
Chapter 280 Raja iblis tunduk.
"Huff, payah..." kata Bu Wanmei yang kecewa karena ucapan provokasinya tidak bisa memancing jendral utama untuk mengejarnya.
Bu Wanmei kembali berjalan lagi menuju goa tempat dia tinggal. Melihat manusia rubah yang ingin kembali, Lu Xinxin dan Lu Xianglun mengikuti dari belakang dan bersembunyi di salju maupun dibalik pepohonan.
Bu Wanmei yang mengetahui keberadaan kedua wanita itu hanya tersenyum dan tetap berjalan dengan santai, padahal dia sudah membunuh banyak orang barusan.
"Cepat, jangan sampai kehilangan jejaknya..." kata Lu Xinxin kepada kakaknya, mereka berdua terpaut jarak 250 meter, jika melewati jarak 300 meter, mereka berdua tidak bisa lagi mendeteksi keberadaan Bu Wanmei.
"Haiyoo... Perut ku lapar... Gara-gara mereka semua binatang menjauhi gunung ini..." keluh Bu Wanmei yang perutnya keroncongan minta diisi.
"Aku bisa mati kelaparan..." lanjut ujar Bu Wanmei dengan mengelus perutnya.
Kedua wanita itu hampir saja terjungkal saat melompati pepohonan, saat Bu Wanmei mengeluh gara-gara lapar.
"Kampret... Mana ada tingkat dewa absolute mati kelaparan..." umpat Lu Xinxin dengan menyetabilkan kakinya agar tidak terpeleset.
"Ke ke ke... Lucu..." Lu Xianglun terkikik dengan menutupi mulutnya agar tidak didengar Bu Wanmei, dia melirik adiknya yang kesal saat dirinya hampir terpeleset. Mereka berdua kembali mengikuti Bu Wanmei.
"Haiyoo... Mama, papa, nenek, kakek, kakak, adik, janda, isteri orang, pacar orang... Berilah aku makan, tolonggg... Aku akan mati kelaparan... Celeng, babi, rusa, semua binatang mendekatilah dan jadilah makanan ku....!" kata Bu Wanmei dengan membanting tubuhnya di salju dan mengelus perutnya.
Lagi-lagi kedua wanita itu hampir terpeleset saat mendengar Bu Wanmei memanggil seluruh orang kampung...
"Asem... Kutu kupret... Kenapa tidak sekalian kamu panggil seluruh benua..." gerutu Lu Xinxin.
"Apa itu janda-janda segala dipanggil, apa mau dimakan juga.... Dasar rakus..." Lu Xianglun yang juga hampir saja jatuh ikut menggerutu mendengar keluhan Bu Wanmei.
"Hahaha... Akhirnya ada yang menjadi makanan...! Apa.... Haiyoo...! Yang datang malah daging yang pahit... Brukk" awalnya Bu Wanmei tertawa saat mendengar suara kedua wanita itu, dia buru-buru bangun, tetapi yang dia lihat tidak membuat dia berselera, Bu Wanmei kembali berbaring di salju....
"Woiii... Siapa yang kamu bilang daging pahit... Hah..." Lu Xinxin tidak terima saat dirinya merasa menjadi sasaran ucapan Bu Wanmei, dia segera membalas ucapan Bu Wanmei.
"Aduh...." Lu Xianglun menepuk dahinya saat adiknya menampakkan dirinya.
"Kamu, kalian berdua daging pahit...! Ini perampokan, serahkan makanan apapun..." kata Bu Wanmei kepada kedua wanita itu dengan tubuh masing terlentang di salju.
Kedua wanita itu mengedutkan sudut bibirnya, saat mendengar ucapan Bu Wanmei.
"Mana ada perampok makanan..." bentak Lu Xinxin yang tidak terima jika dirinya akan dirampok oleh Bu Wanmei
"Jelas ada lah... Saat ini aku sedang merampok kalian... Serahkan semua makanan kalian... Jika tidak aku akan pingsan, mungkin mati..."
Lu Xianglun hampir saja tertawa terbahak-bahak melihat kekonyolan manusia rubah ini, dia menunggu apa yang akan terjadi dengan kedua orang ini.
"Kamu mau macam-macam denganku... Aku adalah kecantikan dibenua ini, apa tidak salah kamu berani merampok diri ini..." Lu Xinxin menyilangkan kedua tangannya di pinggang dan membalas ucapan Bu Wanmei.
