
Demian yang membawa Ricko ke kantornya, langsung menjadi bahan gosip para karyawan di sana, terutama karyawan wanita.
Mereka sangat penasaran dengan bocah tampan yang di gandeng oleh Demian tersebut.
Karena semenjak dahulu bossnya itu tidak pernah membawa anak kecil ke kantornya, bahkan Olive sekalipun kecuali anak tersebut yang mendatangi kantornya bersama sang ibu.
"Tampan sekali tuan putranya." puji seorang kepala departemen keuangan ketika sedang berpapasan dengan Demian.
"Iya tuan, lucu lagi." celetuk salah satu kumpulan karyawan wanita di sana.
Mereka berani menyapa atasannya tersebut karena melihat mood laki-laki itu yang terlihat membaik dengan senyum yang mengembang dari bibirnya.
"Tentu saja, nggak lihat Daddy nya juga tampan." sahut Demian seraya melihat Ricko yang juga nampak tersenyum nyengir pada mereka.
"Beneran ini putra tuan? apa yang sedang menunggu di atas adalah ibunya." ucap kepala departemen keuangan tersebut.
"Siapa ?" Demian mengerutkan dahinya tak mengerti, tidak mungkin Ariana.
"Calon istri anda tuan, nona Jessica."
"Kalian pikir wajahnya mirip dengan dia." seketika Demian menggeram dengan nada dingin.
"Maaf, tuan." semua karyawan di sana nampak menunduk ketika melihat mood Demian yang tiba-tiba berubah.
"Bukan Om, ibukku namanya Ari..." Ricko belum menyelesaikan perkataan tapi Demian sudah mengajaknya berlalu pergi dari sana.
Sedangkan Victor yang melihat wajah-wajah penasaran para karyawannya tersebut langsung membuka mulutnya.
"Dengarkan perkataan saya, anak kecil yang kalian bilang tampan dan lucu itu memang anak kandung tuan Demian. Namun bukan dengan nona Jessica tapi dengan wanita lain, jadi lain kali jangan pernah membahasnya lagi di depan tuan Demian apalagi sampai media tahu. Karena karier kalian yang akan menjadi taruhannya, mengerti !!" tegas Victor seraya memandang karyawannya tersebut satu persatu.
"Kami mengerti tuan Victor." sahut mereka.
"Baiklah, kembali ke meja masing-masing." perintah Victor kemudian, setelah itu ia segera berlalu dari sana.
"Astaga jadi itu benar-benar putra tuan Demian ?" celetuk salah satu karyawan di sana.
"Lalu kalau bukan nona Jessica yang menjadi ibunya, lalu wanita mana yang beruntung itu ?"
"Anak itu seumuran dengan Olive, apa itu wanita yang di kencani tuan Demian sebelum menikah dengan nyonya Monica ?"
"Aku jadi penasaran siapa wanita yang melahirkan anak setampan itu, pasti wanita itu sangat cantik."
__ADS_1
"Lalu di mana wanita itu? kenapa tuan Demian justru menikah dengan nona Jessica yang arogan itu."
"Sudah-sudah berhenti menggosipnya, kembali bekerja sekarang." tegas kepala departemen keuangan tersebut pada bawahannya.
Sementara itu Jessica nampak duduk di sofa di ruanganannya Demian.
"Akhirnya aku bisa berduaan dengan Demian tanpa ada tikus kecil itu yang mengganggu."
Gumamnya seraya mengedarkan pandangannya ke setiap sudut ruang kerja Demian yang terlihat sangat mewah.
"Dan impianku menjadi nyonya Anggoro akan segera terwujud, aku akan mempunyai banyak anak dari Demian dan menyingkirkan tikus kecil sialan itu."
Jessica nampak geram ketika mengingat bagaimana Ricko sudah mengambil hati Demian dan calon ayah mertuanya sang penguasa kerajaan bisnis Anggoro.
"Ngomong-ngomong siapa wanita yang sudah melahirkan tikus kecil itu? selama ini Demian berkencan dengan banyak sekali wanita."
Jessica nampak mengingat beberapa wanita bangsawan yang pernah Demian ajak kencan.
"Siapapun itu tak masalah, toh pada akhirnya Demian lebih memilih aku sebagai istrinya pengganti si sialan Monica. Andai saja dia tidak menjebak Demian dengan kehamilannya, pasti aku yang sudah menjadi istrinya waktu itu."
Jessica nampak mengulas senyumnya dengan angkuh, akhirnya penantian panjangnya tak sia-sia.
