Legenda Pasukan Wanita

Legenda Pasukan Wanita
Chapter 297 Terkepung.


__ADS_3

Chapter 297 Evakuasi penduduk.


"Hehehe, inilah mangsa yang menjadi pemburu. Siapa suruh mereka ingin menangkapku dan juga wanitaku." jawab Bu Wanmei dengan berdiri dan melihat kearah Si Alex yang terbang dengan kecepatan tinggi.


"Huff, itu terlalu lama, aku bisa melumpuhkan mereka dengan petirku dengan mudah." Thunder Bird juga tidak mau mengalah, dia juga ingin menunjukkan kemampuannya.


"Hehehe, kenapa tadi tidak kamu lumpuhkan mereka?" Bu Wanmei terkekeh melihat kesombongan Thunder Bird yang masih bertengger di bahunya.


"Aku hanya ingin melihat kehebatanmu saja, nanti jika ada kesempatan aku akan tunjukan padamu." jawab Thunder Bird dengan sombong dan membusungkan dadanya yang rata.


"Huff, dada rata saja dibanggakan..!" ejek Bu Wanmei dengan meniup dada Thunder Bird dan hampir membuat Thunder Bird kehilangan keseimbangan.


"Sialan, siapa yang berdada rata, aku wanita tercantik dialam semesta dan juga memiliki dada yang besar dan mempesona, jika kamu melihat wujud asli ku dijamin kamu akan bernafsu, karena itu aku tidak merubah wujud asli ku, aku takut kamu memakanku..." Thunder Bird sangat marah saat dirinya dihina berdada rata.


"Hahaha, tidak tertarik dengan wujud aslimu, apa dadamu sebesar keempat wanita ku itu ? Paling-paling punyamu hanya sekecil jari kelingking... Hahaha"


"Sialan, Rubah cabul. Sungguh memalukan dirimu, jangan bandingkan diriku dengan kelinci dan musang itu..." Thunder Bird sangat marah dan terbang memutari kepala Bu Wanmei dengan mematuk kepalanya.


"Hahaha... Dada rata sebesar jari kelingking... Hahaha." Bu Wanmei segera berlari sambil terus mengejek Thunder Bird.


"Cabul jangan lari kamu..." Thunder Bird terus mengejar Bu Wanmei yang menuju kearah Lembah Suci.


Thunder Bird sebenarnya mampu merubah wujudnya menjadi manusia, tetapi dia tidak ingin menunjukkan wujud aslinya kepada siapapun.


"Hustt... Hustt... Pergi sana dan jangan mengikutiku dada rata..." kata Bu Wanmei kepada Thunder Bird yang masih mengejar dirinya, dia mengusir Thunder Bird yang selalu mengikutinya.


"Tidak, sebelum kamu minta maaf dan mencabut ucapanmu..."


Kedua mahkluk purba itu terus-menerus saling mengejek sambil terbang menuju Lembah Suci.


"Sialan Benua ini..." gerutu Leon saat mengintai dikejauhan tempat persembunyian, jarak pandangnya terhalang kabut Qi iblis yang sangat pekat.


Tap... Tap...


"Tuan Muda. Tempat ini memang benar lokasi persembunyian mereka.


Tempat mereka dikelilingi bukit-bukit itu, dan hanya memiliki 4 jalur untuk memasukinya, tetapi ketiga jalur telah dihancurkan, dan hanya ada 1 jalur saja." anak buah Leon tiba-tiba muncul dan melaporkan hasil pengintainya.


"Bagus, kabarkan berita ini kepada Ketua Qin, dan minta segera mengerahkan pasukan untuk mengepung mereka dari bukit-bukit itu." perintah Leon kepada anak buahnya.


"Baik, Tuan Muda."


Segera anak buah Leon kembali menuju wilayah Ras Demi Human yang telah dikuasai, kini hanya tersisa Leon dan keempat anak buahnya. Tempat mereka berada di kaki bukit Lembah Suci.


"Ketat juga penjagaan mereka di bukit-bukit itu, Tuan Muda."


"Tidak masalah, dengan kekuatan kita hal itu sepele." jawab Leon yang penuh percaya diri.


"Eh... Apa itu?" Leon tiba-tiba melihat 14 cahaya berkelebat di pintu masuk Lembah Suci yang tersembunyi dicelah bebatuan diantara dinding tebing.


"Yang Mulia."


Sapa salah satu prajurit yang menjaga pintu masuk, melihat Cang Juan, Cang Lien dan kedua putri Raja Demi Human.


"Kalian semua orang segera berkumpul di depan makam Leluhur Permata Hitam, juga dengan prajurit yang sedang berjaga." perintah Cang Juan kepada prajurit itu.


"Segera, Yang Mulia."


