
Chapter 279 Menjadi Mimpi Buruk.
Tidak berselang lama, Lu Zhi segera datang di benteng pertahanan, dia segera melihat para penjaganya mengangkat komandan dari kerajaan arcadia.
"Mana manusia rubah itu?" tanya Lu Zhi kepada kepala penjaga gerbang perbatasan.
"Maaf, jendral. Dia sudah pergi menuju pegunungan maha dewi." jawab kepala penjaga kepada jenderal Lu Zhi.
"Ceritakan apa terjadi?" perintah Lu Zhi sekali lagi saat melihat ras manusia yang pingsan sedang di rantai kedua tangan dan kakinya.
"Kata manusia rubah itu, dia adalah komandan regu yang membawahi 10 ribu pasukan, dan manusia rubah yang bernama Bu Wanmei yang telah menangkapnya...." kepala penjaga segera menceritakan dimana Bu Wanmei menangkap
"Bu Wanmei... Nama yang lucu. Siapa dia sebenarnya? Apa tujuan dia tiba-tiba muncul dibenua ini?" banyak pertanyaan mengenai sosok Bu Wanmei yang terucap kata Lu Zhi, dan kepala penjaga hanya bisa menggelengkan kepalanya.
"Kekuatan penjaga ini setingkat dewa absolute level 15, tapi dengan mudah menangkapnya dan membunuh 10 ribu prajurit seorang diri. Jelas kekuatan yang tersegel itu telah terbuka..." gumam Lu Zhi saat memeriksa kondisi komandan dari arcadia.
"Bawa dia, ke ibukota, biarkan raja yang mengintrogasi dia." perintah Lu Zhi sambil berdiri setelah berjongkok. Lalu Lu Zhi membalikkan badannya dan melihat kearah pegunungan maha dewi.
"Baik, jenderal."
Segera kepala penjaga dan bawahannya membawa komandan regu, dengan menggunakan kapal angkasa mereka melesat menuju ibukota kerajaan demi human. Setelah itu, Lu Zhi menyusul mereka setelah tidak menemukan jejak Bu Wanmei dihutan menuju pegunungan maha dewi.
Ditempat longsoran salju dimana yang telah membunuh 10 ribu prajuri, salah satu prajurit kerajaan arcadia ternyata masih hidup dan berusaha merangkak naik keatas, tubuhnya berlumuran darah yang membeku.
"Hah... Ahah..." prajurit itu terengah-engah dan wajahnya pucat, dia adalah wakil komandan regu. Wakil komandan regu segera memeriksa sekitarnya dan tidak menemukan komandan regu dan semua prajuritnya.
"Bajingan ini..." wakil komandan regu ingin berteriak marah tetapi masih takut dan trauma kepada manusia rubah, dia hanya bisa mengumpat lirih dan buru-buru turun, dia bertujuan melaporkan kejadian yang menimpa mereka.
"Apa...! 10 ribu pasukan mati termasuk komandan regu...! Sialan, bajingan itu...!" Jendral utama berteriak marah saat mendengar laporan wakil komandan regu.
"B-benar, jenderal..." jawab wakil komandan regu yang ketakutan dengan kemarahan sang jendral.
"Apa kekuatan manusia rubah itu?" tanya jendral dengan nada tinggi.
"A-aku tidak bisa melihat kekuatannya, jendral, maafkan saya...!" wakil komandan regu menjawab dengan tubuh menggigil ketakutan.
"Sudahlah, lebih baik kamu beristirahat dan sembuhkan lukamu dulu..." sang jenderal memerintahkan wakil komandan regu itu, wakil komandan regu merasa lega, setelah memberikan penghormatan, dia buru-buru keluar dari tenda.
"Kapten, bawa 500 ribu prajurit untuk menangkap manusia rubah itu, hidup atau mati. Dan juga bawa pasukan topografi." segera jendral utama memberikan perintah kepada kapten nya.
"Topografi \= adalah satuan pembuat peta dan memetakan wilayah.)
"Siap, komandan."
