
"Di kira dia doang yang bisa di perhatikan oleh wanita-wanita di luar sana, aku juga bisa kali."
Gumam Ariana seraya berjalan menaiki anak tangga, namun baru beberapa langkah tiba-tiba ia merasakan perutnya mendadak sakit.
"Mas tolong, perutku sangat sakit." rintihnya seraya terduduk di salah satu anak tangga tersebut.
Sedangkan Demian yang melihatnya langsung berlari ke arahnya.
"Sayang, apa kamu mau melahirkan ?" tanyanya dengan panik.
"Aku tidak tahu Mas, tapi perutku rasanya sangat sakit." Ariana nampak meringis menahan sakit.
"Tenanglah sayang, aku akan segera membawamu ke rumah sakit." Demian langsung membopong sang istri menuruni tangga.
"Bik, buka pintunya istri saya mau melahirkan." teriaknya kemudian.
Dengan cekatan Demian membawa istrinya itu masuk ke dalam mobilnya.
"Pak bisa cepat sedikit, istri saya mau melahirkan ini." perintahnya pada sang sopir.
"Baik tuan, ini juga sudah sangat laju." sahut sang sopir.
"Ternyata kemampuan Victor mengemudi belum ada yang bisa menandingi." gerutu Demian, di saat seperti ini tentu saja ia langsung mengingat Victor. Karena laki-laki itu sebelumnya selalu ada untuknya.
"Mas, kamu mau ngapain ?" tanya Ariana saat suaminya akan menghubungi seseorang.
"Menghubungi Victor." sahut Demian.
"Jangan ganggu Victor, Mas. Aku sudah baik-baik saja sekarang." larang Ariana.
"Sudah tidak sakit lagi ?" Demian memicing.
"Hm, sakitnya tiba-tiba hilang." sahut Ariana.
"Tapi harus tetap ke dokter, sayang." tegas Demian.
"Hm."
Demian langsung mengusap lembut perut istrinya itu sembari bergumam.
"Hallo baby kacang kesayangan Daddy, baik-baik di dalam ya Nak jangan nakal kasihan Mommy." ucapnya, namun tak berapa lama Ariana justru merasakan perutnya mulas kembali.
"Mas sakit, kamu apakan tadi perutku ?" protesnya.
"Cuma elus doang, sayang."
"Tapi sakit ini Mas, baby twins pasti marah sama kamu deh." keluh Ariana.
"Marah kenapa sayang ?" Demian tak mengerti.
"Dia bukan baby kacang lagi Mas." sahut Ariana.
"Ah iya, mungkin dia sekarang mau di panggil baby montok." celetuk Demian yang langsung membuat Ariana terkekeh namun kemudian meringis lagi menahan sakit.
"Sakit banget ya, sayang ?" Demian nampak ikutan meringis juga.
__ADS_1
"Kamu sih tadi mainnya terlalu dalam, Mas." protes Ariana saat mengingat percintaan hebatnya tadi pagi bersama suaminya itu.
"Tapikan kamu suka juga sayang, lagipula perasaan aku tadi melakukannya dengan pelan." bela Demian.
"Iya pelan, tapi terlalu dalam Mas."
"Kamu nggak bilang juga mana ku tahu, pasti kamu keenakan juga kan makanya nggak bilang ?" jawab Demian tak mau kalah.
"Mas kok kamu jadi nyalahin aku sih, sakit ini." Ariana nampak menggeliat dalam duduknya merasakan perutnya yang sedang kontraksi.
"Sabar ya sayang, aku hubungi Victor dulu biar menghubungi rumah sakit." Demian mengambil ponselnya lalu mencoba menghubungi Victor.
Sedangkan sang sopir yang sedang duduk di balik kemudi nampak menghela napas panjangnya saat mendengar perdebatan tak berfaedah tuan dan nyonya mudanya tersebut.
Sementara itu Victor yang nampak terlelap bersama sang istri langsung terbangun saat Demian menghubunginya sore itu.
Setelah percintaan hebatnya bersama istrinya tadi siang, ia juga ikut terlelap karena kelelahan.
"Ya, tuan." sahutnya tanpa beranjak dari tidurnya, tangannya nampak mengusap punggung sang istri yang terbuka.
"Hallo Vic, kamu hubungi rumah sakit sekarang. Istriku mau melahirkan." perintah Demian dari ujung telepon.
"Baik tuan, segera saya hubungi." sahut Victor kemudian menutup teleponnya, setelah itu ia segera menghubungi rumah sakit beserta dokter kandungan yang biasa memeriksa kandungan nyonya mudanya itu.
"Sayang, kamu tidak bangun hm ?" ucap Victor seraya mengusap lembut lengan istrinya yang nampak masih tidur dengan posisi memunggunginya.
"Hm, sebentar lagi." sahut Nina tanpa merubah posisi tidurnya.
"Sepertinya nyonya Ariana mau melahirkan, aku harus ke rumah sakit." ujar Victor lagi yang langsung membuat Nina berbalik badan menghadapnya.
"Kamu serius, Mas ?" tanya Nina langsung senang.
"Nggak apa-apa Mas, mbak Ariana dan baby twins lebih penting. Tapi bisakan aku kembali ke Apartemen saja, aku lebih suka menunggumu di sana dari pada di hotel ini." pinta Nina.