Tanpa banyak bertanya, Si prajurit segera berlari meninggalkan keempat wanita itu. Cang Juan bersama 13 wanita segera memasuki pintu yang sempit untuk menuju pusat Lembah Suci.


Di atas bukit, Bu Wanmei sedang membidik sasaran saat dia melihat kedua isterinya bersama 12 wanita sudah memasuki Lembah Suci, sasarannya adalah Leon dan keempat anak buahnya yang sedang bersembunyi untuk menunggu bala bantuan.


Thunder Bird masih bertengger dibahu Bu Wanmei dengan wajah cemberut, dan terus menatap Bu Wanmei yang selalu memberikan perasaan familiar.


"Satu, dua... Ceklak...!" Bu Wanmei menghitung saat senjatanya sudah mengunci targetnya, suara pelatuk sniper terdengar dan....


Doorrr...


Bang.... Brukkkk


Suara teredam hanya bisa didengar Bu Wanmei dan Thunder Bird, seketika kepala target langsung meledak, saat targetnya yang sedang berjongkok.


"Sialan, apa itu tadi...! kamu periksa rekan kita yang disana, ada apa dengan dia...!" Leon kaget saat melihat sinar melesat dengan sangat cepat dari atas bukit, dan disusul suara orang sedang terjatuh, segera dia memerintahkan anak buahnya untuk memeriksa kondisi temannya.


Wuuuuussshh


"Ya Dewaaa... Siapa yang membunuh...!"


Dorrr.... Bang... Brukkkk


Sebelum anak buah Leon sempat berteriak, Bu Wanmei langsung menarik pelatuk senjatanya, lagi-lagi anak buah Leon seketika mati dengan kepala yang hancur.


"Kurang ajar, senjata apa itu..." Leon akhirnya menyadari jika sinar itu adalah serangan dari seseorang diatas bukit, dia melihat kearah sumber suara, dimana anak buahnya berada.

__ADS_1


"Cepat kita kesana..." ajak Leon untuk melihat kondisi anak buahnya.


Dorrr... Bang.... Brukkkk


"Bajingannnn... Cepat bersembunyi, ada yang menyerang kita dari arah bukit itu..."


Doorrr... Bang... Brukkkk


Sebelum anak buahnya sempat bersembunyi, Bu Wanmei segera menembak lagi dan peluru sniper kembali meledakan kepala anak buah Leon.


"Sial, sial... Kita sudah ketahuan, bajingannnn, lihat saja nanti, aku pasti akan membunuh semua orang penghuni benua terkutuk ini." Leon berteriak sangat keras dan mengumpat Si pembunuh itu.


Leon bersembunyi dibalik pohon yang besar dan lebat, sedangkan anak buahnya yang tinggal seseorang, juga ikut bersembunyi.


Detak jatung kedua orang itu berpacu, seakan-akan nyawa mereka sedang diujung tanduk, sekali lagi Leon mengintip dari balik pohon, untuk melihat Si pembunuh yang berada di atas bukit.


"Senjata apa itu, sangat hebat..." gumam Leon sambil mencari Si pembunuh.


"Tuan Muda, ayo kita mundur saja dan bergabung dengan pasukan." pinta anak buahnya yang terlihat wajahnya sangat pucat karena ketakutan, dirinya merasa sedang diincar binatang buas.


"Tidak, sebentar lagi mereka datang..." Leon menolak permintaan anak buahnya karena dia sudah merasa aura Ketua Qin yang menuju kearahnya.


Sekali lagi, Leon mengintip dari balik pepohonan untuk melihat Si pembunuh itu, terlihat sebuah sinar melesat dengan sangat cepat kearahnya, dia memincingkan matanya...


Bang...


"Aaaahh.... Sial, mataku... Sakit... Aaahh" Leon berteriak kesakitan saat matanya terserempet peluru sniper milik Bu Wanmei, Leon berguling-guling dengan menutup mata kirinya.


"Tuan Muda...!"


Bawahannya menjadi panik saat melihat Tuan Mudanya kesakitan, dia buru-buru menarik tubuh Leon untuk bersembunyi.


Doorrr....


Bang... Aaaaahhh


Giliran anak buah Leon yang menjadi sasaran Bu Wanmei, dan meregang nyawa di tempat dengan tubuhnya menindih Leon.


"Aaaaahhh... Sialan, sebelum aku membalas dendam aku tidak bisa hidup dengan damai..." Leon berteriak kesakitan dan bersumpah membalas perbuatan Si pembunuh itu.


"Mereka datang. Rubah cabul ayo pergi. Kita tidak mungkin bisa melawan mereka semuanya." Thunder Bird merasakan niat membunuh pasukan Kerajaan Arcadia dan juga merasakan aura Qin Bo.


