
Chapter 278 Manusia rubah, Bu Wanmei.
Wilayah ras iblis yang dekat dengan penjajah, menjadi medan perang, pertempuran sangat sengit. Pasukan ras iblis, sedikit demi sedikit mulai tersudut, hingga separoh wilayahnya dikuasai pasukan kerajaan arcadia.
Untung saja wilayah ras iblis yang masih dikuasai terpisah sungai besar, jika tidak, seluruh wilayah ras iblis sudah seluruhnya dikuasai pasukan kerajaan arcadia.
Di tenda pertemuan kerajaan arcadia, semua jendral dan ketua sedang berkumpul, mereka melaporkan hasil pertempuran selama 3 hari ini.
"Komandan, kita sudah berhasil menguasai separoh wilayah ras iblis. Tetapi, kami tidak bisa menguasai seluruh wilayah ras iblis, karena terhalang sungai besar.
Jembatan penghubung juga telah dihancurkan oleh pasukan iblis agar kita tidak bisa menyerang lagi. Disaat kami ingin terbang, pasukan kita terhalang kabut beracun. Pasukan yang tewas sekitar 200 juta lebih, saat ini tersisa 9 miliaran. Laporan selesai." segera jendral utama memberikan laporan hasil peperangan selama 3 hari ini.
"Terlalu banyak korban, selama 3 hari ini kita sudah kehilangan banyak pasukan, kurang lebih 1 miliar jiwa." ketua divisi pengobatan melanjutkan laporan jendral kedua. Selama 3 hari ini, ketua pengobatan selalu mencatat keseluruhan korban terluka maupun yang tewas.
"Terlalu mengerikan, ini akibat energi Qi iblis yang menghambat kekuatan kita, sehingga kita tidak mampu mengelola sumber energi Qi...!" komandan Yao sangat menyayangkan kehilangan banyak pasukannya, dia terlihat muram saat mendengar laporan ini.
"Komandan, pasukan kita juga tidak mampu melewati pegunungan maha dewi. Disaat pasukan kita bergerak diudara, seakan-akan ada energi yang membatasi kita untuk melintasi dari atas, kita hanya bisa terbang dengan ketinggian 20 meter.
Jika kita berjalan melewati darat, medan terlalu dingin bagi pasukan, dan banyak musang salju yang semakin memperlambat pasukan." jendral keempat juga memberikan laporan.
"Hamm..." komandan Yao menghela nafas panjang dan menghembuskan, dia menahan gelisah dan amarah.
"Apa kalian sudah menemukan bajingan Wei Yan itu..." tanya komandan Yao kepada semua orang, dan mereka hanya mengeleng-gelengkan kepalanya, karena tidak menemukan Wei Yan maupun jejaknya.
"Bajingan itu, kita benar-benar dijebak dibenua permata hitam ini." Sun Yao mengepalkan tangannya saat Wei Yan tidak ditemukan.
"Pertama, kita fokuskan dulu untuk menaklukkan ras iblis, jika mereka tidak mau tunduk, musnahkan saja.
Kedua, kalian cari tambang batu semesta, jika kita menemukan batu semesta kita tinggalkan benua terkutuk ini. Ketiga, tetap jaga perbatasan wilayah kita dengan pegunungan maha dewi, dan juga cari jalan lain menuju wilayah kedua ras itu..." komandan Yao segera membuat rencana dan mengatur semua bawahannya.
"Komandan, biarkan pasukan istirahat selama 2 hari, jika kita terus-menerus bergerak, vitalitas kita akan mudah terkuras." pinta jendral utama kepada komandan Yao.
"Baik, biarkan pasukan beristirahat dulu. Kepala divisi pengobatan, apa menemukan tanaman roh maupun obat untuk meramu pil?" komandan Yao menyetujuinya permintaan Jendra utama, dan bertanya kepada penanggung jawab perihal pil pemulih energi.
"Kita sudah meneliti tumbuhan, tanaman dan binatang buas di benua ini, hasilnya tidak terlalu baik. Sumberdaya alam disini banyak bermanfaat bagi ketiga ras itu, tetapi bagi ras manusia seperti kita, itu berdampak buruk.
Ada sebagian tanaman roh dan obat yang bisa dimanfaatkan, tetapi itu sebatas dibawah kekuatan tingkat Tyrant saja, selebihnya tidak bermanfaat." divisi pengobatan sudah meneliti sumberdaya alam di benua ini, sejak mereka baru tiba, karena itu kepala divisi bisa menjawab.
Selama satu hari, komandan Yao beserta pimpinan berdiskusi, dan mencari solusi menangani semua kendala pergerakan mereka di benua permata hitam.