"Aku saja belum satu macam, tapi kamu bilang macam-macam. hei... gadis daging pahit, kamu jangan korupsi itu tidak boleh... Oh, iya. Kamu itu tidak cantik, masih cantik makanan yang enak..."
"Daging pahit, daging pahit.. Kamu ngajak berantem... Hah. Ayo, maju sini..." Lu Xinxin tidak terima dirinya dikatain daging pahit, Bu Wanmei seketika berdiri dan juga menyilangkan kedua tangannya di pinggang.
"Ayo, siapa takut dengan daging pahit, aku akan pelintir bibirmu, aku akan tarik telingamu yang jelek..." balas Bu Wanmei yang tidak takut ditantang berantem. Lu Xinxin segera melesat kedepan dan menyerang Bu Wanmei.
Wuuuuussshh
Bruuukkk
Bruuukkk
"Aduh sakit... Lepaskan" Lu Xinxin langsung mengigit telinga rubah Bu Wanmei, Bu Wanmei kesakitan dan berusaha membanting tubuh Lu Xinxin yang berada dibelakang panggung.
"Hahaha... Lihat, kamu tidak bisa menang melawanku... Katakan lagi daging pahit, jika tidak mau telingamu putus..."
"Aaaahh.. Bruk..." Lu Xinxin berteriak, saat kepalanya dipegang dan dibanting didepan.
__ADS_1
Plak... Plak
"Hahaha.... Rasakan jurus telapak tangan dewa menampar pantat..." Bu Wanmei kegirangan saat berhasil menindih punggung Lu Xinxin dan menampar pantatnya.
"Aaahh... Berhenti, berhenti... Jangan tampar pantatku... Tolonggg... Kakak, pantat ku dianiaya..." Lu Xinxin meronta-ronta kesakitan saat pantatnya ditampar Bu Wanmei.
"Plaaak... Aaahh...plaaak aaahh"
"Hahaha... Akulah raja menampar pantat... Ayo, teriak yang lebih keras...hahaha"
Bu Wanmei kegirangan saat menampar pantat Lu Xinxin, dia tidak perduli dengan teriakan kesakitan dari Lu Xinxin. Melihat adiknya teraniaya, segera Lu Xianglun ikut melerai mereka berdua.
"Henti, sudah cukup hentikan..." ucap Lu Xianglun dengan menarik lengan Bu Wanmei.
"Apa...! Apa kamu mau merasakan jurus telapak tangan menampar pantat...!"
Bruuukkk
"Aaaah..."
Setelah berbicara, Bu Wanmei segera menyerang Lu Xianglun dengan cepat dan membanting tubuhnya di salju.
Plak.... Aaaah
Kali ini giliran Lu Xianglun yang berteriak kesakitan saat pantatnya ditampar dengan keras, melihat kakaknya yang kini menjadi sasaran Bu Wanmei, Lu Xinxin segera bangun dan menyerang punggung Bu Wanmei.
Akhirnya ketiga orang itu bergulat sengit diatas salju dan sudah tidak perduli dengan harga diri lagi.
Di tempat wilayah raja iblis, terjadi pertarungan sengit dengan pasukan kerajaan arcadia, dimana pasukan arcadia berhasil membangun jembatan.
"Hahaha... Lebih baik kalian menyerah dan menjadi bawahan kami..." jendral kedua tertawa terbahak-bahak melihat dia berhasil membuat jembatan penghubung.
"Kami tidak akan tunduk pada penjajah seperti kalian..." jawab raja iblis merah kepada musuhnya.
"Lihat, jumlah kalian sudah kalah banyak, dan juga kekuatan pasukan kami lebih unggul, apa mau kalian mati sia-sia... Hahaha"
Raja iblis menyadari ucapan jendral ketiga yang memiliki kekuatan sang void level 3 yang sama seperti dirinya, dia berusaha memutar otaknya untuk mencari solusi terbaik.
"Apa untungnya menjadi bawahan penjajah, kalian disini pasti hanya untuk mendapatkan sumberdaya alam saja, setelah itu kalian membunuh kami." jawab raja iblis merah.
"Jelas menguntungkan, kami disini hanya menginginkan batu semesta, dan keutungannya sudah jelas jika kamu menjadi bawahan kami. Aku berjanji akan menjadikan kamu satu-satunya penguasa benua terkutuk ini. Tetapi, jika kalian tidak menyerah dan menjadi bawahan kami, kamu sudah tahu jawabannya...!" ucap jenderal ketiga kepada raja iblis.
