
Edgar merasa kasihan pada Sera saat Dena menamparnya hingga wanita itu jatuh ke lantai, ingin sekali ia membalas perbuatan Dena.
Namun saat melihat wajah sinis Dena menatapnya, entah kenapa Edgar menjadi tidak tega. Bibirnya terasa kaku saat ingin berkata-kata.
Mata itu yang tatapannya selalu setajam pisau terlihat menyimpan begitu banyak luka di sana, apalagi di saat tuan Winata menamparnya dengan begitu keras tiba-tiba dada Edgar rasanya sangat sesak.
Ingin sekali ia melindungi wanita itu tapi keadaan tidak memungkinkan dan sekejap Dena berlalu pergi dengan meninggalkan rasa khawatir di dada Edgar.
Kemudian dengan berbagai alasan Edgar membujuk ayah serta Sera agar bisa pergi dari acara tersebut. Persetan dengan kemarahan mereka, saat ini yang ada di pikirannya hanya Dena seorang.
Berkali-kali Edgar menghubungi ponsel Dena, namun selalu di luar jangkauan.
"Jun, lacak posisi Dena sekarang juga !!" perintah Edgar saat Juno baru datang malam itu.
"Apa sesuatu telah terjadi, tuan ?" tanya Juno penasaran, karena tiba-tiba bossnya itu menyuruhnya menemuinya di pinggir jalan raya seperti ini.
"Jangan banyak tanya." sinis Edgar.
Melihat kemarahan Edgar, Juno segera melacak keberadaan sekretaris bossnya itu.
"Dena berada di Bar kita, boss." ucap Juno kemudian yang langsung membuat Edgar semakin khawatir.
Tak menunggu lama Edgar segera melajukan mobilnya menuju sebuah Bar yang baru satu tahun ini ia akuisisi dari seorang pengusaha bernama Yudo.
Yudo adalah mantan bossnya Nina di Bar, laki-laki itu juga sempat menyukai Nina dan siapa sangka ternyata Nina istrinya Victor ternyata teman Dena di masa lalu.
Melihat pemilik Bar tersebut datang, beberapa bodyguard yang ada di sana langsung menyapa kehadiran bossnya tersebut.
Edgar mengedarkan pandangannya mencari sosok Dena, matanya langsung memicing saat melihat wanita yang sudah membuatnya sangat khawatir itu terlihat tak berdaya dalam pelukan Arhan mantan suaminya.
Edgar mendadak geram, rasa cemburu di dadanya tak bisa ia bendung lagi. Ia langsung mendekati pria itu yang sepertinya akan membawa Dena pergi.
"Dena akan pulang bersama saya." tegas Edgar saat menghadang Arhan yang akan melangkahkan kakinya pergi.
"Boss." sapa Jem sang bartender nampak terkejut saat melihat pemilik tempatnya bekerja itu tiba-tiba datang.
Padahal sebelumnya Edgar jarang sekali menginjakkan kakinya di sini, hanya Juno yang selalu mengawasi tempat itu.
"Serahkan Dena padaku." perintah Edgar lagi saat Arhan mengabaikannya.
"Dena mantan istriku, jadi aku yang akan membawanya pulang." tolak Arhan.
"Ck, kamu hanya masa lalunya yang tidak pernah Dena harapkan." cibir Edgar.
Arhan mengepalkan tangannya, namun saat melihat beberapa bodyguard yang mengelilinginya ia yakin hanya akan berakhir sia-sia jika melawannya seorang diri.
__ADS_1
Dengan terpaksa ia menyerahkan Dena yang sudah tak sadarkan diri itu pada Edgar.
"Ingat jika sampai Sera menyakitinya, aku bersumpah akan menghabisimu." ancam Arhan, setelah itu ia meninggalkan Bar tersebut.
Dengan sekali hentakan Edgar membawa Dena ke dalam gendongannya, wanita itu terasa begitu ringan, apa selama ini Dena tidak pernah makan dengan benar pikir Edgar.
"Apa langsung pulang, tuan ?" tanya Juno dari balik kemudinya.
Edgar nampak berpikir sejenak. "Antar ke Apartemen saya saja." perintahnya kemudian.
Sesampainya di Apartemennya, Edgar langsung merebahkan Dena di atas ranjangnya lalu menyelimutinya.
"Juno pergilah ke Apartemen Dena, beri kabar keluarganya katakan Dena akan pulang besok." perintah Edgar saat baru keluar dari kamarnya.
"Baik tuan, tadi non Sera menghubungi saya menanyakan anda sedang di mana." ucap Juno.
"Katakan saja saya sedang sibuk." sahut Edgar.
Juno nampak menatap Edgar dengan begitu banyak pertanyaan, namun ia hanya bisa mengangguk patuh dan setelah itu ia segera pergi meninggalkan tempat tersebut.
Lantas Edgar masuk kembali ke dalam kamarnya, di lihatnya Dena nampak tertidur pulas. Ia menghela napasnya pelan kemudian berlalu ke dalam kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
"Ma, ampun Ma. Sakit Ma. Jangan kurung Dena Ma, Dena sesak. Dena takut gelap."
