
Melihat Dena menggandeng lengan Arhan, Sera nampak tak suka. Ia tidak suka jika Dena bahagia. Arhan dan Edgar dua-duanya adalah pria kaya raya dan Sera tidak ingin Dena mendapatkan salah satu dari mereka.
Kalau saja ia tak ketahuan selingkuh dengan Edgar, mungkin sampai saat ini ia masih diam-diam berhubungan dengan Arhan.
Arhan sangat berbeda dengan Edgar, Arhan sangat perhatian dan peduli padanya. Sedangkan Edgar pria kaku dan dingin.
Namun begitu ia harus bisa membuat Edgar menyukainya karena ia tidak mungkin kembali lagi pada Arhan. Laki-laki itu sudah membuangnya semenjak mengetahui perselingkuhannya.
"Maaf Pa, Dena harus pergi." ucap Dena seraya menatap sang ayah.
Sedangkan Sera dan ibu tirinya nampak tersenyum mengejek saat Dena menatapnya.
Tak mau melihat drama mereka lagi, Dena memutuskan segera pergi dari sana meski sebenarnya ia masih sangat merindukan ayahnya.
Melihat kepergian Dena bersama mantan suaminya, tanpa sadar Edgar ingin mengejarnya. Namun sepertinya ia lupa kalau saat ini sedang bersama kekasih serta keluarga besarnya.
"Sayang, kamu mau kemana ?" cegah Sera.
Edgar nampak menghela napasnya kasar. "Mau ke toilet." sahutnya.
"Bukannya kamu tadi habis dari toilet? lagipula toiletnya ke arah sana bukan kesitu." ucap Sera mengingatkan.
"Aku sedang banyak kerjaan Ser, apa kamu belum selesai ?" tegas Edgar kemudian.
"Tapi ini weekend sayang, kamu libur." ucap Sera, ia sedikit curiga dengan tingkah aneh kekasihnya itu.
"Sera please aku harus pergi." tegas Edgar.
"Maaf semuanya saya ada pekerjaan mendadak." ucapnya lagi, kemudian ia berlalu pergi sebelum kedua orangtuanya itu memprotesnya.
"Sialan, kamu pasti mau mengejar Dena kan, aku sudah curiga dari caramu menatapnya kamu pasti menyukainya."
Sera terlihat geram, kemudian ia kembali masuk ke dalam butik karena masih ada gaun yang belum ia coba.
"Aku bersumpah akan membuatmu menjadi milikku, seperti Arhan dahulu. Sampai kapanpun milik Dena adalah milikku."
Sementara itu Dena yang baru sampai di Apartemennya nampak menegur bik Mina karena kecerobohannya.
"Bik, lain kali jangan seperti itu lagi ya. Saya tidak mau Elkan bertemu dengan orang asing lagi seperti tadi." tegurnya.
"Maaf Bu." sahut bik Mina yang memang merasa sangat bersalah karena membiarkan Kristal membawa Elkan bertemu dengan keluarganya.
"Baiklah, tolong mandikan Elkan dan sepertinya dia juga lapar. Saya mau istirahat sebentar." perintah Dena kemudian ia berlalu ke kamarnya.
Dena menghempaskan tubuhnya di kursi yang ada di balkon kamarnya. Matanya nampak menatap gedung-gedung tinggi di depannya itu.
"Kalian sudah terlalu lama hidup bahagia, sepertinya ini saatnya aku mengambil apa yang sudah menjadi milikku. Tak peduli aku harus menyakiti banyak orang."
__ADS_1
Dena nampak menyalakan pematik rokoknya, saat ia hendak menghisap benda putih pipih itu tiba-tiba sebuah tangan kekar merampasnya darinya.
"Kamu ?" Dena terkejut saat melihat Edgar sudah berada di sampingnya.
"Apa kamu ingin meracuni anakku ?" hardik Edgar seraya meremas rokok tersebut hingga hancur tak peduli tangannya terasa panas.
"Siapa yang mengizinkan mu masuk ke rumahku bahkan ke dalam kamarku ?" tegas Dena, hilang sudah sopan santunnya terhadap bossnya itu.
"Aku berhak menemui anakku kapan saja." sahut Edgar.
"Tapi bukan berarti kamu bisa seenaknya nyelonong masuk ke dalam kamarku." tegur Dena.
"Kalau aku tidak nyelonong kesini, mungkin kamu sudah menghabiskan sebungkus rokok itu. Apa kamu sadar itu sangat berbahaya buat Elkan ?" teriak Edgar.
Dena tahu itu, tapi ia tidak tahu bagaimana caranya berhenti. Benda putih pipih itu seakan menjadi candu baginya saat dirinya sedang kacau.
"Bukan urusanmu." ketus Dena.
"Segala sesuatu yang berhubungan dengan Elkan akan menjadi urusanku." tegas Edgar.
"Dia bukan putramu." cibir Dena.
"Seyakin itu ?" ejek Edgar seraya mengangkat sebuah amplop putih di depan mata Dena.
"Dia putra kandungku, tentu saja aku akan melakukan apa saja untuknya." lanjutnya.