"Setidaknya aku harus mengurangi jumlah mereka, dan menunggu keempat wanitaku selesai melakukan tugasnya." tolak Bu Wanmei sambil melihat kearah musuh yang mendekati Lembah Suci.


"Roket Naga Hitam...."


Lalu Bu Wanmei memasukan Batu Semesta sebagai amunisinya pada tabung yang sudah tersedia, Thunder Bird yang melihatnya menjadi tertarik dan menunggu aksi Bu Wanmei kali ini.


"Tepat mereka berkumpul... Hehehe." gumam Bu Wanmei yang sudah mengunci targetnya, bassoka itu menampilkan target yang dikunci melalui layar seukuran 5 inci.


Boom...


Seketika Bu Wanmei menekan tombol saat sudah mengunci targetnya.


Booommm


"Aaaaahhh...."


Barisan terdepan pasukan Arcadia langsung terkena serangan bassoka Bu Wanmei, teriakan segera mengema dan barisan kedepan menjadi berhamburan dimana-mana.


"Jangkrik... Kita diserang, segera berlindung" suara kapten barisan pertama segera memerintahkan pasukannya untuk berlindung.


Barisan pertama adalah pasukan pembersihan jalan, karena itu mereka tidak waspada terhadap serangan Bu Wanmei yang masih bersembunyi di bukit.


"Sialan, itu pasti setan kecil. Buat Formasi pertahanan." Qin Bo yang hafal dengan serangan senjata yang aneh, segera dia memastikan siapa penyerang itu.


Bam... Bam


Pasukan Arcadia segera berhenti dan menancapkan perisai mereka ditanah dan berlindung di baliknya.


"Wow, Rubah cabul, hebat juga senjatamu kali ini, sini sini biar aku mencobanya...!" Thunder Bird sangat terpesona dengan senjata Bu Wanmei yang memiliki daya serangan yang hebat, dia ingin mencoba menggunakan senjata bassoka itu.


"Tunggu dulu, kamu tidak bisa menggunakan dengan ukuran kamu yang kecil... Hehehe. Meriam Naga Hitam." sekali lagi Bu Wanmei merubah senjatanya, setelah mencegah Thunder Bird yang ingin menggunakan senjatanya.


"Enak saja, biarpun kecil aku bisa membunuh orang, tahu..." Thunder Bird tidak terima diremehkan, tetapi dia juga makin penasaran dengan senjata Bu Wanmei yang bisa berubah-ubah.


"Sudah, kamu bisa bidik mereka dengan menekan tombol merah ini..." kata Bu Wanmei dengan memasukan Batu Semesta sebagai amunisinya, lalu Bu Wanmei segera mengetik titik koordinat target yang diinginkan.


"Hehehe... Serangan Thunder Bird..." Thunder Bird terkekeh senang dan segera turun dan hinggap didepan tombol merah, dengan berteriak keras, dia menekan tombol merah itu dengan kaki kecilnya.


Bam....


Wuuuuussshh

__ADS_1


"Awas serangan dari bukit..." Si kapten melihat bola api berekor yang melesat dengan sangat cepat kearahnya, dia segera berteriak agar semua pasukan waspada.


Booommm


"Aaaaahhh...!"


"Serang lagi...!" perintah Bu Wanmei setelah memasukan Batu Semesta.


"Siap boss... Hahaha. Serangan kedua Thunder Bird...!" Thunder Bird tertawa gembira, dia sangat menyukai senjata meriam Naga Hitam.


Bam....


"Awassss serangan datang lagi..."


Booommm


"Sialan, setan kecil itu... Sun Yao, pimpin semuanya dan segera serang Lembah Suci, aku secara pribadi menangani setan kecil itu..." Qin Bo sangat marah saat melihat pasukannya sudah tumbang terkena serangan meriam Bu Wanmei, segera Qin Bo berdiri dan melesat kearah Bu Wanmei berada bersama Thunder Bird.


"Baik, Ketua Qin." jawab Sun Yao, yang terdengar dari nada suaranya dia sedikit memaksakan diri menjadi bawahan Qin Bo.


Wuuuuussshh


"Shotgun Naga Hitam...! Formasi Ilusi..."


Buru-buru Bu Wanmei mengubah senjatanya dan membuat Formasi Ilusi dengan sangat cepat, dia melihat Qin Bo dengan cepat menuju kearahnya, Bu Wanmei ingin mengurung sementara Qin Bo didalam Formasi Ilusi.


Bhuuuzzzhh


"Ayo, bermain-main lagi... Hahaha."


"Sialan, jangan lari kamu, kali ini aku akan memusnahkan seluruh tubuh dan jiwamu" Qin Bo sangat marah saat Bu Wanmei ingin melarikan diri.


