
Chapter 91 Chu Bao
"Sang pencipta telah menyatakan perang dengan para dewa. Pasukan Kekosongan segera persiapkan diri kalian, hari yang kita nantikan telah tiba"
"Baik, Jendral"
"Aku sudah menunggu kamu menyatakan diri, suami. Dan aku tidak akan memanfaatkannya lagi dan selalu mendukungmu, aku akan melakukan apapun demi menebus kesalahan yang telah membuatmu...!"
-----------------------
Era jaman kuno.
Disebuah desa kecil disalah satu benua Dewa, benua yang kaya akan energi Qi dewa, terlihat seorang anak kecil berusia 15 tahun sedang berburu dihutan belantara, dengan pedang yang terselip di pinggang kirinya dan tangan kanannya memegang panah kesayangannya.
Siuuuu
Jleeebb
Khiikkh
Bruuukkk
"Hahaha, akhirnya aku bisa mendapatkanmu, aku tidak sabar bertemu keluarga saat aku membawa rusa ini, mereka pasti akan senang"
Setelah memanah binatang rusa bocah yang memiliki wajah oval dengan warna kulit putih dan rambut sebahu dengan diikat seperti kuncir kuda, bola mata berwarna biru alis tebal mendatar dan bibir berbentuk busur dengan tinggi 180 cm, tiap tubuhnya berotot dan perut terlihat terkotak-kotak, dengan memakai pakaian hitam sebagai warna favoritnya terlihat sangat serasi dengan wajah tampannya yang alami
Didalam desa kecilnya dia terbilang berbeda dari semua anak yang seumuran dengannya, bahkan para pendahulunya tidak ada yang menyamai wajah tampannya dan tingkat Kultivasinya yang berada pada tingkat Tyrant tahap 2 diusia yang baru 15 tahun, bisa dikatakan jika bocah itu memiliki bakat diatas rata-rata anak jenius manapun.
Dia merasakan bahagia bisa mendapatkan binatang buruannya yang terkenal gesit dan lincah, selain memiliki rasa daging yang lezat binatang rusa itu juga bisa membantu meningkatkan kekuatan Kultivasi.
Dengan menggendong binatang rusa di bahunya bocah yang bernama Chu Bao, berjalan menuju tempat tinggalnya didesa kecil yang jauh dari kota manapun.
"Adik-adikku, aku akan memasak buat kalian, aku jamin kalian akan senang memakan masakan ku... Hahaha" Chu Bao bergumam pada dirinya, dalam pikirannya dia sangat gembira bisa memasak untuk semua keluarganya.
"Apa yang terjadi dengan desaku? Kenapa banyak asap?" kata Chu Bao yang melihat desanya banyak asap seperti sesuatu yang terbakar, dengan berlari kencang menuju tempat kelahirannya Chu Bao terlihat sangat panik, perasaannya merasakan sangat tidak nyaman dan ada rasa ketakutan akan ditinggalkan oleh orang yang dia cintai.
Di benua Dewa seorang kultivator baru bisa terbang pada tingkat Monarch karena tingkat gravitasi sangat tinggi, dan di benua Peri baru bisa terbang pada tingkat Penguasa karena medan gravitasinya juga tinggi walau tidak seperti di benua Dewa.
"Tidak, tidak mungkin perasaanku benar!" kata Chu Bao yang melihat didepan desanya telah banyak rumah terbakar dan banyak tubuh penduduk desa yang tergeletak bersimbah darah.
"Tidak..."
Dengan gemetaran disekujur tubuhnya, Chu Bao berlari sangat kencang dan melompati banyak tubuh penduduk desa yang telah mati, Chu Bao berlari menuju suatu tempat dimana dia dilahirkan oleh ibunya.
"Tidaaaaakkk, ibuuuu..."
"Ayaaaaah... Uwaaaa"
"Tidak, tidaaakk adikku...adik kuuuu..."
Teriakan mengema didesa kecil suara Chu Bao yang menangis sejadi-jadinya saat melihat seluruh keluarganya telah membujur kaku dan bersimbah darah. Dengan sekuat tenaga Chu Bao menggoncang tubuh adiknya berharap adiknya masih hidup, dengan memeluk erat tubuh adiknya Chu menangis tidak karuan.
"Adiiiiikkk... Huwaaaaaa"
"Ibuuuuu...uwaaaaah"
Chu Bao menangis sejadi-jadinya tanpa henti selama tiga hari, dia tidak peduli dengan bau busuk yang sudah keluar dari tubuh keluarganya, mata membengkak dan tubuh masih bergetar dengan memeluk semua keluarganya yang telah menjadi mayat.
