Menggenggam Rindu

Menggenggam Rindu
Part~100


__ADS_3

"Apa ini impian hari tuamu, sungguh sangat tragis." cibir nyonya Anggoro saat melihat suaminya itu duduk termenung seorang diri di depan sebuah perapian di Villa kecilnya.


Setelah menempuh perjalanan yang lumayan jauh, malam itu nyonya Anggoro baru sampai di sebuah perkebunan yang berbatasan langsung dengan pantai dimana suaminya sekarang berada.


Beberapa tahun yang lalu ia pernah di ajak suaminya kesini, namun tempat itu belum di bangun sebuah Villa seperti saat ini.


Sepertinya sang suami sudah banyak merenovasi tempat itu, bahkan Villa tersebut di bangun berhadapan langsung dengan pantai.


Tuan Anggoro langsung menoleh ke belakang saat mendengar suara tak asing di telinganya. Suara yang ia rindukan akhir-akhir ini.


Apakah ini mimpi ?


"Kamu ?" ucapnya terkejut.


"Kenapa? kamu kaget melihatku di sini ?" nyonya Anggoro nampak melipat kedua tangannya di depan dada.


"Untuk apa kamu datang kemari? tempat ini tidak cocok untukmu." sahut tuan Anggoro seraya membenahi kayu perapiannya agar menyala lebih besar, ia tahu istrinya itu pasti sedang kedinginan.


"Lalu menurutmu apa tempat ini cocok denganmu ?" tanya nyonya Anggoro yang nampak bergeming di tempatnya.


"Kemarilah di situ dingin." Tuan Anggoro menepuk sebuah kursi yang ada di sebelahnya tanpa berniat menjawab pertanyaan wanita itu.


Nyonya Anggoro masih bergeming, ia tidak suka jika perkataannya di abaikan dan itu membuat tuan Anggoro menghela napas panjangnya.


"Anggap saja ini sebuah karma atas perbuatanku padamu, meski tidak sebanding dengan rasa sakit hatimu." sahut tuan Anggoro dengan nada penyesalan.


Beberapa hari sebelum pergi, ia sudah memohon pada sang istri agar memaafkannya. Namun wanita itu berkeras hati dan ia memahami itu.


Maka jalan satu-satunya adalah pergi jauh meninggalkannya jika itu bisa membuat sang istri lebih baik, namun ia terkejut saat wanita itu tiba-tiba sudah berada di tempatnya saat ini.


Nyonya Anggoro nampak mengusap lengannya, udara dingin perkebunan bercampur dengan angin laut terasa menusuk kulitnya meski ia sudah melapisi pakaiannya dengan sweater tebal.


"Selalu saja keras kepala." gerutu tuan Anggoro seraya menyelimuti punggung istrinya tersebut, lantas menarik tangan dinginnya menuju sofa yang ia duduki tadi.


Namun bukannya ikut melangkah, nyonya Anggoro justru memeluk suaminya itu.


"Maafkan aku." ucapnya, sebuah ucapan yang mungkin baru sekali seumur hidup ia ucapkan pada sang suami.

__ADS_1


Wanita paruh baya yang masih terlihat sangat cantik dan terawat itu nampak terisak di dada suaminya yang membuat laki-laki itu merasakan sesak di hatinya.


"Jangan meminta maaf, kamu tidak pernah salah." ucap tuan Anggoro lembut seraya mengeratkan pelukannya.


"Tidak, aku yang bersalah. Kalau saja dari awal aku lebih banyak memperhatikan mu, kamu pasti tidak akan pernah melakukan itu iya kan." ujar nyonya Anggoro bercampur isakannya.


"Kamu tidak pernah bersalah, sayang. Aku saja yang kurang ajar." sahut tuan Anggoro, kemudian mengajak istrinya itu untuk duduk di sofa depan perapian.


"Selama bertahun-tahun aku selalu menyesali perbuatan bodohku itu, ku mohon tolong maafkan suami brengsekmu ini." lanjutnya lagi seraya menatap lekat wajah cantik sang istri.


Nyonya Anggoro hanya bisa menangis, kesedihan, luka dan penyesalan bercampur menjadi satu tanpa bisa ia ungkapkan.


Tuan Anggoro yang merasa kasihan, langsung meraup bibir wanita itu lalu melum😘tnya dengan lembut.