Setelah kapten itu pergi, tidak berselang lama datang wakil komandan jendral kedua.
"Maaf, jendral. Pembangunan jembatan sudah mencapai 80 persen, saat ini jendral pertama dan jendral kedua sedang menghalau serangan ras iblis."
"Bagus, kabarkan terus perkembangan nya, usahakan untuk tidak membunuh banyak ras iblis, kita akan jadikan mereka budak untuk mencari dan mengali tambang. Jika raja ras iblis menolak tunduk, siksa dan sandera isteri dan anak-anaknya." perintah sang jendral utama setelah wakil jendral kedua memberikan laporan.
"Baik, jendral Yong Sheng."
"Kenapa perasaan aku buruk terhadap manusia rubah ini...!" gumam jendral utama setelah wakil jendral kedua keluar dari tenda, Yong Sheng menjadi gelisah, perasaan dia mengatakan, jika manusia rubah ini akan menjadi mimpi buruk bagi dia dan seluruh pasukan kerajaan arcadia.
"Kak, ayo kita gunung maha dewa untuk mencari Bu Wanmei ini, kita belum sempat mengucapkan terima kasih setelah menyelamatkan kita...!" bisik Lu Xinxin mencoba merayu kakaknya saat ikut mendengarkan laporan kepala penjaga tentang aksi heroik manusia rubah.
Lu Xinxin mengedip-ngedipkan matanya dan telinga kelinci juga ikut bergerak, melihat adiknya yang berusaha merayunya, Lu Xianglun tersenyum.
"Baik, tapi jangan beritahui siapa-siapa, jika ayah, ibu dan paman tahu, pasti akan melarang kita." bisik Lu Xianglun kepada adiknya. Seketika, Lu Xinxin menjadi senang.
Kedua wanita itu berpura-pura kembali ke kamarnya, setelah ayahnya selesai mengintrogasi komandan regu dari kerajaan arcadia.
"Kabarkan kepada ratu siluman musang itu. Katakan jika semua informasi yang barusan dia ucapkan. 2 hari lagi kita akan bantu Bu Wanmei untuk menghalangi pasukan kerajaan arcadia." perintah raja demi human kepada bawahannya.
"Baik, raja."
Lu Xinxin dan Lu Xianglun telah menyelinap dari istana yang dijaga ketat, kedua wanita ras kelinci itu menyamar menjadi wanita tua.
"Berhenti, kalian berdua mau kemana, apa kalian tidak tahu jika diluar sedang dalam keadaan bahaya invasi militer penjajah." salah satu penjaga gerbang benteng pertahanan di perbatasan menghentikan kedua wanita tua.
"Maaf, prajurit yang terhormat, kami hanya ingin mencari ramuan obat dan makanan untuk sehari-hari. Kami tidak akan jauh dari tempat ini." jawab Lu Xianglun yang berpura-pura ketakutan, nada bicaranya sedikit gemetaran.
Kemudian, penjaga itu sedikit berpikir dan memeriksa ranjang yang dibawa kedua wanita tua itu, setelah memeriksa kedua wanita itu, dia mengangguk kan kepada penjaga gerbang pintu.
"Jangan lama-lama diluar, saat ini kita sedang berperang dengan penjajah, jika sudah cukup, segera kembali." penjaga itu mengingatkan kepada kedua wanita tua itu, dia juga tidak ingin repot-repot mencari kedua wanita ini jika ada masalah dihutan nanti.
"Terima kasih, prajurit muda." Lu Xianglun dan Lu Xinxin menjawab bersamaan dengan sedikit membungkuk dengan rasa hormat, melihat perilaku baik dan sopan, penjaga itu tersenyum bangga.
Segera Lu Xinxin dan Lu Xianglun berjalan pelan seperti layaknya seorang wanita tua, tetapi diwajahnya terlihat senang dengan senyum ceria.
Penjaga itu selalu memperhatikan kedua wanita tua itu, hingga menghilang saat memasuki hutan, dia sedikit mengerutkan keningnya dan merasa aura yang familiar setelah berinteraksi sebentar dengan kedua wanita itu.
