
Chapter 282 Serangan Bu Wanmei.
Bu Wanmei selalu memperhatikan seluruh Benua Permata Hitam, terutama gunung Maha Dewi. Saat ini 10 pengawal Ratu Siluman Musang telah membantai 1.500 raksasa Iblis.
"Bu Wanmei...! Lihat, aku akan buktikan kepadamu bahwa kita tidak lemah...!" teriak salah satu pengawal wanita kepada Bu Wanmei.
"Ayo, kita kembali dan bergabung dengan Ras Demi Human." ucap Ratu Siluman Musang kepada 11 wanita cantik itu.
12 wanita itu menghilang dari posisinya, setelah Ratu Siluman Musang berbicara.
"Apa kalian tidak dicari oleh ayah kalian?" tanya Excel kepada kedua wanita itu yang terbaring disebelah kanan dan kiri Bu Wanmei.
"Tidak, mungkin ayah sudah tahu jika kita menemui kamu...!" jawab Lu Xinxin dengan santai, dia sebenarnya kebingungan apa yang harus dilakukan sebagai pasangan dao Bu Wanmei.
"Iya, pengawal kita mungkin sudah diperintahkan untuk mengawasi kita oleh ayah." Lu Xianglun juga ikut menjawab, detak jantungnya terasa aneh dengan berdetak kencang saat berada disisi Bu Wanmei.
"Baiklah jika begitu...."
"Aaah..." tiba-tiba Bu Wanmei membalikkan badannya dan mencium bibir Lu Xinxin, Lu Xinxin kaget dan hampir berteriak histeris, ciuman yang tiba-tiba membuat Lu Xinxin gemetaran, karena selama ini dia tidak tahu apa-apa tentang hubungan intim.
"Aah..." Lu Xinxin mendesah dan setelah berusaha melepaskan diri dari ciuman Bu Wanmei.
"Cabul, mesum..." Lu Xinxin langsung marah dan memaki Bu Wanmei, tetapi dia tidak berusaha menjauh dari Bu Wanmei.
"Hahaha... Salahkan sendiri kalian selalu mendekati aku..."
"Aaaahh...." kali ini Lu Xianglun yang diserang, dia kaget saat Bu Wanmei mencium bibirnya, padahal dia tadi sempat terdiam sejenak melihat adik dan Bu Wanmei berciuman.
Disaat Bu Wanmei sedang bercinta selama 2 hari dengan putri Raja Demi Human, Iblis raksasa yang membuat jalan menuju wilayah Ras Demi Human, telah mendekati zona perbatasan hutan dengan wilayah Ras itu.
"Kita sampai disini saja, kalian berlima, kembali dan laporkan kepada Raja kita, jika misi kita telah berhasil." perintah Iblis raksasa yang menjadi pemimpinnya.
"Oke, boss... Hahaha. Aku sudah tidak sabar memakan lemah empuk Ras Siluman"
10 Iblis raksasa itu segera kembali, dengan langkah kaki yang lebih cepat, setiap langkahnya mencapai ratusan meter, karena rute jalan telah dibuat dan diamankan dari berbagai hambatan, 10 Iblis raksasa menjadi lebih cepat saat berlari menuju wilayahnya.
"Sebentar lagi perang benar-benar terjadi..." gumam Lu Zhi yang melihat Iblis raksasa, mereka sengaja tidak menyembunyikan dirinya dan bisa dilihat oleh Ras Demi Human.
"Persiapan diri kalian, perkiraan mereka akan datang esok hari..." perintah Lu Zhi pada bawahannya.
Dari kejauhan disebelah utara, terlihat banyak pasukan Ras Siluman sedang bergerak, dikejauhan mereka terlihat seperti angin, bentuk mereka juga berubah-ubah, kadang menjadi rusa, ular, burung, banteng dan sebagainya.
"Lihat pasukan Siluman datang..." seorang prajurit Demi Human menujuk kearah utara saat berbicara, seketika semua kepala menoleh ke arah utara.
"Wow... Apa ini akan menjadi perang besar kali ini...?" tanya seorang prajurit kepada rekan-rekannya yang juga terpesona dengan aksi pasukan Ras Siluman.
"Mungkin saja, kemarin hari Ratu Siluman Musang tidak memobilisasi pasukannya seperti saat ini..."
Semua orang membicarakan Ras Siluman, semua kagum dengan kekuatan militer Ras Siluman. Mereka melihat Ratu Siluman Musang sedang ditandu oleh pasukan pilihan, Ratu Siluman Musang hanya menutup matanya.
