
"Sayang, kamu baik-baik saja ?" tanya Demian pagi itu ketika melakukan panggilan video dengan Ariana.
Demian terlihat khawatir ketika melihat Ariana nampak melamun.
"Ten-tentu saja baik." sahut Ariana.
"Kamu pasti bosan ya di rumah sendirian, bukannya hari ini Ricko les sampai sore ?" ujar Demian.
"Iya."
"Kamu boleh kok jalan-jalan sayang, tapi di antar sopir ya."
"Lagi malas, mau jalan kemana juga " sahut Ariana.
"Kenapa tidak ke salon saja, kamu bisa melakukan perawatan di sana." saran Demian.
Ariana langsung mengulas senyumnya, benar juga kata Demian dia harus melakukan perawatan di salon sebelum menghadiri jamuan makan siang itu.
"Bolah ya ?" ucapnya.
"Tentu saja boleh sayang, lakukan lah perawatan yang paling bagus di sana."
"Baiklah, jangan salahkan aku kalau uangmu nanti akan habis." ucap Ariana sambil terkekeh.
"Tenang saja sayang, calon suamimu ini akan bekerja lebih keras lagi." sahut Demian yang juga ikut terkekeh.
"Baiklah, kalau begitu aku siap-siap dulu ya."
"Apa perlu ku siapkan pengawal untukmu, sayang ?"
"Nggak akan ada yang mau menculikku Mas, makan ku kan banyak." seloroh Ariana.
"Ada-ada aja kamu sayang, baiklah tapi perginya di temani sopir ya dan segera hubungi aku kalau ada apa-apa."
"Siap, boss." sahut Ariana sembari terkekeh.
Setelah itu mereka segera mengakhiri panggilannya karena Demian harus segera meeting.
Sedangkan Ariana langsung bersiap-siap pergi ke salon untuk melakukan perawatan tubuhnya, serta menata penampilannya untuk menghadiri undangan jamuan makan siang dari nyonya Anggoro.
Meskipun sebelumnya tidak mempunyai pengalaman menghadiri pesta kalangan elit, tapi ia akan berusaha untuk tampil maksimal.
"Selesai." ucap seorang make up artist setelah memberikan polesan terakhirnya.
Berbekal unlimited card dari Demian, Ariana sengaja mencari salon dan butik terbaik di kota tersebut tentunya dengan harga yang tidak murah.
Ia tidak ingin mempermalukan calon ibu mertuanya di sana, meski dirinya berasal dari kalangan rendahan ia juga bisa tampil cantik seperti mereka para kaum sosialita.
"Anda benar-benar sangat cantik bagaikan Cinderela, Nona."
__ADS_1
Make up artist tersebut nampak terkesima melihat penampilan Ariana siang itu. Wanita itu terlihat sangat cantik dengan gaun berwarna dustypink setinggi lutut serta rambut yang sengaja ia cepol ke atas untuk menunjukkan kesan santai namun tetap sopan.
Ariana juga memakai satu set perhiasan yang di belikan oleh Demian waktu itu dan sekarang penampilannya benar-benar bak seorang sosialita ibu kota.
"Baiklah Nona, bersiaplah menjadi pusat perhatian siang ini." puji make up artist tersebut.
Setelah itu Ariana segera pergi menuju tempat acara yang di adakan di sebuah privat room di sebuah hotel bintang 5.
Sesampainya di sana Ariana segera menyerahkan undangan, lalu melangkahkan kakinya masuk ke dalam privat room tersebut.
Setiap langkahnya selalu mengundang perhatian banyak pasang mata di sana, dia terlihat mempesona siang itu benar-benar seperti seorang Cinderela dengan sepatu kacanya.
Nyonya Anggoro yang melihatnya nampak tersenyum sinis, ia akui kekasih putranya itu memang sangat cantik tapi baginya cantik saja tidak cukup. Karena bibit, bebet dan bobot juga sangat penting baginya.
Nyonya Anggoro langsung menghampiri Ariana dan membawanya untuk berkenalan dengan teman-temannya di sana.
Banyak yang penasaran dengan Ariana yang di akui sebagai teman nyonya Anggoro tersebut, apa dia seorang pengusaha? istri pengusaha? atau anak dari seorang pengusaha? pernah kuliah di negara mana? berapa bahasa yang di kuasai? dan banyak pertanyaan lainnya.
Namun Ariana sedikitpun tak bisa menjawabnya, dia hanya diam membisu dan sesekali tersenyum miris.
Namun ia merasa beruntung karena nyonya Anggoro yang selalu mewakilinya untuk menjawab semua pertanyaan mereka meski dengan sedikit kebohongan.
Ariana benar-benar merasa sangat rendah saat ini, apa ia akan pantas bersanding dengan Demian dan masuk ke dalam lingkungannya?
Karena pada kenyataannya dirinya hanya wanita kampung dan mengenyam pendidikan sekolah menengah atas saja itupun sudah sangat beruntung.
Ingin rasanya Ariana berlari dari sana kalau saja nyonya Anggoro tidak menahannya, harusnya dari awal ia menyadari lingkungan tersebut tak pantas untuknya dan sampai kapanpun dirinya tidak akan pernah cocok berada di sana.
