
Dua tahun kemudian....
Setelah berhasil melewati berbagai macam ujian dalam hubungannya, Demian dan Ariana kini telah hidup bahagia bersama keluarga kecilnya.
Meski terkadang ujian-ujian kecil masih menghampiri kehidupan mereka, namun mereka bisa mengatasinya bersama.
Tapi lain halnya dengan Edgar, laki-laki baik hati yang pernah berada di tengah-tengah hubungan Demian dan Ariana itu kini kisah cintanya baru di mulai.
"Tuan baik-baik saja Non, hanya saja Non Sera sudah putus dengan tuan Arhan satu bulan yang lalu."
Di sebuah Apartemen nampak seorang wanita cantik tersenyum sinis setelah membaca pesan dari ARTnya. Sejak bercerai dan memberikan aib pada keluarga besarnya Dena memutuskan untuk meninggalkan rumah mewahnya itu yang sudah ia tempati sejak ia di lahirkan.
Dena Winata 24 tahun harus menerima nasibnya menjadi janda dan single parent di usia mudanya.
Selama satu tahun pernikahannya, Dena berusaha menumbuhkan rasa cintanya pada sang suami. Di saat ia mulai mencintainya justru ia mendapatkan balasan dengan sebuah penghianatan.
"Anak Mama sudah bangun, sayang." ucapnya saat melihat malaikat kecilnya nampak mengerjapkan matanya dan langsung tersenyum saat menatap dirinya.
Ia segera merebahkan dirinya di samping bocah laki-laki berumur satu setengah tahun itu lalu mulai memberikan asinya.
Setelah bayinya merasa kenyang, Dena segera memandikannya dan ia juga harus bersiap-siap ke kantornya.
Bau bedak bayi menguar di mana-mana bahkan menempel di pakaian kerjanya, namun Dena tak mempermasalahkan bahkan ia sangat menyukainya.
Dena sangat menyayangi bayinya itu, bayi berwajah tampan yang tidak pernah ia ketahui di mana ayahnya.
Dulu dia memang pernah membuat kesalahan, rasa sakit hatinya pada sang suami membuatnya melakukan sebuah perbuatan gila.
Selama satu tahun pernikahannya, ia pikir suaminya itu tak pernah menyentuhnya karena masih belum siap. Karena pernikahan mereka memang di dasari oleh sebuah perjodohan bisnis.
Namun di saat anniversary pernikahannya yang pertama dengan mata kepalanya sendiri ia melihat suaminya itu tengah memadu kasih dengan adik tirinya.
Awalnya Dena sangat bahagia karena ia pikir perjalanan bisnis suaminya ke Jerman bersamanya sekaligus sebagai honey moon mereka yang tertunda.
Namun perkiraan Dena salah, karena di belakangnya ternyata suaminya itu justru banyak menghabiskan waktu bersama adik tirinya yang saat itu menjadi model dari produk yang laki-laki itu pasarkan.
"Mas Arhan, Sera." pekik Dena saat membuka kamar hotel sang adik dan melihat suaminya itu sedang berada di atas tubuh adik tirinya tanpa sehelai benang yang menutupi tubuh mereka.
Dena seperti di hantam sebuah godam yang sangat besar, meski pernikahan mereka berdasarkan perjodohan tapi ia membenci penghianatan.
"Kenapa kalian tega melakukan ini padaku ?" teriaknya lagi.
__ADS_1
Namun bukan perasaan bersalah yang keluar dari mulut suaminya justru sebuah pengakuan yang membuatnya langsung membenci laki-laki itu.
"Karena selama ini wanita yang ku cintai hanya Sera." ucap Arhan Bagaskara.
"Kalau kamu mencintainya kenapa lebih memilih menikahi ku ?" teriak Dena tanpa mau mendekat, ia merasa jijik dengan laki-laki itu.
"Karena karir Sera sedang berada di puncak dan aku tidak mau menghancurkannya dengan menikahinya." sahut Arhan tak tahu diri.
"Dan kamu lebih rela menghancurkanku ?" pekik Dena tidak terima.
"Sudahlah kak tidak usah sok teraniaya begitu, asal kamu tahu dari dulu kami sudah saling mencintai dan apa salahnya kamu berkorban demi nama baik keluarga kita." timpal Sera tak tahu malu.
Dena yang belum bisa menerima kenyataan, ia nampak mengepalkan tangannya. Ia tidak menyangka selama ini hanya di jadikan tumbal bisnis keluarganya.
Arhan adalah seniornya di kampus, meski sebelumnya mereka tidak dekat tapi Dena tahu Arhan laki-laki yang baik dan terhormat. Oleh karena itu ia setuju ketika ayahnya menjodohkan mereka.
Bahkan selama pernikahannya Arhan selalu bersikap baik padanya meski laki-laki itu belum pernah menyentuhnya dengan alasan belum siap.
Dena yang terpukul langsung meninggalkan kamar hotel tersebut lalu berlalu pergi ke sebuah bar yang berada di kota Jerman itu.