"Hahaha... Selamat datang Ratu Siluman Musang." kata Raja Demi Human menyambut kedatangan Cang Juan beserta pasukannya.
Mereka berdua membuang kesombongan dan harga diri disaat masalah genting seperti saat ini, biasanya mereka jarang bertemu maupun berbicara satu sama lainnya.
"Huff... Apa kedua putrimu sudah kembali...?" Ratu Siluman Musang mendengus kesal saat mengingat Lu Xinxin dan Lu Xianglun yang lebih dekat dengan orang yang dia sukai.
Raja Demi Human tersenyum dan mengerti maksudnya, kecemburuan Ratu Siluman Musang mudah dilihat oleh siapa saja, "Hahaha, mereka masih muda, sudah wajar jika mereka selalu bersenang-senang. Ayo, ketempat yang sudah aku siapkan untuk Ratu Siluman Musang beserta pasukanmu..." ajak Raja Demi Human yang tidak ingin memperdebatkan masalah Manusia Rubah dan kedua putrinya.
"Besok mereka akan tiba setelah Iblis raksasa berhasil membuat jalan bagi penjajah, aku harap Ratu Siluman Musang sudah menyiapkan strategi yang tepat.
Jujur saja, kekuatan kita memang jauh berbeda, tetapi aku dan semua Ras Demi Human tidak akan menyerah, walaupun harus mati ditangan mereka.
Kita tidak mau menjadi budak maupun pengecut seperti yang dilakukan oleh Raja Iblis." Raja Demi Human membuka pembicaraan, saat dia, Ratu Siluman Musang beserta para pemimpin didalam tenda pertemuan.
"Sama, kita juga tidak ingin menjadi budak mereka. Langkah pertama, kita akan mengurangi jumlah mereka saat mereka melewati pegunungan Maha Dewi, dengan pasukan Musang Salju sebagai pelopor serangan pertama..." Ratu Siluman Musang segera berbicara perihal rencana yang sudah dia pikirkan.
"Kedua, kalian Ras Demi Human, terutama Manusia Badak akan menjadi tameng pasukan pemanah api kita, disisi utara dan barat Siluman Ular akan menyerang. Dengan keadaan medan bersajlu pegunungan Maha Dewi dan energi Qi iblis kita akan diuntungkan." Ratu Siluman Musang kembali berbicara sebelum Raja Demi Human menjawab.
__ADS_1
"Iya, Ratu Siluman Musang, benar. Kita mungkin tidak bisa mengalahkan pemimpin mereka yang setingkat Half Alfa, setidaknya kita masih bisa mengurangi jumlah pasukan penjajah dan pasukan Iblis..." kata Raja Demi Human, dia tahu kekuatan komandan Yao dari informasi komandan regu kerajaan Arcadia yang ditangkap Bu Wanmei, lalu Raja Demi Human kembali berbicara...
"Untuk rakyat jelata dan garis keturunan kita, akan kita ungsikan dilembah suci, disana sudah ada keluarga Ras Iblis yang dipimpin oleh Ratu Iblis. Raja Iblis juga tidak bodoh untuk membocorkan tempat lembah suci, aku rasa itu akan aman untuk sementara waktu. Semoga saja besok dan seterusnya ada keajaiban." Raja Demi Human sedikit bersedih memikirkan rakyatnya dan kuatir akan kelangsungan hidup keluarganya, dia menunduk dan mengeleng-gelengkan kepalanya.
"Semoga saja Bu Wanmei juga ikut membantu..." Ratu Siluman Musang teringat wajah Bu Wanmei, dia yakin Bu Wanmei itu memiliki kekuatan yang sengaja disembunyikan.
"Iya, kehadirannya hampir bersamaan dengan para penjajah, mungkin dia adalah seorang utusan sang Pencipta Alam ini, untuk melawan para penjajah itu."
Raja Demi Human, Ratu Siluman Musang dan beberapa pemimpin terus berlanjut membahas segala rencana melawan musuh-musuhnya.
Waktu berlalu dengan cepat, tetapi di Benua Permata Hitam tidak ada bedanya, setiap hari hanya ada malam tanpa matahari yang datang. Penghuni Benua Permata Hitam hanya melihat perputaran rotasi bintang saat menentukan waktu.
Semua orang sibuk mempersiapkan perang besar yang akan datang, banyak prajurit membawa rakyat jelata menuju lembah suci, ada prajurit yang berada dihutan untuk membuat jebakan.
"Aku akan melawan mereka, kalian berdua kembali dulu, dan berkumpul dengan ayah kalian." kata Bu Wanmei kepada Lu Xinxin dan Lu Xianglun, yang sedang memakaikan pakaian Bu Wanmei yang kini telah menjadi suaminya, mereka bertiga telah melewati bulan madu selama 2 hari.