"Hikks, ayah ibu dan adik-adikku, aku bersumpah akan membalaskan dendam untuk kalian...hiikss" Chu Bao dengan isakan tangisan berdarah, bersumpah akan membunuh mereka semua yang telah membunuh keluarga tercintanya.
Kemudian Chu Bao membuat tandu dari kayu yang bisa dimuati empat orang, setelah tandu jadi Chu Bao meletakkan empat mayat keluarganya ditandu secara berlahan dan penuh kasih sayang.
Chu Bao menarik tandu dengan sebuah tali yang dibuat dari akar pepohonan dan menyeret tandu itu, melangkah-kan kaki dan berjalan dengan air mati menetes mengenang masa-masa bahagia saat mereka bersama.
"Hahaha, kak kamu tidak bakalan bisa menang melawanku..."
"Gadis kecil, kenapa kamu bisa kuat padahal kamu perempuan..."
"Kakak kamu terlalu lemah...hahaha"
Sambil mengenang masa indahnya dulu Chu Bao tidak sadar telah sampai pada bukti yang dekat dengan desanya, Chu berencana mengubur keluarganya di puncak bukti yang biasanya dia selalu bermain dengan kedua adik perempuannya.
"Uwaaaaah... Adikku... Kenapa kalian pergi meninggalkan ku sendiri... Uwaaaaah"
__ADS_1
Sekali lagi Chu Bao tidak kuat menahan tangisan saat mengenang masa indah mereka bertiga dibukit ini, setelah Chu Bao berhenti menangis karena sudah tidak ada lagi air mata darah yang mengalir lagi di pipinya, dengan kedua tangannya Chu mengali tanah dipuncak bukti.
"Ibu ayah dan adik-adikku...tunggu aku dialam jiwa, jika aku menjadi kuat aku bersumpah akan membangkitkan kalian lagi" kata Chu Bao yang telah memakam-kan empat keluarganya dalam satu liang kubur, dengan sumpah dan tekad didalam hatinya Chu.
Dengan berjalan meninggalkan tempat peristirahatan terakhir keluarganya, Chu Bao melangkah turun dari bukti lalu menguburkan semua penduduk desa yang telah mati, dari jumlah 300 orang tidak ada yang masih hidup, bahkan banyak potongan-potongan tubuh yang berserakan.
"Terima kasih semuanya yang telah membesarkan aku, semoga kalian bisa tenang dialam jiwa" kata Chu Bao dengan sujud didepan pintu desa dan sujud lagi yang mengarah dibukit dimana keempat keluarganya dikubur.
Sejak pemusnahan didesanya dan tewasnya keluarganya Chu Bao kini telah berubah menjadi dingin, sudah tidak ada lagi wajah ceria dan senyum dibibirnya, tiap kali dia berjalan aura kemarahan merembes dari tubuhnya, tiap binatang buas yang mendekatinya selalu lari dan menjauh karena ketakutan dengan aura kemarahan dari Chu Bao.
Hari berganti hari dan bulan telah berganti bulan, sudah sejak dua tahun ini Chu selalu menjelajahi semua hutan yang sangat berbahaya demi mencari semua sumberdaya untuk Kultivasinya.
"Haah, andai saja aku bisa meramu obat tidak mungkin aku selalu menyerap inti binatang, tapi aku akan belajar sendiri dengan banyak tanaman obat dan tanaman roh di tanganku. Pertama-tama aku harus mencari elemen api dulu sebagai syarat penting dalam meramu obat" Chu Bao bergumam sendiri dan ingin menjadi seorang Alchemist, saat ini Chu Bao sedang duduk di dahan pohon.
Booommm
Blaaaarrrr
Cedaaaaarrrr
Saat Chu Bao sedang melamun terdengar sebuah ledakan dan petir menyambar di puncak pegunungan berapi yang terkenal dengan sebutan gunung kematian, tidak ada seorang manusia di benua Dewa berani menginjakkan kakinya di gunung kematian.
"Ada apa itu?" kata Chu yang dikagetkan dengan suara ledakan dan Sambaran petir di pegunungan kematian.
"Apa aku harus kesana? Tidak, itu terlalu berbahaya dipingiran wilayah gunung saja sudah berbahaya apalagi naik ke puncaknya"
"Aaahh, masa bodoh. Demi aku menjadi kuat dan membalaskan dendam hal itu tidak akan menghentikan langkahku" kata Chu Bao yang sudah membulatkan tekad untuk pergi ke gunung kematian.
