Menggenggam Rindu

Menggenggam Rindu
Part~156


__ADS_3

Pagi itu Sera mendatangi kediaman keluarga Bryan, kalau dirinya tidak bisa mendapatkan Edgar maka saudara tirinya itu pun juga tidak akan bisa.


Sera akan berusaha menghasut orangtuanya Edgar agar semakin membenci Dena dengan begitu mereka akan memaksa Edgar untuk segera menceraikan kakak tirinya tersebut.


"Pagi Om, tante." sapa Sera.


"Eh sayang, ayo masuk. Ada apa nih ke sini pagi-pagi ?" ujar Putri seraya menyuruh Sera untuk masuk.


"Nggak apa-apa tante, hanya kangen kalian saja." sahut Sera dengan ramah.


"Duduklah Ser, ayo sarapan bersama kami." ajak King.


"Terima kasih, Om." Sera segera mendudukkan dirinya di hadapan Putri.


"Jadi setiap hari Om sama tante selalu makan berdua saja ?" tanya Sera berbasa-basi.


"Seandainya kamu dan Edgar menikah rumah ini pasti akan ramai, sejak Edgar menggantikan posisi ayahnya di perusahaan dia lebih senang tinggal di Apartemennya. Apalagi sekarang, sejak menikahi wanita itu dia seperti menganggap kami tak ada." keluh Putri.


"Sabar ya tante, kak Dena dari dulu memang seperti itu selalu ingin berkuasa seorang diri. Jujur sebenarnya dia sedikit memiliki kelainan gitu, karena selalu menghindari orang lain dan mungkin itu yang sekarang di lakukan pada Edgar. Menguasainya dan menjauhkan dari kalian." ucap Sera mulai menghasut.


"Maafkan kami ya tidak bisa berbuat banyak untuk kamu, tapi tante masih berharap suatu saat kamu yang akan menjadi menantu tante." ujar Putri dengan nada menyesal.


"Tidak apa-apa tante, kalau jodoh pasti akan ada jalannya kok." ucap Sera pasrah berharap orangtuanya Edgar semakin bersimpati padanya.


"Edgar itu lebih cocok sama kamu Ser, kalian berdua sama-sama baik hanya saja sepertinya Edgar sudah di butakan oleh wanita itu." kini Putri nampak geram.


"Nggak apa-apa tante, saya percaya kok Edgar pasti bisa membawa kak Dena ke jalan yang benar. Bagaimana pun juga kak Dena adalah saudara saya dan saya sangat menyayanginya." Sera mencoba bersikap mengalah saat ini.


"Ke jalan yang benar? maksud kamu ?" kali ini King yang menimpali.


"Sebenarnya....." Sera menjeda ucapannya, ia nampak menghela napasnya dengan berat.


"Sebenarnya selama ini kehidupan kak Dena itu sedikit liar dan bebas." lanjutnya lagi dengan mimik sedih.


"Saya kurang mengerti Ser, katakan yang jelas." perintah King.


"Sebenarnya kak Dena selama ini itu seorang pecandu rokok dan juga alkohol." sahut Sera.


"Apa ?" Putri nampak terkejut.


"Kamu serius ?" lanjutnya lagi.


"Benar tante, bahkan dulu ia pernah di rehabilitasi karena kecanduan narkoba juga." tambah Sera lagi yang langsung membuat King dan Putri melotot menatapnya.


"Kamu serius, sayang ?" tanya Putri penasaran.


"Benar tante, sebenarnya ini aib keluarga kami dan saya juga sudah pernah memberitahukan pada Edgar bagaimana kak Dena yang sesungguhnya tapi sepertinya Edgar sudah ikut terpengaruh." sahut Sera dengan nada penyesalan.

__ADS_1


Putri nampak menghela napasnya sejenak. "Apa dari dulu Dena memang seperti itu? setahu tante biasanya anak yang bermasalah itu kurang mendapatkan kasih sayang di rumahnya." ucap Putri bijak.


"Dari kecil kak Dena memang sudah seperti itu tante, Mama sudah berusaha menyayangi kak Dena bahkan kadang saya yang lebih banyak mengalah tapi kak Dena belum juga bisa menerima kami." dusta Sera dengan mimik sedihnya.


"Sabar ya sayang, tante yakin kok setiap perbuatan entah itu baik atau buruk pasti ada balasannya masing-masing. Kamu anak baik, tante yakin kebaikan pasti akan selalu menyertai mu." ujar Putri pada Sera.


"Terima kasih, tante." sahut Sera senang, semoga saja kedua orangtua Edgar semakin membenci Dena.


"Bukannya Dena mempunyai anak ya dari pernikahannya dengan Arhan ?" tanya King pada Sera.


"Iya Om." sahut Sera.


"Apa kamu yakin itu anaknya Arhan ?" tanya King lagi yang langsung membuat Putri melotot menatapnya.


"Tentu saja itu anak Arhan, Pa. Kalau tidak, buat apa Arhan memberikan nama belakang keluarganya." timpal Putri.