Di wilayah ras demi human dan ras siluman, diributkan dengan ditemukannya kedua putri raja demi human dan Cang Lien, yang ternyata pingsan di kamar mereka masing-masing, hanya manusia rubah yang masih belum ditemukan.
Di Lembah suci, putri Qiang, putri tunggal raja iblis juga ditemukan dalam keadaan pingsan, dan tidak terluka sama sekali. Kejadian ini membuat semua orang kebingungan dan bertanya-tanya siapa pelakunya.
Saat keempat wanita itu ditanya, mereka hanya bilang, jika diselamatkan oleh manusia rubah saat mereka diculik pria bertopeng, setelah itu mereka pingsan, dan terbangun lagi sudah berada dikamarnya.
"Pasti manusia rubah ekor sembilan itu yang terlihat lemah yang telah menolong kalian, apa kalian tidak ingat setelah itu...?" tanya raja demi human kepada kedua putrinya.
"Aku tidak ingat apa-apa lagi, ayah. Saat manusia rubah itu bertarung dia juga terluka, untung saja dia memberikan pukulan telak, yang akhirnya membuat pria bertopeng itu melarikan diri." jawab Lu Xianglun yang masih sedikit mengingat kejadian itu.
"Jangan-jangan, sosok berjubah hitam itu adalah gurunya atau familinya, dan membuka segel kekuatan manusia rubah itu...!" kata raja demi human kepada semua orang yang hadir di istananya.
"Bisa jadi..." Lu Zhi juga berpikiran sama dengan kakaknya.
Sebenarnya, raja demi human berada di perbatasan wilayahnya pegunungan maha dewi, setelah mendapatkan kabar jika putri telah ditemukan, dia bersama Lu Zhi buru-buru kembali ke istana.
Demikian juga dengan ratu siluman musang, dia sangat bahagia melihat bibinya selamat, dan proses kejadian tidak jauh berbeda dengan yang dialami oleh kedua putri raja demi human.
Dua hari telah berlalu, seperti hari-hari biasanya, benua permata hitam selalu gelap dan hanya diterangi cahaya bintang-bintang.
Semenjak peperangan tiga hari yang lalu, energi Qi iblis semakin pekat dan bermanfaat besar bagi penghuni asli benua permata hitam.
Disisi lain, energi Qi iblis sangat menyiksa pasukan kerajaan arcadia, mereka hanya bergantung pada perlengkapan perang yang mampu menangkal energi Qi iblis, selain itu mereka juga tidak bisa terus menerus menggunakan energi Qi untuk melindungi mereka.
"Kita harus membuat jembatan, jika ingin menguasai seluruh wilayah iblis. Kendalanya, saat kita membuat jembatan, dan mencapai 70 persen selesai, mereka pasti akan menyerang kita." ujar jendral utama kepada para jendral lainnya yang sedang berada didepan reruntuhan jembatan.
"Hahaha, jangan kuatir jenderal, kita yang akan menghalau serangan itu."
"Baiklah, aku percayakan kepada kalian, aku akan menyelesaikan masalah di pegunungan maha dewi." kata jenderal utama dengan menepuk pundak bawahannya. Sebelum ia pergi, jenderal utama kembali berujar...
"Lebih baik jika ras iblis mau bekerja sama dengan kita, dengan dia memihak kepada kita, dia bisa kita gunakan sebagai tangan kanan kita."
"Aku harap seperti itu. Aku akan berusaha membuat dia tunduk, jenderal..!" jawab jenderal keempat.
"Hahaha, aku percaya kamu bisa membuatnya menyerah..." setelah berbicara, tubuh Yong Sheng bergetar dan menghilang.
Di perbatasan bekas wilayah ras iblis, sekitar 10 ribu prajurit diperintahkan untuk menjelajahi pegunungan maha dewa, dan membuat jalan bagi pasukan yang akan menyerang wilayah target.
__ADS_1
10 ribu prajurit itu dipimpin komandan regu, mereka bergerak tidak saling menjaga jarak, karena takut akan diserang oleh musang salju.
"Jangan sampai terpisah, jika kita terpisah kalian tahu akibatnya. Buat jarak satu sama lainnya sejauh 5 meter, agar bisa saling menjaga." komandan regu mengingatkan dan juga membuat pengaturan agar semua pasukan aman.
Buuk
Salah satu prajurit yang berada di barisan belakang, tiba-tiba diserang tanpa sepengetahuan rekan-rekannya, lalu prajurit itu diseret kedalam salju dan tanpa meninggalkan jejak.
Aksi itu terus berlanjut, sasarannya jelas barisan yang paling belakang atau prajurit yang sedikit lebih jauh dari rekan lainnya.