Dena nampak meracau dalam tidurnya, Edgar yang baru keluar dari dalam kamar mandi bergegas menghampirinya.
Tubuh Dena mendadak sangat dingin dan bergetar. "Tenanglah jangan takut, aku di sini." Edgar langsung membawa wanita itu ke dalam pelukannya.
"Sebenarnya apa yang terjadi denganmu Dena, kamu seperti menyimpan banyak sekali luka." gumam Edgar seraya memeluk wanita itu.
Setelah Dena tenang kembali, Edgar melepaskan pelukannya. Di tatapannya wajah Dena yang terlihat lebam karena bekas tamparan tuan Winata tadi.
Edgar mengangkat tangannya lalu mengusap bekas tamparan itu dengan perlahan, tiba-tiba dadanya terasa sesak karena gagal melindungi wanita itu.
Lantas Edgar mengambil dompetnya yang ia letakkan di atas nakas, lalu di keluarkannya sebuah foto yang ia ambil dua tahun yang lalu.
Nampak punggung telanjang seorang wanita dengan sebuah luka bakar di sana.
Di dorong rasa penasaran, dengan pelan Edgar menyingkap kaos yang di pakai Dena.
Posisi wanita itu yang sedang tidur miring memeluknya, memudahkan Edgar melakukan itu.
Edgar nampak memicing saat melihat luka bakar persis seperti di dalam fotonya tersebut dan di sana juga terdapat beberapa bekas luka hampir memenuhi punggung wanita itu.
Edgar yang masih penasaran semakin menyingkap pakaian Dena, hampir seluruh tubuhnya terdapat banyak bekas luka. Baik itu di punggung, perut dan dadanya, kecuali tangan dan kakinya terlihat bersih.
__ADS_1
"Sebenarnya siapa yang melakukan ini ?" geram Edgar.
"Ini ?" Edgar nampak terkejut saat melihat beberapa bekas sayatan benda tajam di area pergelangan tangan Dena bahkan sampai punggung tangan wanita itu.
"Kak Dena juga pernah terjerat narkoba."
Kata-kata Sera langsung terngiang di kepala Edgar.
Edgar segera mengambil ponselnya, kemudian ia menghubungi asistennya itu.
"Jun, ada tugas untukmu." ucapnya.
Setelah menghubungi asistennya itu, Edgar langsung merebahkan dirinya di samping Dena.
"Maafkan kebodohanku yang selalu mengingkari perasaan ini."
Edgar nampak mengecup kening Dena dengan sayang, kemudian di bawanya wanita itu ke dalam pelukannya.
"Aku mencintaimu, Dena." gumam Edgar seraya memejamkan matanya memeluk wanita itu.
Sementara itu Juno yang sedang dalam perjalanan menuju Apartemennya Dena, nampak berpikir keras mengingat perintah atasannya itu beberapa saat lalu.
Sesampainya di Apartemen Dena, beberapa kali Juno menekan bel namun belum ada yang membuka pintunya.
Namun ia tidak menyerah, Juno tahu putranya Dena dan pengasuhnya berada di dalam. Sesuai laporan anak buahnya mereka tidak pernah keluar dari Apartemen, hanya sesekali nampak wanita paruh baya keluar hanya untuk membuang sampah.
Hampir 20 menit Juno berada di sana dan selama itu pula ia menekan bel tersebut.
Sedangkan Bik Mina yang berada di dalam Apartemen nampak mondar-mandir di depan pintu, ia ragu untuk membuka pintunya apalagi saat mengetahui dari kamera yang datang orang tak di kenalnya.
Mengingat Dena masih berada di luar padahal malam mulai larut, bik Mina di landa rasa khawatir. Lalu dengan terpaksa wanita paruh baya itu melanggar perintah majikannya untuk tidak membukakan pintu bagi siapa pun itu.
"Maaf tuan, sedang mencari siapa ?" tanya bik Mina saat melihat Juno berdiri di depan pintunya.
Juno nampak menghela napas beratnya. "Saya hanya ingin memberitahukan kalau nyonya Dena malam ini tidak pulang karena mendadak ada pekerjaan di luar kota." tegasnya.
"Baik tuan, terima kasih." sahut bik Mina lega.
"Hm." Juno menganggukkan kepalanya sedikit kemudian melangkahkan kakinya pergi, namun langkahnya terhenti saat mendengar suara anak kecil.
"Ma-ma, Ma-ma." teriak Elkan, bocah kecil yang baru bisa berjalan itu nampak menatap Juno.
"Astaga sayang, kok bangun. Ayo bobo lagi, bibik temani." ujar bik Mina seraya menggendong bocah gembul itu.
"Ma-ma." ucap Elkan lagi yang sepertinya ingin bertanya pada Juno dimana keberadaan ibunya, hanya saja bayi itu belum pandai berbicara.
__ADS_1
"Anak, ini." gumam Juno terkesiap.