Menggenggam Rindu

Menggenggam Rindu
Part~39


__ADS_3

Hari ini Ricko pulang satu jam lebih awal, disaat teman-temannya sudah pada meninggalkan sekolahnya ia masih menunggu ibunya yang belum menjemputnya.


Ariana yang tidak mempunyai ponsel, tidak mengetahui hal itu. Karena setiap informasi dari sekolah selalu di sampaikan melalui grup chat kelasnya.


"Kakek siapa ?" Ricko yang sedang menunggu ibunya menjemput nampak di hampiri oleh seorang laki-laki paruh baya.


Sebenarnya Ricko di larang oleh ibunya untuk berbicara dengan orang asing, tapi melihat laki-laki tua yang sedang tersenyum ramah padanya itu ia jadi tidak tega mengabaikannya.


Lagipula sekolahnya itu sudah di jaga oleh beberapa security, jadi yang bisa masuk ke dalam sekolahnya tersebut pasti orang yang sudah di kenal saja dan yang memiliki akses sebuah kartu dan Ricko yakin kakek itu pasti salah satu orang tua murid di sana.


"Kamu belum di jemput, Nak ?" tanya tuan Anggoro, laki-laki itu nampak duduk di sebelahnya Ricko di bawah pohon rindang yang berada di area sekolah tersebut.


"Belum kek, ibuk tidak punya ponsel jadi tidak tahu kalau pulang cepat." sahut Ricko dengan senyumannya.


Tuan Anggoro nampak mengangkat sebelah alisnya, benarkah yang di katakan bocah kecil di sampingnya ini. Ternyata di zaman modern seperti saat ini masih ada juga orang yang belum mempunyai ponsel.


Tapi ia bersyukur dengan begitu ia bisa mengorek informasi dari anak itu tentang hubungan Demian dengan ibunya.


"Ibumu bekerja ?" ucapnya.


"Ibu jualan kue di rumah, kek."


"Lalu ayahmu ?"


"Ayahku ?" Ricko terdiam sejenak, ia mengingat kata-kata ibunya kalau tidak ada yang boleh tahu tentang Ayahnya apalagi Olive.


Ricko nampak menggelengkan kepalanya. "Dari kecil Ricko tidak mempunyai Ayah." sahut Ricko.


Tuan Anggoro nampak menatap lekat Ricko, ia jadi mengingat Demian semasa kecil. Meskipun tidak sepenuhnya mirip, tapi mata Ricko begitu mirip dengan Demian putranya.


Tapi kenapa Ricko mengatakan tidak mempunyai Ayah, padahal dari informasi yang dia dapat Demian semalam menginap di rumah bocah kecil itu.


Sedangkan Ricko nampak menatap Tuan Anggoro juga dengan seksama, ia sepertinya pernah melihat laki-laki tua di sampingnya itu tapi ia lupa kapan dan dimana.


"Kenapa menatap kakek seperti itu ?" tanya tuan Anggoro.


"Sepertinya Ricko pernah melihat kakek sebelumnya, tapi lupa di mana." sahut Ricko sembari terkekeh.


"Benarkah? mungkin hanya mirip saja." sahut tuan Anggoro yang juga nampak terkekeh.


Mungkin bocah kecil itu lupa, tapi tentu saja tuan Anggoro masih ingat. Ia pernah melihat Ricko sebelumnya di rumah sakit, di mana waktu itu ia sedang mengantar Olive untuk vaksin.


"Kamu tidak ikutan bermain bola ?" tanya tuan Anggoro ketika melihat Ricko nampak antusias melihat teman-temannya yang sedang bermain bola.


"Kaki Ricko baru sembuh kek, sama ibuk belum boleh main bola padahal Ricko ingin sekali main."


"Kenapa tidak main saja? kan ibumu tidak tahu."


Ricko menggelengkan kepalanya. "Ricko tidak mau membohongi ibuk kek, Ibuk sudah bekerja keras untuk Ricko. Jadi Ricko ingin jadi anak baik, meski Ricko pernah berbohong pada ibuk tapi Ricko sudah menyesal karena Tuhan sudah menghukum Ricko dengan kecelakaan." sahutnya polos.

__ADS_1


"Berbohong ?"


Ricko mengangguk. "Ricko pernah mengamen diam-diam dari ibuk, karena waktu itu ibuk memerlukan uang untuk membayar iuran sekolahnya Ricko." sahutnya jujur.


Mendengar ucapan Ricko, tuan Anggoro nampak menghela napasnya berat. Sesulit itu kah kehidupan bocah kecil itu dan kenapa tiba-tiba hatinya terasa sakit mendengarnya.


"Apa ayahmu tidak pernah pulang, Nak? sampai-sampai ibumu harus bekerja seorang diri." tanyanya penasaran.


"Kakek jangan bilang siapa-siapa ya, sebenarnya Ayah kandung Ricko sudah pulang kek, tapi Ricko tidak boleh mengatakan pada siapapun itu rahasia." Ricko nampak berbisik.


"Benarkah ?"


"Hmm." angguk Ricko yang terlihat senang ketika mengingat ayahnya.


"Dan ayah sudah janji pada Ricko tidak akan meninggalkan Ricko dan ibuk lagi." ucapnya kemudian.


"Kalau boleh kakek tahu, siapa nama ayahmu? dia pasti cakep seperti kamu." pancing tuan Anggoro.


