
~●~ Konten dewasa harap bijak dalam membaca ~●~
"Menikahlah dengan Dean, kami pasti akan senang menerima kamu sebagai keluarga kami." bujuk Ariana.
Namun Olive langsung menggelengkan kepalanya. "Kenapa, apa sudah ada laki-laki lain yang kamu cintai ?" tanya Ariana kemudian.
"Saya mencintai putra anda, nyonya."
Olive hanya bisa mengatakannya dalam hati, sungguh ia tidak ingin terjebak dalam situasi seperti ini.
"Seandainya putra saya belum bertunangan, mungkin kamu pantas buat dia. Saya lihat kalian nyambung dalam pekerjaan, karena selama ini Ricko tidak pernah dekat dengan seorang wanita kecuali Sarah dan saya sedikit terkejut saat dia memintamu menjadi sekretarisnya." tukas Ariana yang langsung membuat Olive menatapnya.
"Apa selama kamu bekerja dengannya, putra saya pernah menemui seorang wanita selain Sarah ?" tanya Ariana kemudian.
"Tidak, nyonya." sahut Olive.
"Baiklah, sepertinya kamu tidak bisa kembali ke kantor dalam keadaan seperti ini. Bagaimana kalau ikut saya saja." ajak Ariana kemudian.
"Tapi nyonya...."
"Kamu kirim pesan saja pada putra saya jika kamu kurang sehat, dia pasti mengerti kok." potong Ariana meyakinkan.
"Baiklah." Olive mengangguk setuju, kemudian ia mengirim pesan pada Ricko.
"Sudah? baiklah ayo." Ariana langsung berdiri yang di ikuti oleh Olive, kemudian mereka berlalu meninggalkan taman tersebut.
Sementara itu Ricko yang berhasil menenangkan Sarah dan mengantarnya pulang, ia segera kembali ke kantornya.
"Di mana kamu, sayang."
Ricko nampak mengusap wajahnya dengan kasar, saat tak menemukan istrinya di sana.
Ia pikir gadis itu kembali ke kantor, namun perkiraannya salah. Istrinya itu pasti sedang marah saat ini.
Lalu saat ia akan pergi untuk mencarinya tiba-tiba terdengar notifikasi di ponselnya, kemudian ia segera membukanya.
"Aku sedang ingin sendiri, tolong jangan mencariku."
Setelah membaca pesan yang di kirim oleh Olive, Ricko semakin frustrasi. Bayangan Olive akan pergi meninggalkannya tiba-tiba terlintas di benaknya.
"Tidak, dia tidak boleh pergi."
Ricko langsung keluar dari ruangannya, ia harus segera mencari istrinya sebelum terlambat.
"Pak, anda sedang di tunggu di ruang meeting." Pras langsung mengingatkan Ricko saat berpapasan di depan lift.
"Batalkan saja." perintah Ricko.
"Tapi ini sangat penting pak." bujuk Pras.
"Tapi Olive lebih penting dan ini menyangkut hidup saya." tegas Ricko seraya masuk ke dalam lift.
Mendengar perkataan Ricko, Pras nampak tercengang. "Apa hubungannya Olive dengan pak Ricko ?" gumamnya sembari menatap pintu lift yang sudah tertutup.
Beberapa saat kemudian, Ricko yang sudah sampai di unit Apartemennya. Nampak lega saat melihat barang-barang istrinya masih utuh di tempatnya.
Ricko mencoba menghubungi ponsel Olive beberapa kali namun selalu di luar jangkauan.
"Kamu di mana, sayang." gumamnya, kemudian ia berlalu pergi untuk mencari gadis itu.
Sementara itu Ariana yang membawa Olive bersamanya nampak menghentikan mobilnya di pinggir jalan.
__ADS_1
"Kita mau kemana, nyonya ?" tanya Olive kemudian.
"Ayo turunlah dan tolong bantu saya membawa buku-buku itu ya." tukas Ariana seraya menunjuk tumpukan buku di kursi belakang.
"Baik." sahut Olive.
Mereka berjalan menuju bawah jembatan layang yang nampak beberapa anak jalanan sudah berkumpul di sana.
