
"Tuan, apa hari ini anda tidak masuk kantor lagi ?" tanya Juno saat menghubungi atasannya itu yang sudah dua minggu ini memilih bekerja dari rumah dengan alasan sedang mengidam.
"Hm." sahut Edgar yang masih nampak bermalas-malasan diatas ranjang bersama sang istri.
"Tapi nanti siang ada meeting penting, tuan." ucap Juno mengingatkan.
"Kamu saja yang datang." sahut Edgar seraya mengusap lembut puncak kepala istrinya yang nampak sedang bersandar di dadanya sembari bermain ponsel.
"Tapi mereka ingin bertemu dengan anda secara langsung tuan." bujuk Juno.
"Ck, katakan saja pada mereka jika saya sedang kurang sehat." Edgar nampak berdecak kesal, rencananya untuk menghabiskan waktunya seharian bersama istrinya lagi-lagi gagal karena setiap hari ada saja hal yang membuat mereka sibuk.
Kalau tidak dirinya yang sibuk meeting online pasti Dena yang sedang sibuk juga dengan pekerjaannya.
"Mereka memohon waktunya sebentar." bujuk Juno tak menyerah.
Edgar nampak mendesah kesal. "Baiklah, suruh mereka temui saya di kantor nanti siang." sahutnya kemudian yang langsung terdengar helaan lega dari ujung telepon.
"Terima kasih tuan, akan segera saya hubungi." sahut Juno lega, setelah itu ia mematikan panggilannya.
"Kenapa sayang ?" tanya Dena saat mendengar suaminya menghela napas panjangnya.
"Aku harus meeting di kantor sebentar, sayang." sahut Edgar.
"Yaudah siap-siap sana." ucap Dena seraya menjauhkan badannya agar sang suami segera bangun, tapi sepertinya laki-laki itu enggan beranjak dari tidurnya
"Sayang, nanti terlambat ini udah mau siang loh." imbuhnya lagi.
"Vitamin dulu sayang, biar semangat." bujuk Edgar dengan tatapan menggodanya.
"Baiklah, sebentar ku ambilkan." sahut Dena seraya beranjak dari ranjangnya, namun suaminya itu langsung menahannya.
"Apalagi ?" ucap Dena.
"Bukan vitamin yang itu." sahut Edgar yang langsung membuat Dena melebarkan matanya, ia tahu apa yang di mau sang suami tapi jika ia menurutinya maka laki-laki itu pasti akan terlambat pergi meeting.
"Sayang ini sudah siang loh." bujuk Dena.
"Ayolah sayang, just quickly " bujuk Edgar.
"No, nanti ya setelah kamu pulang aku janji deh." sahut Dena, kemudian berlalu menjauh.
__ADS_1
Ia nampak masuk ke dalam walk in closet dan di ikuti Edgar di belakangnya.
Setelah menyiapkan pakaian kerja laki-laki itu, Dena juga nampak bersiap-siap.
"Kamu mau kemana, sayang ?" tanya Edgar saat melihat istrinya juga sedang bersiap-siap.
"Menjemput Elkan di sekolah." sahut Dena seraya mengoles lipstik merah di bibirnya.
"No, biar aku yang menjemputnya. Kamu di rumah saja, oke ?" tegas Edgar.
"Tapi kan kamu meeting, sayang ?" sahut Dena menatap suaminya dari pantulan cermin.
"Aku akan menjemput Elkan dulu, baru ke kantor lagipula aku hanya meeting sebentar aja. Ingat kamu punya janji setelah aku selesai meeting nanti oke ?" ujar Edgar.
"Kalau masalah itu aja selalu ingat." gerutu Dena pelan.
"Kamu bilang apa, sayang ?" tanya Edgar saat mendengar istrinya menggerutu tak jelas.
"Nggak ada, aku cuma bilang bosan di rumah." sahutnya berdusta.
"Jadi boleh ya aku menjemput Elkan ?" imbuhnya lagi dengan nada memohon.
Edgar nampak menghela napasnya, ia paling tidak bisa menolak keinginan istrinya. Namun melihat wanita itu yang terlihat kelelahan membawa perut besarnya mau tak mau ia harus sedikit lebih tegas.
"Apa, kamu mengizinkanku ya ?" sahut Dena dengan senyum yang ia buat semanis mungkin agar suaminya itu mengizinkannya pergi.
Edgar yang merasa gemas langsung memegang tengkuk sang istri lalu melum😘t bibir merahnya dengan rakus.
Dena nampak memberontak karena riasan wajahnya pasti akan berantakan karena ciuman panas suaminya itu, namun apa daya tenaganya tak sebanding.
