Menggenggam Rindu

Menggenggam Rindu
Part~246


__ADS_3

"Dia anakmu ?" tanya Ricko sembari menatap Dila yang tertidur pulas dalam gendongan Olive.


"Hah." Olive nampak tercengang mendengar perkataan Ricko, lalu ia tersenyum jahil dalam hati. Sepertinya ia akan sedikit mengerjai laki-laki itu.


"Ya, tentu saja." sahut Olive dengan wajah yang ia buat sebahagia mungkin.


"Oh, dia sangat cantik." ucap Ricko seraya memperhatikan wajah imut Dila.


"Tentu saja." sahut Olive lagi.


"Tapi tidak mirip denganmu." ucap Ricko yang langsung membuat Olive menelan ludahnya, semoga laki-laki itu tidak mengetahui kebohongannya.


"Dia mirip papanya." sahutnya kemudian.


"Oh." Ricko hanya ber oh ria untuk menutupi kekecewaannya.


"Kata orang sih kalau seorang anak itu lebih mirip ayahnya, itu berarti cinta ayahnya sangat besar pada ibunya. Cinta kak Dean memang sangat besar hingga dia tidak mungkin meninggalkan ku." ucap Olive yang sarat dengan sindiran.


"Baiklah aku akan menidurkan anakku dulu." imbuhnya lagi lalu meninggalkan Ricko yang masih nampak tercengang dengan perkataannya.


Setelah itu Ricko berlalu juga menuju kamarnya, laki-laki itu nampak menghempaskan tubuhnya diatas ranjangnya.


Wajahnya nampak geram, sungguh ia tidak terima dengan perkataan Olive tadi. Cintanya juga sangat besar pada wanita itu, bahkan hingga kini ia masih sangat mencintainya.


Beberapa saat kemudian terdengar ketukan pintu dari luar, Ricko yang baru ketiduran nampak mendesah kesal. Namun ia tetap beranjak dari ranjangnya lalu membuka pintunya.


"Ada apa, Bik ?" ucapnya menatap ARTnya itu.


"Waktunya makan malam pak, di tunggu mbak Olive di bawah." sahut ART tersebut.


Ricko yang sebelumnya ingin marah, langsung mereda setelah mendengar nama Olive disebut.


"Baiklah, saya mandi dulu sebentar." tukasnya kemudian.


"Baik, pak."


Setelah itu Ricko menutup pintunya kembali lalu bergegas ke kamar mandi.


Sementara itu Olive yang sedang berada di meja makan nampak di temani oleh Dila yang berada di keretanya.


Saat mencium aroma parfum yang sangat ia rindukan, Olive langsung mengangkat wajahnya menatap Ricko yang sedang menuruni anak tangga.


Pria itu terlihat sangat segar setelah membersihkan dirinya, mengenakan celana pendek serta kaos polo yang nampak pas di tubuh kekarnya.


Rahangnya nampak di tumbuhi bulu-bulu halus yang sepertinya belum pria itu cukur hingga terkesan dewasa namun justru membuatnya semakin tampan.


Olive yang melihat itu nampak tak berpaling, namun saat Ricko berdehem nyaring ia langsung mengalihkan pandangannya.


"Sialan." gumamnya karena ketahuan mengagumi pria itu.

__ADS_1


Setelah itu ia mulai mengambil nasi untuk laki-laki itu juga untuk dirinya sendiri.


Ricko yang sedang duduk di hadapan Olive nampak menatap wanita itu yang dengan telaten mengambilkannya makanan.


"Terima kasih." ucapnya dengan mengulas senyumnya karena mendapatkan perhatian dari Olive.


Sedangkan Olive yang balas menatapnya nampak terpesona, pria itu semakin tampan jika tersenyum.


"Sama-sama, aku sudah biasa kok melakukannya pada kak Dean atau Mommy dan Daddy." sahutnya yang langsung membuat Ricko menyurutkan senyumnya.


Ia pikir perhatian Olive padanya karena wanita itu masih mencintainya. "Sialan, sepertinya aku terlalu ge er." gumamnya dalam hati.


Kemudian mereka nampak makan dalam diam, Olive yang sedang mengunyah makanannya nampak tertawa dalam hati.


Ia tahu Ricko sedang marah, pria itu mengunyah makanannya seakan sedang mengunyah musuhnya.


Ia sudah bertekad akan menarik ulur hati Ricko hingga akan membuat pria itu tak berdaya lalu mengemis cintanya kembali.


"Oh sayang, kamu haus ya ?" Olive segera memberikan botol susu pada Dila saat bayi itu tiba-tiba rewel.


"Kenapa minum susu botol, tidak asi saja ?" tegur Ricko seraya menatap Olive, lebih tepatnya sih menatap pabrik susu milik wanita itu yang dulu ia juga pernah merasakannya.


Olive yang melihat tatapan Ricko langsung salah tingkah. "Dasar mesum." umpatnya dalam hati.


"Dia lebih suka susu formula." sahut Olive beralasan.


"Padahal asi lebih bagus." tukas Ricko yang masih menatap Olive, wanita itu sekarang terlihat lebih berisi dan lebih menggoda tentunya.


