
Pagi itu Ariana bangun sangat pagi, meski tubuhnya terasa remuk karena pergumulannya semalam bersama sang suami.
Sangat tidak sopan jika ia bangun kesiangan di rumah mertua, bisa-bisa panci dan wajan akan melayang ke arahnya. Tapi itu tidak mungkin juga terjadi, karena di Mansion tersebut banyak sekali Asisten rumah tangga.
Namun Ariana tetap saja akan bangun pagi dan menyiapkan sarapan untuk anak dan suaminya. Karena prinsipnya seenak-enaknya masakan koki terbaik, tapi masakan seorang ibu sekaligus istri itu lebih enak karena di masak dengan penuh cinta.
Kemudian Ariana melangkahkan kakinya ke kamar mandi, lalu segera membersihkan tubuhnya. Ketika sedang berdiri di depan cermin, ia nampak menghela napasnya ketika melihat sekujur tubuhnya penuh dengan jejak-jejak percintaannya semalam.
Suaminya itu sungguh tak membiarkannya tidur nyenyak, meski kemarin siang mereka sudah melakukannya tapi menjelang tidur laki-laki itu meminta haknya kembali.
"Gini amat jadi pengantin baru." gerutunya.
Setelah selesai membersihkan badannya dan sedikit merias wajahnya, Ariana segera keluar kamarnya dan turun menuju dapur yang berada di lantai satu.
Di sana nampak seorang koki dan dua asistennya sedang berjibaku dengan masakannya.
"Selamat pagi nyonya muda, ada yang bisa kami bantu? silakan anda duduk di meja makan kami akan melayani anda." ucap koki tersebut dengan ramah.
Ariana tak mengindahkan ucapan koki tersebut, bukannya ia duduk di meja makan ia malah masuk ke dalam dapur itu juga.
"Kalian sedang masak apa ?" tanya Ariana penasaran.
"Nyonya muda tolong anda duduk di meja makan saja, kalau nyonya besar melihat beliau bisa marah." mohon chef tersebut yang langsung membuat Ariana menaikkan sebelah alisnya tak mengerti.
"Kenapa marah, apa nyonya besar takut aku merusak dapurnya yang cantik ini ?" ucapnya seraya menatap dapur tersebut yang terlihat sangat mewah dan juga modern.
"Bukan begitu nyonya muda, sebagai nyonya di rumah ini anda tak pantas berada di dapur. Nanti badan anda akan bau." sahut chef tersebut tak enak, namun Ariana langsung terkekeh.
"Kalau bau ya tinggal mandi saja pak, ngomong-ngomong apa nyonya besar juga tak pernah masuk ke dalam sini ?" tanya Ariana.
Chef tersebut menggelengkan kepalanya, sebagai seorang koki yang sudah mengabdi puluhan tahun di mansion tersebut. Ia tak pernah melihat nyonya besarnya itu menginjakkan kakinya di dapurnya.
"Tidak pernah nyonya muda, begitu juga dengan nyonya Monica." sahut koki tersebut.
"Tapi itu pengecualian buat saya, mulai hari ini untuk makanan suami dan anak saya biar saya yang memasaknya sendiri kecuali saya tidak sempat." tegas Ariana.
"Tapi nyonya...."
"Tenang saja, mereka sudah terbiasa dengan masakan ku jadi takkan keracunan." sela Ariana sembari terkekeh.
"Baik nyonya, silakan." Koki tersebut nampak pasrah ketika Ariana mulai mengambil bahan makanan di dalam lemari pendingin.
Nyonya mudanya yang satu ini memang sangat berbeda daripada nyonya muda sebelumnya, karena biasanya Monica lebih suka memerintahnya dan memarahinya ketika tidak sesuai dengan kemauannya.
Ketika Ariana sedang sibuk memasak di dapur, Demian yang baru datang langsung menyuruh para ARTnya itu untuk meninggalkan dapur tersebut.
__ADS_1
"Astaga, Mas." pekik Ariana ketika Demian tiba-tiba memeluknya dari belakang.
"Kamu kebiasaan deh mas bikin orang kaget, untung saja penggorengan ini tidak melayang ke wajahmu." imbuhnya lagi dengan nada menggerutu.
"Kalau itu sampai terjadi, kamu tidak akan mempunyai suami tampan lagi sayang." sahut Demian seraya menenggelamkan wajahnya di ceruk leher wanita itu, lalu menghirup dalam-dalam aroma tubuhnya yang selalu memabukkan.
"Mas menjauhlah, bagaimana aku bisa memasak kalau kamu seperti ulet begini." protes Ariana.
"Di sini sudah ada koki terbaik sayang, jadi untuk apa kamu repot-repot memasak."
"Ricko selalu menyukai masakan ku, Mas."
"Aku juga menyukainya masakan mu."
"Maka dari itu biarkan aku memasak."
