
"Siapa yang menggodamu, Mas. Aku mau mandi." sanggah Ariana setelah Demian melepaskan panggutannya.
"Bukannya kamu tadi sudah mandi, hm ?"
"Iya, tapi akhir-akhir ini aku merasa gerah." sahut Ariana seraya menatap lekat suaminya itu.
Entah karena pengaruh hormon kehamilan atau dirinya yang memang sudah lama tak di sentuh, tiba-tiba saja Ariana sedikit berjinjit lalu mengecup bibir suaminya.
"Aku merindukanmu, Mas." ucapnya lagi seraya mengalungkan kedua tangannya di leher sang suami, tak ada salahnya kan dia yang menggoda duluan.
Demian yang memang hampir sebulan ini menahan hasratnya, nampak runtuh pertahanannya. Di raupnya bibir istrinya itu dengan rakus dan menuntut.
Lalu dengan sekali hentakan ia membawanya duduk di atas sofa.
"Aku juga sangat menginginkan mu, sayang. Tapi aku takut." ucap Demian pada sang istri yang kini sudah duduk di atas pangkuannya.
Ariana mengangkat sebelah alisnya tak mengerti. "Kenapa takut ?" ucapnya.
"Dinda kehilangan satu bayinya karena kelelahan dan aku juga takut jika membuatmu lelah maka bayi-bayi kita akan..." Demian menjeda ucapannya saat Ariana terkekeh.
"Kenapa kamu tertawa ?" ucapnya kemudian.
"Kamu lucu deh Mas, kalau kita melakukannya dengan pelan semua pasti akan baik-baik saja. Lagipula setahuku kalau hamil tua itu justru di anjurkan untuk sering-sering berhubungan agar mempermudah proses persalinan." sahut Ariana.
"Kalau kamu kurang yakin, kita bisa kok besok mengunjungi dokter." lanjut Ariana lagi, kemudian ia akan beranjak dari pangkuan suaminya, namun laki-laki itu langsung menahannya.
"Lepaskan Mas, aku mau mandi." ucap Ariana.
"Nanggung, sayang." sahut Demian dengan pandangan penuh hasrat.
Bagaimana tidak, istrinya itu hanya menggunakan ********** saja.
"Bukannya kamu takut ?" tanya Ariana sembari bergerak gelisah, namun itu justru membuat milik Demian yang ia duduki semakin menegang.
"Aku akan melakukannya dengan pelan." sahut Demian pada akhirnya.
Kemudian ia melahap bibir istrinya itu dengan lembut dan sedikit menuntut, lalu tangannya dengan perlahan melepaskan pengait branya.
Setelah terbebas dari pembungkusnya, Demian langsung meremas dan melahap dua gundukan kenyal itu secara bergantian hingga membuat wanita itu mendesah tertahan.
Masih berada di atas sofa mereka nampak saling menyatukan tubuhnya, melepaskan kerinduan yang tertahan hingga keduanya mencapai puncaknya.
Sepertinya sekali saja tidak puas bagi mereka, kini Demian membawa sang istri menuju ranjangnya dan melanjutkan penyatuannya di sana.
__ADS_1
"Terima kasih, apa kamu lelah ?" ucap Demian setelah mengakhiri percintaannya malam itu.
Ariana hanya menggelengkan kepalanya sembari tersenyum, nampak peluh masih membasahi tubuh polosnya. Jejak-jejak percintaannya terlihat jelas bagaimana panasnya mereka melakukannya tadi.
"Sayang berbicaralah aku sangat khawatir, apa bayi-bayi kita akan baik-baik saja? bagaimana kalau kita ke dokter sekarang ?" Demian nampak khawatir.
"Aku baik-baik saja, Mas." Ariana meyakinkan.
"Syukurlah, aku khawatir karena kamu tadi terlalu bersemangat." Demian nampak terkekeh mengingat betapa agresifnya istrinya itu tadi.
"Mungkin karena hormon kehamilan, akhir-akhir ini aku selalu menginginkannya." sahut Ariana.
"Kenapa tidak bilang ?"
"Bagaimana mau bilang, kamu selalu bersikap dingin." keluh Ariana.
Demian menghela napas panjangnya, kemudian membawa istrinya itu ke dalam pelukannya.
"Maafkan aku, akhir-akhir ini selain karena kesibukan ku di kantor dan memikirkan masalah Mama dan Papa. Aku juga selalu kepikiran dengan ucapan Dinda." sahut Demian.
"Kalau kamu merasa khawatir, besok kita ke dokter saja. Lagipula setiap keadaan ibu hamil kan berbeda-beda Mas, keadaanku dan Dinda waktu hamil dulu juga mungkin berbeda. Jadi jangan terlalu khawatir ya." Ariana mencoba meyakinkan.