Cuaca dingin semakin ekstrim, manakala pasukan semakin mendekati gunung maha dewi, salju seperti hujan dan angin menambah udara semakin dingin.
Pandangan mereka terhalang tebalnya salju yang turun, jarak pandang normal hanya bisa melihat sejauh 2 meter saja, apalagi benua ini hanya mendapatkan penerangan dari cahaya bintang-bintang.
"Benar-benar benua terkutuk..." umpatan keluar dari seorang prajurit yang sudah tidak tahan dengan cuaca yang dingin.
"Benar, tidak pernah kita mengalami cuaca sedingin ini selama kita menjelajahi banyak benua dimanapun." timpal seorang temannya yang berada disebelahnya.
"Energi Qi iblis ditambah cuaca ekstrim membuatku muak saja berada dibenua ini..." kata prajurit itu kepada temannya, tetapi temannya hanya diam.
Lalu prajurit itu melihat kesamping, dan tidak menemukan temannya, lalu dia memeriksa disekitarnya dan lagi-lagi temannya tidak ditemukan.
"Bro, kemana kamu..." teriak prajurit itu memanggil temannya, teriakan dia mengundang perhatian para prajurit yang lain.
"Siapa yang kamu cari...?" tanya prajurit yang berada di depannya.
"Itu, si Codot... Tadi dia disebelah ku, dan menghilang, padahal kita tadi baru saja mengobrol..." jawab prajurit itu.
Segera semua prajurit menjadi semakin waspada, dan memeriksa disekitarnya, komandan regu yang mengetahui keributan prajurit di barisan belakang, segera menghampiri mereka.
"Hitung semua rekan-rekan kita, cepat dan rapatkan barisan..." perintah komandan regu yang merasakan keganjilan, segera setiap prajurit menghitung jumlah mereka setelah barisan merapat.
"Sialan... Kita kehilangan 689 orang..." umpat wakil komandan regu setelah menghitung semua prajurit.
Wuuuuussshh
Booom
"Aaaakkhh..."
"Awas ada musuh menyerang...."
Booomm
"Boom..." ledakan terus mengema dan meledakan tubuh para prajurit hingga tidak sempat berteriak.
"Buat pertahanan, cepat..." perintah komandan regu yang mulai panik, kepanikan komandan regu juga diikuti prajurit yang mulai kocar-kacir.
"Boom.... Aakkhhh"
"Hahaha... Mati kalian semua..." suara seorang pria tertawa gila saat melemparkan bola energi Qi kepada setiap prajurit, teriakan mengema manakala bola energi Qi itu meledak.
"Itu dia... Kejar..." komandan regu segera mengetahui keberadaan orang itu setelah tertawa gila.
Para prajurit segera mengejar pria itu, tetapi gerakan mereka sangat lambat, karena kaki mereka terpendam salju sedalam 30 cm.
"Hahaha... Booommm..." pria itu tertawa dan melemparkan bola energi Qi kepada mereka yang mengejar.
"Bajingannn... Itu manusia rubah..." umpat salah satu prajurit yang melihat sosok pria itu.
"Hahaha.... Kenapa jika aku manusia rubah....!" kata manusia rubah itu yang mendengar suara prajurit yang melihat dirinya.
"Kepung dia... Tangkap dia hidup atau mati" perintah komandan regu yang juga ikut mengejar manusia rubah itu, dia sangat marah melihat banyaknya prajuritnya yang mati.
"Hahaha, ayo, ayo, tangkap aku jika bisa..." manusia rubah itu tertawa dan mengejek mereka, dia berlari menuju kepuncak gunung maha dewi.
"Sialannnnn... Benua terkutuk..." umpat komandan regu yang kesulitan berlari dan juga merasakan cuaca semakin dingin, dia benar-benar sangat marah.
"Woiii, kalian berlari atau merangkak, siput saja bisa berlari lebih cepat dari kalian.... Hahaha." ejek manusia rubah kepada prajurit arcadia, yang memanjat dengan nafas terengah-engah dan mengigil kedinginan.
"Bajingannn... Aku pasti mencabik-cabik tubuhmu..."
"Sialan, kamu..."
Semua prajurit mengumpat kesal karena diejek dan ditertawakan oleh manusia rubah.
"Bagaimana bisa dia begitu lincah saat melewati salju sialan ini...! Sialan, benua terkutuk... Kenapa aku tidak bisa terbang tinggi di gunung ini...." komandan regu juga mengumpat kesal dan terkejut melihat manusia rubah yang berjalan di salju tanpa kesulitan sama sekali.
__ADS_1
Komandan regu juga heran, dia dan semua orang tidak mampu terbang tinggi semenjak berada dibenua ini.
