
Chapter 86 Kisah Qiaofeng dan BI Liqin.
Kemudian Excel berjalan melewati penghalang dengan mudah dan berbicara dengan ayah Xue, Paman Xue Tong dan Ceng Fu.
"Nak, ini energi apa? Kenapa rasanya berbeda dengan energi yang biasanya kita serap!" tanya ayah Xue saat Excel mendekatinya.
"Ini energi Qi Dewa Ayah, cocok untuk berkultivasi. Kenapa kalian tidak bisa merasakan saat kita belum melewati lembah binatang buas karena ada Formasi Penghalang agar energi tidak tersebar keseluruhan benua Venus."
"Apa...!! Pemimpin berarti kita bisa berkultivasi hingga tingkat Dewa, kan?" tanya Paman Xue Tong yang terkejut.
"Benar. Seperti yang pernah aku katakan saat keluarga Kekaisaran baru tiba waktu itu, karena itu aku sengaja membuat lorong Formasi tiga warna agar energi Qi Dewa tidak bocor, saat energi Qi dewa memasuki kota Phoniex."
"Hahaha! Nak kamu sangat brilian hingga berpikir sampai segitunya!" pujian ayah Xue yang kagum dengan pemikiran yang bisa melihat masa depan tanpa diketahui orang lain.
"Pemimpin, bagaimana dengan danau yang indah ini ? sangat disayangkan jika digunakan untuk mandi secara sembarangan," kata Ceng Fu yang melihat danau ini memiliki kelebihan yang masih belum dia ketahui.
"Kamu benar, Ceng Fu. Karena itu aku membuat tiga penghalang formasi karena ada tujuannya. Air danau ini memiliki karakteristik yang unik, air danau ini mampu memelihara kulit tubuh dan cocok untuk wanita, dan juga air danau ini bisa menyembuhkan segala penyakit yang diderita manusia biasa, selain itu air danau ini bisa digunakan berkultivasi saat bintang 12 titik muncul...," si Excel berhenti berbicara untuk menarik nafas.
"Dan tujuannya aku buat penghalang agar tidak sembarangan digunakan secara bebas, karena kandungan bio energi butuh waktu untuk mengisi ulang dirinya saat banyak orang yang menyerapnya. Karena itu kamu bagi tugas prajurit untuk menjaga danau ini, untuk wisatawan dan penduduk biasa bisa menggunakan bagian tengah, pejabat dan prajurit di bagian kanan danau, untuk sebelah kiri untuk keluarga Kekaisaran saja." lanjut si Excel yang menjelaskan pada ketiga orang didepannya.
"Baik pemimpin" kata Ceng Fu dengan senang bisa selalu diandalkan pemimpinnya.
"Nak, jika danau ini ada batasannya, lebih baik kita beri aturan agar semua orang bisa mengerti!" saran ayah Xue yang juga menyayangkan jika danau ini digunakan secara bebas.
"Ayah benar. Untuk wisatawan dan penduduk lokal bisa mandi atau mengambil airnya setiap 7 hari sekali, dan untuk pejabat dan prajurit bisa menggunakan danau ini setiap 3 hari sekali, untuk keluarga Kekaisaran 2 hari sekali. Dan juga saat 12 bintang muncul danau ini akan bisa memiliki energi Qi Dewa dengan ketebalannya 12 kali, karena itu kita harus membatasi setiap orang untuk masuk melalui perwakilan dengan token dan kompetisi beladiri antar Kekaisaran, Sekte, akademi dan seluruh orang yang memiliki kemampuan bertarung." Excel berbicara dengan santai dan tanpa dia sadari sudah banyak orang mengerumuninya termasuk semua isterinya.
"Paman, apa itu 12 bintang?" tanya Qiaofeng yang tiba-tiba memotong pembicaraan mereka berempat.