"Kami akan ikut melawan mereka, aku tidak takut..." jawab Lu Xinxin yang langsung memeluk lengan Bu Wanmei.
"Aku juga tidak akan mundur melawan mereka, jika kamu melawan mereka, jelas aku juga akan ikut."
"Hahmm...! Baiklah, tetapi kalian harus selalu berhati-hati, kalian akan selalu berada dibelakang ku..." jawab Excel kepada mereka berdua, dia mendesah karena mereka sangat keras kepala.
"Hehehe... Oke."
Kemudian, ketiga orang itu keluar dari goa setelah menutupi goa dengan formasi, kedua wanita itu tidak tahu, jika Bu Wanmei mampu membuat formasi ilusi.
"Mereka sudah bergerak. Ayo kita kesana dulu sebelum mencapai tempat Musang salju yang akan menyergap mereka." kata Bu Wanmei yang sudah melihat pergerakan pasukan kerajaan Arcadia dan pasukan Iblis yang terbagi menjadi dua tempat berbeda.
Bu Wanmei menargetkan pasukan Arcadia, sengaja dia ingin mengurangi jumlah mereka. Kedua isterinya mengikuti Bu Wanmei yang berada didepan, gerakan mereka bertiga sangat lincah saat melompati pepohonan yang tertutupi salju.
"Kalian berdua jangan terpisah, target kalian membunuh pasukan yang tercerai-berai saat aku membuat kekacauan..." kata Bu Wanmei sambil berjongkok di batang pohon yang besar.
"Baik, suami. Kamu jangan kuatirkan kami, aku dan kakak mampu menjaga diri." jawab Lu Xinxin dengan rasa percaya diri.
"Iya, aku tahu. Tetapi disaat pemimpin mereka datang, segera kalian menuju diperbatasan dimana ayah kalian telah bersiap. Ingat, bunuh ikan yang terlepas dari jala secara diam-diam." Bu Wanmei langsung melesat kebawah setelah berbicara kepada kedua isterinya, dan segera menghilang dari pandangan mata Lu Xinxin dan Lu Xianglun.
"Ayo, kita jaga jarak agar bisa melihat aksinya dan memburu target kita..."
Wuuuuussshh
"Hahaha... Kita akhirnya bisa bersenang-senang lagi..."
"Jangan sombong, tetap waspada di gunung Maha Dewi ini..." kata prajurit B yang berada di barisan terdepan kepada rekan-rekannya.
"Tenang saja, siapa yang berani melawan kita dengan jumlah pasukan Arcadia dan juga kekuatan kita masih di atas mereka..." jawab prajurit A yang masih sombong tanpa peduli dengan keadaan sekitarnya yang masih sedikit ada hujan salju yang turun.
"Berhenti....!" komandan regu menghentikan langkah seluruh pasukan di barisan depan saat para prajuritnya sedang mengobrol.
Komandan itu melihat sosok pria duduk diatas batu dengan memakai pakaian serba hitam, dengan rambut panjang berwarna hitam yang diikat, warna hitam kontras dengan warna kulitnya yang putih dan alis tebal hampir menyambung.
Segera semua pasukan waspada dengan memeriksa sekelilingnya dan akhirnya melihat sosok pria itu, mereka juga melihat pria itu memiliki ekor sembilan...
"Manusia Rubah ekor sembilan... Bu Wanmei...!"
Sontak semua prajurit berseru, saat mengenali pria yang sudah banyak membantai pasukan Arcadia, pria itu yang diketahui namanya segera mendongak kan kepalanya dan melihat pasukan Arcadia.
"Hati-hati... Semuanya buat pertahanan." teriak komandan regu kepada seluruh pasukannya.
"Hahaha..." Bu Wanmei tertawa melihat reaksi mereka yang ketakutan, lalu dia berdiri dan berpijak pada batu yang dia duduki.
Wuuuuussshh
"Tombak Naga Hitam, saatnya kita beraksi.... Hahaha." ucap Bu Wanmei saat mengeluarkan tombak Naga Hitam yang lama tidak dia gunakan.
"Roarrrr....." merasa panggilan tuannya, tombak Naga Hitam meraung kesenangan dan segera mengeluarkan aura kekuatannya.
Suara Naga Hitam mengema diseluruh Benua Permata Hitam hingga membuat penghuni menggigil ketakutan, Ratu Siluman Musang, Raja Demi Human, Raja Iblis, komandan Yao juga terkejut mendengar raungan naga.
