Menggenggam Rindu

Menggenggam Rindu
Part~128


__ADS_3

Edgar langsung beranjak dari duduknya lalu melangkahkan kakinya ke arah Dena yang masih berdiri tak jauh dari meja kerjanya itu.


Sedangkan Dena sedikitpun tak menggeser posisinya saat Edgar berjalan mendekatinya, ia nampak berdiri dengan angkuh tak peduli bagaimana tatapan tajam Edgar ke arahnya.


"Menarik." gumam Edgar dalam hati.


Biasanya kebanyakan karyawannya sudah takut duluan saat menghadapinya, tapi berbeda dengan wanita di depannya itu dan Edgar semakin tertantang.


Edgar bersandar di meja kerjanya seraya melipat kedua tangan di depan dadanya, matanya nampak menelisik penampilan Dena.


Tidak ada perubahan pada diri wanita itu dari dua tahun yang lalu, tubuhnya tetap kurus hanya dadanya saja terlihat lebih membesar dan sorot matanya lebih dingin.


Kalau dua tahun yang lalu wanita ini menampakkan kesedihan yang begitu mendalam, namun berbeda dengan sekarang sorot mata itu begitu dingin seakan penuh dendam.


"Jadi kamu sudah tahu kesalahanmu apa ?" ujar Edgar kemudian seraya menatap Dena dari jarak yang kurang dari satu meter itu.


"Tahu pak, saya merokok di sembarang tempat." sahut Dena tanpa mengalihkan pandangannya pada Edgar.


"Apa kamu tahu, gara-gara ulahmu itu reputasi perusahaan saya bisa hancur." tegas Edgar dengan sedikit menaikkan oktaf suaranya, bahkan lebih terkesan membentak.


"Saya minta maaf pak, saya janji tidak akan mengulanginya lagi." ucap Dena dengan tegas, tak ada rasa takut sedikitpun di matanya.


Edgar menatap Dena sekilas, setelah itu ia kembali duduk di kursi kerjanya. Sepertinya wanita itu hanya menganggap gertakannya sebagai angin lalu dan Edgar sangat kesal karena itu.


"Saya sedang sibuk, cepat keluarlah dari sini !!" perintah Edgar kemudian yang langsung membuat Dena menaikkan sebelah alisnya heran karena laki-laki itu justru menyuruhnya keluar bukannya memberikan hukuman atau langsung memecatnya saja.


"Jadi saya tidak di pecat, pak ?" tanya Dena memastikan.


"Hm." sahut Edgar tanpa menatap Dena, ia nampak sibuk memeriksa berkas-berkas di atas mejanya.


"Terima kasih pak, kalau begitu saya permisi." ucap Dena kemudian ia segera berlalu pergi meninggalkan ruangan tersebut.


Saat Dena melangkah keluar, Edgar nampak mengangkat kepalanya menatap kepergian wanita itu.


"Bagaimana wanita itu bisa bersikap biasa saja seakan kejadian dua tahun yang lalu itu tidak ada artinya, apa kehilangan kesucian itu hal lumrah baginya ?" Gumam Edgar seraya mengetuk-ngetuk bolpoinnya di atas meja.


Sementara itu Dena yang akan masuk ke dalam ruangannya, ia nampak terkejut saat melihat seorang wanita yang sangat ia kenal sedang melangkahkan kakinya menuju lift.


"Sera? apa yang dia lakukan di sini, apa jangan-jangan wanita yang ku lihat di parkiran bersama pak Edgar waktu itu juga dia? sepertinya dunia ini begitu sempit." gumam Dena.

__ADS_1


Sera adalah saudara tirinya yang hanya berbeda beberapa bulan dengannya, kadang ia tak habis pikir dengan Ayahnya itu, di saat meniduri ibunya pria itu juga telah meniduri wanita lain hingga menyebabkan dua wanita hamil sekaligus.


Setelah Dena masuk kembali ke dalam ruangannya, ketiga temannya itu langsung mendudukkan dirinya di kursi. Ia seperti seorang penjahat yang akan di interogasi saja.


"Loe tidak di pecatkan ?" tanya Marlina, ia terlihat sangat khawatir karena teman kerjanya yang sedikit berpikir waras ya cuma wanita itu.


"Loe tadi pasti habis di marahi sama pak Edgar kan, beliau menyeramkan nggak seperti rumor yang beredar di kantor akhir-akhir ini ?" tanya Nay penasaran.


Menurut rumor yang ia dengar, Edgar tidak akan mentolerin kesalahan sedikitpun dari para karyawannya dan pria itu juga tidak segan untuk memecatnya.


Karena sikapnya itu para karyawan di kantornya menyebutnya sebagai iblis tampan.


"Lalu bagaimana rasanya ngobrol dengan pak Edgar dari dekat, pasti pak Edgar sangat tampankan ?" kali ini Anggi juga ikut menimpali.


Dena yang mendengar perkataan tak berfaedah dari kedua temannya itu nampak kesal. Dasar teman tidak ada akhlaknya bukannya mengkhawatirkannya justru sibuk mencari informasi tentang bossnya.