Demi membalas dendam Chu Bao selalu melakukan apapun asal dia bisa meningkatkan kekuatan hingga tingkat Raja Dewa tahap bumi, konon katanya di tingkat raja Dewa bisa membangkitkan orang yang sudah mati, karena hal itu Chu Bao sudah tidak perduli dengan kematian yang akan menghampirinya.
Swooosshh
Dengan terbang dengan cepat Chu Bao menuju gunung kematian, dia kini bisa terbang karena tingkatnya sudah berada pada tingkat Monarch tahap 3 dari hasil kerja kerasnya dia selama dua tahun ini.
Booommm
Baaaanngg
Cedaaaaarrrr
Grooorrrr
Aoouuuu
Awan gelap menyelimuti gunung kematian dengan petir yang tercipta dari awan gelap menyambar-nyambar puncak gunung, semua binatang buas berlarian menjauhi area dimana petir itu mengamuk dan menghancurkan apapun yang berada dibawahnya.
"Sialan, ganas sekali itu petir, sebelum aku menuju puncak sudah pasti akan hangus tersambar" kata Chu Bao yang sudah berada di kaki gunung kematian dan melihat kearah dimana pusat petir selalu menyambar, karena sudah bertekad menjadi lebih kuat Chu Bao bergerak dengan cepat menuju pusat dimana petir selalu menyambar area itu.
"Haah haah, kenapa semakin panas saat mendekati titik itu!!" Chu Bao terengah-engah dengan keringat membasahi wajahnya saat mendekati pusat sambaran petir.
Sudah tidak lagi perduli dengan hawa panas saat mendekati puncak gunung Chu Bao melanjutkan bergerak dengan berlari dan tidak ingin terbang karena kuatir terkena sambaran petir.
Cedaaaaarrrr
Booommm
"Sial, hampir saja aku tersambar" umpat Chu Bao saat petir menyambar disampingnya, dengan tekad kuat dan keteguhan-nya Chu Bao berhasil melewati sambaran petir yang tidak ada habis-habisnya dan telah berada puncak gunung dan berdiri dipinggir kawah yang sangat panas.
"Siapa dia? Dan apa itu depannya?" gumam Chu Bao yang kedua matanya terpaku ditengah kawah yang penuh dengan magma panas yang mengelilingi pria tua itu dan didepannya terlihat seperti api berwarna hijau kebiruan.
"Hahaha, sobat ikutlah denganku aku jamin kamu akan lebih berguna" pria itu berbicara pada api yang berada dan tangan kanannya dia julukan didepan api berwarna hijau kebiruan, di telapak tangannya terlihat api yang memiliki dua warna merah dan putih.
Pria tua itu berbicara selayaknya seorang teman lama dan bertemu lagi setelah berpisah, terdengar nada bujuk rayu pria tua itu agar api hijau kebiruan mengikutinya.
Booommm
"Akkhh...sial aku sudah menawari kamu dengan apiku kenapa malah kamu menyerang ku"
Booommm
Baannngg
"Kenapa pria itu bertarung dengan api yang aneh?" Chu Bao melihat pria tua itu bertarung dengan api hijau kebiruan, sudah terlihat jika pria itu kuwalahan menahan serangan api hijau kebiruan, sudah berkali-kali pria itu terbanting di tanah yang dikelilingi magma.
__ADS_1
Booommm
"Hahaha, kamu pikir aku akan menyerah, tentu saja tidak sampai kamu kalah aku tidak akan menyerah...hahaha"
Booommm
Booommm
Dhuuuuum
Petarung kelas tinggi satu pria tua dengan api hijau kebiruan membuat hembusan gelombang energi menghancurkan apapun disekitarnya, Chu Bao yang jaraknya cukup jauh masih bisa merasakan kekuatan hembusan gelombang energi itu hingga membuatnya terbaring terlungkup ditanah.
"Kekuatan apa ini...sungguh mengerikan!" Chu Bao bergumam dan masih telungkup ditanah dan juga matanya tidak beralih melihat pertarungan yang dahsyat.
Boooommmm
Baaanngg
Booommm
Dhuuuuum
"Akkkhhh..."