Ricko langsung membuang muka saat menyadari pikiran kotornya.


"Sayang, kenapa masih rewel kan sudah minum susu. Oh kamu pasti kangen papa ya, mama juga kangen kok sama papa." Olive langsung menggendong Dila lalu mengajaknya bicara saat bayi itu masih saja rewel.


Ricko yang mendengar itu nampak tak suka, apa wanita itu juga tidak merindukannya yang sudah dua tahun tak bertemu.


"Kemana kak Dean ?" ucapnya kemudian yang langsung membuat Olive menatapnya sekilas.


"Keluar kota." sahutnya.


"Sudah berapa lama ?" tanya Ricko lagi.


"Baru satu minggu." sahut Olive.


"Ck, bisa-bisanya dia meninggalkan anak dan istrinya selama itu." gerutu Ricko dengan kesal.


"Baru juga satu minggu belum dua tahun." sahut Olive yang langsung membuat Ricko terdiam mendengar perkataannya.


"Aku sudah selesai aku harus menidurkan anakku." imbuhnya lagi lalu bergegas meninggalkan meja makan tersebut.


Ricko yang melihat kepergian Olive nampak mengeraskan rahangnya, setiap perkataan yang keluar dari mulut wanita itu selalu sukses memancing emosinya.

__ADS_1


Keesokan harinya....


"Kamu mau kemana ?" Ricko yang baru menuruni tangga langsung memicing saat melihat Olive yang terlihat rapi dengan setelan kerjanya.


Sebuah blouse korea dan rok span yang terlihat pas di tubuh seksinya, lekukan tubuhnya yang terlihat indah dan montok membuat Ricko nampak menelan salivanya.


Mantan istrinya itu sekarang penampilannya semakin menarik, laki-laki di luaran sana pasti banyak yang tergoda.


Ricko merasa kesal dengan pikirannya sendiri, ingin rasanya ia mengurung wanita itu dan tidak memperolehkannya kemana-mana.


"Mau ke kantor, sejak kantor di tinggal oleh orang yang tidak bertanggung jawab aku yang selalu membantu Daddy." sahut Olive bernada sindiran dan tentu saja itu membuat Ricko ternganga mendengarnya.


Sungguh kalau bukan istri kakaknya, ia sudah membungkam bibir wanita itu dengan ciumannya. Karena setiap perkataan yang keluar dari bibir tipis dan seksi itu selalu sukses membuat hatinya panas.


"Lalu Dila sama siapa ?" tanya Ricko khawatir, bagaimana pun juga Dila adalah keponakannya atau lebih tepat saudara sepupunya namun ia sudah menganggap Dean seperti kakaknya sendiri.


"Sama pengasuhnya." sahut Olive seraya mengunyah makanannya.


"Oh astaga kenapa sebagai orang tua kalian sama sekali tak bertanggung jawab, sungguh keterlaluan. Bisa-bisanya kalian sibuk bekerja dan membiarkan Dila di asuh oleh orang lain." Ricko mendadak geram, ia tidak suka jika melihat anak kurang di perhatikan oleh orang tuanya.


Brakkk


Olive langsung menggebrak meja saat mendengar cemohan Ricko.


"Jangan mengajariku tanggung jawab, jika kamu sendiri tidak bisa melakukannya." hardiknya dengan menatap tajam Ricko, setelah itu ia meninggalkan makanannya yang baru dua suap ia santap.


Ricko yang melihat kepergian Olive nampak mengusap wajahnya dengan kasar, ia tidak bermaksud menyinggung wanita itu.


"Sialan."


Saat tiba di kantor pun Olive masih menggerutu kesal, padahal ia hanya ingin membuat Ricko sadar dengan perbuatannya tapi ia juga jadi ikut-ikutan kesal sendiri.


Saat baru menginjakkan kakinya di kantornya, Olive langsung di hampiri oleh beberapa pria karyawan di sana.


Setelah mengetahui Olive adalah bagian keluarga dari perusahaan tersebut, banyak karyawan pria yang mencari perhatiannya.


Apalagi Olive adalah sosok wanita yang ramah dan mudah di dekati hingga membuat mereka cepat akrab.


"Pagi-pagi sudah kesal saja bu direktur kita ini ?" sapa salah satu dari mereka.


"Aku melewatkan sarapan jadi sedikit kesal."sahut Olive dengan mengulas senyum kecutnya.


"Kamu mau makan apa, aku akan memesankannya ?" tawar Kevin seorang manager pemasaran.


"Tidak biar aku saja yang membelikannya." sela Michael manager keuangan.


"Atau mau bekalku saja, aku bisa makan siang di kantin nanti." kali ini Ali seorang manager personalia keturunan timur tengah yang nampak paling tampan di antara mereka menawari bekalnya.


Sementara itu Ricko yang melihat Olive di rayu ketiga pria itu nampak menatap nyalang ke arah mereka, rahangnya mengeras lalu giginya gemeretak seakan ingin mengunyah mereka hidup-hidup.

__ADS_1


"Dasar ganjen, apa dia lupa sudah bersuami."


__ADS_2