Menggenggam Rindu

Menggenggam Rindu
Part~193


__ADS_3

Setelah di bentak oleh sang istri, Edgar nampak menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Apapun yang dia lakukan selalu serba salah di mata wanita itu, tapi dia tetap berusaha sabar.


Bagaimana pun juga perjuangan sang istri dalam melahirkan anaknya pasti rasanya sangat menyakitkan.


"Kenapa diam aja ?" kini Dena yang protes saat melihat suaminya diam saja di sampingnya, laki-laki itu hanya menatapnya dengan perasaan bersalah.


"Lalu aku harus bagaimana sayang? kalau bisa ku gantikan, pasti akan ku gantikan biar sakitnya aku saja yang merasakan." sahut Edgar serba salah.


"Jangan lebay deh sayang, dunia bisa kiamat kalau kamu yang merasakan sakitnya. Tolong elus-elus saja perutku." ucap Dena kemudian yang langsung di anggukin oleh suaminya, laki-laki itu langsung mengelus perut Dena dengan lembut.


Namun Dena langsung meringis saat merasakan sebuah tendangan dari dalam perutnya.


"Sayang jauhkan tanganmu, dia tidak suka di elus." ucapnya kemudian seraya menjauhkan tangan Edgar dari atas perutnya.


"Salah lagi." gumam Edgar dengan gemas.


Hingga siang hari Dena masih berjuang menunggu pembukaan jalan lahir bayinya, namun kini rasa sakit itu semakin intens hingga membuatnya sampai berkeringat dingin.


"Sayang kalau sakit jangan di tahan, teriak saja tidak apa-apa. Iya kan, dok ?" ucap Edgar lalu ia menatap dokter yang sedang mempersiapkan kelahiran bayinya.


"Iya, tidak apa-apa." sahut Dokter tersebut sambil tersenyum ramah menatap Dena.


Sedangkan Dena hanya meringis menatap mereka, sebelumnya ia pernah melahirkan. Berteriak sebelum waktunya itu hanya akan menghabiskan tenaganya saja.


"Kita mulai ya ibu, setelah ini ikuti aba-aba dari saya." ucap Dokter tersebut setelah memeriksa pembukaan jalan lahir yang sudah lengkap.


"Sayang, sakit. Sangat sakit." keluh Dena menatap suaminya, wajahnya terlihat memucat dan keringatnya nampak mengucur deras.


"Sabar ya, sayang. Kamu wanita terkuat di dunia ini." Edgar nampak berkaca-kaca, akhirnya wanita itu menunjukkan sisi lemahnya dan ia semakin tidak tega melihatnya.


Mungkin ia tak merasakan bagaimana sakitnya istrinya itu melahirkan bayinya, tapi genggaman erat di tangan serta lengannya menunjukkan wanita itu begitu kesakitan.


"Bertahanlah, sayang." ucap Edgar lagi saat melihat sang istri mulai mengejan mengikuti aba-aba dari dokter.


"Iya seperti itu ibu, tetap tahan pinggulnya jangan di angkat ya karena bisa menimbulkan robekan." ucap dokter tersebut.


"Sayang, sakitttttt." teriak Dena untuk pertama kalinya saat bayinya hendak keluar dan itu membuat Edgar langsung panik.

__ADS_1


Sebelumnya istrinya tidak pernah berteriak, wanita itu selalu menahan rasa sakitnya. Namun teriakannya kali ini langsung membuatnya blank.


"Dokter istri saya kesakitan." hardiknya pada dokter tersebut, rasanya ingin sekali ia menghajar dokter itu sekarang juga karena berani-beraninya membuat wanita kesayangannya kesakitan.


"Sabar ya pak, melahirkan memang seperti itu." ucap dokter tersebut menenangkan.


Namun sepertinya Edgar sudah naik pitam, saat sang istri mengendurkan genggamannya ia langsung melangkahkan kakinya ke arah dokter tersebut.


Tak peduli istrinya menarik kemejanya dengan kuat, hingga membuatnya kini nampak berantakan.


Sepertinya ia memang harus menghajar dokter itu beneran, bisa-bisanya berkata begitu. Melahirkan memang seperti itu, tapi bagaimana pun juga nyawa sang istri kini sedang di pertaruhkan.


Namun saat ia mendekati dokter tersebut dan matanya tak sengaja melihat bagaimana bayinya akan keluar dari rahim sang istri lalu melihat banyaknya darah di sana membuat Edgar langsung merasakan pening di kepalanya.


Edgar hampir hilang kesadaran saat itu, namun saat mendengar suara tangis bayinya ia seperti di tarik kembali pada kesadarannya.