"Hah.... Mungkin hanya perasaanku saja, sayang sekali. Kodok tidak mungkin bisa memakan angsa..." desah penjaga yang mengingatkan wajah cantik dari kedua putri raja demi human, dia berbicara lirih dan mengejek pada dirinya sendiri.
(Kodok tidak mungkin bisa memangsa angsa adalah idiom, artinya orang biasa tidak mungkin bisa bersanding dengan kecantikan yang dipuja banyak orang)
"Hahaha, apa kamu mencintai Lu Xianglun...! Seekor banteng tua yang memakan gelas lembut, bukanlah tindakan baik... Hahaha." ejek rekannya yang mendengar ucapan lirih penjaga itu.
__ADS_1
"Kampret, siapa yang tua, lihat kedua wanita itu bilang aku masih muda... Apa telingamu tuli... Hah." penjaga itu tidak terima dibilang tua oleh rekannya, dia juga kesal telah disindir rekannya, penjaga itu memang sudah memiliki banyak isteri muda.
( Seekor banteng tua yang memakan gelas lembut, bukanlah tindakan baik. Artinya, seorang lelaki tua yang memiliki seorang wanita yang jauh lebih mudah darinya. Idiom)
Dibawah kaki pegunungan maha dewi, banyak pasukan arcadia berjalan mencari keberadaan manusia rubah. Jarak antar pasukan hanya terpaut 2 meter dan membentuk regu, setiap regu berisi 50 prajurit.
Mereka mendongak kan kepalanya keatas gunung maha dewi, terlihat badai salju belum berhenti, hawa dingin segera meresapi kulit hingga tulang.
"Kalian harus hati-hati dan lindungi ahli topografi." perintah kapten kepada pasukannya, dia tidak ingin kejadian tewasnya 10 ribu pasukan terjadi terhadap dia dan pasukannya.
Setelah itu semua orang bergerak secara berlahan dan mencari jejak manusia rubah, satuan pembuat peta juga selalu menggambar lokasi mereka sesuai tugasnya.
"Ckckck... Kalian masih saja tidak lelah menuju jurang kematian." terdengar suara berdecak lidah yang tidak diketahui keberadaannya.
"Berhenti dan waspada...!" kata kapten pasukan 500 ribu kepada semua anggotanya, seketika semua prajurit mencari keberadaan suara itu dan mengambil sikap bersiap bertarung dan kewaspadaan penuh.
"Siapa kamu, apa kamu manusia rubah? Cepat keluar dan jangan bersembunyi seperti pengecut..." tanya kapten pasukan kepada suara itu dan sengaja memprovokasi suara itu agar menunjukkan batang hidungnya.
"Hehehe, jika aku keluar kalian tidak akan hidup..." Bu Wanmei terkekeh saat tahu niat mereka.
Wuuuuussshh
"Hati-hati..."
Booommm
"Aaaaahhh...."
Teriakan peringatan sang kapten terlambat direspon dengan cepat saat bola api dari atas melesat meledakan sebagian pasukan.
"Serang dengan energi Qi dititik itu dan jangan diam saja..." perintah sang kapten saat melihat sebagian pasukannya meregang nyawa.
Wuuuuussshh
Wuuuuussshh
Boom... Boom...
Ledakan demi ledakan kembali bergemuruh di gunung maha dewi, semua pasukan menyerang dengan energi Qi, dan serangan itu menyerang pada titik dimana Bu Wanmei melemparkan bola energi Qi.
"Serang terus secara bergantian dan juga bergerak maju. Kamu dan tim kesisi utara dan kamu di sisi selatan." kapten pasukan dengan cepat mengatur strategi dan mengepung posisi manusia rubah.
Boom... Boom...
"Hahaha... Serangan kalian sungguh menggelikan, salju saja tidak bergerak." Bu Wanmei tertawa mengejek serangan musuh yang sangat lemah.