"Murid ku kamu memang cerdas, itu pertanyaan bagus. 12 bintang atau disebut 12 rasi bintang adalah sifat unik setiap mahkluk hidup atau disebut 12 zodiak. Tiap bintang mewakili sifat tiap manusia tapi untuk saat ini aku tidak berbicara tentang 12 zodiak sifat makhluk hidup. Aku berbicara tentang 12 bintang yang membentuk lingkaran sebagai energi Qi Dewa, di danau ini adalah medan magnet yang menarik 12 bintang itu dan menyerapnya hingga terkumpul didalam danau, disaat terkumpul kita bisa menyerapnya dan bisa membantu kita meningkatkan kekuatan dengan cepat.
Menurut perkiraanku kenaikannya bisa mencapai 3 level, jika kalian tidak percaya bertanyalah pada Bi Liqin yang sudah lama menjaga danau ini!"
Excel yang berbicara layaknya guru kepada semua orang, dan mereka semua mendengar dengan seksama karena pengetahuan ini tidak pernah mereka dengar, setiap kali pemimpin mereka berbicara selalu enak didengarkan dan juga mudah dimengerti.
Bi Liqin yang disebutkan namanya menjadi malu dan hanya menundukkan kepalanya, Li Que yang melihatnya segera mendekatinya dan berbisik.
"Jangan malu, kamu sudah menjadi bagian keluarga kami, lihat suami kita dia juga menyukaimu!"
"A-aku ha-hanya pe-pelayan saja!" kata BI Liqin yang tergagap saat menjawab bisikan dari Li Que dan malah terlihat wajah merah seperti habis terkena panas.
"Xixixi! Kamu jangan gugup, aku tahu kamu juga menyukainya!" goda Li Que yang membuat Bi Liqin ingin menggali lubang dan bersembunyi.
"Baiklah, ayah Xue dan Ceng Fu kalian masukan ini dalam agenda pengembangan Kekaisaran Agung. Dan juga, apa kalian tidak kedinginan?" kata Excel yang akhirnya membuat semua orang tersadar jika hari sudah mulai gelap
"Hahaha, Nak tiap kali kamu bicara selalu buat kami terhipnotis," kata ayah Xue yang juga baru menyadari jika sore menjelang malam.
"Semuanya segera buat api unggun dan juga persiapkan makan malamnya!" perintah Ceng Fu kepada semua prajuritnya agar segera bergerak, karena semua prajuritnya juga ikut mendengarkan pemimpinnya berbicara.
"Baik komandan, kami juga terhipnotis pemimpin kita!" celetukan salah satu prajurit awal bergabung di kota Phoniex bersama dengan Ceng Fu, Ceng Fu hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya.
"Bi Liqin dan murid ku kalian ikut aku!" Excel memanggil murid dan keluarga barunya, dan mereka berdua segera mendekati Excel.
Swosh...
"Hah! Kemana suami kita pergi?" kata Yueyin setelah mendesah, saat suaminya dan kedua orang itu menghilang secara tiba-tiba.
"Mungkin suami kita ingin berbicara pada Feng-er dan Bi Liqin tentang hubungan mereka berdua!" jawab Shu Peijing yang tahu apa tujuan suaminya membawa mereka berdua.
"Paling-paling mereka berada di Dunia Jiwa!" sahut Ling Xuan.
"Iya, baiklah kita persiapkan peristirahatan kita malam ini!" ajak Shu Peijing.
Semua isteri Excel sudah tidak lagi terkejut dengan tindakan tiba-tiba suaminya menghilang, mereka segera mempersiapkan tempat peristirahatan bagi keluarga besarnya dan sambil menunggu kembali si Excel.
Swosh...
"Paman, kenapa kita berada disini?" tanya Qiaofeng yang tidak tahu apa tujuan dari gurunya, sedangkan Bi Liqin hanya bengong saat Tuan barunya membawa ketempat yang dia tidak tahu, apalagi Qi Semesta disini sangat tebal hingga terlihat seperti kabut.
