
"Apa? baik Pa, Dena akan segera pulang." ucap Dena pagi itu saat sang ayah menghubunginya.
"Sayang, bangun." ucapnya lagi saat membangunkan sang suami.
"Masih ngantuk sayang, yuk tidur lagi." Edgar yang masih mengantuk langsung menarik istrinya itu kembali ke dalam dekapannya dan tak lama kemudian laki-laki itu nampak tertidur kembali.
"Astaga sayang, jangan tidur lagi." protes Dena yang mencoba keluar dari pelukan suaminya.
"Sayang." pekik Dena saat Edgar tak bereaksi.
Edgar yang terkejut langsung membuka matanya, kemudian ia langsung menindih istrinya itu.
"Sayang, kamu membangunkan macan yang sedang tidur." gerutunya dengan suara serak khas bangun tidur.
"Kamu suamiku, bukan macan." Dena yang berada di bawah tubuh sang suami nampak terkekeh.
"Tapi di lihat-lihat kamu memang mirip macam, lihatlah rambutmu sangat berantakan." imbuhnya lagi sembari mengacak rambut suaminya agar semakin berantakan dan setelah itu ia tertawa lebar.
"Dan macan yang sedang kamu tertawakan ini sedang kelaparan sayang, sampai-sampai ingin memakanmu." sarkas Edgar yang langsung membuat Dena menelan ludahnya, ia mengerti kemana arah pembicaraan suaminya itu apalagi saat merasakan milik laki-laki itu mulai mengeras dan menggesek-gesek pahanya.
"Sayang, bukannya semalam sudah." tolak Dena dengan halus, ia nampak mengangkat tangannya lalu megusap lembut rahang tegas laki-laki itu.
Namun usapan lembut Dena justru semakin menaikkan gairah Edgar. "Kamu menggodaku, sayang." tegurnya dengan suara parau.
Dena yang menyadari itu ia langsung menjauhkan tangannya. "Sayang kita harus segera pulang." ucapnya kemudian.
"Hm, tentu saja. Bukannya hari ini kita memang akan pulang tapi ini masih terlalu pagi untuk bersiap-siap." sahut Edgar dengan pandangan menginginkan sang istri.
"Tapi ini penting, sayang." Dena langsung menjauhkan wajah suaminya saat laki-laki itu hendak menciumnya.
"Aku lebih penting sayang, apa kamu tega membiarkan ku seperti ini terus ?" Edgar nampak memohon.
"Tapi...."
"Baiklah, sepertinya istriku ini sedang menantang malaikat karena menolak keinginan suaminya." sela Edgar seraya menjauhkan tubuhnya, namun belum sempat ia berpindah tiba-tiba bibirnya di kecup oleh sang istri.
Edgar nampak melotot karena terkejut, namun setelah itu ia langsung mengulas senyumnya senang dan setelah itu ia membalas ciuman wanita itu dengan rakus.
__ADS_1
Tangannya nampak merayap ke dalam selimut meraih sesuatu di dalam sana yang bisa ia raih dan nikmati.
Keadaan mereka yang masih sama-sama polos karena percintaan mereka semalam, membuat Edgar lebih mudah menyentuh sang istri.
Memainkan titik-titik sensitifnya hingga membuat wanita itu mendesah tertahan, setelah merasa istrinya itu siap Edgar langsung menyatukan tubuhnya.
Memenuhi wanita itu dengan miliknya hingga membuatnya mengerang saat merasakan betapa nikmat berada di dalam milik sang istri.
Dengan pelan Edgar memaju-mundurkan tubuhnya, tangannya yang bebas nampak memainkan puncak gundukan seksi wanita itu hingga membuatnya mendesah tak karuan.
Setelah istrinya itu mencapai puncaknya terlebih dahulu, Edgar segera mengejar pelepasannya dengan sedikit menghentakkan tubuhnya.
Dan ******* panjang dari bibirnya, menandakan laki-laki itu mulai sampai puncaknya. Edgar nampak jatuh di atas tubuh istrinya dengan menahan bobot tubuhnya menggunakan sebelah lengannya.
Napasnya terengah-egah di ceruk leher wanita itu, namun bukannya diam Edgar nampak mengecupi leher putih Dena dan sesekali menghisapnya dengan kuat hingga membuat wanita itu mendesah tertahan.
"Sayang, udahan." mohon Dena saat merasakan laki-laki itu mulai menggerakkan tubuh bagian bawahnya lagi.
"Sekali lagi, sayang." sahut Edgar yang tak akan melepaskan istrinya begitu saja.
