
Ariana langsung mengerjapkan matanya ketika merasakan sentuhan demi sentuhan pada tubuhnya, rasa dingin terasa menusuk kulitnya yang kini nampak polos.
Rasanya percuma juga ia memakai pakaian kurang bahan tadi, toh pada akhirnya pakaian tersebut entah berada di mana sekarang.
"Mas, apa yang kamu lakukan ?" Ariana terperanjat ketika melihat suaminya itu sudah berada di atas tubuhnya.
Rasa malu sekaligus nikmat menjalar ke seluruh tubuhnya saat laki-laki itu menguasai dua gundukan kenyalnya.
"Menurutmu, sayang ?" ucap Demian dengan suara berat, kemudian ia menenggelamkan wajahnya lagi di sana.
"Ke-kenapa tidak membangunkan ku ?" Ariana nampak tercekat, ketika merasakan sensasi luar biasa saat Demian menghisap dan mengulumnya.
"Dengan cara ini aku membangunkan mu sayang, kamu terlalu seksi malam ini dan aku tidak tahan kalau membiarkan mu tidur nyenyak." sahut Demian setelah itu ia menenggelamkan lagi wajahnya di sana.
"Ah mas, stop jangan lakukan itu lagi." Ariana ingin menghentikan sang suami tapi tangannya justru meremas rambutnya hingga membuat laki-laki itu semakin menenggelamkan wajahnya di sana.
"Aku sudah tidak tahan, sayang."
Demian bangkit kemudian ia menanggalkan satu-satunya kain yang menempel di tubuhnya hingga memperlihatkan miliknya yang siap memenuhi istrinya itu.
"Kamu benar-benar membuatku bergairah, sayang." ucapnya lagi, kemudian ia merangkak ke atas tubuh Ariana lagi lalu melahap bibirnya dengan lembut.
"Ku mohon lakukan dengan pelan." mohon Ariana.
Meski dirinya bukan seorang gadis lagi tapi bagaimana pun ia baru melakukannya dua kali dan pasti rasanya tetap akan menyakitkan mengingat terakhir ia melakukan waktu itu rasanya sangat sakit meski selanjutnya ia juga sangat menikmatinya.
"Tentu saja, akan ku pastikan kamu akan menjerit nikmat malam ini." sahut Demian.
"Pelan-pelan." Ariana mengingatkan lagi ketika merasakan milik suaminya itu mencoba untuk memasukinya.
"Mungkin akan sedikit sakit, sayang. Tapi percayalah setelah itu kamu tidak akan merasakan sakit lagi."
Demian mengulum lagi bibir istrinya itu dengan lembut seraya mencoba memasukinya.
Meski terasa sangat sempit tapi Demian berusaha untuk masuk lebih dalam lagi dan.....
"Mas..." pekikan tertahan dari bibir Ariana menandakan ia sudah berhasil memenuhinya sekarang.
Dengan perlahan Demian menggerakkan tubuhnya. "Ini sangat sempit, sayang." ucapnya seraya menatap lembut wajah Ariana yang mulai kemerahan.
Ariana langsung memalingkan wajahnya, rasanya sangat malu di tatap suaminya seperti itu. Namun itu justru memudahkan Demian menjelajahi leher jenjang istrinya itu dengan bibirnya, memberikan banyak tanda kepemilikan di sana hingga membuat wanita itu mendesah tak karuan.
"Kamu sangat nikmat, sayang. Bagaimana aku bisa berhenti." Demian yang awalnya melakukannya dengan pelan, kini ia menghujam sang istri tanpa ampun.
Dan benar saja Demian rasanya tak bisa berhenti, ia menghujamnya tanpa kenal lelah. Ia begitu menginginkan istrinya itu lagi dan lagi, seakan ingin memuaskan segala dahaganya selama ini.
Hingga menjelang dini hari laki-laki itu baru beranjak dari atas tubuh wanita itu.
Sebenarnya ia belum merasa puas, hanya saja ia merasa kasihan melihat istrinya itu kelelahan akibat pelepasannya yang kesekian kali dan tentu saja Demian sangat bangga akan hal itu.
Keesokan harinya.....
"Pagi sayang." sapa Demian ketika melihat istrinya itu baru membuka mata.
"Pagi, ini pukul berapa mas ?" Ariana mengucek matanya yang masih terasa mengantuk, sungguh saat ini badannya terasa sangat lelah sekali.
"Jam 10." sahut Demian, laki-laki itu nampak duduk bersandar di headboard ranjangnya seraya mengecek pekerjaan di ipadnya.
"Astaga, aku bangun kesiangan." Ariana langsung panik, ia tak biasanya bangun sesiang ini. Ia harus segera membuat makanan untuk sang putra.
__ADS_1
"Sayang, mau kemana ?" Demian langsung menahan istrinya saat wanita itu hendak bangun dari tidurnya.
"Ricko pasti mencariku Mas."
"Ricko aman bersama Mama dan Papa di Mansion, sayang."
"Tapi bagaimana kalau dia mencariku ?"
"Anak itu sudah cukup besar untuk mengerti kalau Ibu dan Daddynya sedang membuatkannya seorang adik." sahut Demian dengan senyuman nakalnya.
"Jangan macam-macam, Mas. Aku sangat lelah." keluh Ariana.
Ariana merasakan tubuhnya begitu remuk, suaminya itu benar-benar tak mempunyai belas kasihan padanya. Sepanjang malam laki-laki itu terus menerus menyatukan tubuhnya tanpa kenal lelah.
"Tapi itu sangat menyenangkan sayang dan membuatku tak bisa berhenti." Demian meletakkan ipadnya di atas nakas, lalu ikut merebahkan tubuhnya di samping istrinya itu.
