
"Kekasihnya ?" Yudo nampak menaikkan sebelah alisnya tak mengerti, ia menatap Nina seakan meminta penjelasan.
"Bu-bukan, pak." sahut Nina menjelaskan, namun itu justru membuat Victor nampak tersenyum miring.
"Kami sedang ada sedikit masalah tadi makanya dia tidak mau mengakuinya, ayo sayang pulang. Dari tadi ibumu sama dua adikmu di kampung menghubungiku terus." ucap Victor berdusta, kemudian menarik tangan Nina hingga gadis itu berada di sisinya.
Sedangkan Nina semakin melotot, bagaimana bisa pria gila ini mengetahui ia mempunyai dua adik.
"Ta-tapi......"
"Menurutlah, kalau tidak mau terjadi apa-apa dengan keluargamu di kampung." bisik Victor dengan nada ancaman, namun itu justru membuat Nina merasakan jantungnya berdegup dengan kencang.
Lagi-lagi bisikan laki-laki itu serta napas hangatnya terasa menggelitik telinga serta kulit lehernya yang membuat darahnya langsung berdesir.
"Baiklah ayo kita pulang." tegas Victor saat tak ada penolakan dari Nina, ia langsung membawa gadis itu keluar dari Bar tersebut.
Sedangkan Yudo terlihat kecewa, ia tidak menyangka Nina yang ia kagumi selama ini ternyata diam-diam sudah mempunyai kekasih dan kekasihnya itu seperti bukan orang sembarangan.
Tentu saja Victor bukan orang sembarangan, selain menjadi kaki tangan salah satu konglomerat di kota itu. Victor juga seorang pembisnis muda yang sukses.
Ia mempunyai beberapa hotel yang tersebar di berbagai kota, namun meski dia telah sukses dan bisa berdiri sendiri.
Sampai kapanpun dia akan tetap mengabdi pada keluarga Anggoro, karena tuan Anggoro sudah mengasuhnya hingga ia besar dan melindungi keluarga itu adalah harga mati baginya.
"Lepaskan !!" Nina langsung menghempaskan genggaman Victor saat mereka sudah berada di luar Bar.
Victor nampak tersenyum miring, boleh juga tenaga gadis di depannya itu. Pantas saja pria di dalam bar tadi babak belur karena ulahnya.
"Siapa yang mengizinkan tuan mengaku-ngaku menjadi kekasih saya dan ada hak apa tuan mau mengusik keluarga...hmmptt." Nina menggantung ucapannya saat Victor sudah membungkam bibir tipisnya dengan bibir laki-laki itu.
Nina terperanjat, tubuhnya mendadak kaku saat mendapatkan serangan tiba-tiba dari Victor.
Laki-laki itu nampak melum😘t lembut bibir Nina, namun ia sedikit jengkel saat tak ada balasan dari gadis itu.
Lalu ia menggigit kecil bibir bawah gadis itu, hingga membuat Nina meringis kesakitan. Namun itu justru Victor manfaatkan untuk melesatkan lidahnya masuk.
Laki-laki itu nampak mengobrak-abrik pertahanan rongga mulut gadis itu hingga membuatnya sedikit mengerang.
"Kenapa dia kaku sekali, seperti tidak pernah berciuman saja." gumam Victor namun itu justru membuatnya tiba-tiba senang.
"Ku pastikan kamu akan menjadi milikku." sumpah Victor dalam hati kemudian.
Victor semakin kuat memegang tengkuk Nina, lalu ia semakin memperdalam ciumannya. Melum😘tnya dan menyesapnya hingga membuat jantung keduanya berdebar-debar tak karuan.
__ADS_1
Sementara itu Yudo yang mengikuti mereka berdua sampai parkiran nampak semakin kesal saat melihat mereka berciuman, kemudian ia segera masuk kembali ke dalam Barnya tersebut.
Setelah merasakan sesak karena kehabisan oksigen, Victor langsung melepaskan panggutannya. Di biarkannya Nina menghirup udara sebanyak mungkin.
Di lihatnya bibir gadis itu sedikit membengkak karena ulahnya dan saat ia akan mengusap sudut bibirnya yang basah karena ciumannya tadi, Nina langsung menangkis tangannya lalu menampar Victor dengan keras hingga membuat laki-laki itu hampir terhuyung ke belakang.
Sungguh tenaga gadis itu tidak bisa di sepelekan, namun itu justru membuat Victor tersenyum senang. Sepertinya gadisnya itu bisa menjaga dirinya dengan baik.
Gadisnya? sepertinya mulai hari ini Victor sudah menjadikan wanita itu miliknya meski belum sepenuhnya.
"Beraninya tuan berbuat kurang ajar sama saya." hardik Nina geram, namun itu justru membuat Victor nampak gemas.
"Tuan tidak tahu apa kalau itu ciuman pertamaku." gerutu Nina kesal.
Tentu saja Victor tahu itu ciuman pertama gadis itu, karena tadi nampak sangat kaku tak ada pengalaman sedikitpun.
"Jangan munafik, bukannya tadi kamu juga menikmatinya ?" cibir Victor seraya tersenyum miring.
Nina tak menampik ia memang sempat terbawa suasana dan ikut tenggelam dalam buaian Victor.
Ia akui Victor sangat ahli dalam berciuman, bahkan sampai sekarang desirannya masih terasa.
