Menggenggam Rindu

Menggenggam Rindu
Part~202


__ADS_3

Sera langsung memalingkan wajahnya, mengetahui bahwa calon suaminya Lusi adalah Martin seketika membuat dadanya terasa sesak.


Bagaimana pun juga, sampai saat ini ia masih sangat mencintai laki-laki itu. Jika ini adalah cara Tuhan untuk menghukumnya ia akan menerimanya dengan lapang.


Ia nampak mengedipkan matanya beberapa kali agar matanya tidak semakin mengembun.


"Sayang, akhirnya kamu pulang juga. Kasihan loh Mauren menunggumu dari tadi." Lusi nampak menggandeng lengan Martin lalu mengajaknya mendekati Sera yang masih duduk mematung di kursinya.


"Mauren, ayo kenalin ini calon suamiku." ucapnya lagi memperkenalkan Martin pada Sera.


"Hallo, saya Mauren desainer yang merancang gaun pernikahan kalian." ucap Sera sembari mengulurkan tangannya, ia berusaha semaksimal mungkin tidak gugup agar laki-laki itu tidak mencurigainya.


"Martin." ucap Martin membalas jabat tangan Sera, pandangan mereka nampak terkunci beberapa saat.


Bahkan saat tangan mereka saling menyentuh, keduanya merasakan desiran aneh di tubuhnya. Cinta memang tidak bisa berdusta, cinta akan selalu tahu tempat terbaiknya.


"Senang berkenalan dengan anda." Sera langsung menarik paksa tangannya dari genggaman erat Martin yang seakan enggan untuk melepasnya.


"Baiklah Mauren, sekarang kamu bisa mengukur pakaian Martin." ucap Lusi kemudian.


"Hm, baiklah." sahut Sera, kemudian ia segera mengukur tubuh Martin.


Meski laki-laki itu selalu menatapnya, tapi Sera berusaha tidak mengindahkannya.


"Lus, bisakah kamu mengambil berkas-berkas proyek di kamarku. Sebentar lagi Mattew akan mengambilnya." perintah Martin kemudian.


"Hm, baiklah." sahut Lusi, setelah itu ia melangkahkan kakinya pergi menuju lantai dua di mana kamar Martin berada.


Setelah kepergian Lusi, Martin langsung merengkuh pinggang Sera hingga tak ada celah di antara mereka.


"Kenapa kamu berpura-pura tidak mengenaliku ?" ucapnya menatap tajam Sera.


"Maaf tuan, tolong lepaskan saya. Saya sama sekali tidak mengerti dengan ucapan anda." sahut Sera mencoba untuk melepaskan dirinya, namun rengkuhan Martin begitu erat di pinggangnya.


"Sera, Sera Winata itu kamu kan ?" ucap Martin yang langsung membuat Sera menelan salivanya.


Sudah lama sekali ia melupakan nama itu dan ia ingin mengubur nama tersebut dalam-dalam.

__ADS_1


Ia lebih senang menjadi Mauren, menjadi manusia baru yang berusaha untuk selalu memperbaiki dirinya.


"Sepertinya anda salah orang, tuan. Saya Mauren, tolong lepaskan saya. Bagaimana kalau calon istri anda melihatnya, beliau bisa salah paham." tegas Sera sembari menatap ke lantai dua berharap Lusi segera datang.


"Sayangnya saya tidak percaya, kamu adalah Sera. Sera Winata." ucap Martin seraya menatap Sera dengan tajam.


"Di dunia ini banyak sekali orang berwajah mirip, jadi lebih baik anda pastikan dahulu sebelum menebaknya. Karena bisa jadi anda salah orang dan itu sama saja anda telah mengusik kehidupan seseorang tuan Martin yang terhormat." tegas Sera seraya memandang Martin tak kalah tajam.


Merasa di ejek, Martin langsung mengurai pelukannya di pinggang Sera. "Akan ku pastikan apa yang ku katakan itu adalah kebenaran." ucapnya kemudian.


Setelah itu Martin berlalu pergi meninggalkan Sera yang kini nampak mengatur nafasnya yang tiba-tiba terasa sesak.


"Sudah selesai mengukurnya ?" tanya Lusi saat melihat Sera nampak sendirian di ruang tamu tersebut.


