
Sebelum naik ke Apartemennya, Dena nampak melangkah menuju salah satu Cafe yang ada di lobby Apartemennya tersebut.
Ia memesan satu gelas minuman berakohol serta sebatang rokok sudah berada di tangannya. Ia tidak bisa pulang ke rumahnya jika pikirannya sedang kacau, karena jika itu terjadi maka sepanjang malam tidurnya akan terganggu oleh mimpi-mimpi buruk masa lalunya.
Dia butuh menenangkan dirinya dan segelas alkohol serta rokok selalu bisa membuatnya lebih baik. Dena menyadari ia sudah begitu candu dengan hal itu dan ia tidak tahu bagaimana cara menghentikannya.
Dena tidak peduli tanggapan orang mengenainya, karena orang lain tidak pernah merasakan menjadi dirinya.
Sebenarnya Dena sangat rapuh, dia depresi, dia membutuhkan seseorang yang bisa memeluknya dan memberinya kenyamanan.
"Mama, aku merindukanmu. Mama janjikan akan melindungiku dari atas sana tapi kenapa di saat Mama Sita menyiksaku dan papa memusuhiku Mama diam saja."
Di saat seperti ini Dena ingin sekali mengakhiri hidupnya, namun bagaimana dengan Elkan. Ia tidak rela jika Elkan di asuh oleh Edgar dan juga Sera.
Saat ini Dena seperti sedang menunggu bom waktu meledak, di mana saat itu Edgar akan mengetahui anak kandungnya begitu juga dengan sera wanita itu pasti tidak akan tinggal diam saat mengetahui putranya adalah darah daging Edgar.
Beruntung selama ini baik Sera maupun keluarganya tidak pernah melihat wajah Elkan kalau tidak mungkin reaksi mereka akan sama seperti Arhan.
Dena nampak terisak dalam diam, ia menyandarkan kepalanya di sebuah sofa seraya memejamkan matanya sesaat. Namun tiba-tiba ia merasakan sebuah bahu kokoh dan hangat menjadi sandarannya.
Jika ini memang mimpi, ia ingin merasakan barang sekejap. Dena juga manusia normal, ia ingin sebuah pelukan dan juga kasih sayang dari seseorang.
Hanya saja nasib seakan mempermainkannya, ia selalu sendiri dan di benci.
Setelah merasa lebih tenang, Dena nampak membuka matanya dan ia sangat terkejut saat melihat siapa yang berada di sampingnya itu.
"Pak, pak Edgar ?" Dena terkejut, jadi sedari tadi yang memeluknya dan memberinya bahunya sebagai sandarannya adalah atasannya itu.
Dengan cepat Dena langsung beringsut menjauh, ia pikir tadi hanya hayalannya saja.
"Bukannya pulang, kenapa justru kesini. Apa melakukan hal ini sudah menjadi kebiasaanmu ?" tegur Edgar seraya melihat segelas alkohol yang sudah tandas serta beberapa puntung rokok.
"Bukan urusan anda, jam kerja saya sudah berlalu jadi apapun yang saya perbuat itu urusan saya." sahut Dena dengan dingin.
Dia tidak suka jika ada orang yang ikut campur kehidupannya, karena mereka hanya bisa mencibirnya tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi.
Edgar jadi merasa gemas, Dena selalu saja membuatnya emosi. Tidak bisakah wanita ini berkata lembut sedikit.
Tak perduli dengan reaksi sekretarisnya itu, Edgar langsung menahan tengkuk wanita itu lalu melum😘t bibirnya dengan rakus.
Aroma alkohol dan juga asap rokok begitu menyengat dari bibir Dena, tapi Edgar tidak peduli. Ia hanya mengikuti kata hatinya, ia ingin menyentuhnya. Merasakan bibir wanita itu yang ternyata sangat manis meski biasanya hanya kata-kata pedas yang keluar dari mulut itu.
Dena terkejut, matanya nampak melotot saat tiba-tiba Edgar menciumnya. Namun ia tidak bisa menghindar, pria berparas bule itu terlalu mendominasi membuat dirinya yang rapuh jatuh ke dalam permainannya.
__ADS_1
Sekian lama Edgar bermain-main di dalam bibir sekretarisnya itu, meski wanita itu tidak membalas ciumannya tapi ia merasa puas dan sepertinya ia mulai candu dengan rasanya.
Plakkk
Sebuah tamparan berhasil mendarat di pipi Edgar saat ia melepaskan panggutannya.
Dena menatapnya tajam penuh dengan amarah, berani sekali laki-laki itu menyentuhnya.
Tanpa berkata-kata lagi ia langsung beranjak dari sana lalu melangkahkan kakinya pergi.
Edgar yang melihat kepergian Dena hanya bisa menatapnya seraya tersenyum sinis.
