Menggenggam Rindu

Menggenggam Rindu
Part~136


__ADS_3

"Jadi tender kita gagal lagi ?" Edgar terlihat geram.


"Benar tuan, lagi-lagi tuan Arhan Bagaskara yang mendapatkannya." sahut Juno.


"Sebenarnya ada masalah apa dia sama perusahaan kita ?" Edgar masih tidak mengerti tujuan laki-laki itu yang akhir-akhir ini selalu mengganggu perusahaannya.


"Saya belum bisa memastikan, tuan. Tapi apa mungkin ini semua berhubungan dengan Dena ?" sangka Juno.


Edgar langsung memicing. "Maksud kamu ?" ucapnya tak mengerti.


"Bisa jadi tuan Arhan tidak menyukai Dena bekerja di sini, tapi itu hanya perkiraan saya saja." sahut Juno.


"Itu tidak mungkin Jun, mereka sudah lama berpisah." sangkal Edgar.


"Semua bisa saja terjadi tuan, setelah bercerai dari Dena tuan Arhan tidak terlihat dekat dengan wanita manapun. Apalagi di antara mereka ada putranya, bisa saja tuan Arhan menginginkan rujuk dengan Dena demi putranya." ujar Juno berspekulasi.


Mendengar itu Edgar nampak kesal sendiri. "Apa kamu yakin Arhan tidak dekat dengan wanita manapun ?" ucapnya kemudian.


"Saya sudah menyelidikinya tuan, beliau tidak pernah dekat dengan wanita manapun. Meski ada beberapa foto yang beredar bersama nona Sera, tapi semua berhubungan dengan pekerjaan karena waktu itu nona Sera menjadi model produknya." sahut Juno seraya menunjukkan beberapa foto kebersamaan Sera dan Arhan di ponselnya.


Tentu saja Juno tidak bisa mengendus hubungan Arhan dan Sera karena mereka menutupinya dengan rapat, bahkan tuan Winata pun tidak mengetahui putri keduanya itu sudah menikung suami kakaknya.


"Mereka terlihat sangat akrab." ucap Edgar saat melihat foto-foto itu, namun ia sedikit heran dengan cara Arhan menatap Sera seperti sebuah tatapan penuh cinta.


"Apa mungkin mereka ada hubungan sebelumnya ?" gumam Edgar.


"Apa ada yang mengganggu pikiran anda, tuan ?" tanya Juno saat melihat Edgar nampak berpikir.


"Kamu merasa tidak sih kalau tatapan Arhan ke Sera itu berbeda ?" tanya Edgar seraya menunjuk salah satu foto di ponsel Juno.


"Anda tidak sedang cemburu kan, tuan ?" tanya balik Juno.


"Ck....." Edgar berdecih, namun ia langsung mengangkat kepalanya saat pintu ruangannya tiba-tiba terbuka.


"Maaf pak menggangu, 30 menit lagi meeting akan di mulai." ucap Dena mengingatkan.


Edgar nampak menatap lekat Dena. "Cantik." gumamnya, meski Dena selalu berpakaian sopan tapi menurutnya wanita itu selalu terlihat cantik.


"Bagaimana anda bisa cemburu pak, sedangkan wanita yang anda inginkan sudah berada di depan mata." gumam Juno.


"Jadi bagaimana pak, langsung meeting atau di tunda ?" tanya Dena saat Edgar tak menjawabnya.

__ADS_1


"Langsung saja." sahut Edgar seraya bangkit dari duduknya.


Meeting sore itu di adakan di sebuah restoran, namun tanpa Dena sadari sepanjang meeting nampak seorang pria sedang mengawasinya


"Apa bisa saya langsung pulang, pak. Hari ini mobil saya di bengkel kalau saya ke kantor lagi itu terlalu jauh." mohon Dena saat mereka baru beranjak dari tempat meeting.


"Di mana rumahmu? biar saya yang antar." tawar Edgar.


"Rumah saya di sekitar sini saja kok pak, saya bisa naik taksi online." tolak Dena.


"Saya tidak suka penolakan." tegas Edgar.


Namun itu justru membuat Dena kesal, bagaimana kalau Edgar akan mengantarnya sampai depan pintu Apartemennya dan laki-laki itu pasti akan melihat putranya. Karena akhir-akhir ini Elkan selalu menyambutnya saat ia pulang kantor.


"Dena akan pulang bersama saya." tiba-tiba saja Arhan datang menghampiri mereka.


