
Chapter 310 Cai Wenji Membunuh Sun Yao dan Kakek Sun.
Boommmm
Kapal induk akhir meledak, setelah terkena serpihan peluru 4 meriamnya sendiri. Pasukan Arcadia yang melihatnya menjadi sedih, dan niat membunuh terhadap musuhnya makin menjadi-jadi.
"Horeeee...!!"
Di pihak Alam Semesta Aurora, semua kultivator bersorak-sorai, tidak terkecuali pasukan wanita. Kedua belah pihak langsung saling menjauhi dan berjaga jarak. Kakek Sun, Sun Yao dan kedua Jenderalnya sudah sangat marah. Kapal induk kebanggaan Kerajaan Arcadia telah di tumbangkan oleh musuhnya.
"Pasukan ku, tidak perduli apapun, harga diri kita dan kebanggaan kita harus diperjuangkan. Bunuh mereka semua!" Sun Yao sudah kehilangan rasional nya, dia hanya memikirkan bagaimana membalaskan dendam.
"Lebih baik mati daripada pulang dengan rasa malu!" Kakek Sun melanjutkan ucapan cucunya, di seluruh tubuhnya mengeluarkan niat membunuh yang pekat.
"Huu... Huu..."
Suara yel-yel bersemangat dari pasukan Arcadia, setelah kedua pimpinan mereka memberikan dorongan keberanian.
"Huff, apa mereka bodoh!!" dengus Ling Xuan yang sedari tadi diam sambil mengawasi setiap pergerakan musuh.
"Terkadang, rasa dendam menghilangkan pikiran kewarasan seseorang!" Shu Peijing menjawab sambil menyelipkan rambutnya ditelinga.
"Benar. Disaat seseorang kehilangan logika, dia akan menjadi buta walau bisa melihat. Menjadi tuli walau bisa mendengar!!" Yang Roulan juga ikut berkomentar.
Di kapal perang BESD1, Excel, Ratu Yuna, Ratu Yuke, Ratu He Hua dan beberapa ribu wanita selalu melihat setiap pertempuran didepan mereka. Sedangkan Thunderbird tetap bertengger di bahu kanan Excel, dia tidak mau kalah dengan ketiga Ratu disebelahnya, selalu menunjukkan aura seorang Ratu yang disegani.
"Suami, apa perlu aku mengeluarkan pasukan Kekosongan?" tanya Ratu Yuna kepada suaminya.
"Jumlah mereka memang banyak, 3 miliar lebih. Kapal perang tersisa 700 ribu lebih. Di pihak kita saat ini hanya ada 1 miliaran jiwa, dengan dukungan mini star ship berjumlah 4 juta unit lebih...!!" jawab Excel kepada Yuna, dan memejamkan sebelum melanjutkan ucapannya.
"Keluarkan pasukan Kekosongan, ini juga bagus buat pelatihan mereka!!" perintah Excel setelah melihat memikirkan semuanya secara detail.
"Baik, Yuke. Keluarkan mereka!" perintah Ratu Yuna kepada Yuke.
Dengan lambaian tangan kanannya, Yuke membuka kehampaan. Setelah terbuka, keluar lah Shuwan, Seng Qiao, Seng Huaran, Qinglin, Mei Yin, Lingzi Mei, Niu Qinglin, Juan Qinxuan dan 25 Dewi-Dewi.
Dibelakang mereka bermunculan pasukan Kekosongan dengan memakai perlengkapan berwarna keemasan. Kedatangan mereka membuat semua orang gemetaran, terutama pasukan Kerajaan Arcadia, Kakek Sun dan Sun Yao, kecuali pasukan wanita dan mereka yang sudah mengenali siapa mereka.
Pihak dari Alam Keabadian juga gemetaran, tetapi sebagian masih mengenali siapa 25 wanita itu.
Leluhur suci dan ketiga murid Guru Agung hanya bisa menggelengkan kepalanya, mereka tidak mengira kekuatan mereka bisa mencapai ketinggian yang melebihi mereka berenam.