"Baiklah, nanti sopir yang akan mengantarmu." sahut Victor seraya beranjak dari tidurnya.
Setelah itu ia segera membersihkan tubuhnya dari sisa-sisa percintaannya tadi siang.
"Baru pembukaan dua ya Bu, lebih baik ibu menunggunya sambil memperbanyak gerakan." ucap Dokter setelah memeriksa Ariana.
"Tapi istri saya sangat kesakitan dok, tidak bisa kah langsung melahirkan sekarang saja ?" desak Demian.
"Tidak bisa tuan, kalau mau melahirkan normal harus menunggu pembukaan sepuluh dulu baru siap melahirkan. Kecuali ibunya mau melakukan operasi, kami bisa langsung melakukan tindakan sekarang juga." sahut Dokter tersebut menjelaskan.
"Sayang, operasi saja ya ?" bujuk Demian.
"Aku mau normal Mas, lagipula kata dokter aku bisa normal kok." tolak Ariana.
"Tapi di perutmu ada dua bayi sayang, apa kamu sanggup melakukan itu ?"
"Kenapa tidak, aku pasti akan baik-baik saja." keukeh Ariana.
"Baiklah." Demian nampak pasrah karena istrinya itu memang sangat keras kepala.
Hingga beberapa jam kemudian Ariana merasakan mules semakin hebat saat pembukaan sudah semakin banyak.
__ADS_1
"Sayang, kita operasi saja ya ?" bujuk Demian.
"Kamu nggak suka menemaniku lahiran? ini yang buat kamu loh mas." keluh Ariana.
"Tentu saja senang, sayang. Tapi aku kasihan melihat kamu kesakitan gitu." sahut Demian yang kini sudah terlihat acak-acakan karena terkena imbas dari jambakan maupun cakaran oleh istrinya karena tak tahan menahan rasa sakit.
"Dulu pas melahirkan Ricko begini juga ya, sayang ?" Demian jadi merasa bersalah.
"Sepertinya lebih sakit sekarang Mas, mungkin karena bayinya dua atau sama sakitnya aku lupa." sahut Ariana.
"Terus yang menemanimu dulu siapa, sayang ?" Demian mencoba mengalihkan perhatian istrinya dari rasa sakit yang menderanya saat ini.
"Mbak Widya dan Mas Herman." sahut Ariana.
"Lalu siapa yang kamu jadikan sasaran saat sakit, sayang ?" tanya Demian penasaran, jika itu Herman mungkin ia akan memberikan hadiah yang cukup besar pada laki-laki itu.
"Jadi kamu tak suka ku jadikan sasaran karena sakitku sekarang ?" sungut Ariana lagi dengan kesal.
"Salah lagi."
"Bukan begitu sayang, aku pasti akan memberikan hadiah besar pada siapapun itu yang dulu sudah menjadi pelampiasan rasa sakit mu saat melahirkan Ricko." sahut Demian serba salah.
"Aku melampiaskannya dengan tembok." ucap Ariana kemudian.
"Hah tembok ?"
"Iya tembok, jadi waktu itu temboknya ku pukul, ku tendang dan ku cakar-cakar bahkan ku maki-maki juga." sahut Ariana sedikit terkekeh yang juga diikuti oleh suaminya itu.
"Bisa saja kamu melucu, sayang." timpal Demian.
"Kamu tahu nggak temboknya ku bayangkan seperti siapa ?" ucap Ariana lagi.
"Memang kamu sedang bayangin siapa ?" tanya Demian penasaran.
"Kamu, Mas." sahut Ariana.
"Apa ?"
"Iya kamu Mas, aku bayangin kalau itu kamu." sahut Ariana terkekeh.
Namun tidak dengan Demian, laki-laki itu nampak menelan ludahnya sendiri.
"Mas sakit lagi." keluh Ariana saat rasa mulesnya semakin intens.
"Sabar ya sayang." Demian sedikit meringis saat lengannya di remas lagi oleh sang istri dengan kuat.
"Aku tidak tahan lagi, Mas." keluh Ariana lagi.
"Dok, apa belum bisa ?" tanya Demian saat dokter baru masuk ke dalam ruangan bersalin.
"Sebentar ya, Pak. Saya cek dulu pembukaannya." sahut Dokter tersebut.
"Baru pembukaan 8 pak, harusnya sih sebentar lagi tapi sepertinya air ketubannya ibu sudah banyak keluar. Kami tidak bisa menunggu lagi harus segera di lakukan tindakan operasi kalau tidak akan membahayakan bayinya." lanjutnya lagi setelah memeriksa Ariana.
"Hah, Operasi Dok ?" tanya Demian terkejut, ada perasaan senang akhirnya istrinya harus di operasi tapi kesal juga karena dirinya sudah hampir babak belur dokter tersebut baru menyarankan operasi.
__ADS_1
"Benar tuan, tidak apa-apa kan bu. Demi keselamatan anda dan kedua bayi anda juga." ujar Dokter tersebut meyakinkan.
Sedangkan Ariana nampak mengangguk kecewa, harapannya untuk melahirkan normal akhirnya gagal.