Namun senyumnya langsung menyurut ketika melihat Demian masuk ke dalam ruangannya bersama dengan Ricko.
"Aku sedang menjemput anakku." sahut Demian acuh, ia nampak mendudukkan Ricko di kursi kerjanya lalu ia berjongkok untuk melepaskan sepatunya.
"Apa lebih baik, sayang ?" ucapnya lagi ketika melihat Ricko merasa lega setelah sepatunya di lepas.
"Hmm, terima kasih Dad." sahut Ricko.
Sedangkan Jessica nampak menggeram tak suka ketika di acuhkan oleh Demian.
"Dem, apa aku bisa bicara ?" ucapnya pada Demian.
"Bicaralah." sahut Demian seraya menarik sebuah kursi lalu membawanya ke sebelah Ricko.
Kemudian ia mendudukkan dirinya di sana dan mulai memeriksa berkas-berkas di atas mejanya.
Sedangkan Ricko nampak sedang bermain komputer milik Ayahnya.
"Tapi bisakah kita berdua saja." ucap Jessica seraya menatap Ricko.
__ADS_1
Demian melihat sekilas Jessica, kemudian ia kembali sibuk dengan pekerjaannya.
"Katakan saja, anakku tidak akan mengganggu." sahutnya kemudian.
Jessica nampak mengepalkan tangannya, kenapa sekarang Demian menjadi sangat dingin. Berbeda dengan beberapa tahun yang lalu ketika mereka masih dekat.
Padahal tujuannya ia datang ke kantor laki-laki itu agar bisa berduaan dan memadu kasih seperti dahulu kala.
"Aku ingin membicarakan tentang persiapan pertunangan kita." ucap Jessica pada akhirnya.
"Bukannya semua persiapan sudah di urus oleh mamaku." sahut Demian.
"Maksudku ini tentang pakaian yang akan kita kenakan, bagaimana kalau kita fitting dulu." ajak Jessica.
"Masalah pakaian aku serahkan semuanya pada Victor, dia tahu segalanya tentang ukuranku." sahut Demian.
"Baiklah, bagaimana kalau kita makan malam saja. Kita sudah lamakan tidak menghabiskan waktu bersama." bujuk Jessica tentunya dengan nada menggoda.
"Aku sedang sibuk Jess, lebih baik kamu pulang." Demian nampak memeriksa berkas-berkas di tangannya tanpa mempedulikan Jessica yang mencoba merayunya.
"Kamu sedang sibuk, tapi bisa saja mengajak Ricko kesini." sungut Jessica tak terima, laki-laki itu sepertinya menganggapnya tak ada dan lebih mementingkan anaknya. Padahal beberapa hari lagi mereka akan bertunangan.
Demian langsung menatap Jessica. "Apa kamu lihat Ricko sedang menggangguku, bahkan dia lebih tenang dari kamu." cibirnya seraya menatap Jessica geram.
"Iya aku minta maaf, tapi apa kamu sedikitpun tak punya waktu untuk kita berdua." rajuk Jessica.
Demian mendengus kesal, rasanya enggan sekali meski hanya sekedar berbasa basi dengan wanita itu.
Namun Victor yang rupanya masih berada di dalam ruangan tersebut, nampak sedikit menganggukkan kepala padanya sebagai isyarat untuk mengikuti kemauan Jessica.
"Baiklah, nanti malam kita akan bertemu. Sekarang lebih baik kamu segera pulang, karena aku harus segera menyelesaikan pekerjaanku." ucap Demian pada akhirnya yang langsung membuat Jessica tersenyum senang.
Ia ingin berhambur memeluk Demian, namun Ricko langsung meminta pangku sang ayah, bocah kecil itu nampak tersenyum nyengir tanpa dosa ke arah Jessica.
"Dasar tikus kecil sialan, lihat saja nanti malam Daddy mu akan menjadi milikku."
Gerutu Jessica dalam hati, kemudian ia segera berlalu pergi meninggalkan ruangan Demian dengan hati senang.
"Kenapa kamu menyuruhku untuk mengikuti kemauan dia ?" ujar Demian pada Victor sesaat setelah Jessica meninggalkan ruangannya.
"Anda cukup membuatnya sedikit mabuk tuan." sahut Victor.
__ADS_1
Demian nampak menatap Victor tak mengerti, namun kemudian ia mengangkat sudut bibirnya.
"Baiklah itu tidak terlalu buruk." sahutnya dengan tersenyum licik.