"Memang, di tangan Guru Agung siapa saja bisa mencapai ketinggian yang mengerikan!" ujar Lu Bai saat melihat 25 Dewi-Dewi diantara mereka yang baru datang.
"Salam, Yang Mulia Sang Penguasa Alam."
Suara mereka bergemuruh saat menyapa Kaisar Agung dan kedua Ratunya. Thunderbird semakin sombong dengan membusungkan dada ratanya, dan kedua matanya berkilauan petir.
Xiang Ri Kui, Raja Asyura, Jasmine dan Lavender, semakin bangga memiliki sosok yang melegenda yang disegani Alam Semesta Aurora.
Setelah menyapa Kaisar Agung dan kedua Ratunya, pasukan Kekosongan bergerak dan bergabung dengan pasukan wanita. 2 miliar pasukan Kekosongan yang dipimpin para Jenderal wanita, membuat pasukan Kerajaan Arcadia mundur beberapa langkah.
"Luar biasa hebatnya, suami kita!!" gumam Lu Xinxin saat baru mengetahui kekuatan armada perang suaminya.
"Iya, jika waktu itu aku salah pilih, mungkin aku akan sangat kecewa!!" Cang Juan juga ikut bangga dan berkomentar.
Shuwan, Seng Huaran, Seng Qiao, Lingzi Mei dan Qinglin maju didepan semua pasukannya. Kelima Jendral Utama ini berhadapan dengan Sun Yao, Kakek Sun dan kedua Jenderalnya.
"Kalian memasuki Alam Semesta Aurora dengan niat buruk, jangan harap bisa kembali hidup-hidup!" Shuwan berbicara kepada pimpinan musuh.
Sebagai salah satu Leluhur Kerajaan Arcadia, Kakek Sun menenangkan pikiran dan hatinya menghadapi musuh didepannya.
"Kami telah dibujuk oleh Wei Yan, dengan segala tipuannya kami terpancing. Seandainya kami tahu Alam Semesta ini memiliki Penguasa sejati, kami tidak akan mau mengikut si Wei Yan itu!" kelit Kakek Sun berusaha membela diri, dan melimpahkan semua kesalahan kepada Wei Yan.
"Bodoh! Kamu kira kita percaya dengan omong kosong kamu. Justru dengan sifat serakah kalian, kalian sengaja menuruti kemauan Wei Yan!" jawab Shuwan dengan wajah dingin dan suaranya sangat menggelegar.
"Hahaha! Baik-baik, anggap saja kita salah sasaran. Biarpun begitu kami tidak akan menyerah. Pasukan bersiap, hidup dan mati demi harga diri Kerajaan Arcadia. Serang...!" Kakek Sun tertawa, saat niat sebenarnya telah diketahui, karena sudah tidak ada alasan lagi dan sudah menemui jalan buntu, dia memerintahkan pasukannya untuk menyerang.
"Pasukan Naga dan pasukan Kekosongan, serang...!!" Shuwan juga segera memerintahkan semua kedua pasukannya.
"Serbuuuu...."
"Serbuuuu...."
Wushhhh... Wushhhh
Boom... Boom
Segera pasukan kedua belah pihak bergerak bersamaan. Ceng Fu, Hu Bai, Gaibian sebagai Jenderal hanya melawan musuh yang setingkat mereka bertiga. Pasukan Alam Keabadian juga tidak tinggal diam, mereka bergabung dengan para kultivator dari Benua Biru.
Sun Yao dan Kakeknya sedang mengawasi pasukannya, hanya kedua Jenderalnya yang maju berperang. Mereka sudah tidak perduli lagi dengan nyawa prajurit yang melayang.
Bagi Kerajaan Arcadia, harga diri sebagai salah satu penguasa di tempatnya, menjadi harga mati. Setiap pikiran prajurit, mereka hanya tahu membunuh saja, padahal kekuatan mereka jelas jauh berbeda.
Boom... Boommm
__ADS_1
Ledakan demi ledakan bergemuruh di luar angkasa, setiap benturan energi menimbulkan percikan api. Di kejauhan benturan itu seperti kembang api.