Mendengar ucapan musuhnya, raja iblis terdiam, dia sedang memikirkan tawaran penjajah ini.
"Aku sudah kehilangan separoh pasukanku, jika aku terus melawan, sama saja mati dengan sia-sia, bagaimana nanti dengan keluargaku...!" raja iblis membatin saat mempertimbangkan tawaran itu.
"Benar apa yang dikatakan jendral ku. Perkenalkan, aku adalah komandan armada perang kerajaan arcadia, namaku Sun Yao." tiba-tiba komandan Yao muncul dibelakang jendral ketiga dan segera memperkenalkan dirinya.
"Kuat. Sangat kuat... Kekuatan macam apa ini..." batin raja iblis yang merasakan tekanan, dia sudah berkeringat dingin disekujur tubuhnya, tetapi dia masih menjaga sikap tenang sebagai seorang raja ras iblis.
"Bagaimana? Apa kamu mau menjadi bawahan aku...!" tanya komandan Yao kepada raja iblis.
"Hahmm... Tidak ada pilihan lain, kekuatan pemimpin mereka sudah melewati kekuatan sang void." dengan menarik nafas dalam-dalam, raja iblis berbicara pada dirinya sendiri.
"Baiklah, aku akan menjadi sekutumu. Dengan catatan, kalian tidak membunuh rakyatku dan juga keluarga besarku, jika kalian melakukan itu, aku akan membuat kalian menyesali telah datang dibenua ini." jawab raja iblis yang masih dengan sikap sombong dan tegas.
"Hahaha, tentu. Aku hanya membutuhkan batu semesta dari alam ini, jika kami sudah cukup memiliki batu semesta, kami semua akan pergi dari benua terkutuk ini.
Kami hanya membutuhkan 100 juta lebih batu semesta, apa kamu memilikinya?" komandan Yao tertawa, dia berbicara langsung pada inti tujuannya, Sun Yao sengaja tidak menjawab keinginan raja iblis, baginya mudah memusnahkan-nya.
"Terlalu banyak, bahkan jika kalian mengekstrak benua ini, belum tentu mendapatkan senilai yang kamu inginkan. Tetapi, aku hanya memilik sekitar 2 juta batu semesta dan itu simpanan ku selama ini." kata raja iblis kepada komandan Yao.
Sun Yao mengerutkan keningnya saat mendengarkan ucapan raja iblis.
__ADS_1
"Tidak perlu kamu ingatkan, jika alam semesta ini tidak dilindungi energi yang aneh, aku sudah sejak awal memanen benua ini." batin komandan Yao kepada dirinya sendiri.
"Baiklah, serahkan batu semesta milikmu, dan perintahkan pasukanmu mencari batu semesta, sebagai gantinya aku akan menjadikan dirimu sebagai satu-satunya penguasa benua terkutuk ini. Satu lagi, kamu carikan jalan menuju wilayah kedua ras itu, sekalian tangkap manusia rubah itu hidup atau mati." dengan tegas dan dengan sikap mendominasi, Sun Yao meminta batu semesta kepada raja iblis, dia juga memerintahkan raja iblis apa yang menjadi tugasnya.
Raja iblis ingin marah dengan kesombongan Sun Yao, tetapi demi keselamatan rasnya dan juga keluarganya, dia masih menahan diri.
"Baik, aku akan lakukan keinginanmu. Tetapi, kalian jangan menduduki wilayah ini, cukup kalian berada diwilayah yang sudah kalian rampas dariku." pinta raja iblis kepada komandan Yao.
"Apa hakmu, apa kamu mau kami musnahkan... Hah." kata jenderal kedua yang tidak senang dengan permintaan raja iblis.
"Tenang, jenderal. Baik, aku kabulkan permintaan kamu." segera komandan Yao menengahi mereka, dia tidak ingin kehilangan satu-satunya orang yang mengenal wilayah ini.
"Bagus. Kami akan mulai bekerja mulai besok." kata raja iblis dengan melemparkan cincin dimensi yang hanya berisi batu semesta senilai 2 juta.
"Ini masih jauh dari kata cukup untuk mengisi bahan bakar armada kapal perang..." batin komandan Yao saat memeriksa cincin dimensi yang dia terima.
"Baiklah, aku akan tunggu kabar darimu. Ayo, kita kembali."