"Maaf tante, yang di katakan Om benar. Sebenarnya kak Dena sudah berselingkuh di belakang kak Arhan, maka dari itu kak Arhan langsung menceraikannya karena waktu itu kak Dena telah hamil dengan laki-laki lain." sahut Sera yang langsung membuat King menatap ke arahnya.


"Kamu yakin ?" ucapnya.


"Benar Om, sebenarnya ini juga aib keluarga kami. Pergaulan kak Dena yang terlalu bebas membuatnya sering tidur dengan banyak laki-laki." sahut Sera berdusta.


"Benarkah itu, lalu apa kamu tahu siapa ayah dari anak itu ?" timpal Putri penasaran.


Sera langsung menggelengkan kepalanya. "Kami tidak tahu tante, karena banyak sekali laki-laki yang dekat dengan kak Dena waktu itu." sahutnya.


Meski sebelumnya Edgar pernah mengatakan kalau anak Dena adalah putra kandungnya, tapi Sera tak percaya begitu saja.


"Jadi bukan anak kandung, Arhan. Lalu anak siapa? benarkah Dena sebelumnya sering tidur dengan banyak laki-laki? sepertinya aku harus segera melakukan tes DNA, bahkan wajah anak itu aku belum pernah melihatnya."


King nampak terdiam, banyak sekali pertanyaan dalam benaknya.


Sementara itu Dena yang baru bangun tidur nampak membaca surat kabar pagi itu di meja makan, seketika matanya langsung melotot saat melihat salah satu berita di sana.


"Oh astaga siapa yang membuat berita ini? padahal baru hari ini aku berencana mengirim video itu." ucapnya tak percaya saat melihat beberapa foto Sera dan Arhan sedang berciuman di sebuah Restoran dan di depan kamar hotel di Jerman waktu itu.


Dena segera mengambil ponselnya, lalu membuka berita online yang ada di sana.


Matanya semakin melotot saat melihat beberapa Video keintiman Sera dan Arhan.


"Siapa yang melakukan ini, tidak mungkin Edgar bahkan dia melarangku untuk balas dendam." gumam Dena lagi.


"Atau jangan-jangan si Arhan, tapi itu tidak mungkin. Mana mungkin ia melakukan hal yang dapat menjatuhkan imagenya." lanjutnya lagi.


"Bodoh amatlah siapa pun itu yang penting salah satu tujuanku sudah tercapai, thank's God engkau sungguh maha baik."


Dena sangat senang, bahkan senyumnya semakin mengembang saat suaminya itu menghubunginya.

__ADS_1


"Pagi, sayang." ucap Edgar dari seberang telepon.


"Hai, pagi juga." Dena menyapa suaminya itu dengan mengangkat telapak tangannya di depan kamera.


"Sepertinya senang sekali, hayo ada apa ?" tanya Edgar saat melihat sang istri tersenyum ceria.


"Nggak ada apa-apa kok, senang aja kamu telepon." dusta Dena, biarlah suaminya itu tahu dengan sendirinya mengenai video yang tersebar itu.


"Beneran? jadi kangen ingin pulang." sahut Edgar.


"Memang pekerjaan di sana sudah selesai ?" tanya Dena.


"Belum sih." sahut Edgar terkekeh.


"Elkan mana, sayang ?" imbuhnya lagi.


"Ada, lagi sama Bibik." sahut Dena.


"Kamu seksi banget sih, sayang." goda Edgar memandang lekat istrinya.


"Masa sih ?" Dena nampak memperhatikan penampilannya sendiri yang sedang memakai kimono mandi serta rambut ia cepol ke atas.


"Seksi darimananya ?" lanjutnya lagi.


"Beneran seksi sayang, coba ke kamar sebentar." ucap Edgar dengan senyuman nakalnya.


"Dasar mesum." cebik Dena saat mengerti maksud suaminya itu.


"Kan mesum sama istri sendiri nggak apa-apa dong." bela Edgar.


"Sama aja mesum." sungut Dena.


"Kesini dong sayang, aku kangen." mohon Edgar.


Dena nampak berpikir sejenak, kemudian senyumnya nampak mengembang. "Boleh ya ?" ucapnya.


"Tentu saja boleh sayang, aku malahan senang." sahut Edgar.


"Baiklah aku pesankan tiket sekarang ya." lanjutnya lagi dengan bersemangat.


"Tunggu dulu, aku belum bilang setuju." protes Dena.


"Aku tidak mau tahu sayang, siang ini kamu dan Elkan sudah harus berada di sini." titah Edgar.


Dena nampak menghela napasnya, sungguh suaminya itu tipe laki-laki pemaksa.


"Baiklah." ucapnya patuh.

__ADS_1


"Gitu dong, jadi makin sayang. Baiklah, aku kerja dulu ya nanti Juno yang akan menjemput kalian di bandara." ucap Edgar kemudian menutup panggilannya.


Dena yang masih menatap layar ponselnya nampak mengulas senyumnya, kenapa jantungnya tiba-tiba berdebar-debar seperti ini.


__ADS_2