"Cucuku, sebagai Kakek dan Leluhur Kerajaan Arcadia, aku minta maaf, karena tidak bisa memberikan kemenangan. Kamu segera pergi disaat ada kesempatan, aku akan mengalihkan perhatian mereka!" kata Kakek Sun berbicara kepada cucunya melalu telepati, dia sudah tahu akan kekalahan di Alam Semesta Aurora.
"Kakek, tidak perduli apa, kita akan selalu berjuang bersama-sama!" jawab Sun Yao kepada kakeknya, terlihat di matanya akan menangis.
Wushhhh
"Hah...!" Kakek Sun mendesah saat melihat keteguhan cucunya. Sun Yao sudah maju berperang. "Ini memang sudah takdir....!" gumam Kakek Sun, dia juga segera ikut berperang.
"Aku yang akan melawan orang jompo itu!" pinta Piaoliang si Gadis Takdir kepada pasukan wanita, kekuatan dia juga setara dengan Kakek Sun.
"Aku saja!" Cai Wenji segera maju setelah dia berbicara.
Wushhhh
"Hah, kita keduluan...!" desah 19 Goddess yang terlambat beraksi.
"War Clock, aktif!" dengan suara yang lirih, Cai Wenji mengaktifkan jubah perangnya, segera seluruh tubuhnya diselimuti perlengkapan perang.
"Orang tua, aku lawan mu...!" teriak Cai Wenji kepada Kakek Sun.
"Huff!! Semua wanita itu menyebalkan...!" gerutu Kakek Sun saat mendengar teriakan Cai Wenji yang menantangnya.
"Kakek, kita lawan bersama!" pinta Sun Yao yang sudah membenci wanita di Alam Semesta Aurora, walaupun pasukan wanita cantik dan menarik, mereka tidak masuk di dalam hatinya.
"Baik, kamu beri serangan mendadak!" Kakek Sun tidak menolak ajakan cucunya.
Wushhhh.... Wushhhh...
Boom.... Boom
"Huff!! Tidak tahu malu...!" dengus Cai Wenji setelah dia saling mengadu kekuatan kepalan tangan, dia mengejek Kakek Sun dan cucunya yang ikut menyerang.
Swosh....
Cai Wenji mengeluarkan senjata pedang ganda, yang muncul di kedua tangannya.
"Kamu belum memahami kekuatan tingkat Half Alfa, jadi berhati-hatilah!" kata Kakek Sun sambil mengeluarkan senjata pedang. Sun Yao pun ikut mengeluarkan pedangnya.
Wushhhh
Swosh...
Boom....
Bamm... Bamm...
Walaupun Cai Wenji melawan dua orang, dia terlihat mampu mengatasinya. Berkat War Clock dan sistem Pencipta, Cai Wenji mampu menangkis maupun menyerang balik kedua musuhnya.
Bam... Bam...
Boom...
"Yao'er, jangan terburu menyerang, kamu tunggu kesempatan untuk serangan menyelinap!" perintah Kakek Sun kepada cucunya, yang selalu ikut menyerang Cai Wenji bersamaan.
"Ya, Kakek!" jawab Sun Yao melalui telepatinya, dia buru-buru mundur, dan berdiri dibelakang punggung kakeknya.
Mengetahui mereka berdua ingin mengecoh, Cai Wenji segera mengeluarkan teknik yang dia pelajari dari suaminya, setelah dia mundur beberapa langkah.
"Pedang Seribu...!!" Cai Wenji mengeluarkan skill ketiga dari teknik Pedang Surgawi. Segera seribu pedang muncul dari belakang Cai Wenji, dan melesat kearah Kakek Sun.
"Hati-hati.... Pedang membelah langit" ucap Kakek Sun kepada cucunya, dia juga segera mengeluarkan tekniknya terbaik untuk memblokir serangan Cai Wenji. Sebuah pedang raksasa muncul di sampingnya, dan langsung menerjang kearah Cai Wenji yang sudah menyerang.
