
Chapter 133 Putri-putri yang mengerikan.
Hari kedua turnament beladiri telah dimulai, dimana 8 peserta kategori murid telah berdiri di arena dan berhadapan dengan lawan-lawannya.
"Apa kalian sudah siap?"
Wasit berbicara saat kedua peserta sudah saling berhadapan, dan murid akademi itu juga telah mengeluarkan senjata andalannya.
"Siap, senior"
"Siap, Kakek"
"Mulai"
Kata wasit yang mengijinkan mereka untuk memulai pertarung disaat mereka berdua telah siap, Jun Long sengaja tidak mengeluarkan senjatanya dan ingin menguji lawannya terlebih dahulu.
"Bocah...mampus kamu"
Wuuuuussshh
Murid akademi Dewa bintang segera menyerang Jun Long setelah dia mengutuk lawannya, dia mengarahkan pedangnya langsung ketitik leher Jun Long dengan cepat.
Zlaaapp
Buuukkk
Baaanngg
Jun Long yang diserang oleh musuhnya langsung menghilang disaat pedang itu tinggal berjarak 1 meter didepan lehernya, dia tiba-tiba muncul diatas kepala lawannya, tanpa memberikan kesempatan lawan yang kaget, Jun Long langsung menendang kepala musuhnya dari belakang hingga lawannya langsung terpental hingga menabrak dinding tribun penonton.
Suara ledakan lawan menghantam dinding itu sangat keras dan setelah itu terlihat pria muda menancap pada dinding tanpa bisa bergerak lagi.
"Jun Long, menang"
Suara wasit segera mengema mengumumkan kemenangan pertama tim Phoniex dihari kedua turnament beladiri antar murid.
"Hore..."
"Kakak, kamu hebat"
"Jun Long"
"Jun Long"
Suara sorak-sorai memanggil nama Jun Long setelah wasit mengumumkan hasil di arena pertama, Jun Long dengan sifat dinginnya langsung kembali ketempatnya dan berkumpul bersama keluarganya.
"Cucuku kamu sangat hebat... Hahaha"
"Mantap, Putriku"
"Kakak, kamu sangat cepat, aku kira kamu akan bergeser"
Pujian Kakek, nenek, ibu dan adiknya yang gembira saat Jun telah duduk di kursi tanpa mau dipangku kakeknya.
"Apa kalian sudah siap?"
"Siap, senior"
"Siap, Kakek"
"Mulai"
Suara wasit sekali lagi mengema dan memberikan peserta untuk segera bertarung, kedua peserta yang siap segera mulai bergerak.
"Hati-hati, bocah"
Wuuuuussshh
Buuukkk
Booommm
Murid akademi Dewa Api yang langsung menyerang dengan senjata pedangnya setelah wasit mengijinkan mereka bertarung, disaat pedang musuh akan menebas lehernya, segera Jun Jingyi mengeserkan tubuhnya kesamping lalu dia mengangkat kaki kanannya dan menendang pinggang musuhnya dengan sangat keras.
Suara ledakan sekali lagi terdengar disaat murid akademi menabrak dinding tribun penonton dan dia tanpa bisa bergerak lagi saat menabrak dinding itu.
"Jun Jingyi, menang"
Suara wasit mengumumkan hasil kemenangan Jun Jingyi dan sekali lagi membuat heboh seluruh tribun penonton, mereka bersorak kegirangan saat Jun Jingyi menang.
"Hahaha, hebat, aku menang taruhan"
"Jun Jingyi, kamu keberuntungan ku"
"Kakak, kamu hebat"
"Sungguh kecepatannya susah diprediksi lawan dengan jarak segitu"
"Tuan muda, bagaimana kamu melatih putri-putrimu hingga seperti ini?"
"Hehehe, aku hanya melatih mereka sejak usia 1 tahun dengan membunuh binatang buas"
"Apa..."
