Legenda Pasukan Wanita

Legenda Pasukan Wanita
Chapter 134 Jun Ming dan Jun Yan.


__ADS_3

Chapter 134 Pesona cambuk Jun Ming dan Tarian kematian Jun Yan.


Dihari kedua pertandingan semakin menarik ditonton saat aturan diubah, tapi itu juga merugikan tim Phoniex yang melawan banyak peserta dari seluruh akademi, total 860 peserta yang harus dilawan tim Phoniex, jika dihitung secara matematis tiap 1 peserta tim Phoniex harus melawan 6 hingga 7 orang dari 140 peserta dari tim Phoniex.


Tapi setelah dilihat dari pertandingan awal dihari kedua, perkiraan penonton jika tim Phoniex akan tetap menang dengan mudah walau harus secara bergantian melawan 6 orang hingga 7 orang secara bergiliran.


Yang tidak mereka semua ketahui termasuk Excel sendiri, ternyata turnament beladiri dibenua dewa juga disaksikan oleh banyak orang di alam puncak yaitu benua Mahadewa.


"Gadis-gadis kecil yang sangat berbakat... Hahaha. Akhirnya aku bisa menjadikan salah satunya muridku."


"Guru, mereka adalah bibit-bibit yang sangat langkah, biarkan aku menuju benua dewa untuk membawa mereka!"


"Baiklah, kamu bisa pergi dan jemput mereka, jika akademi mereka melarangnya hancurkan saja, tapi tunggu setelah turnament antar master selesai siapa tahu diantara mereka bisa menjadi muridku juga"


"Hahaha, baik guru dengan senang hati"


Wuuuuussshh


Jun Ming sudah berhadapan dengan murid dari akademi Dewa bintang dan tinggal menunggu wasit mengijinkan mereka berdua untuk bertarung.


Jun Ming dengan santai melihat Jun Yu adiknya yang sedang berjalan menuju tempat duduk keluarga besar mereka, dia ingin lebih baik dari adiknya nanti saat bertarung dengan lawannya ini.


"Apa kalian sudah siap?"


"Siap, senior"


"Siap, Kakek"


"Mulai"


Murid akademi dewa bintang kali ini menggunakan senjata tombak sepanjang 2 meter yang berwarna coklat kayu, itu salah satu artefak tingkat semesta yang diberikan ayahnya.


Wiiinng


Wiiinng


Dengan lihai dia memainkan tombaknya dengan indah, tombak itu dia putar-putar kekanan dan kekiri dengan kedua tangannya, lalu membantingnya kearah dimana Jun Ming berada.


Baaanngg


"Maju"


Murid itu tidak meremehkan gadis kecil didepannya yang hanya diam saja menonton dia sedang beratraksi memainkan tombaknya, dengan gagah dia meminta Jun Ming untuk menyerang terlebih dahulu setelah dia siap.


Cetaaaarrr


Suara cambuk terdengar saat Jun Ming merubah anting-anting miliknya menjadi senjata andalannya yaitu cambuk berwarna hitam, dengan lambaian tangan kecilnya Jun Ming memecut kearah tombak lawannya hingga tombak itu bergetar.


"Paman, apa kamu yakin aku maju dulu?"


"Maju"


Tanya Jun Ming kepada lawannya dan dijawab dengan dingin dan tetap memerintahkan Jun Ming untuk menyerangnya terlebih dahulu.


Wiiiss


Cetaaaarrr


Cetaaaarrr


Dengan indah Jun Ming bergerak seperti gerakan balet yang menggunakan cambuknya, tubuhnya berputar-putar dengan indah dan seperti angsa menari diatas air, tiap gerakan mampu menghipnotis semua penonton saat cambuk itu melingkari tubuhnya.


Wuuuuussshh


Cetaaaarrr


Booommm


Murid itu yang mengetahui gerakan cambuk mengarah kepadanya langsung menangkis dengan tombaknya, hingga ledakan benturan itu mengema di arena.


"Indah sekali gerakannya"


"Apa dia benar-benar gadis usia 3 tahun?"


Penonton semua terpesona dengan tarian cambuk milik Jun Ming yang begitu indah saat menyerang lawannya, tiap gerakan itu tidak mudah diprediksi saat akan menyerang lawannya dari segala arah.