Wushhhh... Wushhhh
Boom... Boom... Boom... Boom
Ledakan hebat antar dua teknik berbenturan dengan kuat, ledakan itu menimbulkan gelombang kejut, sehingga pasukan kedua belah pihak buru-buru menjauhi mereka bertiga.
"Kuat sekali...!!" ujar Yang Wei saat melihat murid Zhu Rong memilik teknik yang hebat.
"Luar biasa, aku tidak bisa bayangkan bagaimana Guru Agung melatih mereka!" Lu Bai sangat kagum dengan metode pelatihan Guru Agung yang mampu meningkatkan kemampuan di segala bidang.
"Dan basis kultivasinya juga meningkat drastis, padahal saat itu 20 Goddess sangat jauh dibawa kita!" Yuan Shao juga heran dengan cara Guru Agung melatih 20 Goddess.
"Mereka telah membuka potensi dirinya, tanpa membuka potensi diri, tidak mungkin mereka bisa maju dengan sangat cepat!" Yu Guan menyela pembicaraan ketiga Leluhur suci.
"Kamu benar, Yu Guan. Guru Agung sering berbicara tentang alam bawah sadar. Alam bawah sadar mampu memberikan kemampuan di luar nalar pemikiran dangkal kita!" Lu Bai membenarkan ucapan Yu Guan.
Disaat mereka sedang berbicara, suara Cai Wenji kembali terdengar.
"Sayap Dao..." setelah rentetan ledakan itu, Cai Wenji segera mengeluarkan teknik pasif Sayap Dao dari punggungnya.
Wushhhh....
__ADS_1
"Tarian Pedang Kematian...!!" sambil melesat kedepan, Cai Wenji saat mengeluarkan skill keduanya.
Skill itu adalah skill kedua dari teknik Pedang Surgawi milik Chu Bao. Skill ini mampu mengecoh lawan dan menebas targetnya tanpa tahu arah gerakan pedangnya.
Clanggg... Clanggg...
Tranggg... Tranggg...
Pedang Kakek Sun dan Cai Wenji saling beradu, setelah Cai Wenji tiba di depannya. Cai Wenji yang menggunakan pedang ganda membuat kewalahan Kakek Sun. Tubuh Cai Wenji selalu berputar-putar, sambil menangkis dan menyerang balik Kakek Sun.
"Sialan, cepat sekali dia...!!" batin Kakek Sun yang kaget dengan kecepatan Cai Wenji setelah memiliki sayap, karena kaget, Sun Yao segera menyerang.
"Mati...!!" gumam Cai Wenji yang telah mengunci targetnya, saat Sun Yao menyerang dengan cara menyelinap, Cai Wenji sengaja membuka pertahanannya agar Sun Yao menyerang.
Swoshhh....
"Crazhhh.... Aaahhhh....!!!"
Pedang di tangan kiri Cai Wenji menebas leher Sun Yao, saat pedang Sun Yao melewati perutnya. Kakek Sun kaget, melihat targetnya ternyata bukan dirinya.
"Sun Yaooo...!!" teriak Kakek Sun saat melihat kepala cucunya terlepas dari tubuhnya, dia buru-buru mendekati tubuh Sun Yao.
Mendengarkan suara Kakek Sun yang berteriak kencang, membuat pasukan Kerajaan Arcadia memalingkan wajahnya. Mereka langsung shock melihat pemimpinnya telah mati dengan kepala terpenggal.
"Pemimpin...!!" teriak pada prajurit yang lemas saat melihat Sun Yao mati dengan tubuh melayang di angkasa.
"Serang...!!" melihat musuh yang lengah, pasukan Naga dan pasukan Kekosongan segera menyerang lagi, kali ini mereka lebih brutal dan ganas.
"Aaahhhh...!!"
"Domain Pedang...!!" mendapatkan kesempatan, Cai Wenji mengeluarkan skill pertama dari teknik yang sama. Domain Pedang adalah skill memenjarakan targetnya dan memberikan serangan fatal dengan tebasan berkali-kali.