__ADS_1
"Apa itu suara naga..." kata Ratu Siluman Musang yang berdiri menatap jauh ke arah pegunungan Maha Dewi, dia merasakan tekanan pada garis darahnya.
"Iya, aku yakin itu naga...! Sejak kapan ada naga dibenua ini..." jawab Raja Demi Human yang terkejut suara itu.
Sedangkan komandan Yao dan utusan dari nine heaven palace juga ikut berdiri menatap kearah pasukan mereka yang berada di pegunungan Maha Dewi.
"Ayo, siapa dulu yang akan maju...!" kata Bu Wanmei dengan menatap pasukan Arcadia, tatapannya tajam dan membuat pasukan Arcadia ketakutan dan gemetar.
Wuuuuusssh
Wuuuuussshh
Wuuuuussshh
Tiba-tiba muncul jendral pertama, kedua, ketiga dan keempat menghadap Bu Wanmei, keempat orang itu merasakan kebencian terhadap Manusia Rubah.
"Kamu tidak akan bisa kembali hidup-hidup..." jendral keempat dari kerajaan Arcadia berbicara dengan naga keras.
"Hehehe... Jika kamu memiliki kemampuan...! Ayo, kalian berempat maju semua, jika tidak aku yang mundur..." Bu Wanmei terkekeh dan menantang mereka berempat sekaligus.
Keempat jendral itu mengedutkan sudut bibirnya saat Bu Wanmei mencoba bercanda, mereka semakin geregetan dan marah melihat sikap meremehkan dari Bu Wanmei.
"Biar aku yang maju, berurusan dengan rubah ini tidak perlu kita berempat melawan bersama-sama." pinta Jendral pertama kepada rekan-rekannya.
"Baik. Urus bocah itu, yang sudah membunuh banyak tentara kita." jawab Jendral keempat yang sudah geram melihat pembunuh para prajurit di depan matanya, apalagi rubah itu selalu tersenyum, seakan-akan meremehkan pasukan dari kerajaan Arcadia.
Wuuuuussshh
Zlaaapp
Jenderal pertama langsung menyerang Bu Wanmei, tetapi Bu Wanmei menghilang seperti tertiup angin.
Booommm
"Aaaakkkhhh...."
Terdengar suara ledakan dibelakang para jenderal dan suara teriakan kesakitan dari para prajurit Arcadia, sontak keempat jenderal itu membalikkan badannya dan disajikan dengan kengerian.
"Hahaha..." Bu Wanmei ketawa saat tombak Naga Hitam menusuk leher komandan regu, dan sebagian prajuritnya telah meregang nyawa saat tombak Naga Hitam meledak tubuh mereka.
"Sialannnn...."
"Bangsatttt..." keempat Jendral itu dengan segera menyerang Bu Wanmei setelah mengumpat penuh marah.
Wuuuuussshh
Claaanng
"Bang... Bang... Bang..." Bu Wanmei mengayunkan tombaknya saat senjata keempat Jendral itu ingin membunuhnya, tiap ayunan tombak kekanan dan kekiri mengeluarkan energi kejut yang mampu melukai banyak prajurit Arcadia.
"Kepung dia, jika tidak, dia akan banyak membunuh prajurit kita..." perintah Jendral keempat kepada ketiga jendral lainnya. Ketiga jenderal segera mengepung dari segala arah dan para prajurit menjauhi kelima orang itu.
"Hahaha... Maju..." Bu Wanmei tertawa dan langsung menyerang Jendral pertama yang memiliki kekuatan paling rendah, yaitu pada tingkat Sang Void level 1. Melihat jika dirinya menjadi target Manusia Rubah, jenderal pertama kaget saat Bu Wanmei menghilang dan sudah berada didepan dengan menghunuskan tombaknya.
"Claaanng..." suara tombak dan pedang milik jendral pertama yang menangkis serangan Bu Wanmei.
Ketiga jendral lainnya, juga tidak tinggal diam, mereka buru-buru menyerang Bu Wanmei. Merasakan serangan dari belakang, disamping kanan dan kiri, Bu Wanmei buru-buru menghilang seperti asap, dan muncul lagi di kerumunan para prajurit Arcadia yang cukup jauh.
Booommm
Booommm
"Aaaahh..." teriakan prajurit yang terkena serangan tombak dan setiap hunusan tombak meledakkan tubuh para prajurit.
"Sialan, cepat sekali dia..."
Jendral ketiga sangat geram dan juga kagum dengan kecepatan Manusia Rubah. Mereka berempat kembali mengejar dan menyerang Bu Wanmei.
__ADS_1