Menggenggam Rindu

Menggenggam Rindu
Part~134


__ADS_3

"Dari cara bicaramu sepertinya kamu pernah ya melepaskan pakaianmu di hadapan seorang pria ?" sindir Edgar yang langsung membuat Dena menelan ludahnya bulat-bulat.


"Sialan."


Dena nampak merutuki dirinya sendiri karena tidak bisa menyaring dulu ucapannya, jangan sampai Edgar yang mulai curiga padanya akan semakin curiga karena kelakuannya itu.


Namun bukan Dena kalau tidak bisa berkelit, ia selalu mempunyai seribu kelicikan untuk menyelamatkan dirinya. Tentu saja hasil ia belajar dari ibu tirinya yang sangat licik itu.


"Saya pernah menikah sebelumnya pak, tentu saja saya sering membuka baju di depan suami saya." dusta Dena seraya menatap lekat Edgar.


Dena pikir Edgar pasti sudah menyelidiki dirinya jika ia seorang janda, beruntung selama ini ia menggunakan nama Arhan sebagai administrasi Elkan Bagaskara putranya. Kalau tidak Edgar mungkin sudah curiga, di saat seperti ini ia jadi ingin berterima kasih pada mantan suami brengseknya itu.


Mendengar jawaban Dena, darah Edgar langsung mendidih. Awalnya ia ingin membuat wanita itu mengakui perbuatannya dulu, namun siapa sangka justru reaksinya tak seperti yang ia harapkan.


"Saya sedang sibuk, cepat keluar dari sini !!" perintah Edgar kemudian seraya melangkahkan kakinya menuju kursi kerjanya.


Dena nampak menaikkan sebelah alisnya tak mengerti dengan sikap bossnya itu yang tiba-tiba berubah.


"Kalau tidak ada hal lainnya saya permisi keluar, pak." ucapnya kemudian.


Setelah itu Dena melangkahkan kakinya keluar, namun ketika sampai ambang pintu Edgar memanggilnya.


"Mulai besok, kamu sudah harus berada di kantor 30 menit lebih awal sebelum jam kantor mulai." perintah Edgar yang langsung membuat Dena berbalik badan menatapnya.


"Kenapa harus lebih awal pak, sedangkan biasanya tidak masalah kalau saya masuk tepat waktu." protes Dena.


"Kamu sekarang sekretaris saya, jadi sebelum saya datang kamu harus lebih dulu datang untuk menyiapkan jadwal saya dan membuatkan saya kopi." tegas Edgar.


"Buat kopi bukannya tugas OB, pak ?" ucap Dena.


Sesuai penjelasan Juno kemarin kalau dirinya tidak perlu menyiapkan kopi atau makanan kecil untuk Edgar. Karena sudah ada OB yang menyiapkannya.

__ADS_1


"Tapi mulai sekarang itu menjadi tugas kamu." sahut Edgar dengan tegas.


"Baik pak, apa ada lagi ?" sahut Dena pasrah.


Setelah ini pekerjaannya pasti semakin sibuk mengingat Pantry berada di lantai 10, itu berarti ia harus naik turun 5 lantai hanya sekedar untuk membuat kopi. Sedangkan Edgar sehari bisa menghabiskan 3 cangkir kopi.


"Keluar." perintah Edgar kemudian.


Edgar menatap Dena yang melangkah keluar dari ruangannya, kenapa ia jadi emosi hanya karena mendengar wanita itu membicarakan mantan suaminya.


Tidak mungkin kan ia cemburu karena menyukai wanita itu, ia harus sadar saat ini ada hati yang harus ia jaga.


Edgar yang kesal dengan dirinya sendiri nampak mengusap wajahnya dengan kasar.


Baru kali ini ia di buat emosi oleh seorang wanita, bukan hanya dari ucapan yang keluar dari bibir wanita itu tapi juga dari tatapan matanya saja sudah membuatnya langsung emosi.


Dena sungguh berbeda dari wanita-wanita yang selama ini dekat dengannya, Ariana dan Sera wanita itu selalu berkata lembut hingga membuatnya nyaman.


Dena yang baru duduk di kursinya nampak menggerutu bahkan mengumpat saat mengingat peraturan dari atasannya tersebut. Waktunya pasti akan semakin sedikit dengan sang putra karena pekerjaannya bertambah sibuk.