Ini ciuman keduanya dalam hidupnya pada wanita yang sama juga, tapi ia tidak menyesalinya meski ia harus merasakan tamparan wanita itu.
"Kamu sudah mencuri hatiku dan kamu harus mengembalikannya bersama juga dengan hatimu." gumam Edgar seraya memegang pipinya yang terasa panas.
Sesampainya di Apartemennya, Dena segera membersihkan dirinya ia tidak mau putranya itu mencium alkohol serta asap rokok di tubuhnya.
Dena terlihat menangis dalam guyuran air shower mengingat bagaimana Edgar menciumnya tadi, baginya semua laki-laki itu sama saja tidak pernah merasa puas dengan satu perempuan dan ia membenci itu.
"Bik, mulai sekarang jangan pernah membawa Elkan keluar dari sini." perintah Dena setelah keluar dari kamarnya.
"Tapi kenapa, Bu ?" tanya bik Mina penasaran, tak biasanya majikannya itu bersikap seperti itu.
"Baik, bu." sahut bik Mina patuh.
"Siapa pun yang datang ke sini jangan pernah di buka, baik itu Arhan sekalipun." ucap Dena lagi.
"Baik, bu."
"Maafkan aku ya Bik banyak merepotkan bibik." ucap Dena kemudian.
"Ibu tenang saja, ibu orang yang baik Tuhan pasti akan menjaga kita semua." sahut bik Mina menenangkan, meski sikap Dena terkadang dingin dan tertutup tapi bik Mina tahu Dena wanita yang baik hati.
Keesokan harinya....
"Selamat pagi pak." sapa Dena dengan datar seperti biasa saat atasannya itu baru datang, ia seakan melupakan kejadian kemarin sore saat bossnya itu dengan lancang menciumnya.
Edgar menatap sekilas mata Dena yang terlihat sedikit membengkak, namun melihat reaksi wanita itu yang selalu dingin dan datar membuatnya urung bertanya.
"Sayang."
Edgar langsung terkejut saat tiba-tiba Sera datang lalu memeluknya dari belakang.
__ADS_1
"Astaga Sera, apa yang kamu lakukan pagi-pagi di kantorku ?" tanya Edgar.
"Tentu saja aku merindukanmu." sahut Sera dengan manja.
Sera nampak enggan menatap Dena, ia tidak menyukai Dena bekerja dengan Edgar dan ia akan membujuk kekasihnya itu untuk memecat saudara tirinya itu.
"Baiklah, ayo masuk." Edgar mengajak Sera yang masih memeluknya itu masuk ke dalam kantornya, namun sebelum itu ia melihat reaksi sekretarisnya tersebut.
Namun sepertinya wanita itu tidak peduli, Dena justru sibuk dengan layar komputer di depannya itu.
"Aku sedang banyak kerjaan, Ser." ucap Edgar saat berada di dalam ruangannya, ia melangkahkan kakinya menuju kursi kerjanya dan membiarkan Sera duduk di sofa sendirian.
"Tapi aku bolehkan menemanimu di sini? aku janji tidak akan mengganggumu." mohon Sera.
"Memang kamu tidak ada pemotretan hari ini ?" tanya Edgar.
"Aku hari ini free, makanya aku ingin menemanimu di sini." sahut Sera.
"Dena, bisa kamu bawakan file yang kamu kerjakan kemarin." perintah Edgar saat menghubungi sekretarisnya tersebut melalui sambungan telepon.
"Baik, pak." sahut Dena dari ujung telepon.
Sera yang mendengar itu ia langsung beranjak dari duduknya kemudian mendekati Edgar.
"Sera apa yang kamu lakukan ?" Edgar nampak terkejut saat tiba-tiba Sera duduk di pangkuannya dan bersamaan itu Dena juga masuk ke dalam ruangannya.
Dena yang melihat pasangan kekasih yang terlihat intim itu nampak tersenyum sinis, tidak bisakah mereka melakukannya di luar jam kerja.
"Sungguh menjijikkan." umpat Dena dalam hati.
Edgar menatap wajah Dena yang terlihat biasa saja dan entah kenapa itu justru membuatnya tidak suka.
"Apa ada lagi, pak ?" tanya Dena setelah menyerahkan file tersebut.
"Tidak ada, keluarlah." sahut Edgar dingin.
"Kalau begitu saya permisi." sahut Dena, pandangannya nampak terkunci beberapa saat dengan Edgar namun setelah itu ia segera berlalu pergi dari sana.
Sera yang menyadari kekasihnya itu memperhatikan Dena, ia nampak geram. Tidak, Edgar tidak boleh menyukai saudara tirinya itu.
Sepertinya ia harus membujuk orang tuanya untuk mempercepat pertunangannya dengan Edgar.
"Sayang, kalau kamu tidak ingin cepat menikah bagaimana kalau kita bertunangan dulu." ucap Sera yang langsung membuat Edgar terkejut menatapnya.
__ADS_1