"Sudah, sudah selesai. Oh ya Lus, apa kamu benar-benar yakin mempercayakan pakaian pernikahan mu padaku. Maksudku di kota ini kan banyak sekali desainer hebat dan terkenal, kenapa kamu tidak meminta mereka saja yang membuat." Sera mencoba membujuk Lusi agar membatalkan niatnya, sungguh ia tidak ingin berurusan dengan Martin lagi.


Bertahun-tahun tak bertemu, Martin semakin mengerikan menurutnya, ia tidak mau membahayakan anak-anaknya kelak.


"Tapi aku sudah jatuh cinta dengan semua desainmu, Mauren." tolak Lusi.


"Benarkan sayang, desain Mauren bagus-bagus kan ?" imbuhnya lagi saat melihat Martin berjalan mendekatinya.


"Aku juga merasa seperti itu, jadi aku sudah sangat yakin mempercayakan pakaian kami padamu Mauren." ucap Lusi.


Melihat keintiman sepasang kekasih di hadapannya itu, tiba-tiba Sera merasakan sesak didalam dadanya. Namun begitu ia harus bersikap profesional.


"Oke baiklah, sepertinya aku harus segera pulang. Hari mulai gelap, aku harus mengejar kereta terakhir." ucap Sera seraya menatap jam yang melingkar di pergelangan tangannya.


"Mattew akan mengantarmu." ucap Martin dengan tegas.


"Tidak perlu tuan, saya bisa naik kereta." tolak Sera.


"Saya tidak suka penolakan, lagipula kalau ada apa-apa dengan anda kami bisa gagal bertunangan. Buka begitu sayang ?" ucap Martin, lalu memandang Lusi.


"Tentu saja, kamu harus aman sampai rumah Mauren. Biar Mattew yang mengantarmu." sahut Lusi setuju seraya melihat laki-laki bernama Mattew yang baru masuk ke kediaman Martin.


Deg!!

__ADS_1


"Laki-laki itu, bukannya yang kemarin ingin menawar lahan panti. Apa itu berarti ada Martin di belakang mereka."


Sera nampak terkejut saat melihat Mattew, sepertinya ia harus lebih waspada lagi. Ia tidak tahu sosok macam apa seorang Martin sekarang.


Dahulu laki-laki itu sangat kejam dan mungkin sekarang lebih kejam lagi, lihat saja rumah ini meski mewah tapi terkesan mengerikan.


"Baiklah." sahut Sera kemudian, lebih baik ia menurutinya saat ini.


Setelah itu Sera berlalu pergi dengan Mattew, begitu juga dengan Martin juga akan pergi mengantar Lusi pulang dengan mobil yang berbeda.


"Syukurlah dia tidak ikut."


Sera bernapas lega setelah tahu Martin tidak ikut mengantarnya.


Sepanjang perjalanan Sera nampak diam membisu, begitu juga dengan Mattew. Namun beberapa saat kemudian pria itu nampak menghentikan mobilnya.


"Kenapa berhenti, tuan ?" Sera mendadak pucat, semoga saja laki-laki itu tak berbuat macam-macam mengingat mereka kini hanya berdua saja.


"Saya sedang menunggu seseorang." sahut Mattew.


"Tapi ini sudah terlalu malam tuan, bisakah anda mengantar saya duluan ?" mohon Sera, sungguh saat ini ia sangat takut.


"Jangan khawatir nona, saya pasti akan mengantar anda." sahut Mattew saat melihat kekhawatiran di wajah Sera dari balik kaca spion depannya.


"Terima kasih." sahut Sera.


Tak berapa lama kemudian nampak sebuah mobil berhenti di depan mobil Mattew.


Deg!!


"Martin, apa yang sedang dia lakukan di sini? bukannya dia tadi mengantar Lusi pulang."


Napas Sera seakan tercekat saat melihat Martin keluar dari mobilnya, apalagi saat pria itu membuka pintu mobil di sampingnya lalu masuk dan duduk di sebelahnya.


Sera langsung menelan ludahnya, apa yang laki-laki itu lakukan. Kenapa masuk ke dalam mobilnya, banyak sekali pertanyaan dalam benak Sera.


Setelah mobil melaju kembali, nampak keheningan di antara mereka. Hanya suara deru mobil dan beberapa suara klakson dari mobil lainnya.

__ADS_1


Kemudian Martin mulai membuka suaranya saat menatap Sera yang terlihat tak nyaman.


"Apa dia putriku ?" ucapnya yang langsung membuat Sera melotot menatapnya.


__ADS_2