Dena frustrasi dan sakit hati, ia banyak sekali minum malam itu dan ketika matanya mengedarkan pandangannya ke seluruh Bar tersebut.
Dena sepertinya memang sudah tidak waras, tanpa malu ia langsung duduk di pangkuan pria asing itu.
"Tuan, maukah malam ini kamu tidur denganku? uangku sangat banyak aku pasti akan membayarmu." pintanya.
Meski kini ia sedang mabuk tapi ia masih sadar dengan ucapannya sendiri, suaminya saja bisa tidur dengan wanita lain kenapa dirinya tidak.
Dena teramat sakit hati hingga mengesampingkan harga dirinya sebagai wanita baik-baik.
Dan malam itu ia melampiaskan sakit hatinya dengan melakukan one night stand bersama laki-laki asing yang tak pernah ia ketahui identitasnya.
Dena menghela napas panjangnya saat mengingat masa lalunya itu, ia sama sekali tak menyesal mempunyai seorang putra tanpa tahu siapa ayah biologisnya.
Lagipula ia tidak memerlukan suami, ia mampu mengasuh putranya sendiri. Ia benci penghianatan dan ia berencana tidak akan menikah seumur hidupnya.
Penghianatan yang di lakukan ayahnya pada mendiang ibunya dan mantan suaminya padanya, membuat Dena sangat membenci laki-laki. Rasa traumanya begitu dalam hingga ia menutup hatinya rapat-rapat.
"Bik, kalau ada apa-apa segera hubungi saya." ucap Dena pada pengasuh anaknya.
Pagi itu Dena sedikit terlambat pergi ke kantornya karena putranya sedikit rewel, sesampainya di kantor ia tercengang saat melihat semua karyawan berbaris rapi di lobby perusahaannya tersebut.
__ADS_1
"Ada apa ini ?" tanyanya pada Nay sahabatnya sekaligus teman kerjanya setahun belakangan ini.
"Astaga Dena untung kamu cepat datang, hari ini kita kedatangan CEO baru." ucap Nay antusias.
"Oh." Dena hanya ber oh ria, ia lupa kalau pagi ini ada penyambutan CEO baru di perusahaannya. Pantas saja semua karyawan wanita di sana berpenampilan habis-habisan hari itu.
"Kamu tidak penasaran gitu ?" Nay heran dengan sikap cuek sahabatnya itu, di saat karyawan lain sangat antusias justru wanita itu seperti tidak peduli.
"Lalu aku harus bersikap bagaimana Nay sayang, pemimpin baru atau lama juga sama aja kan." sahut Dena yang memang kurang peduli.
Karena selama satu tahun bekerja di kantor ini ia hanya sekali bertemu dengan pemilik perusahaan tersebut itupun saat dirinya menghadiri Anniversary perusahaan itu.
Sebagai karyawan biasa di departemen keuangan, pekerjaannya hanya berkutat seputar keuangan perusahaan tanpa berhubungan langsung dengan para pemimpin di sana apalagi sekelas CEO.
"Tapi dengar-dengar CEO kita yang baru ini masih single dan sangat tampan." ujar Nay antusias.
"Terus aku harus bilang wow gitu, mantan suamiku juga tampan tapi bajingan." sewot Dena.
"Tapi tidak semua pria seperti mantan suami mu itu kali." sahut Nay tak kalah sewot.
"Tapi bagiku semua laki-laki itu bajingan." tegas Dena.
"Termasuk papaku sendiri." lanjutnya dalam hati.
Dena lahir dari keluarga terpandang, namun semenjak ibunya meninggal dan sang ayah membawa wanita lain ke dalam rumahnya beserta seorang anak yang seumuran dirinya yang laki-laki itu akui sebagai putrinya juga sejak saat itu hidup Dena seperti di neraka.
Ibu tirinya itu benar-benar sangat baik dalam memerankan peran ibu tiri yang hanya baik saat di depan ayahnya saja.
Hingga saat ini hubungannya dengan sang Ayah sangat renggang karena banyaknya kesalah pahaman yang di buat oleh ibu tirinya itu.
Apalagi saat dirinya membuat aib dengan hamil tanpa tahu siapa yang menghamilinya membuatnya semakin di benci keluarganya sendiri.
Tapi Dena tidak menyesal, ia bahagia dengan hidupnya saat ini. Semoga saja ayah biologis putranya tidak pernah muncul di hadapannya lagi.
"Tentu saja tidak akan pernah muncul, Jerman dan Indonesia itu sangat jauh Dena." itulah kata-kata yang sering Dena ucapkan untuk meyakinkan dirinya sendiri.
Namun sepertinya harapannya itu hanya angin semata, karena sosok yang tak pernah ia harapkan kehadirannya kini berdiri dengan gagah di atas panggung.
Nampak dua sosok laki-laki tampan berbeda generasi berdiri di panggung itu, Tuan King Bryan pemilik perusahaannya dan sang pewaris Edgar Bryan.
"Mampus."
__ADS_1