Dena tercengang. "Apa ini ?" tanyanya saat Edgar memberikan amplop itu padanya.
Dena segera membuka amplop tersebut, ternyata itu adalah hasil tes DNA Elkan dan Edgar.
"Secepat ini ?" tanya Dena tak percaya.
"Uang bisa melakukan segalanya yang lambat pun bisa menjadi cepat." jawab Edgar.
"Dan kamu tidak merekayasa ini semua dengan uangmu kan ?" tanya Dena curiga saat melihat hasil tes itu menunjukkan bahwa Edgar ayah kandung Elkan, meski pada kenyataannya Edgar memang ayah kandungnya putranya itu.
"Memang selama ini sudah berapa banyak laki-laki yang menidurimu ?" geram Edgar menatap Dena.
"Ba.... hmmptt." Dena tak dapat menyelesaikan perkataannya karena Edgar sudah membungkam bibirnya dengan bibir laki-laki itu.
Hanya sebuah kecupan, lalu Edgar menjauhkan bibirnya kembali. Karena ia tidak mau Dena menganggapnya kalau dirinya sedang merendahkan wanita itu.
Namun tanpa ia sangka, Dena justru meraih tengkuknya lalu melahap bibirnya dengan rakus. Meski ciuman wanita itu begitu amatiran tapi sukses memancing hasratnya.
Edgar laki-laki normal dan tentu saja ia takkan menyia-nyiakan kesempatan di depan matanya itu, apalagi wanita itu adalah Dena. Wanita yang sudah membuatnya penasaran sepanjang hidupnya.
Edgar langsung membalas ciuman wanita itu dengan tak kalah rakusnya, ia melum😘tnya dan juga menyesapnya hingga membuat Dena mengerang nikmat.
__ADS_1
Setelah keduanya merasakan napasnya tersengal, mereka baru melepaskan panggutannya lalu saling mengambil napas sebanyak mungkin.
"Jika kamu ingin memiliki Elkan, maka menikahlah denganku." ucap Dena yang langsung membuat Edgar menatapnya tak percaya.
"Kamu serius ?" Edgar seperti sedang bermimpi saat tiba-tiba Dena mengajaknya menikah.
"Hm, tentu saja. Bukannya Elkan membutuhkan ayahnya juga ?" sahut Dena.
"Kamu mencintaiku ?" tanya Edgar memastikan.
"Hm, aku mencintaimu." dusta Dena lalu ia memeluk Edgar dengan erat.
Dena tidak tahu ia menyukai Edgar atau tidak, ia teramat sulit memahami perasaannya sendiri. Baginya semua laki-laki itu bajingan yang hanya bisa menghancurkan wanita seperti ayahnya dan juga Arhan.
"Maafkan aku, aku harus memanfaatkan mu untuk mencapai tujuanku. Sera mencintaimu dan aku akan merebutmu seperti dia merebut Arhan dulu." gumam Dena.
"Jadi apa kamu mau menikah denganku ?" tanya Dena lagi yang masih berada di pelukan Edgar.
"Hm, kita akan segera menikah." sahut Edgar senang.
"Lalu bagaimana dengan Sera ?" tanya Dena seraya mengurai pelukannya lalu menatap lekat Edgar.
"Awal hubungan kami terjalin karena keinginan kedua orangtua kami." sahut Edgar.
"Tapi kamu sempat mengagguminya kan ?" tanya Dena, karena Arhan juga awal mulanya mengagumi Sera.
Edgar terdiam, jujur ia memang sempat bersimpati dan kagum pada Sera dan hanya sebatas itu.
Melihat pria itu terdiam, Dena langsung tersenyum sinis. "Bagaimana pun perasaanmu pada Sera, aku tidak peduli." ucapnya.
"Apa kamu tidak bisa melihat perasaanku padamu ?" tanya Edgar menatap Dena.
"Aku buta akan hal itu, karena dulu Arhan juga sempat menatapku dengan cinta. Namun pada akhirnya ia berakhir di atas tubuh Sera." sahut Dena yang langsung membuat Edgar tercengang.
"Jadi mereka...."
"Berselingkuh di belakangku." tegas Dena.
"Aku tidak peduli, asal kamu mau menikah denganku dan kita tinggal bertiga dengan Elkan itu sudah cukup bagiku." sahut Edgar seakan menegaskan dia tak peduli dengan Sera.
Kemudian ia membawa Dena ke dalam pelukannya.
Dena nampak tersenyum puas, membayangkan kehancuran Sera dan ibunya sudah berada di depan matanya.
Namun tanpa ia sadari ini adalah awal kehancurannya juga, balas dendam memang membuatnya merasa puas. Tapi jika ia memanfaatkan orang lain tanpa perasaan untuk melakukan itu maka karma juga akan menyertainya.
Karena di saat Edgar tahu ia hanya memanfaatkannya, maka bisa jadi laki-laki itu akan kecewa dan pergi meninggalkannya.
__ADS_1
.
Guys kalau Othor belum up itu berarti sibuk ya dan ga sempat nulis, so jangan di tunggu tapi Othor usahakan setiap hari up meski 1 atau 2 part saja. thanks🙏