"Oma." teriak anak-anak tersebut saat melihat Ariana datang.
"Hai sayang, Oma bawakan buku baru buat kalian." sahut Ariana dengan mengulas senyumnya.
"Hore." anak-anak jalanan tersebut nampak sangat antusias.
Olive yang melihat mereka langsung terharu, mereka semua seperti dirinya yang hidup sebatang kara.
"Om Ricko dan tante Sarah mana Oma ?" tanya salah satu dari mereka.
"Mereka sedang sibuk sayang." sahut Ariana.
"Tante ini siapa ?" tanyanya lagi menunjuk kearah Olive.
"Ini tante Olive, temannya Oma." sahut Ariana.
"Tantenya cantik, kenapa tante tidak menikah dengan Om Ricko saja ?" ucap anak tersebut yang langsung di anggukin oleh yang lain.
"Nggak boleh bilang begitu, sayang. Kan Om Rickonya sudah sama tante Sarah." kali ini Olive yang menimpali.
"Tapi Om Ricko lebih cocok dengan tante, ya kan teman-teman? tantenya kelihatan baik tidak seperti tante Sarah suka pura-pura baik." ucap salah satu dari mereka lagi.
"Iya benar, kemarin waktu kita ketemu di lampu merah lalu kita sapa malah kita di pelototin ya kan." ucap yang lain seraya meminta persetujuan teman-temannya.
"Nggak boleh bilang begitu sayang, mungkin tante Sarahnya lagi capek atau kalian salah orang." Olive nampak menasihati.
"Sudah-sudah bagaimana kalau tante bacain cerita saja." bujuk Olive mengalihkan pembicaraan.
"Setuju tante." sahut mereka serentak.
Sedangkan Ariana nampak tersenyum menatap anak-anak kurang beruntung itu sedang tertawa bahagia, namun senyumnya langsung menyurut saat memikirkan perkataan mereka tadi.
Hingga malam hari Olive baru kembali ke Apartemennya, setelah membuka pintu unitnya lalu ia menyalakan lampunya.
Namun ia langsung terkejut saat melihat Ricko tengah duduk menunggunya di sofa ruang tamunya dalam keadaan berantakan.
Kemeja kerja laki-laki itu terlihat kusut bahkan kancingnya sudah terbuka setengah, rambutnya berantakan dan wajahnya menegang.
"Ka-kamu ?" Olive nampak terkejut.
"Dari mana ?" tanya Ricko dengan nada dingin.
"Jalan-jalan." sahut Olive sembari melepaskan sepatunya.
"Kenapa matikan ponselnya ?"
"Baterainya habis." sahut Olive sembari melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamarnya.
Merasa di abaikan, Ricko langsung mengejar istrinya. "Kamu bohongkan ?" ucapnya seraya mencekal tangan gadis itu yang nampak akan masuk ke dalam kamar mandi.
Seharian ia seperti orang gila mencari istrinya itu, ada perasaan lega saat gadis itu pulang. Namun ia juga menahan amarahnya karena perasaan khawatir yang berlebihan akan kehilangannya.
"Terserah kamu, lagipula kamu juga suka kan berduaan dengan wanita itu." sahut Olive dengan kesal.
__ADS_1
"Sayang, kamu salah paham." Ricko mencoba membujuk.
"Lebih baik kita udahan saja, aku lelah. Tolong biarkan aku pulang ke Jerman." mohon Olive yang langsung membuat Ricko nampak mengeraskan rahangnya lalu menatap gadis itu dengan tajam.
"Tidak, kita tidak akan pernah berpisah sampai kapanpun." tegasnya, hubungan mereka baru saja dimulai bagaimana bisa langsung berakhir.
Kemudian Ricko meraih pinggang Olive hingga membuat wanita itu menabrak dada bidangnya.
"Lepaskan." mohon Olive saat Ricko mulai menguasai dirinya, namun laki-laki itu langsung membungkam mulutnya dengan bibirnya.
Ricko nampak mencium Olive dengan rakus dan sedikit kasar, ia sangat mencintai gadis itu dan ia tidak akan membiarkannya pergi kemanapun.
Ia harus menjadikannya miliknya, agar istrinya itu tetap berada di sisihnya.