"Ayo, kalian duduk dulu. Aku hanya ingin tahu tentang hubungan kalian berdua, itu saja," kata Excel yang langsung duduk di sofa Mansion di Dunia Jiwa dan Qiaofeng seperti biasa selalu duduk di pangkuannya, lalu Bi Liqin juga ikut duduk disebelahnya.
"Liqin, ceritakan dari awal kamu bisa mengenal Qiaofeng yang kamu panggil sebagai ratu alias si Dewi samudera?" pinta Excel kepada Bi Liqin yang duduk dengan kepala tetap menunduk, lalu dia melihat ratunya untuk menunggu persetujuannya.
"Kamu ceritakan pada suamiku. Suamiku, kamu mengetahui julukan ku?" kata Qiaofeng yang sudah berubah dari suara berwibawa dan aura agung yang merembes ditubuhnya, Excel yang mendengar muridnya menyebutnya suami hanya tersenyum, dan mengelus rambut muridnya yang duduk di pangkuan.
"B-baik Ratu. Ini berawal jutaan tahun yang lalu....!" jawab Bi Liqin yang mulai bercerita
...****************...
Boom... Boom...
"Cepat musnahkan kerajaan perempuan brengsek itu...!"
Seorang orang pria paruh baya yang terlihat sombong dan percaya diri bisa menghancurkan kerajaan dari musuhnya yang paling dia benci selama ini, tiap usahanya selalu digagalkan penguasa kerajaan yang dia sedang serang kali ini.
__ADS_1
"Dewa, ta-tapi d-dia memiliki kekuatan yang mengerikan dan sudah banyak jendral kita dan dewa lain yang mati ditangannya!!" seorang bawahan yang takut akan kekutan lawannya, dia berbicara terbata-bata saat pemimpin-nya yang dia sebut Dewa memerintahkan untuk menyerang.
"Hahaha, bodoh. Jika aku menyerangnya itu berarti aku memiliki keyakinan mutlak, cepat bantu jenderal ku yang sudah di medan perang!" tawa si Dewa yang percaya diri.
"B-baik Yang Mulia."
Swosh...
Boom... Boom... Boom...
Ledakan energi terus menggema di medan pertempuran.
"Ratu, pasukan Dewa Surya telah menerobos gerbang pertama!" laporan seorang jenderal yang tiba-tiba memasuki sebuah istana Kerajaan Air.
"Kerahkan pasukan ular untuk... Uhuk uhuk... Menghancurkan pasukan mereka!" perintah Ratu yang terlihat pucat saat berbicara dengan terbatuk-batuk.
"Baik, Ratu."
Swosh...
"Ratu, apa anda baik-baik saja?" tanya seorang wanita yang sangat khawatir dengan kondisi kesehatan Ratu-nya yang terbatuk dan memuntahkan darah hitam.
"Bi, aku baik-baik saja!" jawab Sang Ratu yang terlihat berbohong tentang kondisinya.
"Ratu, apa ini ulah mereka yang ingin menyerap kekuatan Ratu?" tanya wanita yang bernama Bi.
"Uhuk...uhuk...! Aku memang tidak bisa menyembunyikan apapun dari kamu Bi. Iya, mereka memberikan racun pada jenderal. Aku tidak mengira jika si jenderal-nya Dewa Surya meledakan diri hingga aku menghirup racun dari ledakan itu, aku juga... Uhuk... Uhuk!" kembali Dewi Samudera terbatuk-batuk saat berbicara, lanjutnya, "aku tidak menyangka perisai energi ku masih bisa ditembus asap racun yang disembunyikan di tubuh si jenderal...uhuk uhuk!" Sang Ratu selalu terbatuk dan menghela nafas, lalu kembali bercerita kepada Bi sebagai orang kepercayaannya.
"Kejam benar mereka, apa keluarga Ratu bisa tega berkhianat kepada Anda!?" umpatan kesal dari si Bi yang sangat tidak terima dengan keluarga si Ratu yang berkerjasama melawan pemimpin Kerajaan Air.
Boom... Boom...