Siapa yang tidak terkejut mengetahui ada bayi yang baru berumur 1 tahun bisa membunuh binatang buas, umumnya bayi usia 1 tahun baru bisa berjalan dengan tertatih-tatih dan juga bicaranya masih belum lancar, tapi saat Excel berkata membuat semua orang masih belum percaya walau mereka sempat berteriak bersama-sama karena kaget.
"Apa kalian berdua sudah siap?"
"Siap"
"Mulai"
Suara wasit sekali terdengar saat giliran pertandingan Jun Moon dan murid akademi Dewa Abadi, dan mereka berdua juga sudah siap.
"Pedang pembelah gunung"
Sliinng
Wuuuuussshh
Murid akademi Dewa Abadi langsung menggunakan teknik pedangnya dan energi Qi mengaliri pedang itu, dengan tebasan itu energi besar langsung menebas kearah Jun Moon.
"Tinju naga api"
Booommm
Benturan energi mengema ditengah-tengah arena, saat Jun Moon juga menggunakan tangan kosong dengan teknik pukulan Naga yang dia dapatkan dari ayahnya, pukulan energi itu berubah menjadi naga api dan langsung melesat melawan teknik pedang musuhnya.
Booommm
"Aaakkhhh"
Bruuukkk
Tidak hanya mampu menghancurkan teknik musuhnya, pukulan berbentuk naga itu masih melesat dan menghantam dada lawannya hingga terpental jauh dan keluar dari arena.
"Jun Moon, menang"
Wasit langsung mengumumkan kemenangan Jun Moon disaat penonton masih shock saat melihat pukulan berbentuk naga api menghantam murid akademi Dewa abadi.
"Luas biasa...hore"
"Kakak, pukulanmu sangat hebat"
__ADS_1
Kembali sorak-sorai penonton dan keluarga besar Excel bergemuruh di dalam arena pertandingan, Excel hanya tersenyum saja mengetahui tekniknya mampu menghancurkan lawan dengan mudah.
"Teknik yang kuat sekali, teknik tingkat apa itu?"
"Menantuku, apa kamu juga yang mengajarkan teknik itu?"
"Hehehe, dia ciptakan sendiri saat melihat naga api pada waktu itu, dan aku hanya memberikan beberapa instruksi saja"
Excel sengaja berbohong kepada mereka, agar mereka tidak shock lagi jika mengetahui teknik yang digunakan Jun Moon adalah teknik tingkat dewa.
"Apa..."
Lagi-lagi mereka berteriak karena terkejut lagi, bagaimana mungkin anak baru berusia 3,5 tahun menciptakan sebuah teknik yang kuat? Excel yang mengetahui pikiran mereka segera berkata.
"Segala teknik berawal dari imajinasi, dari imajinasi kita aplikasikan menjadi nyata, jika kita mendidik anak kita sejak usia dini, apapun bisa terjadi.
Kalian seharusnya lebih mengetahui jika anak dari usia 1 tahun hingga 14 tahun penuh dengan imajinasi, kita sebagai orang tua hanya bisa membantu mewujudkan imajinasi mereka."
Perkataan Excel akhirnya menyadarkan banyak orang di tribun untuk tamu khusus, semua orang hanya manggut-manggut dan juga berpikir keras.
"Tapi bagaimana caranya bisa mewujudkan imajinasi itu menjadi nyata?'
Kaisar Xibu yang berada ada di dekat Kaisar Dongbu bertanya dengan rasa penasaran yang tinggi, selama ini dia sudah tidak bisa lagi diam saat mendengarkan Excel berbicara.
"Hahaha, itu mudah. Seharusnya kalian lebih banyak bertukar pikiran dengan ahli Alchemist dan Formasi array disaat mereka ada.
Seorang Alchemist dan Formasi array harus memiliki kekuatan jiwa diatas rata-rata, karena itu sangat membantu mereka dalam memahami suatu ramuan atau Formasi.