Bruuukkk
Booommm
Booommm
Teriakan kesakitan dari pria tua itu saat dua kekuatan saling beradu, suara dentuman dua kekuatan beradu dan suara pria tua berteriak yang terkena hantam api hijau kebiruan, terlihat juga api hijau kebiruan juga terpental dan menabrak bibir kawah hingga meruntuhkan dinding kawah dan segera magma mengalir melewati dinding kawah yang ditabrak api hijau kebiruan.
"Haahhaah, Gila, kekuatan yang bisa meruntuhkan alam ini" kata Chu Bao dengan jantung berdebar-debar dan nafas terengah-engah yang menahan gelombang kejut dari mereka berdua.
Api hijau kebiruan dan pria tua itu masih terbenam di tanah tanpa bergerak sama sekali, merasakan aura mereka berdua menghilang Chu Bao berdiri dan berjalan pelan menuju pria tua itu dan ingin menolongnya.
Walau jarak Chu Bao sangat jauh dengan tingkat Monarch berjalan pelan dengan jarak jauh terasa dekat, Chu Bao akhirnya melihat kaki pria tua itu yang tertimbun tanah, karena penasaran Chu Bao melemparkan kerikil kecil tepat pada kakinya.
Siuuuu
Klotaak
Setelah dilempar kerikil, kaki pria tua itu tidak bergerak bahkan Chu Bao merasakan aura yang sangat lemah dari pria itu, karena semakin penasaran Chu Bao bergerak maju mendekati kaki pria tua itu dan menyentuh kakinya.
"Kakek tua, apa kamu masih hidup" tanya Chu Bao dengan menggoyang kaki pria tua itu, karena tidak ada respon Chu Bao mengali tanah dan bebatuan yang menimbun pria tua itu.
"Kakek, apa kamu baik-baik saja?" tanya Chu Bao sekali lagi saat Kakek tua itu telah terlihat dengan jelas setelah tanah dan bebatuan itu Chu Bao singkirkan. Terlihat sekarang wajah pria tua itu, meskipun sudah tua terlihat wajah tampan Kakek itu.
Kemudian Chu Bao mengendong Kakek itu dan bergerak menjauhi kawah berapi, setelah mendekati sebuah pohon Chu Bao menyadarkannya Kakek itu pada pohon dan memberikan air minum.
"Kakek" panggil Chu Bao dengan menggoyangkan kakinya, karena tidak segera bangun dari pingsannya Chu bergerak menuju tempat dimana api hijau kebiruan juga menghantam tanah.
Setelah tiba dimana api itu berada Chu Bao juga tidak merasakan hawa panas lagi yang sesaat lalu panasnya bisa dirasakan dari jarak yang jauh.
Klotaak
Klotaak
Chu Bao segera menyingkirkan bebatuan yang menimbun api itu, cukup dalam Chu Bao menggali tempat dimana api itu menghantam tanah, merasakan tidak adanya bahaya Chu Bao dengan cepat menyingkirkan semua bebatuan.
"Haah, kenapa bentuknya aneh? Dan juga tidak terasa panas seperti tadi" kata Chu Bao yang melihat api kecil yang seukuran kepalan tangan, karena ingin mengetahui keadaan api itu Chu Bao menyentuhnya dan juga tidak terjadi apa-apa bahkan api itu juga tidak bergerak.
Karena Chu Bao merasakan hawa panas dari magma, segera Chu Bao mengambil api itu dan memeluknya didadanya dan segera menjauh dari kawah yang sudah hancur berantakan dari Pertempuran mereka berdua.
Kemudian Chu Bao berlari menuju tempat dimana Kakek tua itu dia letakan, sesaat disana Kakek tua masih saja pingsan dan tetap berada posisi yang sama.
"Kakek, ayo bangun" panggil Chu Bao lagi dengan menggoyangkan kakinya, sekali lagi tidak bangun.
"Huuff, susah sekali mereka bangun...plaaakk...! Bodohnya aku" kata Chu Bao menepuk jidatnya dengan kanan kiri karena tangan kanannya masih mengendong api di lengannya.
Segera Chu Bao mengalirkan energi Qi-nya kepada Kakek tua itu di bahunya, merasakan Kakek tua itu yang nafas sudah bisa di dengar dan sudah bisa mengerakan jarinya Chu Bao berhenti mengalirkan energinya.
Kemudian Chu Bao melanjutkan mengalirkan energinya kepada api yang aneh baginya, setelah berberapa saat terlihat api itu mulai bereaksi sedikit dan juga sama seperti Kakek itu tidak ada gerakan yang membuat Chu Bao senang.
__ADS_1