Wuuuuussshh


Cetaaaarrr


Cetaaaarrr


Booommm


"Cambuk kematian"


"Tombak pembunuh naga"


Wuuuuussshh


Booommm


Booommm


Traangg


Traangg


Saat teknik Jun Ming keluar dan lawannya juga mengeluarkan tekniknya juga, suara desiran angin dari cambuk langsung berbenturan dengan tombak lawannya hingga tombak itu bergetar dan terlepas dari tangan murid akademi dewa bintang.


Wuuuuussshh


Cedaaaaarrrr


"Aakkkhh"


Booommm


Jun Ming yang melihat kesempatan itu segera melancarkan serangan cepat, dengan cambuk yang berubah menjadi petir hitam dan menghantam dada lawannya yang lengah saat tombaknya terlepas dari tangannya, murid itu terlempar keluar dari arena pertandingan dan terjungkal ditanah dengan keras.


Jun Ming yang melihat lawannya telah kalah hanya tersenyum saja dan mengahlikan pandangan matanya kepada wasit yang masih bengong.


"Kakek, apa aku sudah menang?"

__ADS_1


Seluruh arena pertandingan menjadi hening saat murid itu terjungkal ditanah dengan mengenaskan, terlihat dada kanannya kebiruan setelah dihantam cambuk petir hitam milik Jun Ming.


"K-kamu menang, Jun Ming menang"


Kata wasit yang tergagap sesaat setelah mendengar suara Jun Ming bertanya kepadanya.


Plaaak


Plaaak


"Hebat, Jun Ming"


"Hahaha, putriku kamu luar biasa"


"Kakak, tarianmu sangat indah"


"Hahaha, hebat cucuku kamu sangat hebat"


Semua orang langsung bertepuk tangan dengan berdiri yang melihat tarian indah namun mematikan lawan, suara siulan dan sorakan bergemuruh di arena pertandingan beladiri.


Bahkan di tribun tamu penting juga memberikan tepuk tangan yang melihat aksi Jun Ming yang begitu mempesona mata dan pikiran, Excel juga ikut berdiri memberikan acungan jempol dua tangan.


Teknik yang diberikan kepada Jun Ming cukup sulit, pengendaliannya harus benar-benar terkontrol dengan baik, jika tidak cambuk itu akan melukai diri sendiri, karena itu Excel juga kagum dengan prestasi yang dibuat putrinya dari Hu Ru Ming salah satu isterinya yang dia cintai.


Hu Ru Ming juga menangis gembira melihat putrinya begitu hebat yang membuat semua orang bangga dengan keahliannya, Hu Ru Ming dan Excel memiliki kisah yang sama yang tidak memiliki orang tua kandung sejak lahir.


Karena itu Excel selalu memberikan perhatian lebih kepada mereka yang telah menjadi yatim piatu seperti dirinya, dia tahu rasanya tidak memiliki orang tua, bahkan saudara juga tidak ada.


"Jun Ming"


"Jun Ming"


Jun Ming berjalan menuju tempat duduknya dengan bangga saat namanya disebut-sebut para penonton diseluruh arena pertandingan, yang mampu memuat 250 ribu lebih penonton.


Setelah sampai di tribun tempat duduk keluarga besarnya Jun Ming langsung dipeluk saudara-saudaranya dan juga semua ibunya.


"Tuan muda, apakah benar putrimu baru berumur 3 tahun? Gerakan itu sangat sulit jika salah kontrol!!"


"Hahaha, Patriack dia memang baru berusia 3 tahun, dia bisa melakukan itu kerja hasil kerja kerasnya selama ini yang tanpa lelah dia latih terus"


Excel ketawa bangga melihat putrinya menjadi sorotan banyak orang, padahal jika mereka tahu itu bukan teknik andalannya maka sudah dipastikan akan shock lagi.


"Jun Yan dan murid akademi Dewa Api, apa kalian sudah siap?"


"Siap, senior"


"Aku juga siap, Kakek"


"Mulai"


Mendengarkan suara wasit yang telah mengijinkan Jun Yan dan murid akademi Dewa Api untuk saling bertarung, membuat penonton segera duduk dan menantikan penampilan mereka berdua.


Jun Yan juga ingin menampilkan diri sebaik adiknya sesaat yang lalu, dia sudah mengubah anting-antingnya menjadi pedang berwarna biru yang sesuai dengan warna pakaiannya.


Lawannya juga pengguna pedang dan sudah mengacungkan pedangnya kearah Jun Yan, Jun Yan juga mengarahkan pedangnya kearah lawannya.