Sama seperti membuat teknik atau skill untuk bertarung, dari imajinasi kita praktekkan lalu dengan kekuatan jiwa kita akan mampu memahami pola gerakan itu, pada awalnya gerakan itu sangat berantakan tetapi dengan dukungan kekuatan jiwa gerakan itu semakin halus dan bisa selaras dengan alam....lihat aku contohkan"
Tiba-tiba Excel mengangkat tangannya kedepan, lalu jari telunjuknya menujuk kedepan, kemudian dia mengalirkan energinya pada jari telunjuknya.
Bhuuuzzzhh
Jari itu berubah menjadi pedang api berwarna putih yang sangat panas, hingga membuat orang-orang didekatnya mulai berkeringat.
"Luar biasa, ini sama saja dengan kekuatan jiwa pedang... Hahaha. Aku mengerti, Tuan muda aku menjadi tercerahkan."
"Ya, akhirnya kami paham...betapa bodohnya kita selama ini"
"Hehehe, karena itu belajarlah dari anak kecil... Anak kecil penuh dengan ide kreatif yang melebihi orang dewasa, hanya saja kita sebagai orang dewasa selalu meremehkan mereka."
Semua orang akhirnya bisa memahami bagaimana mewujudkan suatu hal yang sulit terwujud, Excel juga menyadarkan pikiran mereka dari kebuntuan selama ini yang mempengaruhi kekuatan mereka.
"Apa kalian berdua sudah siap?"
"Siap"
"Siap, Kakek"
"Mulai"
Saat wasit berbicara kembali semua mata tertuju pada Jun Mei dan murid dari akademi Pill Dewa, mereka dari tadi sudah menunggu wasit untuk mengijinkan mereka bergerak.
Zlaaapp
Baaanngg
"Akkhhhh"
Zlaaapp
Baaanngg
"Akkhhhh"
Booommm
"Astaga kecepatan yang mengerikan"
"Monster..."
Semua orang shock melihat kecepatan Jun Mei yang hanya bisa dilihat seperti cahaya berkedip-kedip saja, tapi berbeda dengan basis kekuatan di tingkat jendral dewa yang bisa melihat dengan jelas.
Walaupun begitu mereka yang berada pada tingkat jendral dewa masih saja kagum pada Jun Mei yang gerakannya sangat lincah seperti angin.
Murid dari akademi Dewa Abadi langsung pingsan saat menghantam lantai arena mereka berdiri, dilantai tercipta kawah dan menghancurkan ubin-ubinnya.
Tap
"Terlalu lambat"
Kata Jun Mei yang sudah mendarat di lantai tempat arena mereka berdua bertarung, dan Jun terlihat kecewa tidak mendapatkan lawan yang seimbang.
"J-Jun Mei, menang"
Sang wasit sempat terkejut juga melihat kecepatan Jun Mei saat bergerak dengan cepat, dia tergagap sesaat setelah Jun Mei bersuara.
"Hahaha, cucuku kamu sangat hebat"
Leluhur Zhou sudah tidak bisa menenangkan diri dan tertawa terbahak-bahak dan juga melompat-lompat kegirangan saat melihat aksi Jun Mei.
"Wow, kakak kita menang lagi"
"Horeeee"
Semua penonton dan keluarga Excel juga bersorak-sorai saat wasit mengumumkan hasil pertandingan Jun Mei dengan murid akademi dewa abadi.
"Bukannya murid itu terlalu lambat tapi kamu terlalu cepat...hahaha. Tuan muda Putri-putrimu sungguh mengerikan"
Kata Patriack Sekte Xiao yang memuji kinerja dari Jun Mei, dan Excel hanya tersenyum saja, semua orang tidak lepas dari pandangannya dan menganalisa setiap lawan dari putrinya.
"Baiklah, untuk pertandingan selanjutnya segera bersiap saat nama-namanya dimuncul dibatu prasasti..."
Bhuuuzzzhh
-Jun Peijing Vs akademi Dewa Abadi.
