibu, mas mau cari makan dulu " Seru amar lalu keluar dari kamar rawat .
******
Sedangkan di rumah nya delia sedang menunggu kepulangan sang mama mertua. Delia sangat menghawatirkan keadaan mama silvi dia takut sang mama kenapa - kenapa, bagaimana pun dia tahu bagaimana licik nya ibu siti. Delia hanya takut mama silvi di salahkan dalam insiden kecelakaan yang menimpa ibu siti.
" Hati - hati delia " Ucap ma silvi memperingatkan delia.
Delia berjalan cukup cepat, dengan kondisi perut nya yang semakin membesar membuat mama silvi menghawatirkan delia.
" Mama tidak apa - apa ?" Tanya delia menelisik mama mertua nya dari atas sampai bawah.
" Mama tidak apa - apa del . Kita duduk saja ya, nanti mama ceritakan kejadian yang sebenar nya " Ucap mama silvi sambil membimbing delia duduk di sofa.
Mama silvi dan delia kini sudah duduk di sofa. Delia pun langsung meminta mama mertua nya untuk menceritakan apa yang sudah terjadi.
" Mama tadi itu melihat siti baru keluar dari toko perhiasan. Mama mencoba menghampiri nya tapi siti justru menghindar, dia berjalan cukup cepat sampai di ujung jalan dia menyebrang tapi naas ada motor yang melaju cukup kencang sehingga kecelakaan itu pun tidak terhindar kan. " Ucap mama silvi menceritakan kejadian yang sebenarnya.
" Terus mama tidak apa - apa kan ? mereka tidak menuntut mama ?" Tanya delia penasaran.
" Maksud kamu mereka menuntut ganti rugi karena mama, siti kecelakaan gitu ?" Tanya mama silvi tahu maksud delia.
" Iya ma " Jawab delia singkat.
Mama silvi mengusap punggung delia dengan lembut sambil tersenyum ke arah delia.
__ADS_1
" Mereka tidak menyalahkan mama, amar justru meminta maaf kepada mama. Mungkin ini memang sudah rencana sang pencipta, teguran untuk siti agar hidup lebih baik lagi " Ucap mama silvi.
" Delia takut mereka menyalahkan mama, delia hafal betul watak keluarga itu " Ucap delia yakin.
" Sebenarnya amar itu anak yang baik, mungkin karena pengaruh dan hasutan ibu nya dia menjadi pria yang plin plan dan tidak punya pendirian " Ucap mama silvi.
Wajah delia langsung berubah tidak enak, bagaimana pun amar mantan suami nya. Dan saat ini mertua nya sedang membicarakan sang mantan suami. Delia lebih memilih diam daripada salah bicara justru akan membuat situasi tidak enak.
" Mama ke kamar dulu ya del " Ucap mama silvi.
" Iya ma. Mama istirahat saja dulu, pasti mama capek " Ucap delia.
" Iya kepala mama agak pusing, mungkin karena tadi mengejar siti dan panas - panasan. " Ucap mama silvi sambil memijit kening nya.
" Delia buat kan teh dulu ya ma " Ucap delia.
" Tidak usah del, sudah mama mua istirahat saja. Kamu juga istirahat, jangan capek - capek. Mama masuk kamar ya " Ucap mama silvi lalu beranjak ke kamar nya.
Delia hanya tersenyum dan mengangguk saja. Dia pun kembali ke kamar nya untuk membaringkan tubuh nya, kehamilan nya semakin besar membuat delia sering merasa lelah padahal tidak mengerjakan apa - apa, bahkan ke toko saja hanya seminggu satu atau dua kali saja.
Ting..
Ada notifikasi masuk ke ponsel delia , delia langsung mengambil ponsel yang dia letak kan di atas meja samping tempat tidur nya.
[ Sayang sebentar lagi mas pulang, mau nitip apa ?] Tulis juna.
Delia tersenyum membaca pesan yang di kirimkan oleh suami nya. Sekarang setiap juna pulang dari bekerja selalu menawarkan sesuatu untuk delia.
[ Aku mau bakso yang dekat alun - alun mas. Sama martabak telor nya ya, sama tolong mampir mini market atau swalayan belikan buah - buahan segar stock di kulkas habis ]
[ Loh tadi bukan nya ibu mau belanja ? apa tidak jadi belanja ?]
[ Iya tidak jadi mas ]
[ Ya sudah tunggu ya nanti mas bawakan semua pesanan istri tercinta ku. ]
[ Baiklah suami ku, aku menunggu mu ]
Delia senyum - senyum sendiri sambil berkirim pesan dengan suami nya. Juna benar - benar menjadi suami yang selalu memanjakan delia, bahkan hampir tiap malam juna memijit kaki delia. Padahal delia sudah melarang nya, tetap saja juna memaksa.
*******
JANGAN LUPA LIKE, KOMEN, VOTE, FAVORITE, BERIKAN HADIAH NYA SERTA RATE BINTANG 5 NYA KAK 🙏❤❤❤
__ADS_1
TERIMAKASIH 🙏❤❤❤