Wuuuuussshh


Wuuuuussshh


Claaanng


Traangg


Claaanng


Traangg


Wuuuuussshh


Booommm


Penonton yang melihatnya pertempuran mereka berdua dibuat berdebar-debar, saat mereka saling menyerang dengan cepat, walau Jun Yan masih belia dia terlihat sangat berpengalaman memainkan pedangnya.


Claaanng


Traangg


Booommm


Gerakannya lembut dan tiap pedang diayunkan seperti sedang menari, terlihat lawannya mulai sedikit demi sedikit kuwalahan menerima kecepatan tebasan pedang Jun Yan.


Ledakan energi antar pedang selalu membuat gemetar arena pertandingan antara mereka berdua, mata wasit dengan jeli melihat gerakan mereka berdua, wasit sudah bersiap-siap jika salah satunya akan terluka parah akibat senjata pedang itu yang berakibat kematian salah satu dari mereka.


Claaanng


"Tarian kematian"


Jun Yan yang sudah menguji lawannya segera mengeluarkan skill dari ayahnya, yaitu teknik Dewa perang yang hanya menggunakan 5% energi, tarian kematian adalah skill yang mampu mengecoh lawan dan tiap tebasan membuat lawan kebingungan melihat arah serangan pedangnya.


Mengetahui jika gadis kecil itu mengeluarkan tekniknya, segera murid itu juga mengeluarkan teknik andalannya yang dia pelajari dari akademi Dewa Api.


"Pedang kemarahan dewa api"


Swiiingg


Swiiingg


Booommm


Booommm


Jun Yan yang menari dengan indah saat berputar-putar dengan pedangnya yang selalu menebas kearah lawannya, tiap tebasan mengandung energi yang sangat besar, dengan banyaknya tebasan pedang dari Jun Yan membuat lawannya makin kuwalahan menangkisnya, hingga dia bergerak mundur terus-menerus karena benturan energi antar pedang.


Booommm


Booommm


Swiiingg


Swiiingg


Booommm

__ADS_1


Suara desiran pedang semakin cepat dan cepat, hingga tanpa sadar murid itu meloloskan beberapa tebasan pedang Jun Ming yang mengarah kedada dan lengannya, lantai arena mulai hancur sedikit demi sedikit saat tebasan pedang ditangkis dan melesat mengenai lantai arena tanding mereka berdua.


Booommm


Swiiingg


Booommm


"Aaaakkhh"


Booommm


Buuukkk


Buuukkk


Baaanngg


Murid akademi Dewa Api langsung terpental saat terkena dua kali tebasan tarian pedang kematian, membuatnya berguling-guling ditanah dan langsung pingsan, terlihat tangannya kiri hampir putus dan dadanya tergores cukup dalam akibat skill yang dikeluarkan oleh Jun Yan dengan begitu banyak.


Penonton seketika dibuat diam dan jantung mereka melambat saat tarian pedang kematian menghajar lawannya tanpa ampun, bahkan murid itu tidak mampu membalas Jun Yan sama sekali.


Wuuuuussshh


Tap


Segera wasit memeriksa kondisi murid yang masih bernafas walau lukanya cukup parah dan tidak membahayakan nyawanya, si wasit merasa lega dan tersenyum gembira, karena dia juga bertanggung jawab jika ada hal yang sangat membahayakan para peserta.


"Jun Yan, menang"


"Horeeee"


"Luar biasa, luar biasa...hahaha"


Plaaak


Plaaak


"Kakak, hebat"


"Hahaha, cucuku luar biasa"


Setelah mendengar wasit mengumumkan kemenangan Jun Yan, suara teriakan kegembiraan dan tepukan tangan bergemuruh didalam arena pertandingan beladiri, penonton sangat senang dengan aksi kedua murid yang sedang bertarung dengan ganas.


"Teknik itu agak familiar, dimana aku melihatnya, ya?"


Semua orang yang duduk di tribun tamu penting juga sedang mengingat-ingat teknik yang digunakan oleh Jun Yan, tidak hanya Kaisar Dongbu yang sedang bergumam saat melihat gerakan Jun Yan yang tampak familiar baginya.


"Teknik pedang memang hampir sama dengan teknik pedang yang lainnya, karena pedang sangat diminati banyak orang."


Kata Excel yang tidak ingin teknik dewa perang diketahui oleh orang banyak, dia sengaja berkata begitu karena belum waktunya jati diri diketahui.


"Kamu benar, Tuan Muda. Teknik pedang memang sudah umum dikalangan ahli beladiri manapun, tapi biarpun begitu tiap teknik pedang memiliki karakteristik tersendiri untuk menunjukkan ciri khasnya saat digunakan."