Saat mereka berdua berbicara serangan Dewa Surya semakin menjadi-jadi banyak pasukan ular yang tewas terbakar dan bahkan banyak yang terpenggal. Gerbang pertama sudah berhasil dikuasai oleh pasukan dan berlanjut menyerang gerbang kedua sebagai lapisan perlindungan Kerajaan Air.
Bruk...
"Ratu, mereka sudah menyerang gerbang kedua, apa yang harus kita lakukan? Empat jenderal kita telah tewas ditangan Dewa iblis!" laporan seorang menteri yang sudah terlihat banyak luka di tubuhnya.
"Menteri, kita tidak bisa lagi mempertahankan kerajaan ini lagi, segera evakuasi pasukan dan rakyat, pimpinan mereka menuju tempat persembunyian dan tunggu aku setelah berurusan dengan mereka!" perintah Sang Ratu dengan mengeluarkan aura Dewa Absolute, terlihat jelas kemarahan di matanya yang mulai mengeluarkan cahaya kebiruan.
"Tapi mereka banyak di bantu Dewa--"
"Patuhi aku dan tunggu di tempat rahasia setelah mengurus mereka!" perintah Sang Ratu yang menghentikan ucapan si menteri yang ingin bertarung dengannya, nada sangat keras.
"B-baik, Ratu. Kami akan selalu menunggumu!" si menteri tergagap dan dengan enggan mematuhinya.
Swosh...
"Hiks! Tidak Tuan ku. Aku akan bertarung denganmu hingga aku mati!" tolak si Bi yang bernama Bi Liqin, dia menangis saat diperintahkan untuk melarikan diri.
"Cepat pergi jika kamu masih menganggap ku Tuan dan juga Ratu mu!" dengan nada yang lebih keras Sang Ratu menginginkan orang yang dia percayai dan sayangi untuk menyelamatkan diri.
Bruk...
"Tidak, Tuan. Aku sudah berjanji akan selalu di sisimu apapun yang terjadi. Sejak Tuan menyelamatkan aku dari serangan prajurit Dewa di desa ku, aku sudah bersumpah akan selalu berada di manapun Tuan pergi. Hiks! Dan saat ini aku akan membalas kebaikanmu, Tuan!" tolak Bi Liqin sekali lagi sambil bersujud di depannya.
Dulu saat Ratu kerajaan air atau yang dikenal dengan nama Dewi samudera sedang berkeliling benua dan melihat Bi Liqin seorang diri yang dikepung banyak prajurit Dewa yang ingin merampas sumberdaya.
Melihat keadaan Bi Liqin yang sedang memeluk ibunya yang telah mati dan kondisinya yang penuh luka membuat Dewi Samudera tidak tega jika hanya melihat saja.
Kemudian Dewi Samudera dengan segera membunuh semua prajurit Dewa tanpa ampun, setelah membunuh semua prajurit, dewi samudera membawa Bi Liqin pergi dari desa dan menjadikan-nya sebagai seorang murid pribadi.
Hingga kini saat Kerajaan Air diserang oleh Dewa Surya, Dewa iblis yang dibantu keluarga Dewi samudera, karena itu Bi Liqin tidak akan meninggalkan sisi tuan dan juga ratunya.
"Baiklah, jika kamu masih bersikukuh berada di sisiku walau maut didepan kita, aku sangat bangga memiliki seseorang yang setia sepertimu Bi! Uhuk.. Uhuk!" akhirnya Dewi Samudera tidak menolak keinginan Bi Liqin.
"Tuan...!"
Brak...
"Hahaha! Wanita tak tahu di untung, akhirnya aku bisa menguasai wilayah mu yang makmur ini... Hahaha!"
Muncul seseorang dengan menendang pintu istana Kerajaan Air, dia tertawa terbahak-bahak dengan rasa bangga berhasil melewati banyak pasukan Dewi Samudera.
"Dewa iblis! Lagi-lagi kamu yang selalu membuat kekacauan di dunia ini... Uhuk... Uhuk...!!" kata Dewi samudera kepada Dewa Iblis.
