Menggenggam Rindu

Menggenggam Rindu
Part~59


__ADS_3

"Tante Mia, tante Siska apa yang sedang kalian lakukan ?" Hardik Edgar seraya membantu Ariana berdiri.


Edgar yang baru datang langsung terkejut ketika melihat sosok yang dia kenal sedang di rundung oleh beberapa orang di sana.


Edgar yang biasanya sangat malas berkumpul-kumpul dengan para koleganya, entah kenapa hari ini ia tiba-tiba ingin sekali datang.


"Edgar? jadi kamu kenal juga sama wanita penggoda ini? wow hebat juga ya, kira-kira sudah berapa banyak laki-laki kaya yang sudah menjadi korban wanita itu." cibir nyonya Siska seraya menatap Edgar.


"Kalian sangat keterlaluan, Ariana adalah sahabatku dan dia adalah....." Edgar langsung menjeda perkataannya ketika Ariana menatapnya dengan pandangan memohon agar tidak melanjutkan perkataannya.


Ariana tidak mau jika sampai Edgar membocorkan hubungannya dengan Demian, sebelum laki-laki itu resmi bercerai.


Ia tidak masalah jika semua orang mengatakan dirinya adalah penyebab Demian bercerai atau dirinya adalah perebut suami orang.


Namun ia memikirkan bagaimana nasib putranya yang pasti akan jadi korban perundungan oleh teman-temannya di sekolah.


Ariana nampak menghela napasnya, setelah itu ia mulai membuka mulutnya.


"Maaf semuanya, mungkin kehadiran saya di sini sangat mengganggu tuan-tuan dan nyonya-nyonya semua yang terhormat. Saya sangat minta maaf, tapi saya kesini bukan sebagai penyusup seperti yang mereka bilang. Saya kesini atas undangan dari nyonya Anggoro, entah apa tujuan beliau mengundang saya kesini selain dengan sengaja untuk mempermalukan saya padahal beliau sangat tahu saya hanya seorang wanita penjual kue jalanan. Sekali lagi saya memohon maaf yang sebesar-besarnya." tegas Ariana.


"Dan untuk anda nyonya...." Ariana menatap tajam nyonya Anggoro.


"Kita tidak akan pernah tahu akan terlahir di keluarga seperti apa miskin atau kaya dan saya sangat bersyukur telah lahir di keluarga miskin, meski pun kami orang miskin tapi kami masih mempunyai moral maupun adab dan saya sangat miris ternyata orang kaya yang berpendidikan hingga ke luar negeri pun tak menjamin bermoral baik." imbuhnya lagi yang langsung membuat suasana riuh di sana.


"Ingatlah nyonya, roda itu berputar. Mungkin sekarang anda berada di atas tapi anda juga harus ingat, akan ada giliran untuk anda akan


berada di bawah jadi bersiap-siaplah."


"Dan untuk anda nona..." Ariana menatap Jessica.


"Anda sangat cantik nona, tapi sayang anda mines attitude." imbuhnya lagi.


"Kamu....." Jessica yang merasa tersinggung dengan ucapan Ariana langsung melayangkan tangannya untuk menampar Ariana, namun dengan sigap Ariana menahan tangan wanita itu.

__ADS_1


"Dan sangat kasar." cibir Ariana lalu ia menghempaskan tangan Jessica dengan kuat hingga wanita itu terhuyung ke belakang.


Setelah itu Ariana langsung melepaskan kedua heelsnya lalu menentengnya sembari melangkahkan kakinya keluar dari tempat tersebut.


Nampak beberapa orang di sana saling berbisik-bisik dan menatap bangga pada keberanian Ariana, apalagi melihat Edgar yang notabennya seorang pewaris kerajaan bisnis King Bryan yang tak kalah terpandang dari keluarga Anggoro terlihat dekat dengan wanita itu.


"Rin, apa kamu baik-baik saja ?" Edgar nampak mengejar Ariana yang terlebih dahulu meninggalkan tempat tersebut.


"Tentu saja, bukannya ini memang kenyataan hidup yang harus ku jalani." Ariana nampak tersenyum miris.


"Rin untuk apa kamu datang kesini ?" tanya Edgar penasaran.


"Entahlah aku memang naif atau bodoh, aku kira dengan berjalannya waktu seseorang akan berubah tapi ternyata justru tambah parah."