-Akademi Pill dewa Vs Jun Yu.
-Akademi Dewa bintang Vs Jun Ming.
-Jun Yan Vs akademi Dewa Api.
Segera nama-nama peserta dan akademi muncul dari dalam batu prasasti itu, sekali lagi penonton membuat taruhan yang kini hampir semua mendukung tim Phoniex yang belum terkalahkan.
"Asik, namaku akhirnya muncul"
"Hore, aku bisa memukul lawan lagi"
Putri-putri Excel kegirangan saat namanya muncul dibatu prasasti, dan langsung saja bergerak tanpa menunggu ibunya memberikan instruksi.
"Putriku, jangan beri mereka kesempatan bergerak dulu"
"Cucuku, hajar mereka"
"Oke"
Jawab keempat gadis cilik itu dengan membuat lingkaran ditangan kanannya, yang membuat semakin mengemaskan bagi mata yang melihatnya.
"Kirim murid yang basis terlemah dulu seperti sebelumnya"
Perintah para ketua akademi kepada murid-muridnya yang memiliki kekuatan paling terendah di akademi mereka, sengaja mereka lakukan itu agar melemahkan stamina tim Phoniex.
__ADS_1
"Baik, ketua"
Segera 4 murid dari akademi yang terpilih bergerak menuju arena pertandingan, dan sejujurnya mereka juga takut melawan monster yang akan mereka hadapi, apalagi keempat rekannya masih belum sadarkan diri setelah bertarung dengan lawan sebelumnya.
Segera mereka sudah saling berhadapan dengan lawannya dengan sikap permusuhan, kini mereka tidak lagi banyak bicara dan tidak lagi meremehkan kekuatan gadis kecil didepannya.
"Jun Peijing dan murid akademi Dewa Abadi, apa kalian sudah siap?"
"Siap, senior"
"Siap"
"Kalau begitu, mulai"
Wasit memberikan aba-aba kepada mereka berdua untuk segera bertanding, dan murid akademi Dewa Abadi juga langsung membuat energi perisai untuk melindungi dirinya dari serangan tiba-tiba, seperti yang dilakukan tim Phoniex yang sebelumnya.
Jun Peijing yang mengetahui lawannya bertahan hanya tersenyum saja, dengan santainya Jun Peijing melangkah maju mendekati murid akademi itu.
"Jangan maju, jika tidak kamu akan terluka parah!"
Peringatan murid itu kepada Jun Peijing yang seakan-akan membuat Jun Peijing menerima serangan yang berbahaya baginya, tapi Jun Peijing tetap maju dan mendekati perisai itu.
Wuuuuussshh
Pyaaaarr
Buuukkk
"Aakkkhh"
Baaanngg
Booommm
Setelah Jun Peijing dekat dengan perisai itu dengan kepalan tangan kanannya dia memukul perisai hingga pecah, tidak sampai berhenti kepalan itu langsung memukul perut lawannya hingga berteriak kesakitan dan langsung berlutut didepannya, Jun Peijing tidak berhenti dan langsung menendang kepalanya dengan kaki kirinya hingga terpental menabrak dinding tribun penonton.
"Jun Peijing, menang"
Kata wasit yang telah tahu hasilnya dan segera mengumumkan pemenangnya, penonton langsung bersorak gembira yang sudah tahu hasilnya saat murid itu dari awal sudah ketakutan.
"Hore ..."
"Hebat cucuku...hahaha"
Jun Peijing langsung pergi dan kembali ketempatnya dan duduk dipangkuan Kakek yang tidak lain ayah dari Shu Peijing dengan bangga.
"Saatnya aku, Kakek aku siap"
Kata Jun Yu yang sudah tidak sabar ingin segera bertarung, berbeda dengan lawannya yang menelan salivanya karena takut dengan gadis paling kecil didepannya.