Kecuali Marlina, gadis bertubuh sedikit bongsor itu sepertinya masih berada di jalan yang lurus sama seperti dirinya.


"Tiba-tiba gue sangat haus dan juga lapar." ucap Dena seraya melirik kotak bekal dan segelas jus mangga di atas meja Anggi.


"Ini minumlah, gue baru memesannya di kantin." Anggi langsung menyodorkan segelas jus mangga miliknya yang masih belum di minumnya.


Tanpa berpikir panjang dan tidak mau menolak rezeki, Dena langsung menyantap makanan dan minuman tersebut hingga tandas, ternyata berbohong itu lumayan menguras energi juga pikirnya.


"Ayo cerita, loe ngapain aja di dalam ruangan pak Edgar tadi, loe nggak di pecatkan ?" tanya Anggi tak sabar.


Dena yang kekenyangan nampak bersendawa dengan nyaring hingga membuat kedua temannya itu ingin menjitaknya, benar-benar tidak ada sopan santunnya.


"Maaf." ucap Dena dengan tersenyum nyengir.


"Jadi gimana ?" desak Nay tak sabar.


"Tenang saja gue nggak di pecat kok, tapi....." Dena sengaja menggantung ucapannya.


"Tapi apa Dena, cepat katakan kalau tidak kembalikan jus gue tadi." desak Anggi memaksa.


"Iya kembalikan juga bekal gue." Nay juga ikut-ikutan.


"Tuh iblis tampan kesayangan loe berdua lagi pacaran sama kekasihnya." sahut Dena sembari tertawa nyaring, rasanya senang sekali menggoda kedua sahabatnya itu.

__ADS_1


"Sialan, tuh cewek pasti pakai guna-guna. Cantiknya juga standar, menang body doang sama tuh semangka pasti hasil suntik silikon." cibir Anggi bar-bar, setelah ia mencari tahu ternyata kekasih bossnya itu seorang model.


"Benar, karena tuh cewek model aja makanya pak Edgar suka." cibir Nay juga.


"Kalau sama gue cantikan mana ?" celetuk Dena seraya memainkan bulu-bulu mata cantiknya.


"Cantikan loe kemana-mana lah." sahut Nay yang langsung membuat Dena tersenyum girang.


"Tapi sayang kerdil, loe itu 11 12 saja sama bonsai." ledek Anggi yang langsung mendapatkan timpukan dari Dena.


"Sialan." gerutu Dena.


Sementara itu Edgar yang berada di dalam ruangannya nampak menatap sebuah foto di tangannya.


"Sepertinya hanya ini satu-satunya yang bisa membuktikan kalau Dena adalah wanita itu, kalau benar lihat saja nanti berani sekali dia menghinaku."


Edgar mengingat bagaimana waktu itu ia menemukan uang seratus juta yang di tinggalkan oleh wanita itu setelah mereka menghabiskan malam panjang. Sebagai laki-laki ia merasa harga dirinya sangat di rendahkan.


"Sayang." panggil seorang wanita saat baru masuk ke dalam ruangan Edgar.


"Hai, Ser." Edgar langsung menyimpan foto tersebut ke dalam laci mejanya, kemudian ia beranjak dari duduknya lalu menyambut kekasihnya itu.


Sera saudara tirinya Dena adalah kekasihnya Edgar, sudah tiga bulan ini mereka menjalin hubungan.


Edgar menyukai Sera karena wanita itu selalu bersikap lemah lembut pada siapapun, wanita itu selalu mendukung pekerjaannya dan tidak pernah banyak menuntut padanya.


"Aku membawakanmu makan siang." ucap Sera setelah mereka duduk berdampingan di sofa.


"Terima kasih, masakan mu selalu enak. Memang kamu tidak ada pemotretan hari ini ?" tanya Edgar kemudian.


"Mungkin nanti sore, aku kesini karena merindukanmu." ucap Sera seraya memeluk Edgar.


Edgar yang terkejut karena mendapatkan pelukan tiba-tiba nampak terkekeh, kemudian ia mengusap pelan punggung kekasihnya itu.


"Sayang, sebenarnya kamu serius nggak sih sama aku ?" tanya Sera sesaat setelah melepaskan pelukannya.


"Kenapa kamu bertanya begitu, bukankah semua orang juga tahu kita menjalin hubungan." sahut Edgar.


Meski Edgar masih ragu dengan perasaannya sendiri, tapi ia akan berusaha mencintai Sera. Selain karena Sera berasal dari keluarga baik-baik, kedua keluarga mereka juga sudah saling mengenal apalagi sang ibu juga menyukai kekasihnya itu.

__ADS_1


"Iya aku tahu, tapi orangtuaku sudah mendesakku agar cepat menikah. Aku sangat mencintaimu Ed, kalau kamu memang serius ayo secepatnya kita menikah." mohon Sera yang langsung membuat Edgar terperanjat dengan permintaan kekasihnya itu.


__ADS_2