Setelah itu ia kembali membawa wanita itu ke dalam dekapannya, berbagi kehangatan yang penuh dengan cinta dan kasih.


"Iya, aku memaafkanmu." lirih nyonya Anggoro berusaha untuk ikhlas meski kini luka hatinya masih sangat basah, ia yakin dengan berjalannya waktu lukanya itu akan mengering dengan sendirinya.


"Terima kasih, sayang. Meski ini sangat sulit untukmu, tapi percayalah di sisa umurku aku akan berusaha menyembuhkan lukamu." janji tuan Anggoro.


"Ayo masuk di sini sangat dingin." ajak tuan Anggoro, mereka nampak melangkahkan kakinya menuju Villa sederhana tak jauh di belakangnya itu.


"Bolehkan aku ikut tinggal di sini ?" pinta nyonya Anggoro.


"Kamu tidak akan betah tinggal disini."


"Mulai sekarang di manapun itu, asal bersamamu itu adalah tempat yang paling cocok untukku dan aku pasti betah. Aku akan belajar memasakkanmu dan setiap hari akan membuatkan mu kopi." ucap nyonya Anggoro yang langsung membuat suaminya itu menatapnya gemas.


"Baiklah, tapi biarkan malam ini aku yang memakanmu sayang." Tuan Anggoro langsung menarik tangan istri cantiknya itu masuk ke dalam kamarnya.


Keesokan harinya....


Pagi itu Victor terlihat lelah meski hari masih pagi, ia hanya tidur selama dua jam saja gara-gara semalam menguntit Nina. Setelah itu ia harus menjemput Demian ke Mansion lalu berangkat ke kantor bersama-sama.


"Kamu sakit ?" tanya Demian saat melihat wajah pucat Victor.


"Tidak, tuan." sahut Victor dari balik kemudinya.

__ADS_1


"Kenapa ponselmu semalam mati ?"


"Baterainya habis, tuan." dusta Victor, padahal ia sengaja mematikannya karena Demian sangat tidak suka jika dirinya bermain di bar atau club malam.


"Lain kali jangan ceroboh lagi, ponselmu harus selalu standby. Apalagi istriku sedang hamil tua, kamu harus selalu siaga." perintah Demian.


"Baik tuan, tapi bukannya yang harus siaga itu suaminya ya, tuan." celetuk Victor becanda.


Ia melihat mood bossnya itu sedang baik jadi apa salahnya mengajaknya becanda, meski ujung-ujungnya ia akan terkena makian laki-laki itu juga.


Namun menggoda Demian adalah hal yang paling menyenangkan bagi Victor, hidup bersama sedari kecil dengan laki-laki itu membuatnya sangat hafal dengan sikapnya.


Meski Demian terkenal angkuh dan arogan tapi Victor tahu laki-laki itu mempunyai sisi lembut dan empati tinggi pada orang-orang terdekatnya, termasuk dirinya.


"Tentu saja aku sangat siaga." sahut Demian tak terima.


"Baguslah tuan, nanti kalau saya saja yang siaga nanti di kira nyonya muda istri saya lagi." celetuk Victor lagi.


"Sialan, ku pastikan kamu nggak ada bonus bulan ini." ancam Demian kesal.


"Jangan dong tuan, bagaimana saya bisa mencari calon istri kalau tidak ada bonus."


"Ck, bonusmu tak seberapa daripada gajimu Vic." cibir Demian.


"Pasrah deh." sahut Victor kemudian yang hanya di balas decakan kesal oleh Demian.


Beberapa saat kemudian Victor nampak mengerem mendadak dan itu membuat Demian yang fokus dengan ipadnya langsung mengumpat.


"Kalau cari mati jangan ajak-ajak, Vic." umpat Demian kesal.


"Maaf tuan, tiba-tiba saja ada yang menyeberang." sahut Victor beralasan.


Ia nampak mencengkeram kemudinya dengan kuat saat tak sengaja melihat Nina sedang menyeberang bersama dengan seorang laki-laki. Mereka terlihat sangat akrab dan keduanya sesekali tertawa bersama.


"Sialan." gumam Victor.


Entah kenapa hatinya terasa di remas saat melihat pemandangan itu, kemudian ia segera melajukan kembali mobilnya dengan kencang.

__ADS_1


__ADS_2