"Sayang, maafkan aku. Setelah ini kamu tidak usah hamil lagi ya." ucapnya sembari memeluk istrinya, tak terasa kini air matanya sudah mengalir deras.


Mereka berdua nampak larut dalam tangis, hingga seorang suster membawa bayi mereka lalu meletakkannya dalam dekapan Dena.


Seorang bayi perempuan dengan tubuh montok nan lucu itu nampak mengusap-usap dada sang ibu.


Beberapa saat kemudian saat Dena dan bayinya sedang di bersihkan. Edgar nampak melangkahkan kakinya keluar dari ruangan bersalin tersebut.


"Kamu baik-baik saja, Nak ?" tanya Putri saat melihat putranya tersebut keluar dari ruangan tersebut.


Sang ayah dan ayah mertuanya nampak menatapnya dengan iba saat melihat penampilan Edgar yang tidak karuan.


Kemejanya acak-acakan, lengannya nampak sedikit memar dan terdapat beberapa bekas cakaran di sana.


"Anakku sudah lahir dengan selamat, Ma." sahutnya seraya memeluk sang ibu.


"Maafkan aku Ma, Mama dulu juga pasti kesakitan seperti itu ya saat melahirkan ku." imbuhnya lagi masih dalam dekapan ibunya.


Putri nampak mengusap punggung sang putra. "Semua wanita pasti merasakan itu Nak, maka dari itu jangan pernah sekali-sekali menyakiti hatinya. Wanita adalah makhluk terkuat yang di bungkus dengan kelemahan." sahutnya yang langsung membuat Edgar semakin mengeratkan pelukannya dan itu membuat sang Ayah ikut memeluknya juga.


Tuan Winata yang berdiri tak jauh dari mereka, nampak memejamkan matanya. Hatinya terasa tertampar mendengar ucapan Putri dan sungguh ia sangat menyesali perbuatannya dulu terhadap mendiang ibunya Dena.

__ADS_1


"Maafkan aku sayang, maafkan aku."


Tuan Winata terduduk di kursinya lalu menangkup kepalanya dengan kedua tangannya, pria paruh baya itu nampak terisak dan larut dalam bayang-bayang masa lalunya.


Sedangkan Juno hanya bisa menghela napas beratnya, banyak sekali pelajaran hidup yang bisa ia ambil dari kisah mereka.


Lalu tak jauh dari mereka, nampak seseorang sedang memperhatikan mereka dengan tatapan datarnya namun tersimpan banyak kesedihan di matanya.


"Kita kembali ke kamar saja, sus." perintahnya pada seorang suster yang sedari tadi berdiri di sampingnya.


Setelah Dena dan bayinya selesai di bersihkan, kini mereka sudah di pindah ke dalam ruang perawatan.


"Holeee adik Ekan cudah kelual dali pelut mama." Elkan terlihat senang saat melihat adik perempuannya tersebut.


Bocah kecil yang sebentar lagi berusia 3 tahun itu nampak menatap gemas adiknya.


"Nanti kita beldua jagain mama, oke." ucapnya lagi yang langsung membuat semua orang di sana langsung tergelak.


Keesokan harinya....


Edgar masih tidak mengijinkan istrinya untuk pulang sebelum wanita itu benar-benar sehat, padahal Dena sudah merasa sehat bahkan kini ia sudah bisa berjalan-jalan di ruangannya setelah jarum infus di cabut dari punggung tangannya.


"Sayang, aku bosan di kamar. Pulang yuk ?" mohon Dena pagi itu.


"Tidak sayang, dua atau tiga hari lagi ya. Setelah aku memastikan kamu baik-baik saja." tolak Edgar.


"Tapi aku merasa baik-baik saja sayang." rengek Dena.


"Bagaimana kalau kita berjemur di taman belakang bersama bayi kita saja." ajak Edgar mengalihkan pembicaraan.


"Baiklah." Dena nampak mengangguk pasrah, kemudian ia duduk di kursi roda yang sudah di siapkan suaminya sebelumnya. Laki-laki itu menganggapnya seolah sedang sakit keras saja, terlalu berlebihan pikirnya.


"Bagaimana kamu bisa bilang baik-baik saja sayang, setelah kemarin mengeluarkan begitu banyak darah."


Sampai sekarang Edgar masih terngiang-ngiang dengan proses kelahiran putrinya kemarin yang membuatnya sedikit trauma.


Kini mereka nampak berada di taman belakang rumah sakit tersebut yang di khususkan bagi pasien VIP di sana.

__ADS_1


Dena nampak memangku sang putri dan bersandar di dada bidang suaminya sambil berbincang dan itu membuat seseorang yang sedari tadi mengawasi mereka nampak tersenyum getir.


__ADS_2