"Kamu bilang menyenangkan? tapi rasanya nyawaku seperti di cabut dari tubuhku." gerutu Ariana kesal.
"Kamu terlalu berlebihan sayang, nyatanya pagi ini kamu terlihat sangat segar." goda Demian.
"Aku mau mandi." Ariana beranjak dari tidurnya, berdekatan dengan suaminya rasanya tak aman.
"Mau ku bantu ?" tawar Demian.
"Tidak perlu." tolak Ariana.
Kemudian ia segera turun dari ranjangnya tapi tiba-tiba selangkangannya terasa nyeri, Demian yang melihat sang istri meringis kesakitan langsung mengangkat tubuhnya.
"Jangan terlalu di paksa." ujar Demian seraya menggedong istrinya dan membawanya ke dalam kamar mandi.
"Aku bisa sendiri, Mas." tolak Ariana.
"Berendam air hangat akan mengurangi rasa lelah." imbuhnya lagi.
"Kamu sudah mandi, Mas ?" tanya Ariana yang kini tubuhnya sudah di penuhi oleh busa.
"Apa kamu ingin mengajakku mandi, hm ?" goda Demian dengan senyuman nakalnya.
"Jangan mulai deh, Mas."
"Ya siapa tahu, kamu masih mampu beberapa ronde lagi." celetuk Demian.
"Masssss." pekik Ariana kesal.
"Becanda sayang, aku sudah mandi kok. Kamu berendam saja, akan ku pesankan sarapan untukmu." Demian langsung bangkit dari duduknya dan setelah itu keluar dari kamar mandi tersebut.
Ariana mengulas senyumnya, binar bahagia nampak di wajahnya, apalagi mengingat bagaimana laki-laki itu memperlakukan dirinya dengan begitu berharga.
"Terima kasih, Mas." gumamnya.
Setelah itu ia nampak memejamkan matanya, merasakan hangatnya air yang menyatu dengan tubuhnya hingga membuatnya terlelap tidur.
Tiga puluh menit kemudian Ariana nampak mengerjapkan matanya ketika mendengar suara tawa suaminya.
"Apa ada orang lain di luar ?" gumam Ariana.
Kemudian ia segera keluar dari bathup, lalu segera membersihkan dirinya.
"Ya sayang, Daddy sangat merindukanmu." ujar Demian pada sang penelepon.
__ADS_1
Ariana yang baru keluar dari kamar mandi nampak samar-samar mendengar suaminya itu berbicara.
"Apa mas Demian sedang menelepon Ricko ?" gumam Ariana.
"Iya, kamu baik-baik di sana ya. Nurut sama Mommy." ucap Demian lagi.
"Apa itu Olive ?" gumam Ariana lagi, ada perasaan kurang suka di hatinya ketika Demian menghubungi Olive atau Monica di belakangnya.
"Please Ariana, jangan berpikir macam-macam. Bagaimana pun juga mereka sudah 8 tahun tinggal bersama, pasti ada ikatan batin dan juga kasih sayang di antara mereka."
Ariana mencoba meyakinkan dirinya sendiri, dia tidak boleh egois dan berharap semuanya akan baik-baik saja.
Kemudian ia mengurungkan langkahnya untuk menghampiri suaminya yang sedang berada di balkon.
Demian yang baru selesai berbicara dengan Olive di telepon, segera masuk kembali ke kamarnya. Ia langsung mengulas senyumnya ketika melihat sang istri sedang berdiri menatap pemandangan kota dari balik jendela.
Ehmmm
Demian berdehem, namun istrinya itu mengabaikannya.
"Sayang." ucapnya seraya berjalan mendekat.
Ariana berbalik badan. "Sudah selesai teleponnya ?" tanyanya.
"Kamu mendengarnya ?" tanya balik Demian.
"Menurutmu ?"
"Olive menghubungi ku tadi." sahut Demian jujur.
"Oh." Ariana hanya ber oh ria, kemudian berjalan melewati Demian menuju meja riasnya.
Merasakan sang istri bersikap aneh, Demian langsung menarik tangan wanita itu.
"Kamu marah ?" tanya Demian kemudian.
"Kenapa harus marah Mas? dia putrimu juga kan."
"Maafkan aku, aku tidak bisa mengabaikannya begitu saja. Bagaimana pun juga dia....."
"Aku tahu, kamu tenang saja." sela Ariana seraya mengulas senyumnya.
"Terima kasih kamu mau mengerti, aku hanya menghubungi ponsel Olive bukan Monica." ujar Demian jujur.
"Aku mempercayai mu, Mas. Semoga kamu tak menghianati kepercayaan ku, jika itu sampai terjadi maka aku tak segan meninggalkan....." Ariana memutuskan perkataan ketika Demian tiba-tiba membungkam bibirnya dengan ciumannya.
Setelah puas membuat bibir sang istri bengkak, Demian baru melepaskan panggutannya.
"Itu tidak akan pernah terjadi sayang, karena sebelum kamu pergi aku akan mengurungmu terlebih dahulu." ujar Demian posesif.
"Biar waktu yang akan membuktikan, Mas." batin Ariana dalam hati.
Kemudian Demian mendaratkan ciumannya kembali dan membawa istrinya itu ke atas ranjangnya.
Ketika Demian akan membuka kimono mandi yang di kenakan sang istri, tiba-tiba terdengar bel berbunyi.
"Mas, ada yang datang." Ariana langsung mendorong tubuh suaminya ketika laki-laki itu tak mengindahkan bel kamarnya yang terus berbunyi.
"Aku pasti akan memaki siapa pun itu yang sudah berani mengganggu kita." gerutu Demian kesal seraya melangkahkan kakinya.
__ADS_1
"Mama ?" ucapnya kemudian, ketika melihat nyonya Anggoro sudah berdiri di depan pintu dengan mengulas senyumnya.