"Tuan muda, teknik siapa yang digunakan putrimu?"


Semua orang penasaran dengan teknik yang digunakan Jun Yan, mereka merasa pernah melihat teknik itu disuatu tempat, untung saja mereka lupa siapa pemilik teknik pedang itu.


"Itu aku buat dari idolaku, dari idolaku aku terinspirasi menciptakan teknik yang mirip dengannya, sayang idolaku tidak pernah mewariskan teknik itu"


Jawab Excel dengan santai, dan memang benar dia dulu tidak pernah mengajarkan tekniknya kepada siapapun, saat itu dewa perang sibuk memikirkan bagaimana caranya membalas dendam tanpa pernah berpikir untuk mencari penerusnya.


"Siapa idolamu Tuan muda?"


"Semua orang juga mengidolakan dia, bahkan diabadikan menjadi patung disetiap penjuru benua dewa"


"Dewa perang"


Serentak semua orang berucap, siapa yang tidak tahu dengan idola yang di maksudkan Excel, hanya dewa perang saja yang namanya dikenal diseluruh penjuru benua Dewa, bahkan alam puncak juga mengenal sosok dewa perang yang melegenda.


"Iya, betul"


"Hahaha, pantas saja aku pernah melihatnya, ternyata kamu juga penggemar dewa perang"


"Tuan muda teknikmu hampir menyamai teknik leluhur kita, karena itu 2 akademi menggunakan nama Pedang ilahi dan juga api surgawi sebagai ciri khas Dewa perang...hahaha."


Mereka tertawa saat Excel juga penggemar dewa perang hingga dia sampai-sampai membuat teknik yang hampir sama dengan idolanya.


Siapa saja yang mempunyai idola pasti akan meniru apapun yang dilakukan idola tersebut, tidak perduli sama atau tidak yang terpenting bagi penggemar adalah mirip seperti idolanya.


Jun Yan kemudian kembali ketempat duduknya saat wasit telah mengumumkan hasil kemenangannya melawan murid akademi dewa api.


Dengan bangga Jun Yan juga melambaikan tangannya kepada para penonton yang memanggil namanya, siapa saja pasti akan bangga bisa membuat prestasi yang akan dikenal banyak orang tidak kecuali tim Phoniex yang terbilang masih anak-anak.


"Kakak, kamu luar biasa"


"Kakak, kamu sepelti aku yang menari-nari"


"Seperti adik bukan sepelti"


"Iya, sepelti pokoknya sepelti...huuff"


"Hahaha"


Jun Yu tidak terima diejek terus oleh kakak-kakaknya, dengan menyilangkan kedua tangan didadanya dan mendengus yang seakan-akan marah, tapi justru itu membuatnya semakin lucu.


Berbeda dengan pihak musuh yang sudah 8 kali kalah dengan tim Phoniex, terlihat wajah suram dan tidak senang, para ketua selalu saja mengomeli murid-muridnya yang telah kalah dari gadis cilik, padahal semua muridnya sudah berusaha sebaik mungkin untuk menang melawan mereka, tapi mau bagaimana lagi kenyataannya tidak sesuai yang diharapkan.


"Hem, Hem... Tenang dulu para penonton, pertandingan akan dilanjutkan lagi, seperti yang sebelumnya siapa yang namanya muncul harap segera menuju arena tanding"


Master Kaili berdehem 2 sebelum berbicara karena penonton begitu ramai dengan kemenangan dari tim Phoniex, banyak penonton yang meraup untung dengan taruhan mereka karena menjagokan tim Phoniex.


Bhuuuzzzhh


-Jun Xue Rong Vs akademi Dewa Api.


-Lang Fen Vs akademi Dewa bintang.


-Akademi dewa abadi Vs Jun Xuan.


-Akademi Pill Dewa Vs Jun Chun.


Batu prasasti segera menampilkan nama-nama peserta dan akademi yang akan bertanding untuk babak selanjutnya, segera penonton memasang taruhannya untuk tim Phoniex yang namanya telah muncul dibatu prasasti.

__ADS_1


Lang Fen yang namanya muncul dibatu prasasti terlihat sangat gugup, karena ini adalah pertandingan 1 lawan 1 untuk pertama kali dia ikuti, sebelumnya dia ikut bergabung dalam sebuah tim sehingga dia tidak takut saat melawan musuhnya.


__ADS_2