Menggenggam Rindu

Menggenggam Rindu
Part~132


__ADS_3

Setelah kepergian semua karyawan di sana termasuk Juno, kini mereka hanya tinggal berdua di ruang meeting tersebut.


Edgar nampak sibuk dengan ponselnya, membiarkan Dena yang sedang menunggunya nampak menatap kesal padanya.


Hampir 15 menit laki-laki itu bermain ponsel, wajahnya nampak senyum-senyum sendiri saat menatap ponselnya.


Dena yang melihat itu ingin rasanya menimpuknya, jadi dia di suruh tinggal hanya untuk menontonnya berchat ria dengan kekasihnya.


"Sialan." gumam Dena dalam hati.


Tak mau menjadi obat nyamuk, Dena juga mengambil ponselnya. Lebih baik dia mabar saja sembari menunggu pria yang sedang bucin itu.


Dena yang sedang bermain game online itu nampak tersenyum sendiri saat dirinya berhasil menyelesaikan misinya.


"Baiklah sayang jadi kamu sudah tidak sabar ya menungguku, tenang sebentar lagi aku datang." lirih Dena saat hendak membunuh musuh terakhirnya di dalam gamenya itu.


Edgar yang mendengar kata 'sayang' dari mulut Dena nampak memicing. Ini kedua kalinya dalam sehari ia mendengar wanita itu memanggil 'sayang'.


Apa wanita itu telah menjalin hubungan dengan salah satu pria yang ada di kantor ini, memikirkan hal itu Edgar tiba-tiba menjadi kesal sendiri.


Edgar lalu meletakkan ponselnya yang masih menyala di atas meja, nampak sebuah Video baby twins anak kembarnya Ariana dan Demian yang sedang bermain tiktok bersama Ricko.


Sepertinya laki-laki itu sedari tadi sedang menonton videonya si kembar yang akhir-akhir ini senang sekali bermain aplikasi itu.


Ehmm


Edgar langsung berdehem saat melihat Dena masih asyik dengan ponselnya, berani sekali wanita itu bermain ponsel saat jam kerja.


Mendengar deheman Edgar, Dena langsung mematikan ponselnya. Ia nampak tersenyum nyengir menatap pria itu.


"Kamu tahu, kenapa saya menyuruhmu untuk tetap tinggal di sini ?" ucap Edgar membuka suaranya.


"Tidak tahu pak." sahut Dena menatapnya.


"Hari ini sekretaris saya berhenti dan mulai besok kamu yang akan menggantikannya ?" perintah Edgar yang langsung membuat Dena melotot tak percaya.


Wanita itu yang tadinya duduk di kursi agak jauh dari Edgar, langsung berdiri lalu melangkah mendekat ke arah pria itu.


"Saya tidak bisa pak, itu bukan jurusan kuliah saya." tolak Dena, ia bukannya tidak bisa tapi seminimal mungkin ia tidak mau berurusan dengan bossnya itu.


Menjadi sekretaris Edgar otomatis pasti akan berurusan dengan Sera juga, bagaimana jadinya kalau Sera mengatakan ia mempunyai anak dari laki-laki lain dan bukan dari Arhan pasti Edgar akan curiga.


Elkan tidak boleh tinggal bersama ibu tiri seperti Sera yang ada nasibnya akan sama seperti dirinya.


"Saya tidak menerima alasan." tegas Edgar yang masih bergeming di tempatnya.


Dena yang berdiri di hadapannya nampak sangat kesal, tapi apa daya dia hanya karyawan rendahan. Sepertinya memohon satu-satunya cara meski bukan dia banget.

__ADS_1


Dengan lancang Dena memegang lengan Edgar yang berada di atas meja.


"Pak saya mohon, bapak boleh memindahkan saya di kantor cabang mana pun. Asal jangan menyuruh saya menjadi sekretaris bapak." mohon Dena seraya memegang tangan laki-laki itu.


Edgar yang terkejut tangannya di pegang Dena, apalagi melihat wanita yang biasanya sangat angkuh itu memohon ia nampak tersenyum puas.


"Saya tidak suka penolakan." sahut Edgar seraya bangkit dari duduknya.


"Dan sampai kapan kamu akan memegang lengan saya." lanjutnya lagi seraya menatap lengannya yang masih di pegang oleh Dena.


Dena yang menyadari itu langsung buru-buru melepaskannya.


"Persiapkan dirimu, mulai besok kamu akan menjadi sekretaris baru saya." tegas Edgar setelah itu ia segera berlalu pergi dari ruangan meeting tersebut.


Dena yang kesal nampak terduduk di kursinya kembali, ia tidak mungkin resign, ia masih membutuhkan pekerjaannya untuk menghidupi sang putra.


"Loe kenapa Den? habis di marahi pak Edgar ?" tanya Anggi saat Dena baru masuk ke dalam ruangannya dengan wajah lesu.


Nay dan Marlina juga langsung merapat ke arahnya karena penasaran. "Loh nggak di pecatkan ?" tanya Nay.


"Gue di pindah." sahut Dena lemas.


"What? ke kantor cabang ?" tebak Marlina, biasanya setiap karyawan yang melakukan kesalahan tidak terlalu fatal mereka akan di pindahkan ke kantor cabang yang otomatis gaji pasti berkurang.


"Bukan." sahut Dena.


"Pak Edgar menyuruhku jadi sekretarisnya." sahut Dena tak bersemangat namun itu justru membuat teman-temannya berteriak tak percaya.