"Baiklah, terima kasih sudah sangat pengertian dengan sikapku akhir-akhir ini, aku janji ini terakhir kalinya aku bersikap seperti ini. Aku sudah banyak belajar dari hubungan Papa dan Mama, kita memang harus selalu menjaga komunikasi." sahut Demian.
"Aku mencintaimu, Mas." Ariana semakin mengeratkan pelukannya.
"Tidur yuk." ajak Ariana.
"Sebentar aku hubungi Victor dahulu." Demian nampak mengambil ponselnya di atas nakas.
"Tumben, ponselnya mati." gerutunya saat tak bisa menghubungi asistennya tersebut.
"Sudah tidur kali mas." Ariana menatap jam yang sudah menunjukkan pukul 11 malam.
"Tak biasanya saja." sahut Demian, kemudian meletakkan ponselnya kembali, setelah itu ia mulai memejamkan matanya menyusul sang istri yang mulai terlelap.
Disisi lain, malam itu Victor nampak duduk di sebuah sofa seraya memperhatikan lalu lalang pengunjung di sebuah club yang ia kunjungi.
Hingga bingar musik yang memekikkan telinga membuatnya ingin segera meninggalkan tempat tersebut, namun ia tidak akan pergi sebelum tujuannya tercapai.
Sejak kejadian di restoran tadi siang, ia seakan tertantang untuk menaklukkan Nina yang menurutnya sok jual mahal.
Victor yang biasanya selalu berpakaian formal, kini menanggalkan jasnya dan hanya memakai kemeja yang ia lepaskan kancing atasnya dua biji, terlihat pas membalut tubuh atletisnya.
__ADS_1
Ia nampak mengedarkan pandangannya, mencari sosok gadis yang sedikit mengusik hatinya.
"Tuan, butuh teman ?" sapa seorang wanita cantik dengan pakaian minim sedang menghampirinya.
"Saya ingin sendiri." sahut Victor dingin.
"Pria tampan seperti anda tidak cocok sendirian tuan, saya rela tidak di bayar kalau anda berminat." goda wanita tersebut tak menyerah, matanya nampak menatap dada bidang Victor yang sedikit terbuka.
Victor hanya tersenyum miring tanpa mau menganggapi, kemudian ia menghunuskan tatapan tajamnya pada perempuan itu hingga membuat wanita itu langsung ketakutan.
Melihat tatapan membunuh Victor, wanita itu tak mau ambil resiko. Kemudian dengan cepat ia langsung pergi meninggalkan laki-laki mengerikan itu.
"Dasar ******." gumam Victor.
Tak berapa lama kemudian, Victor melihat seorang gadis dengan riasan tebal berseragam waitress sedang mengantarkan minuman ke beberapa pengunjung.
"Nona, apa kamu sudah berubah pikiran ?" tanya salah satu pengunjung setelah menerima segelas minuman berakohol dari Nina.
"Maaf tuan, saya tidak berminat." sahut Nina sopan, kemudian berlalu ke pengunjung lain.
Nina nampak menolak beberapa pengunjung yang mengajaknya untuk menemaninya minum dan itu membuat Victor diam-diam mengangkat sudut bibirnya.
Hingga menjelang pukul 3 dini hari Nina baru keluar dari club malam tersebut, Victor yang sedari tadi menunggu di balik kemudinya langsung mengikutinya saat gadis itu naik ojek langganannya hingga sampai rumahnya.
Meski bekerja keras seharian hingga dini hari, namun gadis itu tak terlihat mengeluh bahkan senyumnya selalu mengembang di bibirnya.
"Terima kasih, Mas. Kembaliannya ambil saja saya banyak terima tips malam ini." ucap Nina sembari mengulurkan uang 50 ribuan.
"Terima kasih, Neng." sahut ojek tersebut.
Setelah itu Nina segera masuk ke dalam kostnya, namun ia urung masuk dan langsung berbalik badan saat merasakan ada yang mengawasinya.
"Siapa di situ ?" teriaknya nyaring, karena keadaan yang minim pencahayaan ia tak bisa melihat jelas.
"Woy setan kurap sini kalau berani ?" teriak Nina lagi, namun tak ada tanggapan.
Akhirnya Nina memutuskan untuk masuk ke dalam kostnya.
Victor yang bersembunyi di balik pohon nampak mengumpat.
"Sialan ganteng-ganteng gini di bilang kurap, ngomong-ngomong tuh perempuan makannya apa sih hampir pagi begini masih saja semangat teriak-teriak." gumamnya seraya menendang kaleng minuman di depannya tersebut.
Kemudian Victor segera melangkahkan kakinya menuju mobilnya, lalu menghempaskan tubuhnya ke atas kursinya.
__ADS_1
Ia masih tidak percaya dengan tingkahnya sendiri, bagaimana bisa ia mengikuti gadis itu hingga ke depan rumahnya.
"Tidak mungkin aku menyukainya, bukannya sudah sewajarnya aku melindungi sahabatnya nyonya muda."