Wanita itu nampak tersenyum ramah hingga membuat semua orang di sana berdecak kagum padanya.
Sepertinya wanita itu sudah dikenal baik di sana, karena semua orang saling bergantian menyapanya.
"Siang, tante." wanita yang bernama Jessica itu langsung menyapa nyonya Anggoro dengan mengecup pipi kanan dan kirinya.
"Astaga Jessica kamu makin cantik saja loh setelah pulang dari luar negeri." puji nyonya Anggoro.
"Bisa saja tante, oh ya ngomong-ngomong dia...." Jessica menatap Ariana yang sedang berdiri tak jauh dari nyonya Anggoro.
"Oh ini Ariana, wanita yang pernah tante ceritakan waktu itu." sahut nyonya Anggoro mengenalkan Ariana.
"Oh." Jessica nampak tersenyum sinis pada Ariana.
Entah apa yang sudah di ceritakan oleh nyonya Anggoro pada wanita itu, tapi Ariana merasa Jessica tidak menyukainya.
Nyonya Siska yang baru datang juga langsung menghampiri nyonya Anggoro.
"Jadi Demian tidak ikut, Jeng ?" tanyanya seraya memeluknya.
"Dia sedang ada pekerjaan di luar kota." sahut nyonya Anggoro setelah menerima salam pelukan dari sahabatnya itu.
__ADS_1
"Sayang sekali padahal dia pasti sangat senang bisa bertemu dengan sahabatnya sekaligus cinta pertamanya dulu." sahut nyonya Siska seraya menatap Jessica sang putri.
Ariana nampak tersentak, cinta pertama? bukannya Demian bilang dirinya adalah cinta pertamanya?
"Nggak apa-apa Mommy, kan setelah dia resmi bercerai aku akan menjadi istrinya." sahut Jessica seraya menatap Ariana.
Deg!!
"Istri ?"
Lagi-lagi Ariana tersentak, apa maksud perkataan Jessica tadi yang akan menjadi istri Demian setelah laki-laki itu bercerai? Bahkan calon ibu mertuanya itupun sedikitpun tak membantahnya.
"Eh ini siapa ya ?" tanya nyonya Siska seraya memindai Ariana dari ujung kaki sampai kepala.
"Sa-saya....." Ariana menjeda perkataannya ketika nyonya Anggoro langsung menyelanya.
"Seseorang yang pernah ku ceritakan waktu itu." sela nyonya Anggoro pelan.
Tiba-tiba nyonya Siska tersenyum licik ia nampak menatap nyonya Anggoro dan Jessica bergantian.
"Bukannya kamu penjual kue jalanan itu ?" ujar nyonya Siska dengan nyaring hingga membuat semua tamu undangan di sana menatapnya.
Mereka nampak saling berbisik-bisik seraya menatap Ariana dengan pandangan tak percaya.
"Bagaimana bisa penjual kue jalanan bisa masuk komunitas kita, ini sangat memalukan. Apa jangan-jangan kamu kesini dengan bernampilan bak Cinderela untuk menggaet suami-suami kita ?" teriak nyonya Siska lagi dengan geram.
"Bu-bukan begitu nyonya, saya kemari karena...." Ariana menjeda perkataannya ketika nyonya Anggoro langsung menyelanya.
"Jadi kamu membohongiku? kamu bilang tadi kamu anak dari pengusaha kaya raya." sela nyonya Anggoro dengan tampang terkejut.
Sepertinya wanita itu pantas mendapatkan piala Oscar karena aktingnya yang sangat menjiwai.
Padahal sedari tadi dia sendiri yang mengenalkan Ariana pada teman-temannya di sana, bahwa Ariana adalah anak dari pengusaha kaya raya dan Ariana yang ingin mencegahnya pun tak kuasa menolak.
"Tapi tante bukannya tadi...."
"Hey dengar ya meskipun kamu bernampilan cantik dan elegan seperti ini, kamu tetap wanita rendahan yang berusaha menyusup kemari untuk menggoda laki-laki kaya di sini, iya kan ?" Jessica nampak tersenyum sinis seraya mendekat ke arah Ariana.
Ariana yang melangkah mundur, tiba-tiba badannya oleng karena tidak bisa menyeimbangkan tubuhnya dengan sepatu heelsnya dan....
Brakk
Ariana terjatuh ke lantai marmer di sana dan seketika semua tamu di sana nampak menertawainya.
"Lihatlah meski penampilanmu bak Cinderela, tapi tempatmu memang pantasnya di bawah sana." cibir nyonya Siska puas.
Ariana langsung memejamkan matanya, hatinya sungguh perih saat ini. Harusnya dia tak mempercayai nyonya Anggoro begitu saja, ternyata wanita itu telah merencanakan semua ini untuk mempermalukannya.
Di saat semua orang menghina dan menertawainya, tiba-tiba seseorang memegang lengannya.
__ADS_1
"Edgar ?"
Ariana nampak berkaca-kaca menatap laki-laki tersebut.