"Pria ini." Edgar langsung memicing.


Ini pertama kalinya ia bertemu langsung dengan Arhan Bagaskara, pria yang akhir-akhir ini selalu merebut tendernya. Namun Edgar tidak bisa menuduhnya secara langsung karena persaingan di dunia bisnis itu hal wajar.


"Arhan ?" Dena terkejut, namun ia juga bersyukur karena kehadiran laki-laki itu ia jadi mempunyai alasan untuk menolak tawaran Edgar.


Namun sepertinya mereka berdua enggan untuk berjabat tangan, bahkan tatapan permusuhan nampak jelas di mata mereka.


Melihat aura tak bersahabat dua laki-laki yang ada di hadapannya itu, Dena langsung mengalihkan perhatian mereka.


Dena bisa menebak mereka pasti sedang bersaing memperebutkan saudara tirinya itu, yang satunya berstatus mantan kekasih dan satunya lagi kekasih barunya.


"Ayo Arhan antar aku pulang, putraku pasti sangat merindukan papanya." ajak Dena beralasan.


"Pak Edgar, pak Juno kalau begitu saya permisi dulu." lanjutnya lagi, kemudian ia segera berlalu pergi meninggalkan restoran tersebut.


Edgar yang menatap kepergian Dena nampak mengepalkan tangannya geram, ia benci di abaikan dan sekretarisnya itu sudah mengabaikannya bahkan menolak tawarannya.


"Sial." gumam Edgar, sekretarisnya itu selalu saja membuatnya emosi dan sepertinya sekali-sekali ia harus menghukumnya.


"Mobilmu kemana ?" tanya Arhan saat baru melajukan mobilnya.


Sebenarnya Dena tidak sudi satu mobil dengan mantan suami itu, bahkan kalau bisa ia tidak ingin bertemu lagi. Bayangan perselingkuhan laki-laki itu masih membuatnya jijik.


"Di bengkel." sahut Dena dingin.

__ADS_1


"Aku bisa membelikanmu mobil baru kalau kamu mau." tawar Arhan.


"Tidak perlu, terima kasih." tolak Dena.


"Anggap saja hadiah buat putraku." bujuk Arhan.


"Dia bukan putramu." ketus Dena, meski secara administrasi Arhan adalah ayahnya Elkan.


"Lalu siapa ayahnya ?" Arhan nampak menatap Dena sekilas, dari dulu ia sangat penasaran siapa yang sudah beruntung meniduri mantan istrinya itu.


"Bukan urusanmu dan lebih baik kamu tidak usah ikut campur." sahut Dena memperingatkan.


"Apa pria itu ayah kandungnya Elkan ?" ucap Arhan yang langsung membuat Dena menatap ke arahnya.


"Edgar Bryan, ayah kandung Elkan kan ?" lanjut Arhan menatap Dena.


Deg!!


"Kenapa Arhan bisa tahu ?"


"Siapa pun ayahnya Elkan, itu bukan urusanmu." ketus Dena.


"Dena-Dena, bagaimana pun kamu berkelit kemiripan wajah mereka tidak bisa kamu tutupi atau jangan-jangan kamu sengaja bekerja di sana untuk menjerat laki-laki itu lagi." cibir Arhan.


"Tutup mulutmu, sampai kapan pun Elkan hanya milikku seorang dan cepat turunkan aku di sini, jika tidak aku akan loncat." ancam Dena geram.


Arhan nampak melihat keseriusan di wajah Dena kemudian ia langsung menepikan mobilnya.


"Aku akan melindungi kalian, karena jika Sera tahu maka ia bisa berbuat nekat." ucapnya.


"Aku bisa melindungi diriku sendiri dan Elkan." sahut Dena kemudian ia segera keluar dari dalam mobil tersebut.


Dena nampak berjalan kaki menuju Apartemennya yang masih berjarak 100 meter di depannya sana.


Ia terlihat menenteng heelsnya dan membiarkan kakinya menapaki jalanan tanpa alas.


"Elkan hanya milikku, siapa pun yang berani mengusiknya aku akan membunuhnya."


Dena terlihat mengepalkan tangannya, matanya nampak memerah dan di saat seperti ini ia membutuhkan sesuatu yang bisa menenangkannya.


Namun tanpa Dena sadari, sedari tadi Edgar mengikutinya, laki-laki itu nampak melihat sebuah bangunan Apartemen yang di masuki oleh wanita itu.

__ADS_1


__ADS_2