"Ku mohon lepaskan aku." mohon Olive dengan berderai air matanya saat suaminya itu menghempaskannya ke ranjangnya lalu mulai melepaskan pakaiannya satu persatu.
"Tidak, kamu tidak akan pergi kemana-mana sayang. Kamu akan menjadi memilikku sampai kapanpun."
Ricko tak menyerah meski istrinya itu memberontak, ia melempar pakaiannya dan pakaian gadis itu ke segala arah hingga kini mereka nampak polos.
"Ku mohon jangan lakukan." mohon Olive saat Ricko mulai menurunkan ciumannya ke leher jenjangnya, mengecupinya lalu menyesapnya hingga meninggalkan beberapa tanda kemerahan di sana.
Olive nampak mend3sah tertahan saat merasakan sensasi aneh di tubuhnya, baru kali ini ia di sentuh oleh seorang laki-laki hingga membuatnya seakan melayang.
"Jangan di tahan sayang, nikmatilah." ucap Ricko dengan suara beratnya.
Pandangannya penuh gairah saat menatap istrinya yang nampak menggelinjang saat ia menikmati bulatan indah miliknya, menyesapnya bagaikan bayi yang sedang kehausan.
Lalu ia menurunkan tangannya untuk menyentuh milik istrinya di bawah sana yang ternyata sudah terasa lembab. Hingga membuatnya tak sabar untuk memenuhinya.
"Apa kamu mau memperkosa istrimu sendiri ?" rutuk Olive di sisa-sisa tenaganya, bagaimana pun ia memberontak Ricko tetaplah pemenangnya.
Justru tenaganya semakin habis hingga ia hanya bisa pasrah di bawah kungkungan pria itu.
Ricko benar-benar membuat tubuhnya tak berdaya, bahkan dengan tak tahu malunya ia justru menginginkan lebih dari itu.
"Di perkosa tidak akan membuatmu mend3sah kenikmatan, sayang." sindir Ricko dengan gemas.
Bagaimana ia bisa di bilang memperkosanya, sedangkan istrinya itu selalu mengerang nikmat saat mendapatkan sentuhan darinya.
Kemudian ia memposisikan miliknya di depan lembah surgawi milik istrinya itu lalu mulai memasukinya dengan perlahan hingga membuat gadis itu menjerit tertahan.
Ricko nampak menciumnya dengan rakus saat miliknya di bawah sana mencoba menerobos kesucian istrinya itu.
"Aku sangat mencintaimu, sayang." ucapnya saat miliknya berhasil masuk sepenuhnya, ia bersyukur gadis itu menjaga kesuciannya dengan baik.
Ia jadi merasa bersalah karena dulu pernah menuduhnya yang tidak-tidak.
Sedangkan Olive yang sedang memejamkan matanya nampak buliran bening membasahi pipinya, perasaannya campur aduk antara senang dan sedih menjadi satu.
Ia senang karena telah memberikan kesuciannya pada pria yang sangat ia cintai, namun ia juga sedih karena hubungannya dengan pria itu mungkin saja sedang berada di ambang kehancuran meski baru di mulai.
Beberapa saat kemudian Ricko nampak menggerakkan tubuhnya dengan pelan, ia mengerang saat merasakan nikmatnya pertama kalinya bercinta.
Hasratnya yang sudah ia tahan begitu lama kini akhirnya tersalurkan pada wanita halalnya itu.
Suara erangan saling bersahutan memenuhi ruangan tersebut, meski awalnya menolak. Akhirnya Olive mulai terbuai dan menikmati setiap hentakan tubuh suaminya.
Hingga d3sahan panjang dari keduanya, menandakan mereka sampai pada puncaknya untuk pertama kalinya.
Tak cukup sekali, Ricko nampak tak lelah memasuki istrinya itu hingga ia merasa terpuaskan.
__ADS_1
Dan mulai hari ini ia tidak akan melepaskan wanita itu meski jalan di depannya begitu terjal.
"Istirahatlah sayang, karena selanjutnya aku akan terus menginginkan mu." gumamnya seraya mengusap peluh di dahi istrinya yang nampak terlelap dalam pelukannya.