"Namanya, Ayah Demian kek."


Deg!!


"Jadi dia benar cucuku ?"


"Tapi kakek janji ya jangan bilang siapa-siapa." ucap Ricko.


"I-iya nak, tentu saja kakek berjanji." Tuan Anggoro nampak begitu terharu, dari pertama melihat ia sudah yakin kalau Ricko adalah anak Demian dan sekarang dia semakin yakin.


"Nggak apa-apa nak, kakek hanya mengingat cucu kakek yang sudah lama tidak bertemu." dusta tuan Anggoro.


Ada perasaan sesal di hatinya ketika melihat cucu kandungnya itu ternyata hidup dalam kesusahan selama ini.


"Kakek bisa kok menganggap Ricko sebagai cucu kakek." ucap Ricko.


"Iya-iya kakek sangat senang kalau begitu, apa boleh kakek memelukmu ?"


"Tentu saja." sahut Ricko, kemudian ia membalas pelukan laki-laki tua yang duduk di sampingnya itu.


"Demian kamu harus menjelaskan ini semua padaku, bisa-bisanya kamu menelantarkan calon penerus Anggoro."


"Kamu mau beli es krim ?" tanya tuan Anggoro setelah mengurai pelukannya.


"Sebenarnya Ricko mau kek, tapi Ricko takut nanti ibuk nyariin Ricko."


"Masih ada waktu 30 menit sebelum ibumu datang, bagaimana kalau kakek belikan es krim di restoran itu dulu." Tuan Anggoro menunjuk sebuah restoran dua lantai yang berada di samping sekolahan tersebut.


"Di sana pasti mahal kek, bagaimana kalau beli di sana aja lebih murah." Ricko menunjuk penjual es krim keliling yang kebetulan sedang ngetem di depan sekolahnya.


"Jangankan membeli es krim yang mahal nak, pabriknya saja bisa kakek belikan untukmu."

__ADS_1


"Tapi kakek maunya di restoran itu es krimnya lebih enak." bujuk tuan Anggoro.


"Baiklah, tapi jangan salahkan Ricko ya kalau uangnya kakek akan habis." sahut Ricko yang langsung membuat tuan Anggoro terkekeh.


Disisi lain, Ariana nampak sedang sibuk di dapur barunya. Ia terlihat antusias dengan peralatan memasaknya itu, Demian sungguh pengertian karena mengetahui apapun kemauannya.


Sedangkan Demian terlihat sedang memeriksa berkas-berkas pekerjaannya di ruang kerjanya. Laki-laki itu sepertinya sudah memindahkan ruang kerjanya di rumahnya bersama Ariana.


Karena setelah bercerai dari Monica, ia berencana akan langsung menikahi Ariana dan memulai hidup bersama keluarga kecil mereka di sini.


Ia sudah membayangkan akan memberikan banyak adik untuk Ricko yang pastinya akan membuat rumahnya semakin ramai oleh mereka.


Ah baru membayangkan saja, Demian sudah sesenang itu. Ia tiba-tiba jadi merindukan wanitanya itu yang tadi katanya ingin memasak untuknya dan sang Putra.


Padahal ia sudah menyiapkan ART untuk mengerjakan semuanya, tapi sepertinya wanita itu lebih suka memasak sendiri.


"Harumnya sampai ruang kerjaku, sayang." Demian nampak memeluk Ariana dari belakang ketika wanita itu sedang sibuk mencuci peralatan masaknya.


"Lepaskan mas, aku sedang mencuci nih."


Bukannya melepaskannya, Demian justru mengangkat tubuh Ariana lalu mendudukkannya di meja samping wastafel.


"Mas, cucianku belum selesai." protes Ariana.


"Biar ART saja yang mengerjakan sayang, percuma dong aku bayar mereka jika kamu sendiri yang mengerjakannya."


"Tapi aku bisa mengerjakannya sendiri, mas."


"Aku tidak suka di bantah, sayang."


"Dasar tuan pemaksa." cebik Ariana.


"Apa kamu bilang, sayang ?"


"Aku bilang kamu itu tuan pemak....hmmptt." Ariana tak dapat melanjutkan perkataannya karena bibirnya sudah di bungkam oleh bibir Demian, laki-laki itu selalu saja menyerangnya tiba-tiba.


"Balas, sayang." ucap Demian ketika Ariana nampak terdiam karena terkejut.


Ketika Ariana membuka sedikit bibirnya, Demian langsung melesatkan lidahnya masuk ke dalam.


Mereka nampak saling melum😘t dan menghisap hingga membuat keduanya saling mendesah di sela ciumannya tersebut.


Demian nampak menahan tengkuk Ariana agar ciumannya semakin dalam dan itu membuat Ariana mendesah tak tertahan sembari meremas kemeja laki-laki itu.


Dan tak berapa lama Victor tiba-tiba datang, laki-laki itu nampak mengumpat dalam hati ketika lagi-lagi melihat adegan mesum sang atasannya.


Namun kali ini ia tak bisa menghindar, karena ada informasi penting yang harus segera ia sampaikan.


Ehmmm

__ADS_1


Victor langsung berdehem agar kedua insan yang sedang di mabuk asmara itu menyudahi aksinya yang selalu membuatnya ingin mengumpat.


"Maaf, tuan." ucapnya yang langsung membuat Demian menatapnya tajam karena asistennya itu sudah berani-beraninya mengganggunya.


__ADS_2