"Baik, mulai"
"Tunggu adik"
Teriakan murid akademi Pill Dewa menghentikan Jun Yu yang akan bergerak saat wasit telah mengijinkan mereka bertarung.
"Apa Paman ingin menyerah?"
"Tidak, aku tidak menyerah, tapi jika adik mau kembang gula aku bisa berikan, bagaimana?"
Jun Yu yang dihentikan untuk bertarung dan hanya ditawari kembang gula, hanya mengeleng-gelengkan kepala saja, tapi dia berubah dan berkata.
"Jika ada 10 aku mau"
"Hahaha, baiklah aku ada 10, ini ambillah!"
Wuuuuussshh
Buuukkk
"Aakkkhh"
"Nyam nyam... Ini tidak enak, kurang manis..."
Buuukkk
"Aakkkhh"
Baaanngg
Zlaaapp
Baaanngg
Zlaaapp
Baaanngg
"Aaaaahhh"
Booommm
Jun Yu langsung melesat dan merampas kembang gula itu dan langsung memberikan pukulan kepada murid itu diperutnya hingga membuat dia jongkok karena merasakan sakitnya, karena kembang gula itu tidak enak saat dimakan, Jun Yu langsung menendang lehernya hingga terpental kesamping.
Sebelum murid itu menghantam dinding tribun penonton, Jun Yu menghilang dan sudah berada dibelakangnya, dan sekali lagi menendang punggungnya hingga musuhnya melesat kedepan, lalu Jun Yu sekali lagi menghilang dan muncul lagi dibelakang lawannya dan memberikan pukulan akhirnya.
Teriakan terakhir murid itu menyudahi permainan yang dibuatnya, dia merencanakan kembang gula itu sebagai trik dia agar mudah mengelabui gadis kecil yang menurutnya bisa ditipu.
Sayang sekali umpan yang dia berikan tidak membuat Jun Yu lengah dan malahan memukulinya tanpa ampun, setelah Jun Yu memberikan pukulan akhir dia kembali ketengah arena.
"Jun Yu, menang"
"Hore...terima kasih, Kakek. Apa Kakek mau bertarung denganku"
"Tidak, tidak. Wasit tidak bertarung dengan peserta, junior"
Sang wasit ketakutan saat ditantang Jun Yu walau basis kultivasinya pada tingkat jendral dewa, dia sendiri juga heran tidak mampu melihat basis kekuatan gadis cilik yang sedang menatapnya dengan mencondongkan tubuhnya kearahnya.
"Whahaha"
Penonton ketawa saat melihat aksi lucu Jun Yu dengan kedua tangannya memegang pinggulnya dan menantang si wasit yang sudah berkeringat diwajahnya.
"Aduh...plaaak"
"Hahaha, Tuan muda putrimu sangat lucu"
"Hahaha, aku pikir dia akan ketipu dengan iming-iming kembang gula, ternyata itu justru nasib sial si murid"
Excel sangat malu melihat aksi putrinya yang satu ini dengan menepuk jidatnya, hingga membuat mereka yang duduk dekat dengan Excel ketawa dan mengomentari aksi Jun Yu.
"Baiklah, jika Kakek tidak mau. Mungkin nanti Kakek mau, oke"
"Tidak, tidak. Segera kamu kembali ketempatnya asalmu"
"Whahaha"
Semua orang sudah kesakitan perutnya karena ketawa, saat mendengarkan Jun Yu terus menerus menantang wasit yang berada dipinggir arena tanding.
"Ya, padahal aku mau kasih kembang gula, sudahlah jika Kakek tidak mau"
Segera Jun Yu kembali ketempatnya dan melambaikan tangannya kepada penonton yang memanggil-manggil namanya, aksinya selalu membuat orang ketawa.
Wajah Excel sudah memerah menahan malu karena putrinya terus-menerus menantang wasit itu, dia sudah tidak bisa berkata-kata lagi melihat tingkah laku putri terkecilnya.
__ADS_1