"Lihat kamu yang sudah mau mati masih saja sok suci dan menjadi pelindung mahkluk hidup yang lemah... Hahaha!" hina Dewa Iblis kepada Dewi Samudera dan tertawa melihat kondisinya yang terluka karena racun.
Swosh....
"Hahaha! Bagaimana kabarmu, Dewi samudera. Lebih baik kamu menjadi istriku... Tidak, lebih baik kamu menjadi selir ku... Hahaha!"
Muncul orang yang dipanggil Dewa oleh prajurit saat memberikan perintah, dia adalah Dewa Surya, ayah dari Dewi Qinglin.
__ADS_1
"Dewa Surya, sampai mati aku tidak akan menjadi alatmu ... Lebih baik aku mati saja?!" bentak Dewi samudera yang marah dengan kedua musuh di depan, diw mengeluarkan aura Dewa Absolute, seketika istana Kerajaan Air hancur berkeping-keping.
Boom... Swosh...
"Kakak, tunggu. Lebih baik kamu patuh dan serahkan kekuatanmu pada keluarga kami. Ingat masih banyak pohon dan tidak akan kekurangan ranting..." terdengar suara seorang pria yang segera menuju istana saat mengetahui istana Kerajaan Air hancur.
"K-kamu jadi ini semua ulah mu ... Apa aku kurang memberikan kamu segalanya, Adik?" Dewi samudera yang kaget saat adik terkecilnya tiba-tiba datang dan menghentikan-nya.
"Kakak, kamu jangan terlalu naif ... Bukan hanya aku tapi semua keluarga kita menginginkan kekuatanmu. Kami sekeluarga sudah berkerjasama dengan Dewa Surya dan Dewa Iblis untuk mengalahkan mu. Semuanya datang...!" jawab adik Dewi Samudera dan memanggil keluarganya
Swosh... Swosh... Swosh...
Kemudian dengan cepat keluarga Dewi Samudera berdatangan, tampak sudah menunggu panggilan.
"Hehehe! Adik, kamu terlihat sungguh mengenaskan ... Hahaha!" ejek saudara Dewi Samudera yang baru tiba.
"Kalian semua sungguh Bajingan!?" teriakan kemarahan Dewi Samudera yang sudah dikhianati semua keluarganya.
"Tuan, kita lawan bersama!" ujar Bi Liqin yang langsung menyerang keluarga Dewi Samudera.
Swosh... Boom... Boom...
"Sampai mati kita selalu bersama, Bi!!" demikian juga Dewi samudera segera menyerang Dewa Surya dan Dewa Iblis.
Boom... Swosh... Boom
Clang... Trang... Boom...
Ledakan energi pertempuran dua wanita dan banyak pria, suara senjata saling berbenturan. Tapi jelas dua wanita kalah jumlah dan terlihat kewalahan melawan banyak pria.
"Hahaha! Sayangku, dengan kondisimu saat ini ... Kamu tidak mungkin bisa mengalahkan kami semua... Hahaha!" ejek Dewa Surya kepada Dewi Samudera.
Boom... Boom
Klang... Trang...
Bruk... Bruk...
Pertarungan sengit antara Dewa tingkat tinggi yang sangat tidak seimbang terjadi di reruntuhan istana Kerajaan Air, Dewi Samudera yang sudah terluka karena racun dengan mudah dihantam oleh Dewa Surya hingga meluncur ke bawah dan menabrak tanah.
Sedangkan Bi Liqin melawan keluarga tuannya juga kalah jumlah 1 melawan 4, hingga dengan mudah di kalahkan dan secara bersamaan terjatuh ke bawah dekat dengan Dewi Samudera.
Uhuk... Uhuk
"Tuan, m-maafkan aku!" sesal Bi Liqin yang sudah terluka parah terkena serangan dari keempat lawannya.