"Baiklah-baiklah, aku akan menunggumu di meja makan saja." Demian melepaskan pelukannya, kemudian ia berlalu duduk di meja makan lalu mengambil surat kabar pagi ini.
Beberapa saat kemudian menu bubur ayam yang di masak Ariana sudah selesai, ia akan meminta ART di sana untuk menyiapkannya di meja makan. Karena ia harus membantu sang suami bersiap ke kantor.
Sedangkan Ricko jangan di tanya lagi, bocah kelas 2 SD itu sudah sangat mandiri. Dia sudah pintar mandi sendiri dan juga berganti pakaiannya sendiri.
Lain halnya dengan Demian, laki-laki dewasa itu sejak tinggal bersamanya sifat kenak-kanakannya kembali muncul hingga Ariana seperti mempunyai bayi lagi, bayi tua lebih tepatnya.
Laki-laki itu yang biasanya di layani oleh ARTnya, kini maunya hanya Ariana yang melakukannya.
"Mandiin, sayang." sahutnya.
"Jangan macam-macam Mas, aku sudah mandi." tolak Ariana.
"Masa sih tapi kamu kok masih bau." Demian nampak mengendus.
"Hah masa ?" Ariana langsung mengendus bau tubuhnya sendiri.
"Perasaan masih harum." ucapnya lagi.
"Beneran sayang bau, bukannya kamu tadi baru selesai masak." dusta Demian.
"Masa sih."
"Sudah ayo mandi, Mama tidak suka melihat orang bau loh." bujuk Demian.
"Kamu duluan saja, ntar macam-macam lagi di dalam." tolak Ariana.
"Astaga sayang, itu akan membuang-buang waktu saja. Bagaimana kalau Mama dan Papa sudah menunggu kita di bawah." bujuk Demian kembali.
__ADS_1
"Baiklah." Ariana menurut saja ketika Demian membawanya masuk ke dalam kamar mandi, tanpa ia tahu suaminya itu sudah mempunyai maksud terselubung.
Satu jam kemudian, Ariana yang baru keluar dari kamar mandi nampak mencebikkan bibirnya. Lain halnya dengan suaminya, laki-laki itu nampak tersenyum puas karena sudah berhasil meminta jatahnya pagi ini.
Niat awalnya hanya mandi bersama, tapi suaminya itu justru membuatnya mendesah tak karuan hingga satu jam berlalu.
"Ayolah sayang, nggak baik loh cemberutin suami pagi-pagi." bujuk Demian.
"Kamu selalu saja modus." sungut Ariana.
"Tapi kamu suka kan ?"
"Nggak."
"Nggak tapi kok mendesah keenakan." ledek Demian.
"Mas." teriak Ariana, kenapa harus di bahas lagi membuatnya malu saja.
"Iya maaf, ya sudah ayo sarapan atau kita sarapan di dalam kamar saja ?" ujar Demian seraya mengedipkan sebelah matanya.
"Dasar mesum." gerutu Ariana setelah itu ia menghentakkan kakinya keluar dari kamarnya.
Sedangkan Demian nampak terkekeh melihat tingkah menggemaskan istrinya itu.
Sesampainya di meja makan nampak tuan Anggoro dan istrinya sudah menunggu di sana, begitu juga dengan Ricko sudah rapi dengan seragam sekolahnya.
"Selamat pagi Pa, Ma." sapa Ariana ramah.
"Pagi anak Mama yang baik." ucapnya lagi pada Ricko.
Ricko hanya mengangguk sembari mengulas senyumnya, karena mulutnya penuh dengan makanan bubur ayam kesukaannya.
"Selamat pagi juga, Nak." sahut tuan Anggoro yang juga terlihat lahap makan bubur ayam buatannya.
Ehmmm
Nyonya Anggoro nampak berdehem kecil sebelum membuka suaranya.
"Meski di sini sudah banyak ART, tapi biasakan bangun pagi biar yang lainnya tidak menunggu lama untuk sarapan. Lihatlah kami hampir selesai sarapan tapi kalian baru datang." ucapnya sedikit kesal.
"Maaf, Ma." sahut Ariana, rasanya ia ingin meremas wajah suaminya karena laki-laki itu yang sudah membuatnya terlambat dan mendapatkan teguran dari ibu mertuanya.
"Biarkan saja Ma, maklum mereka pengantin baru." bela tuan Anggoro.
"Iya tuh, Mama seperti tidak pernah muda saja." cibir Demian seraya menarik kursi buat sang istri.
__ADS_1
"Mama hanya mengingatkan saja biar tidak kebiasaan, ya sudah ayo cepat makanlah ini bubur ayam masakan Chef kita rasanya enak banget bahkan Mama sampai nambah." ujar nyonya Anggoro sembari melahap bubur terakhirnya di dalam mangkuk.
"Ini kan bubur ayam buatan ibuk, Nek." celetuk Ricko yang langsung membuat nyonya Anggoro langsung tersedak.