Bu Wanmei segera menghilang di balik bayang-bayang pepohonan bersama Thunder Bird.


Wuuuuussshh


"Kemana dia...! Bajingannnn... Keluar kamu, jangan jadi pengecut..." teriak Qin Bo yang tidak tahu jika dirinya telah memasuki formasi Ilusi.


Di dalam Lembah Suci, Lu Xinxin dan kakaknya segera menemui Raja Demi Human bersama Ratu Siluman Musang yang di ikuti Cang Lien dan 10 pengawal.


"Ayah..."


"Xinxin, Luan akhirnya kamu baik-baik saja, Nak." Raja Demi Human segera memeluk kedua putrinya dengan memanggil dengan nama panggilan kesayangan untuk kedua putrinya ini.


"Ayah, lebih baik kita segera pergi dari sini menuju air terjun Dewi Cahaya, disana lebih aman dan juga memiliki pelindung." Lu Xianglun segera berbicara secara langsung.


"Bagaimana bisa kita pergi dengan banyaknya orang yang berada di Lembah Suci, apa kamu tidak tahu jika diluar ada mata-mata yang sedang mengintai lembah ini?" Raja Demi Human yang baru saja tenang, kembali tegang manakala putrinya mengajak mereka pindah dari tempat persembunyian penghuni Benua Permata Hitam.


"Aku tahu dari Thunder Bird yang bertemu kita di tempat air terjun Dewi Cahaya, karena itu kita buru-buru menuju kesini." jawab Lu Xinxin yang juga kuatir dengan musuh yang akan datang.


"Nak, tidak mudah membawa begitu banyaknya rakyat jelata untuk berpindah tempat, apalagi pintu Lembah Suci begitu sempit." Raja Iblis juga ikut berbicara.


"Jangan kuatir masalah banyaknya mereka, kami berempat telah diberi Bu Wanmei dengan cincin dimensi tingkat Mitos." jawab Lu Xianglun dengan menunjuk cincin dimensi dijari manisnya.


"Tingkat Mitos, apa benar itu cincin dimensi tingkat mitos?" tanya Raja Iblis yang masih ragu melihat cincin dimensi dijari manis Lu Xianglun.


Bam...


"Sial, mereka cepat sekali datangnya..." Raja Demi Human dan semua orang mendengarkan suara letusan senjata Bu Wanmei yang menyerang musuh.


"Cepat, segera kumpulkan para penduduk, Bu Wanmei sedang menunda mereka menuju kesini." perintah Cang Juan kepada Raja Iblis dan Raja Demi Human yang melihat kearah bukti tempat Bu Wanmei berada.


Sontak kedua Raja itu bergerak saat mendengar perintah, dan dibantu para pemimpin beserta para prajurit mereka.


Karena terlalu banyaknya rakyat jelata yang bersembunyi di Lembah Suci, proses mengumpulkan mereka sangat lambat, walau telah dibantu para prajurit.


"Cepat, cepat semuanya berkumpul di pusat evakuasi..." suara Raja Demi Human mengema di Lembah Suci.


Mendengar suara Raja Demi Human, rakyat jelata menjadi panik dan tergesa-gesa menuju titik evakuasi, banyak orang tua yang terjatuh dan anak-anak menangis ketakutan.


"Jangan panik tetap tenang..." kata Cang Juan kepada semua rakyat jelata yang berlari menuju tempat yang di instruksikan.


Di luar Lembah Suci, Sun Yao dengan cepat mengatur pasukannya, untuk mengepung Lembah Suci dengan mendaki bukit-bukit yang menjadi tembok perlindungan mereka.


"Jendral jangan sampai mereka lolos, aku akan blokir pintu masuknya." perintah Sun Yao kepada kedua Jendralnya.


Segera kedua Jendral itu membagi menjadi dua bagian, untuk mengepung penghuni Benua Permata Hitam dari kedua bukit.


Booommm


"Bajingan keluar kamu..." Qin Bo yang marah berhasil menghancurkan Formasi Ilusi yang buat Bu Wanmei dengan tergesa-gesa, sehingga mudah sekali dihancurkan dengan sekali pukulan.


Suara ledakan hebat didengar oleh semua orang dan membuat penghuni Benua Permata Hitam menjadi ketakutan, sedangkan pasukan Arcadia sudah menempati pada posisi masing-masing, mereka melihat banyak penduduk yang panik dibawah Lembah Suci.

__ADS_1


"Kalian semua menyerah, atau lembah ini akan menjadi tempat makam kalian." suara Jendral keempat segera mengema di Lembah Suci dan membuat semua orang menatap keatas bukit.


"Sialan, kita terlambat..." gumam Cang Juan saat mereka telah dikepung.


__ADS_2