"Kita bisa melakukannya nanti lagi di rumah." bujuk Dena meski takkan berhasil karena ia merasakan milik suaminya sudah mulai menegang lagi di dalam miliknya.
Setelah merasa puas, Edgar segera membawa sang istri ke dalam kamar mandi. Ia memandikan wanita itu layaknya bayi yang membuat Dena terkekeh sekaligus bahagia karena suaminya itu begitu memujanya.
"Sayang ada kabar buruk." ucap Dena saat mereka baru selesai mengganti pakaiannya dan siap untuk pulang.
"Maksud kamu ?" Edgar yang baru selesai mengancingkan kemejanya langsung menatap istrinya tersebut.
"Tadi pagi Papa menghubungiku, tante Sita di temukan tewas di jalanan karena tertabrak truk." sahut Dena menatapnya.
"Apa? astaga kenapa kamu tidak bilang sayang ?" Edgar nampak terkejut.
"Bagaimana mau bilang kamu tidak memberikan ku kesempatan." sanggah Dena membela diri.
Edgar langsung mendekati istrinya itu lalu memegang kedua lengannya dengan lembut. "Kamu baik-baik saja kan ?" ucapnya memastikan.
Bagaimana pun juga Dena telah bertahun-tahun tinggal dengan wanita itu, meski perlakuan ke Dena kurang manusiawi.
__ADS_1
Dena mengangguk lalu sedikit mengulas senyumnya. "Kamu benar, setiap perbuatan pasti ada karmanya dan Tuhan tahu akan hal itu. Maafkan aku yang tak pernah mendengarkan mu selama ini." ucapnya dengan berkaca-kaca.
"Sudah tidak apa-apa, kamu baik-baik saja sekarang." Edgar langsung membawa Dena ke dalam pelukannya.
Sementara itu di sisi lain, pagi itu Sera nampak mengerjapkan matanya saat merasakan tubuhnya terasa berat dan tergoncang.
"A-apa yang sedang kamu lakukan ?" pekiknya saat melihat penjaga yang membantunya kabur itu sedang berada di atas tubuhnya sembari menghentaknya miliknya yang entah sejak kapan sudah memenuhinya.
"Tentu saja menikmati mu, bukannya ini imbalanku saat bisa membuatmu kabur dari sana." sahut penjaga bernama Martin itu, selanjutnya ia nampak mendesah tertahan saat merasakan nikmat berada di dalam milik wanita itu.
"Dasar bajingan." umpat Sera namun ia tidak bisa menolak karena tenaganya tak seberapa untuk melawan pria bertubuh kekar itu.
Sampai laki-laki itu merasa puas ia baru melepaskan penyatuannya, "Kamu sangat nikmat sepertinya akan laku dengan mahal." sarkasnya saat beranjak dari tubuh Sera.
"Apa maksud kamu, brengsek ?" hardik Sera tak mengerti, jangan bilang laki-laki itu akan menjualnya.
Martin nampak mencengkeram dagu Sera. "Kamu tahu aku sudah mempertaruhkan pekerjaanku demi membantumu kabur dan sekarang kamu harus bekerja untukku." ucapnya lirih namun sangat menusuk di hati Sera.
"Tidak, perjanjiannya tidak seperti itu." teriak Sera murka.
"Kamu hanya mempunyai dua buah pilihan sayang, bekerja untukku atau mati menyusul ibumu." tegas Martin yang langsung membuat Sera terbelalak.
"Mama? di mana mamaku? apa kamu telah membunuhnya ?" teriak Sera tak terima.
"Aku tidak pernah mengotori tanganku untuk melenyapkan seseorang sayang." Martin nampak tersenyum menyeringai kemudian ia menyalakan televisi yang ada di dalam kamar hotel tersebut.
"Tidak, Mama tidak mungkin meninggal." Sera terlihat menangis histeris saat melihat berita tabrak lari ibunya di televisi, wanita paruh baya itu meninggal di tempat dengan mengenaskan.
"Hallo, apa kamu sudah mengurus paspor untuk wanita itu? oke baiklah tunggu kami di bandara." ucap Martin yang langsung membuat Sera menatapnya murka.
"Mau kamu bawa kemana aku ?" teriaknya.
"Segera bersihkan dirimu, kita akan pergi ke suatu tempat di mana bisa membuatku kaya raya." sahut Martin dengan tersenyum menyeringai.
Sera yang mendengar itu langsung menangis histeris, apakah ini hukuman baginya dan ibunya karena telah menyiksa Dena selama bertahun-tahun.
"Maafkan aku Dena, maafkan perbuatan ku dulu."
__ADS_1
Sera kini hanya bisa pasrah, karena hidupnya sekarang berada di tangan laki-laki itu.