Kemudian, komandan Yao kembali menuju ketempatnya, dan diikuti seluruh pasukannya. Raja iblis selalu memperhatikan kepergian mereka dengan kebencian yang paling dalam.
"Raja, pemimpin mereka sangat mengerikan kekuatannya..." kata salah satu jenderal kepada raja iblis setelah semua penjajah telah pergi, dia sudah tidak mampu bernafas dengan benar saat merasakan tekanan dari musuhnya.
"Iya, aku tahu. Baiklah, kalian bereskan kekacauan ini, dan juga jaga ketat jembatan penghubung itu, setelah itu kita adakan rapat untuk mengatur rencana lagi." jawab raja iblis kepada jendelanya dan memberikan perintah kepadanya.
"Siap laksanakan, pemimpin."
Raja iblis kembali menuju istana dengan diikuti para jendral dan bawahannya.
"Kalian segera buat pos penjaga disekitar jembatan dan buat sekalian dinding pembatas." perintah jendral itu kepada anak buahnya.
Di pegunungan maha dewi, terlihat tiga orang masih bergulat sengit, diantara mereka bertiga tidak ada yang mengaku kalah. Bu Wanmei menindih Lu Xianglun, dan Lu Xinxin juga memiting leher Bu Wanmei, posisi mereka benar-benar lucu.
Ketiga orang saling menindih, Bu Wanmei mengigit leher Lu Xianglun, sedangkan Lu Xianglun juga mengigit leher Bu Wanmei, Lu Xinxin juga tidak mau kalah, dia juga ikut mengigit leher kiri Bu Wanmei.
"Daging pahit... Benar-benar pahit..." kata Bu Wanmei dengan suara yang tidak jelas saat mengigit.
"Cabul, cepat lepaskan... Sungguh memalukan tindakanmu ini..." teriak Lu Xianglun pada Bu Wanmei, tubuhnya ditindih dan dia merasakan hal aneh yang mengganjal dibawah perutnya.
"Cepat, lepaskan gigitanmu atau aku akan cabik-cibik tubuhmu..." Lu Xinxin juga berbicara dengan suara yang aneh dan tidak jelas.
Ketiga orang itu tetapi saling mengigit dan sambil berbicara, jika ada orang lain yang ada disekitarnya pasti akan ketawa terbahak-bahak melihat mereka.
"Aku sudah bilang, ini perampokan... Jika kalian beri makanan kita tidak mungkin seperti ini, lagian daging kalian sangat pahit..." kata Bu Wanmei yang tidak berusaha melepaskan gigitannya.
"Baik, baik, aku akan berikan, asal kamu jangan gigit kakak ku..." kata Lu Xinxin yang mulai menyerah melihat kegigihan manusia rubah ini yang tidak mau kalah.
Di dalam istana raja iblis, berkumpul banyak pemimpin. Mereka tertunduk lemas saat mengetahui, jika mereka telah menjadi sekutu penjajah.
"Kalian jangan kuatir, jika mereka tidak menepati janjinya, kita tinggal mengeluarkan gas beracun kepada mereka. Yang penting saat ini kita memenuhi kemauan mereka terlebih dahulu. Aku tunduk karena membutuhkan kekuatan mereka untuk melawan kedua ras itu. Apa kalian tidak ingin menjadi penguasa satu-satunya dibenua ini?" raja iblis berusaha menghibur para bawahannya.
"Semoga saja mereka menepati janjinya. Raja, lalu apa yang harus kita lakukan?" tanya salah satu pemimpin klan.
"Pertama, kita tingkatkan pengalian tambang batu semesta, di gunung datar.
Kedua, kita buru manusia rubah itu, jika kita bisa mendapatkan dia, itu juga menjadi suatu keberuntungan.
Ketiga, kita gali lagi goa menuju lembah suci agar bisa kita lewati lagi...." jawab raja iblis merah kepada semua pemimpin yang berada di istana.
Setelah membahas rencana bersama, semua orang meninggalkan istana, dan hanya ada raja iblis seorang diri didalam istana.
"Kedamaian akhirnya berakhir setelah sekian lama dinikmati. Entah ini baik atau buruk, aku tidak mengetahuinya, semoga saja dengan pilihan aku tunduk, membuahkan hasil yang baik." gumam raja iblis dengan memejamkan mata.
Dia sebenarnya tidak ingin tunduk kepada penjajah, tapi apalah daya jika dia lemah dihadapan para penjajah ini.
__ADS_1