"Hahaha! Baiklah segera kalian tangkap kedua wanita itu dan kita bagi wilayahnya ... Hahaha!" kata Dewa Surya yang sangat bahagia akhirnya bisa mengalahkan musuhnya.
"Hahaha! Aku sungguh tidak menduga bisa dengan mudah mengalahkannya. Hahaha!" tawa Dewa iblis terlihat kegirangan saat menatap kedua wanita yang terbaring lemah di tanah.
"Jangan lupa jika bukan karena rencana kita berempat kalian tidak bisa menang melawan mantan kakak ku... Hahaha!" sahut kakak pertama Dewi Samudera.
Ngung (berdengung) Boom...
Setelah suara dengungan meluncur serangan dari atas dan memisahkan jarak Dewi Samudera dan musuhnya.
"Ooh! Apa ini caranya 6 pria mengeroyok 2 wanita! Sungguh kalian lemah dan memalukan!" suara seorang pria yang tiba-tiba datang dari langit.
"Kamu Dewa Perang, Berani-beraninya ikut campur!?" Dewa Surya sedikit terkejut dengan kehadiran Dewa Perang yang ditakuti banyak Dewa.
"Kenapa? Takut! Sudah tahu lemah, tetap saja suka menindas yang lemah tapi takut pada yang kuat... Hahaha!" balas Dewa Perang yang tidak takut melawan enam Dewa Absolute didepannya, dia pun menertawakan semua musuh Dewi Samudera.
"Kita serang bersama, aku akan gunakan kartu As ku itu!" kata adik Dewi samudera pada kelima sekutunya.
"Baik kami berlima menyerang dulu, dan kamu cari kesempatan untuk menggunakannya!" dukung Dewa Surya.
Dewa Surya, Dewi Iblis dan kelima sekutunya menyerang Dewa Perang. Kembali ledakan hebat terdengar di wilayah Kerajaan Air...
...****************...
"Setelah kehadiran Dewa Perang, pertarungan semakin sengit dan lebih unggul walaupun masih dikeroyok Tetapi, adik Dewi samudera yang secara tiba-tiba menggunakan racun yang melukai guruku pada Dewa Perang. Kami berdua juga sudah tidak bisa membantu Dewa Perang. Merasakan racun yang dengan cepat bereaksi, segera Dewa Perang kabur dengan membawa kami berdua, hingga kami berada disini. Saat itu kondisi Dewi sudah kritis, akibat racun yang sudah menyebar menghancurkan organ dalam, akibat terlalu besarnya menggunakan energi untuk melawan mereka, dan aku sendiri juga terluka cukup parah dan hanya bisa memulihkan diri di danau ini!" Bi Liqin bercerita masa lalunya pada si Excel, dan melihat kedua orang ini menangis. Excel pun memeluk kedua orang itu dengan kasih sayang.
Hiks.. Hiks...
"Aku bersumpah untuk selalu melindungi kalian, tidak akan ada lagi yang akan menyakitimu, bahkan tidak akan ada lagi yang bisa menyentuh kulit kalian!" Excel bersumpah dengan amarah saat memeluk Qiaofeng dan Bi Liqin.
"Paman, aku mencintaimu... Hiks!" ucap Qiaofeng dengan menangis di pelukan si Excel.
"Terima kasih Tuan! Hiks!" ucap Bi Liqin yang juga dipeluk Excel tanpa menolak.
"Bi Liqin kamu jangan panggil aku Tuan, aku akan memberikan kamu dan Qiaofeng segel pertama dan mulai hari ini kalian berdua juga istriku," kata Excel yang dengan lembut dengan tetap memeluk mereka berdua.
"Tu-tuan tap--"
__ADS_1
"Bi, kita sudah hidup dan mati bersama jadi jangan tolak keinginan suami kita, Paman eh! maksudku suami, aku mencintaimu!" kata Qiaofeng yang sangat bahagia begitu juga dengan Bi Liqin yang kini berani membalas pelukan Excel.
"Lalu bagaimana cerita selanjutnya..."