"Ayo, saya akan mengantarmu pulang." Victor langsung saja menarik tangan Nina lalu membawanya masuk ke dalam mobilnya.
"Saya bahkan belum menyetujui mau tuan antar atau tidak." teriak Nina kesal.
"Stop anda jangan mesum ya." Nina langsung menyilangkan kedua tangannya didepan dadanya, lalu menatap tajam kearah Victor.
"Siapa yang mesum, saya hanya tidak ingin kamu celaka dan menyalahkan saya karena tidak memakai seatbelt dengan benar." sahut Victor seraya menarik tali seatbelt milik Nina lalu memasangkan padanya.
Nina yang merasakan wajah Victor begitu dekat dengan wajahnya ia langsung memalingkan mukanya ke samping.
"Duh jantungku, tahu diri dikit dong. Ingat dia itu pohon pisang, cuma punya jantung tapi tidak punya hati." gerutu Nina dalam hati.
Victor yang melihat wajah Nina dari jarak beberapa senti itu, nampak memperhatikan setiap detil wajah gadis itu.
"Cantik." gumamnya, ia merasakan darahnya berdesir saat menatapnya. Benarkah ia telah jatuh cinta?
Victor segera menarik tubuhnya lalu duduk dengan posisi semula di balik kemudinya.
Setelah itu ia segera melajukan mobilnya, mengantar gadis itu menuju tempat kosnya.
Sepanjang perjalanan mereka nampak diam dengan pikiran masing-masing, hingga Victor menghentikan mobilnya di depan sebuah gang kecil menuju kosnya Nina.
__ADS_1
"Darimana tuan tahu ini gang rumah saya ?" tanya Nina curiga.
"Saya mengetahui semua hal yang berada di sekitar tuan Demian dan nyonya Ariana." sahut Victor, namun itu justru membuat Nina terlihat kecewa.
Ia pikir pria itu mengetahui segalanya tentang dirinya beserta keluarganya di kampung, karena benar-benar menyukainya. Namun ternyata dia mengetahuinya karena sebuah tugas dan kenapa tiba-tiba dirinya merasa sesak.
Jangan-jangan laki-laki itu mengantarnya pulang dan mengakuinya menjadi kekasihnya juga karena demi menjaganya karena dirinya adalah sahabat dari bossnya itu.
Melihat Nina yang nampak diam terpaku, Victor langsung melepaskan seatbelt yang Nina pakai hingga membuat gadis yang sedang melamun itu langsung terkejut.
"Jangan berpikir macam-macam, karena semakin banyak kamu berpikir maka semakin pendek juga umurmu." ujar Victor.
Mendengar ucapan Victor, Nina nampak mendengus kesal. Kemudian ia segera membuka pintu mobil tersebut.
"Besok pagi aku akan menjemputmu." ujar Victor saat Nina akan berlalu pergi.
Nina nampak menghela napasnya dengan kasar. "Atas dasar apa anda mau menjemput saya? sebaiknya kita tidak usah berurusan lagi." sahut Nina.
"Bukannya kita adalah sepasang kekasih, sudah sewajarnya kan jika saya menjemputmu." tegas Victor.
"Hey sejak kapan kita pacaran? memang saya sudah menyetujuinya ?" protes Nina dengan kesal.
"Saya tidak suka penolakan, jadi cepatlah pulang atau mau ku gendong sampai rumahmu ?" ujar Victor bernada ancaman.
"Ka-kamu...." Nina terlihat sangat kesal, kemudian ia segera berbalik badan lalu sedikit berlari masuk ke gang kosnya.
"Dasar pria pemaksa."
Sedangkan Victor nampak terkekeh gemas melihat gadisnya itu, ya mulai sekarang gadis itu adalah miliknya. Karena ia tidak memungkiri kalau hatinya juga berdebar untuknya.
Keesokan paginya....
Praaang
Terdengar suara sebuah gelas jatuh terhambur ke atas lantai.
"Astaga sayang, kamu baik-baik saja ?" Demian yang baru menuruni anak tangga pagi itu, langsung terburu-buru menghampiri sang istri saat wanita itu menjatuhkan gelas di tangannya.
"Apa yang sedang kamu pikirkan, hm ?" ucapnya lagi seraya membawa istrinya untuk duduk di kursi.
"Mas, apa benar yang ada di berita itu ?" tanya Ariana tak percaya saat melihat berita di televisi.
"Sebuah pesawat penerbangan dari Sydney menuju Jakarta telah hilang kontak dari 2 jam yang lalu dan sampai saat ini masih dalam pencarian dan kemungkinan besar pesawat tersebut jatuh di tengah laut lepas. Jika itu benar maka di pastikan korban tidak akan ada yang selamat karena pesawat terakhir terdeteksi berada di ketinggian sekitar sepuluh ribu kaki. Tapi kami masih berharap semoga semua penumpang dan awak kabin selamat meski kecil kemungkinan."
__ADS_1
Sebuah berita di salah satu stasiun tv itu mengabarkan.
"Astaga Olive." Demian langsung memucat mengingat Olive hari ini pulang dengan penerbangan paling pagi dan saat melihat daftar nama penumpang di layar televisi itu Demian semakin yakin Olive dan ibunya berada di dalam pesawat tersebut.