Wuuuuussshh
Bang... Bang
Bu Wanmei melesat turun dan menyerang pasukan dengan sangat cepat, setiap pasukan yang dipukul langsung meledak, dan setiap teriakan kesakitan mewarnai pembantai.
"Bangsatttt... Mati..."
Wuuuuussshh
Kapten langsung melesat menyerang Bu Wanmei, tetapi Bu Wanmei menghilang dan muncul lagi agak jauh dan, "Boom..." sekali pukul prajurit yang menjadi sasaran langsung meledak.
"Hahaha... Lemah..."
Bu Wanmei tertawa dan mengejek semua pasukan, dia menghilang diantara badai salju, semua pasukan benar-benar ketakutan dan membuat mereka panik.
"Rapatkan barisan dan gunakan energi Qi untuk melindungi tubuhmu..." kapten pasukan juga mulai panik saat Bu Wanmei menghilang dan tidak muncul lagi, dia segera mengatur barisan pasukannya yang sudah kocar-kacir.
"Lebih baik kalian menyingkirkan dari benua ini jika masih ingin hidup. Kalian disini hanya merusak lingkungan saja." Bu Wanmei kembali berbicara didalam badai salju kepada pasukan arcadia.
"Serang disitu..." perintah kapten yang mengetahui dari mana sumber suara itu.
Booomm....
Semua pasukan langsung menyerang dan sekali lagi suara ledakan terdengar, tetapi target mereka tidak terdengar berteriak maupun bersuara.
"Bodoh, kalian ini sudah tahu kelemahan kalian, tapi tetapi saja menuruti perintah mereka. Kasihan dijadikan umpan meriam... Hahaha." Bu Wanmei kembali berbicara dan mengejek kebodohan pasukan arcadia dan juga pemimpinnya.
Sliinng... Buuukkk
Sliinng... Craazzhh
Bu Wanmei muncul dibarisan paling belakang dan membunuh dengan senjata pedang, setiap prajurit seketika mati tanpa suara.
"Aaaahh.... Banjingannnn..." kapten berteriak frustasi disaat melihat pasukannya terbunuh satu persatu.
Booom... Akkkhhh...
"Awas dibelakangmu... Kalian jangan diam saja... "
Swosh...
__ADS_1
"Aakkhhh... Sakit..."
Teriakan mengema digunung maha dewi, teriakan itu dipenuhi teror, setiap pedang memenggal kepala, setiap prajurit benar-benar panik, mereka seperti ayam di tangan manusia rubah
"Mengerikan..."
Di kejauhan dua wanita muda dan cantik mengawasi manusia rubah membantai banyak pasukan arcadia, sebagai penghuni asli benua permata hitam, Lu Xinxin dan Lu Xianglun tidak terpengaruh dengan badai salju maupun kondisi gelap benua permata hitam.
Boom... Boom....
Sliinng...
"Hahaha... Sudah lama aku tidak merasakan pembantai seperti ini, aku rasa aku ingin segera menuju alam semesta arcadia dan membantai lebih banyak kehidupan disana... Hahaha"
Bu Wanmei tertawa bahagia, dia merasakan andrenalinnya naik dan saat membunuh dia merasa puas. Mendengar ucapan manusia rubah, kapten dan sisa pasukan menjadi ketakutan dan sudah tidak mampu memutar otaknya.
"Kamu iblis nyata... Monster... Aaaaahhh"
Boom....
"Lari.... Aaakk"
"Mundur... Semua mundur..."
Lu Xianglun dan Lu Xinxin yang melihat aksi Bu Wanmei, juga ikut gemetaran, mereka berdua tidak menyangkah sosok manusia rubah yang terlihat lemah dan sangat tampan, ternyata memiliki sisi tergelap dan menakutkan saat membunuh tanpa berkedip.
"Jangan kira kalian bisa kembali hidup-hidup.... Hahaha. Badai tornado salju abadi...."
Bu Wanmei tidak ingin pasukan arcadia kembali dengan jiwa yang masih menempel ditubuh mereka, dia segera mengeluarkan tekniknya.