Jarak komandan regu beserta pasukan hanya dari manusia rubah terpaut 1.000 meter, manusia rubah menunggu mereka dengan duduk di batang pohon, sambil kakinya bergoyang-goyang.
"Woiii... Berapa lama lagi kalian merangkak, apa menunggu ibumu hamil... Hahaha." sekali lagi manusia rubah mengejek prajurit arcadia dan tertawa seperti orang gila.
"Sialan, bocah itu... Awas nanti jika tertangkap..."
"Terus mengejar dan jangan hiraukan ocehannya." kata komandan regu kepada para prajuritnya yang terpancing emosinya.
Prajurit arcadia terus mendaki dengan susah payah dan wajahnya mereka memucat karena menahan rasa dingin. Mereka terus mendekati manusia rubah, hingga jaraknya tinggal 500 meter.
Wuuuuussshh
Booommm
"Aaaaahhh...." lagi-lagi manusia rubah melemparkan bola energi Qi kepada prajurit yang berada dibawahnya, para prajurit berteriak kesakitan dan sebagainya langsung mati.
"Hahaha... Kalian segitu saja sudah langsung mati. Baiklah, aku akan kirim kalian pulang...." manusia rubah tertawa melihat prajurit yang kesakitan dengan tubuh berlumuran darah.
Lalu manusia rubah melambaikan tangan keatas, dan salju naik mengikuti gerakan tangannya, melihat salju yang terangkat membuat prajurit yang masih mengejar, menjadi ketakutan.
"Mundur... Cepat mundur..." perintah komandan regu yang merasakan ngeri, para prajurit seketika berbalik dan meluncur kebawah, mereka dengan panik menjauhi salju yang seperti ombak.
Suara gemuruh salju mulai turun, seperti ombak di lautan bebas.
"Serang salju itu..."
Booommm
Booommm
Sambil meluncur kebawah, para prajurit melempar bola energi Qi, ledakan energi tidak membuat salju yang turun deras berhenti, malahan semakin cepat turun.
"Aaaaahhh...."
"Mati aku...."
"Tolongggg..."
Wuuuuussshh
Akhirnya salju itu mengulung para prajurit dan teriakan terakhir mereka tidak ada yang menghiraukan.
Demikian juga dengan komandan regu, yang ikut tertelan salju, semua prajurit tertimbun salju dan sudah tidak ada teriakan lagi dan gerakan dari dalam salju.
Kembali pegunungan maha dewi menjadi sunyi, hanya ada suara desiran angin salju yang turun, manusia rubah hanya diam dan mengeleng-gelengkan kepalanya.
Segera manusia rubah melesat kebawah, dan menuju dimana komandan regu tertimbun longsoran salju. Lalu manusia rubah menarik komandan regu yang tertimbun salju sedalam 10 meter.
Wuuuuussshh
Buuukkk
Komandan regu segera tersedot dan tangannya segera dipegang oleh manusia rubah, terlihat komandan regu masih bernafas dan sedikit membuka mata dan pingsan.
"Hidup atau mati dirimu, tergantung mereka...." manusia rubah berbicara kepada komandan itu dan menghilang dari tempatnya.
Manusia rubah muncul perbatasan wilayah ras demi human dengan pegunungan maha dewi, lalu dia berjalan dengan menyeret komandan itu.
"Lihat, bukannya dia manusia rubah...!! Dan siapa yang dia seret itu." penjaga perbatasan segera melihat manusia rubah, dia masih mendengar berita tentang adanya ras lain yaitu ras setengah manusia setengah rubah.
"Ya, itu manusia rubah..."
"Cepat laporankan kepada jenderal Lu Zhi..."
Penjaga perbatasan menjadi ribut melihat sosok manusia rubah yang menjadi buruan banyak kekuatan.
Wuuuuussshh
"Bang...." Manusia rubah itu melemparkan komandan di depan pintu gerbang, hingga komandan itu berguling-guling ditanah.
"Dia adalah komandan regu 10 ribu pasukan kerajaan arcadia. Selamat tinggal." kata manusia rubah kepada semua penjaga yang berdiri di atas dinding pertahanan, mereka semua terkejut mendengar pengakuan dia.
"Tunggu, siapa namamu saudara?" tanya salah satu seorang penjaga yang ingin tahu nama manusia rubah itu.
"Bu Wanmei..."
__ADS_1
Kembali Bu Wanmei berjalan setelah menjawab penjaga itu tanpa membalikkan badannya, Bu Wanmei menghilang kedalam hutan yang menuju ke pegunungan maha dewi.
"Bu Wanmei..." gumam semua penjaga setelah mengetahui nama manusia rubah ekor sembilan itu.