"Sumpah demi apa? beruntung sekali kamu." ucap Anggi tak percaya.


"Demi kas bon mu bertambah." sewot Dena kesal.


"Loe itu aneh tahu nggak, di saat semua karyawan wanita di sini berlomba-lomba untuk mendekati pak Edgar, loe justru menolaknya." kesal Nay.


"Tahu ah." sahut Dena kemudian mulai mengemasi barang-barangnya.


Sementara itu Edgar yang berada di ruangannya nampak sedang memikirkan Dena yang menolak tawarannya tadi, ia semakin curiga dengan wanita itu karena sengaja menghindarinya.


"Tuan." sapa Juno saat baru masuk ke dalam ruangannya.


"Saya tidak memanggilmu." Edgar menatap asistennya itu dengan kesal.


Sepertinya penolakan Dena padanya tadi masih membuat moodnya jelek, bagaimana bisa di saat wanita lain mengejar-ngejarnya tapi wanita itu justru berusaha menghindarinya.


"Saya tahu Tuan, tapi saya membawakan informasi penting mengenai Dena." sahut Juno.


Edgar nampak melebarkan matanya tak percaya, tak sia-sia ia membayar mahal asistennya itu karena selalu cepat dalam bekerja.

__ADS_1


"Duduklah, katakan informasi apa yang kamu dapat ?" tanya Edgar tak sabar.


Juno menyerahkan sebuah map pada Edgar. "Itu informasi tentang Dena, tuan." ucapnya.


"Dena Winata adalah putri tertua keluarga Winata." Juno mulai menjelaskan.


"Tunggu dulu apa itu berarti Dena dan Sera bersaudara? itu mana mungkin bahkan umur mereka hanya berbeda beberapa bulan saja dan wajah mereka pun tidak mirip bahkan sifat mereka juga sangat berbeda." ucap Edgar seraya melihat map di tangannya itu.


"Mereka berbeda ibu tuan, sepertinya dahulu tuan Winata pernah berselingkuh hingga adanya nona Sera, karena setelah ibunya Dena meninggal tuan Winata membawa istri keduanya untuk tinggal di rumahnya." ucap Juno.


"Kami pernah beberapa kali melakukan pertemuan keluarga, tapi saya tidak pernah melihat Dena di sana." Edgar nampak berpikir.


"Sepertinya Dena tidak suka di sorot oleh publik, bahkan saat pernikahannya dengan tuan Arhan mereka tidak mengumumkannya pada publik." sahut Juno.


"Arhan? Arhan Bagaskara ?" tanya Edgar memicing.


"Benar tuan, tapi pernikahan mereka tidak bertahan lama saat Dena hamil 5 bulan mereka memutuskan untuk bercerai." sahut Juno.


Sebenarnya Edgar tidak pernah mengenal Arhan secara langsung, tapi entah kenapa akhir-akhir ini laki-laki itu sering mengganggu perusahaannya dengan menggagalkan beberapa tender miliknya.


"Apa kamu tahu kenapa mereka berpisah padahal Dena sedang hamil ?"


"Menurut rumor tuan Arhannya berselingkuh, namun sampai sekarang belum di ketahui kebenarannya. Karena sepertinya tuan Arhan sangat lihai menyembunyikannya, bahkan di pengadilan pun mereka sepakat berpisah secara baik-baik tanpa mengungkapkan alasannya." sahut Juno.


"Pantas saja, tidak mungkin Dena menggugat cerai saat dia hamil kalau laki-laki brengsek itu tidak selingkuh." ucap Edgar kesal sendiri.


"Benar tuan, padahal beberapa bulan sebelumnya mereka melakukan perjalanan bisnis sekaligus bulan madu ke Jerman."


"Jerman ?" Edgar langsung memicing.


"Benar, tuan."


"Aku semakin yakin kalau wanita yang pernah tidur denganku itu adalah Dena." gumam Edgar.


"Apa ada informasi lain lagi ?" tanyanya lagi sepertinya ia belum puas dengan informasi yang di berikan oleh asistennya itu.


"Belum ada tuan hanya itu saja."


"Apa menurutmu hubungan Dena dan keluarganya baik-baik saja ?" Edgar merasa ada yang janggal antara Dena dan keluarganya, wanita itu berasal dari keluarga kaya raya tapi kenapa rela menjadi karyawan rendahan di kantornya.


"Sepertinya baik-baik saja tuan, keluarga Winata selalu menutup rapat hal-hal yang berhubungan dengan keluarganya. Bahkan saat media memberitakan tentang keluarganya, tak lama kemudian berita itu langsung menghilang."


"Aku tahu itu, Om Winata tipe orang yang sanggup melakukan apapun." sahut Edgar, ia tahu perusahaan Winata adalah perusahaan yang paling di segani oleh banyak orang selain perusahaannya.


"Baiklah, kamu bisa pergi sekarang." ucap Edgar kemudian.


Setelah kepergian Juno, Edgar nampak menghempaskan punggungnya di sandaran kursinya.

__ADS_1


"Kalau mereka waktu itu sedang berbulan madu di Jerman, tapi bagaimana bisa Dena masih virgin saat tidur denganku? lalu anak yang di lahirkannya itu anakku atau anaknya Arhan ?" gumam Edgar mengingat waktu itu ia tidak menggunakan pengaman.


__ADS_2