Tubuh Bu Wanmei berputar-putar dan menciptakan badai tornado salju abadi yang sangat besar, pegunungan maha dewi bergemuruh kencang.
"Aaaakkhh...."
"Toolonggggg...."
Badai tornado itu bergerak dan menghisap semua pasukan arcadia, teriakan mengema di pegunungan, suara mereka bercampur dengan badai.
Cuaca yang dingin semakin dingin, kedua wanita yang sudah terbiasa cuaca dingin, ikut merasakan tubuh mereka mengigil kedinginan, mereka segera menyelimuti seluruh tubuh dengan energi Qi iblis agar menetralisir hawa dingin yang mengerikan.
"Dia... Luar biasa... Hebat... Sangat hebat...!" Lu Xinxin memuji Bu Wanmei dan semakin jatuh hati pada manusia rubah itu.
Setiap prajurit yang dihisap badai tornado, menjadi beku dan sedikit demi sedikit tubuh mereka menjadi patung, yang berputar-putar mengikuti badai tornado itu.
"Hahaha... Karena aku baik hati, aku akan kirim kalian kembali ke markas kalian... Hahaha."
Wuuuuussshh
Bu Wanmei selalu tertawa sebelum dia berbicara, lalu dia keluar dari badai tornado yang dia ciptakan, dan menggerak kan tornado itu menuju perbatasan bekas wilayah ras iblis.
Setiap lintasan tornado salju itu menghancurkan segalanya dan melaju dengan sangat cepat menuju tempat markas sementara jendral utama.
Bang... Bang...
"Bahaya, bahaya... Ada badai... Aaaahh"
"Sialannnn... Apa-apaan ini..."
Semua pasukan penjaga benteng pertahanan menjadi panik, mereka berusaha lari tetapi tidak mampu, badai berbentuk spiral yang sangat besar menyedot apapun didekatnya.
"Bangsat...."
Booommm
Jenderal utama segera turun tangan dan menghancurkan badai tornado salju, dia dengan mudah menetralisir badai tornado dengan lambaian tangannya.
Tap... Tap... Tap...
Pyarrrr .... Pyarrrr ..
Setelah badai menghilang, banyak pasukan arcadia yang tadinya berada didalam badai, berjatuhan, tubuh mereka yang menjadi patung es langsung pecah saat menghantam tanah.
"Aaahh.... Bajingan...." jenderal utama berteriak marah melihat banyak pasukannya mati didepan matanya.
Semua pasukan yang berada didalam benteng pertahanan bergidik ngeri melihat banyak rekannya yang mati.
"Hahaha... Aku, Bu Wanmei. Silakan datang lagi... Aku siap membantai kalian dengan senang hati... Hahaha." suara Bu Wanmei yang berada jauh terdengar di bekas wilayah ras iblis, segera semua mata menatap kearah sumber itu, sumber itu berada di gunung maha dewi.
"Bangsat... Aku pasti membunuhmu..."
Wuuuuussshh
"Berhenti, jangan tergesa-gesa..." komandan Yao yang terburu-buru datang, segera menghentikan jendral utama yang sudah terbang dengan ketinggian 20 meter.
"Itu pasti manusia rubah... Aku akan membunuh dia dengan tangan ku sendiri..." jenderal sudah sangat marah dan tidak sadar siapa yang menghentikan dia.
"Tenangkan diri, jika kamu terpancing emosi, kamu sama saja mengantarkan nyawa. Apa kamu juga ingin mati dibunuh manusia rubah itu? Ingat, kita sudah kalah dalam menghadapi kondisi benua terkutuk ini..." komandan Yao menjadi kesal dengan sikap jendral utama.
__ADS_1
"Hahmm... Maaf, komandan hampir saja aku terpancing oleh manusia rubah itu." jawab jendral utama setelah menarik nafas dalam-dalam, guna menenangkan dirinya.
"Ini mimpi buruk, benar-benar menjadi mimpi buruk..." lanjut jendral utama dengan mengeleng-gelengkan kepalanya, perasaan yang selalu memberikan peringatan menjadi kenyataan.