"Baiklah, sekarang istriku yang cantik ini di rumah saja ya biar suamimu ini yang menjemput putra kita." ucap Edgar seraya menatap lipstik di bibir sang istri yang nampak berantakan karena ulahnya tadi.
Sebelum wanita itu protes, Edgar segera meninggalkan istrinya tersebut. Sedangkan Dena nampak mendesah kesal apalagi saat melihat cermin di depannya itu.
"Papa, Mama mana ?" tanya Elkan siang itu saat sang ayah sedang menjemputnya di sekolahnya, bocah kecil yang hampir berusia 3 tahun itu kini bersekolah di sebuah playgroup tak jauh dari rumahnya.
"Mama sedang di rumah sayang, kita ke kantor dulu oke ?" sahut Edgar, ia terlihat tampan dengan kemeja biru langit yang nampak pas di tubuh atletisnya serta kaca mata hitam yang bertengger di hidung mancungnya membuat semua orang yang lewat langsung menatapnya.
"Papa, enapa cemua olang liatin Papa ?" tanya Elkan dengan polos.
"Hm, apa ya ?" Edgar nampak berpikir seraya menatap Elkan yang sudah berada di gendongannya tersebut.
__ADS_1
"Mungkin karena Papa tampan kali." ucapnya lagi setelah pura-pura berpikir.
Elkan yang menatap sang ayah nampak berpikir juga. "Iya, Papa anteng." ucapnya.
"Tapi Papa ndak boleh natal ya, nanti Ekan tacih tau Mama papa odain tante-tante." imbuhnya lagi memperingatkan sang ayah.
"Astaga sayang, bukan Papa yang godain, tapi mereka sendiri yang lihatin Papa." sanggah Edgar sembari menatap putranya itu dengan gemas.
"Tapi Papa liatin meleka juga." sahut Elkan tak mau kalah.
"Papa mana ada lihatin mereka, Nak." sanggah Edgar membela diri.
"Tapi kok Papa tahu meleka liatin Papa, itu belalti Papa juga liatin meleka dong." ucap Elkan tak mau kalah.
Edgar yang tiba-tiba merasa pusing dengan sikap putranya tersebut ia langsung membawa bocah kecil itu masuk ke dalam mobilnya sebelum terlalu banyak berbicara.
Sementara itu pagi itu Sera terlihat sibuk membuat sarapan di dapurnya, sembari menunggu makanannya matang ia nampak menyapu lantai lalu menjemur pakaian yang sudah ia cuci tadi pagi.
Dan itu tak luput dari pengawasan Martin yang pagi itu sedang menikmati kopi paginya bersama Helena, meski ia sedang mendengarkan perkataan Helena yang sedang asyik bercerita namun entah kenapa ia tak tahan untuk tidak curi-curi pandang ke arah Sera.
Sejak Sera mulai menjauhinya dan berbicara seperlunya padanya, ia jadi selalu memikirkan wanita itu.
Biasanya Sera selalu saja mengajaknya berdebat, wanita itu seakan tidak jera dengan perlakuan kasar darinya.
Namun saat wanita itu menjadi wanita penurut dan pendiam seperti saat ini, Martin merasa ada yang kurang dan ia jadi merasa gelisah sendiri.
Beberapa saat kemudian mereka nampak sarapan bersama. "Masakanmu memang nggak ada duanya." puji Helena.
"Iya dong, orang di hutan ini cuma ada aku doang yang masak." canda Sera sembari tersenyum kecil dan itu tak luput dari pengawasan Martin yang entah kenapa ia tiba-tiba ikut tersenyum.
"Ah iya benar." sahut Helena terkekeh.
"Tapi ini memang sangat enak kok, iya kan sayang ?" imbuhnya lagi seraya menatap Martin.
"Biasa aja." sahut Martin cuek, namun ia memakannya dengan lahap.
Sera yang merasa makanannya tak di hargai, ia nampak menatap Martin kesal dan bersamaan pula Martin juga sedang menatapnya.
Pandangan mereka nampak terkunci beberapa saat, namun Sera segera membuang mukanya. Lalu ia beranjak dari duduknya.
"Aku sudah selesai, kalau kalian sudah selesai biarkan saja piringnya nanti aku yang membersihkannya." ucapnya, lalu ia melangkahkan kakinya ke arah wastafel, mencuci piringnya kemudian berlalu meninggalkan meja makan tersebut.
__ADS_1
Martin yang menatap kepergian Sera nampak sedikit mengulas senyumnya, namun setelah itu ia menghela napas panjangnya setelah menyadari ada yang tidak benar dengan otaknya saat ini.