Ngunggg
Suara dengungan segera terdengar dan mengurung Kakek Sun. Kakek Sun yang ingin mendekati cucunya yang telah mati, buru-buru menghentikan niatnya.
"Bajingan ... Mati kamu. Pedang Membelah Langit...!!" Kakek Sun benar-benar marah kali ini, segera dia mengeluarkan skill yang sama.
Wushhhh... Wushhhh
Setelah Kakek Sun terkurung, Cai Wenji langsung menebas targetnya berkali-kali dengan tubuh seperti menari-nari.
Boom... Boom... Boom
Sekali lagi rentetan ledakan dari benturan kedua teknik itu memekikkan telinga, dan menimbulkan gelombang kejut seperti ombak. Pasukan Naga dan Pasukan Kekosongan segera menjauhi medan ledakan itu, sambil membuat perisai diri.
"Aaahhhh!!! Mampus kalian semua, aku musnahkan alam terkutuk ini...!" Kakek Sun berteriak frustasi karena kematian cucunya, segera tubuhnya menyerap energi aura kematian dan juga menarik pasukan Arcadia yang masih hidup
"Aaahhhh!! Leluhur hentikan...!!!"
"Tidakkk...!!"
Semua pasukan Arcadia berteriak ketakutan dan penuh kebencian terhadap Leluhur Sun. Mereka tahu niat Kakek Sun. Kakek Sun ingin menjadikan mereka sebagai tumbal kekuatannya, setelah berkumpul di tubuh Kakek Sun, itu akan memicu ledakan. Ini seperti metode meledakan diri.
(Gemuruh)
Suara gemuruh terdengar, saat Kakek Sun menyerap darah, mayat, aura kematian dan juga para prajurit yang masih hidup. Tubuh Kakek Sun juga mulai menggelembung, sedikit demi sedikit. Teriakan kesakitan prajuritnya tidak mengurungkan niatnya, tubuh prajurit itu terlihat mengelupas dan menjadi potongan-potongan kecil.
"Semuanya mundur!!" suara Kaisar Agung segera terdengar di telinga setiap orang.
Dengan terburu-buru semua orang mundur, setelah Kaisar Agung memberikan perintah menjauhi Kakek Sun yang akan meledakan dirinya.
Zlappp...
Zlappp... Zlappp
Excel muncul tidak jauh dari Kakek Sun, diikuti semua wanitanya yang berdiri di samping dan dibelakangnya. Excel menunggu Kakek Sun membunuh pasukannya sendiri.
"Ka--kamu... Kamu Masih hidup...!" Kakek Sun kaget melihat wajah familiar, "Hahaha! Aku dibodohi selama ini ... Hahaha!" Kakek Sun menjadi gila dengan tawa yang menggelegar memekakkan telinga, dia dengan cepat menyerap semua pasukannya tanpa menyisakan satu orang pun.
"Waktumu sudah tiba. Dengan segala kejahatan kalian yang telah banyak memusnahkan Alam Semesta, kalian tidak akan pernah bereinkarnasi lagi!" ungkap Kaisar Agung kepada Kakek Sun.
Klik... Bhuzhhhh
Boommmmmm.....
Ledakan maha dahsyat memekakkan telinga, setelah Kaisar Agung menjentikkan jarinya untuk memperkuat domain penjara Cai Wenji.
Jika Kaisar Agung tidak memperkuat domain pedang milik Cai Wenji, sudah dipastikan akan banyak jiwa-jiwa yang akan mati sia-sia, bahkan Alam Semesta Aurora bisa- bisa mengalami kehancuran.
"Hahmm!!" Kaisar Agung menghela nafas kasar dan mengangkat tangan kanannya ke depan.
Domain itu secara cepat mengecil, dan menjadi 2 buah kristal energi Qi seukuran kepalan tangan orang dewasa yang sangat padat. Lalu Excel menambahkan energi kedalam 2 buah kristal itu.
(Revisi√)
__ADS_1