Lagi-lagi Ariana tersenyum miris mengingat bagaimana ia mencoba untuk berpikir positif pada nyonya Anggoro tapi nyatanya wanita itu justru menipunya.


"Aku tahu tante Mia memang dari dulu membenci orang yang tak selevel dengannya, tapi aku tidak menyangka beliau tega berbuat seperti itu padamu. Bahkan beliau juga pasti sudah tahu kan kamu ibu dari cucunya." ujar Edgar ia nampak begitu kasihan pada Ariana.


"Kak Demian harus tahu semua ini, Rin. Dia harus melindungimu dari tante Mia." saran Edgar.


Ariana nampak menggelengkan kepalanya. "Aku sudah membuat keputusan, Ed." ucapnya kemudian.


"Maksud kamu ?" Edgar mengerutkan dahinya tak mengerti.


"Mungkin aku harus berterima kasih pada tante Mia, dengan kejadian ini beliau sudah membuka mataku bahwa sampai kapanpun aku dan Demian takkan pernah bisa bersama." sahut Ariana matanya nampak menerawang jauh ke depan.


"Tapi Rin, bukannya kalian saling mencintai. Ada Ricko juga di antara kalian dan yang ku dengar dari berita kak Demian sedang mengurus perceraiannya." ujar Edgar.


Meski ia menyukai Ariana tapi Edgar juga tidak mau egois, baginya kebahagiaan wanita itu lebih utama meski bukan dengannya.


"Berumah tangga itu tidak hanya cukup dengan cinta Ed, karena suatu saat cinta bisa pudar. Kita menikah juga bukan saja menyatukan dua orang, tapi juga menyatukan dua keluarga. Lalu dari mana rumah tangga bisa bahagia kalau antar keluarga saja tidak pernah akur."


"Lalu apa keputusanmu ?"

__ADS_1


"Lebih baik aku dan Demian hidup masing-masing saja, aku yakin kok kita bisa merawat Ricko bersama-sama meski tanpa menjadi sebuah keluarga." sahut Ariana tegar, meski saat ini hatinya terasa perih.


Ia yakin lambat laun Demian pasti akan bahagia dengan seorang wanita yang sederajat dengannya seperti Jessica.


Mungkin dahulu Demian pernah gagal dengan Monica, karena wanita itu telah menipunya terlebih dahulu.


Dan ia yakin kali ini Demian pasti bahagia, apalagi wanita itu adalah cinta pertamanya terdahulu.


Mendengar perkataan Ariana, tiba-tiba Edgar merasa sangat senang. Katakan lah dia memang jahat karena berharap mereka berpisah, tapi bukannya kita juga tidak akan tahu pada siapa cinta itu akan berlabuh.


"Aku akan mengantarmu pulang dan lebih baik kamu pikirkan matang-matang." ucap Edgar kemudian.


"Terima kasih tapi sudah ada sopirku di sana." tolak Ariana dengan halus seraya menunjuk sopirnya yang sedang menunggunya di lobby hotel tersebut.


"Baiklah, berhati-hatilah."


"Sekali lagi terima kasih, Ed." ucap Ariana kemudian ia melangkahkan kakinya pergi.


"Jangan sungkan, kapanpun kamu butuh bantuanku hubungi saja aku." teriak Edgar ketika Ariana sudah berlalu pergi bersama sopirnya.


Ariana nampak berbalik badan menatap Edgar lalu mengacungkan ibu jarinya sambil mengulas senyumnya.


"Cantik sekali calon istri orang."


Gumam Edgar ketika melihat senyuman Ariana, bahkan ia masih betah memandang punggung wanita itu hingga menghilang dari jangkauan matanya.


"Anda baik-baik saja, nyonya ?" tanya John sopir sekaligus bodyguard yang di perintahnya Demian untuk menjaga Ariana.


"Saya baik-baik saja, John. Tolong jangan beritahukan pada Demian kalau saya pergi ke hotel itu." perintah Ariana ketika mobilnya mulai melaju kencang.


"Baik nyonya, anda jangan khawatir." sahut John seraya menatap Ariana dari balik kaca spion di depannya tersebut.


Wanita itu nampak bersandar di kursinya, nampak buliran Kristal menganak sungai di pipinya.

__ADS_1


__ADS_2