Tanpa Dena sadari di areanya itu terdapat cctv yang terhubung langsung dengan ruangan Edgar dan otomatis segala gerak geriknya pasti akan di pantau laki-laki itu.


Dan benar saja Edgar nampak senyum-senyum sendiri saat melihat sekretaris barunya itu sedang menggerutu dan bahkan mengumpat tidak jelas.


Sepertinya ia sekarang memiliki hiburan baru di tengah kesibukannya bekerja, yaitu mengawasi Dena yang entah kenapa membuatnya selalu penasaran dengan wanita itu.


"Kalau di lihat-lihat dia cantik juga bahkan tak kalah cantik dari Sera, tapi sikapnya itu bikin orang mendadak darting." gumam Edgar.


Hingga jam makan siang tiba, Dena masih sibuk dengan pekerjaannya. Sungguh bossnya itu memang sengaja memberikannya setumpuk pekerjaan, hingga membuatnya bernapas saja sulit.


Untung saja otaknya encer hingga tak membuatnya kesulitan, sejak kecil Dena memang sangat cerdas dan itu yang membuat Sera selalu iri padanya.

__ADS_1


Bahkan Dena juga mendapatkan beasiswa impiannya untuk masuk di universitas internasional tanpa sepeser uang Ayahnya.


"Aku jadi merindukan pekerjaanku yang lama." keluh Dena, ketika masih menjadi staff accounting pekerjaannya tak sesibuk ini.


Sebelumnya ia masih bisa ngerumpi dengan teman-temannya, bahkan ia masih bisa pesan makanan dan minuman dari kantin. Ia jadi merindukan suasana kantornya dulu, merindukan teman-temannya yang minus akhlak itu.


"Dena ?" Sera yang baru datang nampak terkejut saat melihat saudara tirinya itu berada di meja sekretaris kekasihnya itu.


Bahkan Edgar yang sedari tadi bukannya bekerja justru sibuk menatap Dena dari layar cctv yang ia sambungkan ke dalam layar komputernya juga nampak terkejut saat melihat kedatangan Sera.


Edgar jadi penasaran bagaimana sebenarnya hubungan kakak beradik itu karena sebelumnya Sera tidak pernah membahasnya.


Edgar sengaja membesarkan volume rekaman tersebut agar bisa mendengar pembicaraan dua wanita itu.


Dena yang sudah sangat hafal dengan suara Sera, nampak mengangkat kepalanya dengan malas. Ia sudah siap cepat atau lambat ia pasti akan bertemu dengan Sera, mengingat tempat kerjanya sekarang berada tepat di depan ruangan kekasih wanita itu.


"Apa yang kak Dena lakukan di sini ?" tanya Sera dengan suara lembut yang mendayu-dayu, namun itu justru membuat Dena mendadak mual.


Dena nampak mengedarkan pandangannya ke seluruh areanya, ia sedikit terkejut saat melihat ada cctv di sana. Kenapa ia baru menyadarinya, semoga bossnya itu tak memperhatikannya tadi yang sepanjang hari sudah mengumpatnya.


Pantas saja Sera berakting bak bidadari, ternyata wanita itu tahu ada cctv di sana. Sungguh licik, pikir Dena.


Lalu apakah dirinya juga harus berakting agar terlihat baik di depan bossnya itu? sepertinya tidak perlu, Dena tidak suka menjadi orang lain.


Ia tidak peduli orang menyukainya atau tidak, sebaik apapun ia bersikap jika orang tersebut tidak menyukainya maka ia akan tetap terlihat buruk di mata orang itu.


"Matamu buta ya tidak bisa melihatku sedang ngapain ?" sarkas Dena tidak ada alasan baginya untuk beramah tamah dengan saudara tirinya itu, meski wanita itu kekasihnya bossnya sekalipun.


Kesakitan yang di berikan oleh Sera dan ibunya masih sangat membekas di tubuh dan hatinya, mungkin dulu ia mengalah karena lemah namun sekarang ia tidak mau mengalah lagi, sekarang ia bisa berdiri sendiri tanpa mengemis kehidupan pada wanita itu maupun keluarganya.


Edgar yang melihat Dena berkata kasar pada Sera ia buru-buru keluar dari ruangannya, Sera sifatnya begitu lembut bahkan terkesan cengeng ia tidak tega jika Dena yang bar-bar itu akan melukainya.

__ADS_1


"Ada apa ini ?" ucap Edgar sesaat setelah membuka ruangannya.


__ADS_2